Tuesday, September 24, 2013

Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?



Kisah perjumpaan Yesus dengan seorang pemuda yang kaya
Bagian 1

Sumber bacaan:
Matius 19:16-26
Markus 10:17-27
Lukas 18:18-28


Jika demikian siapakah yang dapat diselamatkan?


Pendahuluan
“Berkat.” Sebuah kata yang begitu indah, begitu kita harapkan dan begitu kita minta dalam doa kepada Tuhan. “Berkat” seolah menjadi semacam ukuran atau acuan untuk menilai sejauh mana tingkat perkenanan Tuhan kepada diri dan hidup seseorang. Formula yang kita anut sederhana, jika seseorang banyak memiliki berkat; kaya, pintar, baik, mendapat pengakuan dari banyak orang serta giat mencari Tuhan, maka pastilah orang itu berkenan di hati Tuhan dan dianugerahkan keselamatan. Tetapi apakah benar demikian? Jika tidak, lalu bagaimana dengan kita yang barangkali merasa tidak mempunyai berkat sebanyak itu? Jika orang seperti itu saja tidak dapat diselamatkan, lalu siapakah yang dapat diselamatkan?
 
 
Rekomendasi Buku:
"Pengharapan Yang Tak Tegoyahkan"

Kisah perjumpaan Yesus dengan seorang pemuda kaya yang dicatat dalam kitab-kitab Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) mengajarkan pada kita bahwa ada begitu banyak perbedaan antara cara pandang kita sebagai manusia dengan cara pandang Yesus, Allah kekal yang menjadi Manusia itu, mengenai apa yang dimaksud dengan berkat sejati. Dalam tulisan berikut ini, saya mencoba mengeskposisi atau menggali lebih dalam catatan atas peristiwa perjumpaan itu dan kiranya melalui hasil eksposisi tersebut, kita dapat sama-sama belajar sesuatu yang berharga dari cara pandang Yesus Kristus terhadap beberapa aspek penting dalam kehidupan kita.

Saya membagi tulisan ini menjadi tiga bagian di mana pada bagian pertama akan saya paparkan tentang siapakah orang muda kaya yang datang menemui Yesus, seperti apakah karakteristik dari pemuda tersebut? Pada bagian kedua, akan saya paparkan kritikan apa saja yang Yesus sampaikan pada pemuda ini? Sedangkan pada bagian ketiga, kita akan menggali hal-hal apakah yang dapat kita pelajari untuk hidup kita sekarang ini setelah kita mempelajari peristiwa perjumpaan Yesus dengan pemuda kaya tersebut?

Seorang pria muda yang memiliki begitu banyak berkat
Sosok pria yang datang kepada Yesus itu sungguh merupakan gambaran yang sempurna dari sebuah pribadi yang penuh berkat. Untuk lebih jelasnya mengenai berkat apa saja yang ia miliki, saya akan mencoba menggali hal-hal apa saja yang dipaparkan oleh Alkitab mengenai karakteristik dari pemuda tersebut.

Hal pertama tercermin di bagian awal, Matius secara singkat mengatakan “Ada seorang datang kepada Yesus.” Dari kalimat sederhana ini kita dapat melihat betapa pria ini bukanlah pria sembarangan. Sementara banyak pria lain barangkali lebih disibukkan oleh urusannya atau lebih tertarik datang ke tempat-tempat yang menyenangkan hati mereka, pria ini justru memilih untuk datang kepada Yesus. Bukan Yesus yang datang kepadanya, tetapi dia yang datang kepada Yesus. Berapa banyak pria pada masa kini yang tertarik untuk datang kepada Yesus? Mengurusi bisnis yang menguntungkan atau menikmati hobi, barangkali jauh lebih menarik ketimbang datang kepada Yesus, dengan segala risikonya, bukan? Sehingga dapat saya katakan di sini bahwa ketertarikan seseorang untuk mau datang kepada Yesus saja, sudah merupakan suatu berkat tersendiri bagi orang itu.

Dan lebih dari itu, Markus mencatat bahwa pria ini bukan saja datang kepada Yesus dengan cara yang biasa, melainkan ia datang dengan cara berlari-lari mendapatkan Dia” (Markus 10:17). Kata Yunani yang dipakai adalah prosdramon yang mengindikasikan suatu ke-segera-an atau ke-tergesa-gesa-an. Rupanya ada suatu ungkapan semangat di dalam kedatangan pria ini. Agaknya, kedatangan Yesus sudah begitu ditunggu-tunggu olehnya, sehingga ketika Yesus akhirnya benar-benar muncul, ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Dia. Luapan hati pria ini begitu tak terbendung, sehingga ia harus berlari-lari untuk mendapatkan Dia. Sungguh luarbiasa. Setidaknya dari hal ini kita dapat menilai bahwa orang ini mempunyai suatu rasa kepedulian terhadap hal-hal yang rohani. Apalagi jika kita membaca Markus 10:20 yang mengatakan bahwa pria ini ternyata juga tekun dalam menjalankan perintah Tuhan sejak ia masih remaja. Sungguh suatu kualitas yang tidak dimiliki oleh semua orang tentunya.

Hal kedua tercermin dalam ayat 22, pria itu diidentifikasikan secara lebih spesifik lagi, ia bukan saja seorang pria biasa, tetapi pria yang masih muda. Mengapa Alkitab harus menyebutkan bahwa ia masih muda? Apa signifikansinya? Mungkin saja penulis Injil menuliskan hal itu karena pertama-tama memang ia masih muda, namun kita tahu bahwa istilah “muda” memberikan suatu gambaran tentang kekuatan, harapan, dan idealisme yang murni. Pria ini memang sudah bukan remaja lagi, karena ia mengatakan semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Markus 10:20), tetapi ia juga belum memasuki usia tua. Rentang usia pria ini dapat berada di antara 22 sampai 40 tahun. Dan Alkitab menyebutkan faktor ke-muda-an pria ini untuk menunjukkan bahwa ia sedang dalam kondisi usia yang terbaik dalam hidupnya (the prime time of his life). Dengan ke-muda-annya ini, pria tersebut memiliki segala kesempatan untuk belajar sesuatu yang amat berharga dari Orang yang paling berkuasa di seluruh bumi. Dengan kemudaannya itu, Alkitab ingin mengatakan betapa besarnya berkat yang ia miliki sehingga dapat bertemu dengan Yesus di usia yang masih begitu produktif.

Hal ketiga, Kitab Lukas memberi informasi tambahan pula mengenai jatidiri pria muda ini, yaitu bahwa ia juga adalah seorang pemimpin (Lukas 18:18). Istilah Yunani yang dipakai adalah archon, yang dapat berarti pangeran, tuan, pemerintah dan bahkan hakim. Kita tidak diberitahu pemimpin di bidang apa pemuda ini, namun ungkapan archon ini saja, sudah dimaksudkan bahwa pria muda ini adalah seorang yang mempunyai kedudukan penting di dalam tatanan kehidupan sosial pada waktu itu. Paling tidak, kita bisa membayangkan bahwa ia adalah seorang yang dapat dipercaya dan diandalkan, sehingga ia mendapat kepercayaan dari orang lain sebagai pemimpin. Rasanya tidaklah terlalu berlebihan jika kita menduga bahwa pria muda ini juga adalah seorang yang memiliki kelakuan baik di tengah-tengah masyarakat.

Hal keempat, sebagaimana judul dari perikop ini menurut Alkitab versi LAI, pria muda yang datang kepada Yesus ini dilukiskan sebagai seorang yang kaya raya. Matius dan Markus sama-sama mengatakan bahwa pemuda itu mempunyai banyak harta (ayat 22), sementara Lukas melukiskan ia sebagai orang yang sangat kaya (ayat 23). Dalam bahasa Yunani, pemuda itu dilukiskan sebagai orang yang memiliki ktemata polla yang berarti “great deal of property,” harta dalam jumlah yang besar.

Alkitab kerap kali memakai gambaran tentang kekayaan sebagai suatu berkat yang berasal dari Tuhan. 1 Tawarikh 29:12 misalnya mengatakan : Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang diberkati Tuhan seringkali diungkapkan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki mereka. Dan saya yakin bahwa penulis Injil mencatat peristiwa ini untuk mengajar para pembacanya di masa itu, dan juga kita di masa ini, tentang bagaimanakah Yesus akan memandang kekayaan seseorang. Apakah semata-mata sebagai berkat? Sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang pada masa itu? (dan juga oleh orang-orang masa sekarang?) Ataukah sebagai sesuatu yang harus diwaspadai?

Hal kelima, pemimpin muda yang kaya ini mampu mengajukan suatu pertanyaan yang penting kepada Yesus. Pertanyaan apakah itu? Ia bertanya: “perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Artinya, pemuda ini memiliki kepedulian bukan saja terhadap hidup di masa sekarang, tetapi juga terhadap hidup di masa yang akan datang. Banyak orang pada masa kini, yang hanya memperdulikan kehidupan di masa kini saja, mereka tidak mau tahu tentang apa yang akan terjadi nanti dengan hidup mereka. Banyak orang memiliki pikiran jangka pendek saja, tanpa mencoba mengkaitkan apa konsekuensi dari kehidupan mereka di hari ini terhadap kehidupan di masa yang akan datang. Sementara banyak pemuda pada masa kini mungkin lebih disibukkan dengan pertanyaan seputar teman hidup, pekerjaan, atau bisnis apa yang paling menguntungkan, pemuda kaya ini berpikir melampaui banyak orang di segala zaman, ia menanyakan satu hal yang penting dan berhubungan dengan keadaan jiwanya kelak, yaitu bagaimana caranya supaya saya memperoleh hidup yang kekal (masuk surga).

Apakah anda pernah menanyakan hal yang sama kepada Tuhan di dalam doa anda? Apakah anda memiliki kecemasan yang sama dengan pemuda kaya ini bahwa jangan-jangan pada saatnya nanti anda mendapati diri sebagai orang yang tidak memperoleh hidup yang kekal? Baiklah, pemuda ini sudah mengingatkan kita semua bahwa pertanyaan seperti itu layak kita utarakan.

Sejauh ini, kita sudah bicara cukup banyak tentang karakteristik dari orang yang mendatangi Yesus tersebut. Jika saya boleh summary-kan maka ia adalah:
-          Seorang pria yang peduli pada masalah kerohanian (religius)
-          Masih muda
-          Mempunyai jabatan pemimpin
-          Kaya, sangat kaya bahkan.
-          Mampu mengajukan pertanyaan yang penting kepada Yesus.

Sungguh suatu perpaduan karakteristik yang sangat luarbiasa yang terdapat dalam diri satu orang. Sosok semacam ini tentunya diidamkan oleh setiap gadis dan setiap orangtua untuk dijadikan sebagai menantu, bukan? Atau jika anda adalah seorang pemimpin agama, anda tentu sangat berminat untuk merekrut orang ini menjadi bagian dari organisasi anda. Betul bukan? Tetapi bagaimanakah peluang dari orang semacam ini di mata Tuhan kita Yesus Kristus?

Pada bagian selanjutnya kita akan melihat kritikan atau teguran apa sajakah yang Yesus sampaikan pada pemuda ini.

“Apa? Teguran??” Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus bisa mengkritik seorang pemuda yang boleh dikatakan hampir sempurna seperti ini? Dan jika pemuda yang luarbiasa seperti ini saja masih ditegur oleh Yesus, lalu bagaimana dengan kita yang jauh dari sempurna? Tidakkah Yesus akan memberi teguran yang jauh lebih banyak kepada kita?

Banyak orang mungkin menduga bahwa kekayaan pemuda inilah satu-satunya yang menjadi masalah bagi dia, tetapi dalam tulisan berikut anda akan saya ajak melihat bahwa kekayaan pemuda itu, bukanlah satu-satunya masalah yang dikritik oleh Yesus. Dan semoga dengan mempelajari hal ini kita juga boleh introspeksi (memeriksa ke dalam diri kita sendiri), karena kritikan Yesus kepada pemuda itu, sangat mungkin menjadi kritikan kepada kita juga jika suatu saat kita bertemu dengan Yesus di hadapan tahta pengadilan-Nya. Tuhan memberkati.

Bersambung ke bagian ke 2.  Klik disini.