Monday, August 9, 2021

Ketika langit bercerita

Sebuah renungan dari Mazmur 19:2
Apa yang dapat kita pelajari tentang Allah melalui ciptaan-Nya yang agung?
Adakah bukti-bukti keberadaan Sang Pencipta di dalam alam semesta ini?

Adakah manusia bisa berdalih dari kehadiran Sang Maha Pencipta?
Apa yang dimaksud dengan Wahyu Umum?


Oleh: Izar Tirta
 

Ketika langit menceritakan kemuliaan Allah

“Many nights I pray.. with no proof anyone could hear" [1] begitulah penggalan lagu “When you believe” yang dinyanyikan Mariah Carey & Whitney Houston. Lagu ini, yang menjadi theme song sebuah film kartun religius versi Hollywood berjudul Moses (Musa), seolah menyuarakan kerinduan manusia akan keberadaan Allah yang tidak terlihat. Keberadaan Allah bagaimana pun juga memang adalah sebuah paradoks [2] besar jika dilihat dari sudut pandang kita sebagai manusia. Di satu sisi, keberadaan-Nya seolah tersembunyi sehingga pancaindera kita tidak mampu mencapai-Nya. Tetapi di sisi lain, keberadaan-Nya begitu nyata di dalam karya-karya-Nya yang agung sehingga suatu saat nanti tidak seorang pun dapat berdalih bahwa dirinya belum pernah merasakan hadirat Allah selama hidup di dunia (Roma 1:20).

Sebagai makhluk fana yang penuh dengan keterbatasan, segala sumber pengetahuan yang terdapat dalam diri kita sendiri tidaklah cukup untuk menggapai keberadaan Allah. Karena Allah adalah Pribadi kekal yang melampaui segala keterbatasan. Sehingga jika manusia ingin mengenal Allah maka mutlak dibutuhkan sumber pengetahuan lain, yaitu wahyu/pe-nyata-an Allah sendiri kepada manusia. [Baca juga: Mengenal Allah itu lebih penting dari kekayaan. Klik disini.]


Wahyu umum

Ada dua jenis wahyu Allah yang dapat kita kenal yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Namun fokus kita pada tulisan ini adalah hanya pada wahyu umum.

Biasanya wahyu umum dimengerti sebagai pe-nyata-an Allah kepada manusia melalui alam semesta. Atau lebih lengkapnya adalah pe-nyata-an Allah tentang diri-Nya kepada semua manusia di segala tempat pada segala jaman melalui alam semesta, sejarah dan keberadaan batiniah (inner-being) setiap pribadi manusia. Adapun ke-umum-an wahyu semacam ini adalah ditinjau dari; pertama, ketersediaannya berita yang bersifat universal, artinya dapat diakses oleh semua orang secara umum di segala tempat dan segala waktu. Kedua, isi dari pesan atau pe-nyata-an itu sendiri yang merupakan keberadaan Allah secara umum. (Sebagai perbandingan, dalam wahyu khusus kita mengenal Allah secara lebih detil dan spesifik, kita mengetahui kata-kata-Nya, nama-Nya, karya-Nya, rencana-Nya dll.)

Meskipun bersifat umum, bukan berarti wahyu ini dapat disepelekan atau dikesampingkan sebab Mazmur 19:2 berkata: Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Itu berarti, baik kemuliaan Allah maupun pekerjaan tangan-Nya sangat nyata tergambar di langit dan cakrawala.


Memangnya ada apa sih di langit kita?

Allah memang telah menyatakan diri-Nya melalui alam semesta. Namun tidak sedikit orang yang menolak kebenaran ini. Padahal jika manusia mau membuka hatinya sedikit saja untuk melihat apa yang terdapat di dalam alam semesta, maka ada begitu banyak bukti yang bertebaran di seantero jagad raya tentang adanya Allah. Kata “langit” di dalam Mazmur ini adalah ungkapan tentang alam semesta, tidak harus semata-mata ditafsirkan sebagai langit, tetapi termasuk di dalamnya adalah langit, bumi serta segala yang ada di dalamnya. Apa yang dapat diceritakan oleh ciptaan yang bisu tersebut? Berikut ini beberapa fakta untuk direnungkan.

Bumi mempunyai masa 66 x 1020 ton dengan keliling pada daerah khatulistiwa sebesar 40.000 km. Jika jarak sebesar itu harus ditempuh dalam 24 jam, maka itu berarti kita berputar di dalam rotasi bumi dengan kecepatan sekitar 28 km/menit. P.C.W.Davies, seorang ahli fisika Inggris menyimpulkan bahwa jika kekuatan daya tarik bumi diganti oleh hanya satu persepuluh pangkat 100 saja, maka kehidupan tidak akan pernah berkembang di bumi kita ini. Sebab dengan kecepatan tinggi seperti itu tubuh kita akan terlempar ke luar angkasa jika gravitasi berkurang. Atau sebaliknya jika gravitasi bumi berlebih maka kita akan sulit bergerak. Kita berada pada titik keseimbangan yang akurat antara gaya gravitasi di atas bumi ini dan gaya sentrifugal karena efek perputaran tersebut.

Jarak rata-rata bumi dengan matahari adalah 149,5 juta km (jarak terjauh 152 juta km, jarak terdekat 147 juta km), jika bumi beredar lebih dekat dari seharusnya maka kita tidak akan dapat bertahan terhadap panas matahari yang luarbiasa, atau jika bumi nyasar lebih jauh dari jarak yang ditentukannya maka kita akan membeku. Kini ribuan tahun berlalu sudah, namun syukurlah kita masih selalu berada pada jarak yang aman dari matahari.

Bumi adalah satu-satunya planet di dalam sistim tata surya kita yang memiliki kemiringan 23o pada porosnya. Tanpa adanya kemiringan semacam ini maka kedua kutub di bumi akan mengalami suhu dingin amat dahsyat sementara bagian khatulistiwa mengalami suhu panas yang luar biasa. Perbedaan suhu yang ekstrim tanpa adanya pergantian atau sirkulasi yang teratur, akan menghasilkan cuaca yang sangat ekstrim dan mengancam kehidupan di bumi. Selain itu, kutub utara dan kutub selatan bumi yang ada sekarang ini amat menentukan gerak arus lautan di seluruh dunia yang kemudian berpengaruh sangat besar pada cuaca. Tanpa kedua kutub bumi seperti kondisi sekarang ini, atau jika kedua kutub tersebut dirusak keseimbangannya, maka kehancuran bumi pasti terjadi. [3]

Bulan, bukanlah benda langit yang secara kebetulan ada di tempatnya sekarang ini. Keberadaan bulan berperan dalam membersihkan samudera raya melalui sirkulasi pasang surut & pasang naik air laut. Pasang surut dan pasang naik berperan dalam menimbulkan gelombang yang bolak-balik ke darat lalu ke laut dan seterusnya. Akitivitas rutin yang seolah tanpa arti ini ternyata berperan besar dalam penyediaan oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup di dalam laut seperti ganggang laut, terumbu karang, plankton dan ikan-ikan yang semuanya berperan penting bagi mata rantai ekosistem bumi.

Sebagian besar bumi kita terdiri dari air, sebuah materi yang bersifat sungguh unik. Pada suhu 4oC, air mencapai berat jenis maksimal. Jika didinginkan maka molekul air membentuk rongga sehingga volume air menjadi besar. Akibatnya, dalam kondisi beku air yang menjadi es itu memiliki berat jenis [4] yang lebih kecil dari pada air dalam bentuk cair. Para ilmuwan menamakan gejala tersebut sebagai anomali air. Apakah ini hanya kebetulan belaka? Tidak. Jika air tidak memiliki sifat yang unik seperti itu, maka bagian air yang membeku akan tetap tinggal di dasar laut, membunuh semua ikan dan gangang laut yang berguna bagi ekosistem dan penghasil oksigen. Tetapi justru karena air bersifat anomali, maka ketika ia membeku menjadi es ia mengapung ke permukaan sehingga selamatlah segala yang ada di bawah air.

Bumi kita juga dilapisi oleh atmosfer yang tanpanya kita akan mati kehabisan oksigen dan tertimpa jutaan ton batuan angkasa yang jatuh ke bumi. Selain itu ada pula lapisan tipis dalam atmosfer pada ketinggian + 25 km dari bumi yang disebut lapisan ozon. Lapisan ini, walaupun tipis, amat berperan dalam melindungi kita dari radiasi sinar matahari yang dapat membunuh kita. Tanpa lapisan ozon dan atmosfer, kita semua sudah terbakar musnah. Sementara itu, di bawah kaki kita terdapat kerak bumi yang tampaknya kuat dan keras. Namun kerak bumi hanyalah merupakan kulit yang rapuh dibandingkan dengan energi yang bergetar dan bergoncang di dalam perut bumi yang lebih dalam. Kita dapat melihat sebagian kecil dari energi dasyat itu ketika terjadi letusan gunung berapi. Dari dua fakta ini saja kita lihat betapa rapuhnya kehidupan kita di bumi ini, di atas kepala kita bahaya menghanguskan sekaligus membekukan dari ruang angkasa yang bisu terus mengintai. Hanya atmosfir yang relatif tipis yang melindungi kita. Sementara di bawah kaki kita bahaya lain yang juga mampu menghanguskan kehidupan dalam sekejap terus pula mengintai, hanya dibatasi oleh lapisan rapuh kerak bumi. Jadi jika manusia yang hidup di antara kedua bahaya ekstrim tersebut masih merasa sombong dan menyangkal keberadaan Allah yang telah begitu murah hati menjagai serta melindungi kita, bukankah hal itu dapat disebut sebagai kekejian? Orang tidak harus jadi perampok untuk dapat disebut keji. Cukup dengan menyangkal keberadaan dan kuasa Allah, kita dapat melihat betapa tidak tahu terima kasihnya manusia itu.

Ada begitu banyak rancangan yang terdapat di bumi kita ini. Bagaimana mungkin semua itu hanya kebetulan belaka? Kita baru membahas sebagian kecil sekali dari bukti rancangan yang terdapat di alam semesta. Kita belum bicara tentang keanekaragaman makhluk hidup, atau tentang hebatnya tubuh kita diciptakan, atau tentang inner-being kita sebagai manusia. Bagaimana mungkin semua ini hanya kebetulan?? Orang-orang yang tidak percaya bahwa Allah ada, bukanlah orang-orang yang kekurangan bukti, melainkan orang yang secara sadar memilih untuk tidak percaya. Karena jika hanya bukti yang dibutuhkan oleh manusia, maka sebenarnya bukti itu sudah bertebaran dalam jumlah yang luarbiasa. Halaman tulisan ini terlalu kecil untuk menuliskan bukti-bukti yang ada di sekitar kita tentang keberadaan Allah. [Baca juga: Apakah ciri-ciri dari iman yang sejati? Klik disini]

William Lane Craig, Ph.D, seorang Doktor Teologia yang menjabat sebagai Research Professor of Philosophy di Talbot School of Theology, menjelaskan suatu cara berpikir sederhana tentang keberadaan Allah yang ditinjau dari keberadaan alam semesta. Ia mengatakan: “Baik secara filosofi maupun secara ilmiah, aku akan berargumentasi bahwa alam semesta dan waktu itu sendiri memiliki suatu titik permulaan pada masa lalu yang tak terbatas itu. Akan tetapi, karena tidak mungkin sesuatu muncul begitu saja dari kenihilan, harus ada suatu penyebab yang sangat penting di luar ruang dan waktu, yang membuat alam semesta itu terwujud.”

Orang yang berusaha menyangkal keberadaan Allah biasanya berargumentasi bahwa alam semesta ini terwujud melalui suatu ledakan besar (Big Bang Theory). Namun sesungguhnya ada kelemahan besar dalam teori ini. Jika alam semesta ini terbentuk karena adanya ledakan besar di masa lalu, maka pertanyaannya: apa yang menyebabkan ledakan besar itu terjadi? Umpamanya suatu kali terjadi ledakan kecil saja di suatu tempat, lalu anda bertanya: “Tadi ada ledakan? Apa sebabnya?” Dan orang lain menjawab: “O ya, tadi memang ada ledakan, tetapi tidak ada sebab apa-apa kok, yah pokoknya tiba-tiba meledak aja.” Tentu anda berpendapat bahwa jawaban ini amat tidak lengkap bahkan terkesan bodoh. Jika kita setuju bahwa harus ada suatu penyebab dari sebuah ledakan kecil, maka bukankah hal itu berlaku pula bagi ledakan besar?

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Teori Ledakan Besar pasti salah [5]. Yang saya maksudkan adalah bahwa sekalipun seandainya alam semesta ini terjadi karena adanya ledakan besar, kita tidak dapat menghilangkan unsur rancangan dan penyebab di balik ledakan tersebut. Dan siapa lagikah yang memiliki kemampuan merancang hal yang demikian selain Allah? Para cendekiawan yang mempelajari Teori Ledakan Besar justru merasa heran ketika menemukan bahwa Big Bang bukanlah suatu peristiwa yang kacau balau, melainkan sebuah peristiwa yang sangat teratur dan membutuhkan keakuratan yang sangat tinggi. Stephen Hawking, ilmuwan lumpuh yang terkenal jenius dan setuju pada Teori Ledakan Besar, bahkan mengatakan: “Kalau tingkat ekspansi alam semesta sedetik sesudah Big Bang ternyata lebih kecil daripada satu perseratus juta maka alam semesta ini akan musnah menjadi bola api.” Mungkin kalimat ini bagi kita kaum awam agak menyulitkan, tetapi saya kira maksud Hawking adalah bahwa: Ledakan besar begitu rapuh, jika tidak akurat sedikit saja dari apa yang seharusnya terjadi, maka alam semesta pasti sudah hancur, bahkan sebelum terbentuk.


Akhir kata

Langit bercerita, cakrawala memberitakan, dengan alasan apa lagi manusia dapat berdalih? Allah sudah menyatakan keberadaan diri-Nya melalui ciptaan ini begitu rupa sehingga tidak ada satu tempat di dunia yang tidak bisa dijangkau-Nya Dan manusia di dalam dirinya sendiri pun sebenarnya tahu bahwa Allah ada, tetapi dengan paksa mereka menekan kebenaran itu di dalam diri mereka dan menggantikan keyakinan mereka dengan kepalsuan. Betapa tragisnya. Padahal Allah kita bukanlah Allah kecil yang hanya berkuasa di gereja pada hari Minggu, melainkan adalah Penguasa seluruh alam semesta. Dan hal ini bukanlah sekedar angan-angan saleh belaka, melainkan fakta ilmiah yang seharusnya diakui dunia.

Allah kita adalah Allah yang berkomunikasi. Ia tidak bisu. Ia berbicara melalui alam semesta. Dan tidak sampai di situ saja, Ia pun berbicara melalui manusia. Bahkan Ia pun akhirnya berbicara sebagai Manusia. Kiranya melalui semuanya ini iman dan cinta kita kepada Dia, yang dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang dapat kita doakan dan pikirkan, semakin bertumbuh. Tuhan memberkati.


Catatan:
[1] Terjemahan: “Malam demi malam kuberdoa, tanpa suatu bukti bahwa ada yang dapat mendengar.”

[2] Paradoks adalah dua atau lebih pernyataan yang seolah-olah saling bertentangan namun sesungguhnya merupakan kebenaran.

[3] Sebuah film fiksi ilmiah berjudul “The Day After Tomorrow” memakai ide ini untuk tema film tersebut.

[4] Berat jenis adalah berat dibagi volume. Jika berat air tetap sementara volume selama air menjadi es bertambah. Maka otomatis berat jenis es lebih kecil daripada air. Itu sebabnya es mengapung di atas air.

[5] Walau juga bukan berarti bahwa teori tersebut pasti benar. Kritik tajam yang layak dialamatkan pada penganut teori ledakan besar adalah bukan karena peristiwa itu tidak mungkin terjadi, melainkan karena mereka berpendapat bahwa dengan adanya ledakan besar, maka pemikiran tentang Allah tidak diperlukan lagi atau harus dikeluarkan dari proses terciptanya alam semesta.

Baca juga:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Klik disini
Apakah kita sudah semakin dekat dengan akhir zaman? Klik disini
Mengapa di dunia ini begitu banyak bencana alam? Klik disini
Apakah arti dari kebebasan? Klik disini