Monday, November 25, 2019

Mengapa di tanahku terjadi bencana: dampak dosa manusia terhadap bumi dan alam semesta

Pandangan Alkitab tentang bencana



… maka terkutuklah tanah karena engkau;
… semak dan rumput duri …
… yang akan dihasilkannya bagimu, (Kej 3:17,18)

Jatuhnya manusia ke dalam dosa membawa implikasi yang sangat serius bukan saja bagi manusia itu sendiri, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. “Terkutuklah tanah karena engkau,” kata Tuhan kepada Adam. Dan semenjak itu, dunia bukan lagi senantiasa menjadi rumah yang aman bagi manusia. Bencana kekeringan, banjir, gunung meletus, taufan hingga tsunami adalah beberapa contoh kecil dari wajah alam yang tidak lagi bersedia untuk menjadi sahabat manusia. Dosa telah merusak relasi manusia dengan alam sekitarnya. [Baca juga: Yesus adalah Tuhan atas seluruh bumi. Klik disini.]

Alam yang semula ditetapkan oleh Tuhan untuk dikuasai  oleh manusia, kini justru menunjukkan taringnya dan siap menantang manusia manapun yang ingin mencoba kekuatan yang dimilikinya. Pesan yang disampaikan oleh Alkitab cukup jelas, ketika manusia memberontak kepada Allah, maka alampun memberontak kepada manusia, tidak ingin dikuasai lagi.[1] Hanya karena anugerah Tuhan sajalah, maka aktivitas keseharian sebagian besar umat manusia masih terpelihara dari hari ke sehari, hingga saat ini. Berkat kebaikan Tuhan sajalah alam masih menahan kegeramannya terhadap dosa-dosa manusia.

Namun keadaan yang relatif terkendali ini tidak akan selamanya berlangsung seperti itu. Coba perhatikan perkataan Petrus berikut ini: hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. (2 Petrus 3:10).

Dari tulisan Petrus, kita tahu bahwa pada suatu hari, akan tiba saatnya, dimana semua bencana alam yang pernah kita lihat hari ini, tidak akan ada artinya lagi jika dibandingkan dengan gemuruh yang dahsyat itu. Pada hari Tuhan, yaitu hari dimana Tuhan hadir di dalam segala kemuliaan dan dalam murka-Nya yang kudus, seluruh alam semesta akan melepaskan segala kekuatannya tanpa ditahan-tahan lagi oleh Sang Pencipta. Dan ketika hal itu terjadi, maka tidak akan ada teknologi atau sistem kapital sebesar apapun yang dapat menahan daya hancur yang teramat dahsyat itu. [Baca juga: Makna Hari Tuhan. Klik disini.]

Kita sering disuguhi film-film bertema apocalyptic oleh Hollywood di mana selalu ada segelintir umat manusia yang berhasil selamat dari bencana. Untuk memberi kesan bahwa bagaimana pun hancurnya dunia, manusia selalu akan menjadi pemenang. Betapa pun buruknya situasi, selalu dapat diatasi oleh manusia. Bahkan tindakan Thanos yang menyebabkan lenyapnya separuh umat manusia pun, dapat dicarikan jalan keluarnya, dapat di-reverse, dikembalikan ke situasi semula.

Tetapi tentu saja, itu semua hanya film belaka. Kita boleh saja terhibur oleh segala keseruan kisah yang ada di dalamnya, tetapi hendaklah kita jangan sampai lupa, bahwa bagaimana pun juga itu hanyalah film.

Apabila hari Tuhan yang disebutkan oleh rasul Petrus itu terjadi, maka dapat dipastikan tak ada seorangpun yang akan bertahan. Zefanya, seorang nabi dari era Perjanjian Lama yang melayani Tuhan di wilayah kerajaan Selatan, pernah berkata: ..hari TUHAN pahit, pahlawan pun akan menangis. (Zefanya 1:14).

Tidak akan ada hero yang muncul pada hari Tuhan, apalagi seorang superhero. Semua orang, bahkan pahlawan pun akan menangis pada hari yang getir itu. Hari di mana Tuhan meluapkan murka-Nya pada manusia yang berdosa.

Ketika Zefanya menulis kalimat tersebut, yang ia maksudkan adalah hari dimana Yerusalem dihancurkan oleh Babilonia. Dari sejarah kita tahu, bahwa kehancuran yang terjadi pada zaman Zefanya itu belum bersifat menyeluruh. Masih ada orang-orang yang tersisa dan berhasil selamat pada hari tersebut.

Tetapi apa yang dilukiskan oleh rasul Petrus, jauh lebih mengerikan dari apa yang dilihat oleh Zefanya. Karena menurut Petrus, pada hari itu Tuhan tidak lagi memakai bangsa Babilonia untuk menghukum Israel yang berdosa. Pada hari itu, Tuhan akan memakai seluruh alam semesta untuk menghukum seluruh umat manusia yang berdosa.

Jika di zaman Zefanya saja, para pahlawan akan menangis. Bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi di zaman yang disebutkan oleh Petrus ini?

“Mengapa di tanahku terjadi bencana?” tanya Ebiet G.Ade di dalam salah satu lagunya. Saya pikir, seandainya saja penyanyi kondang di era awal ’80-an itu merenungkan Firman Tuhan dengan baik, maka ia tentu tidak perlu repot-repot bertanya kepada rumput yang bergoyang, bukan?

Dari Alkitab kita tahu, bahwa alam bukan satu-satunya pihak yang dirugikan, seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang lain pun ikut menanggung akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menulis: “ Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, ….sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh(Roma 8:20 dan 22). Baik alam, maupun makhluk lain yang diciptakan oleh Tuhan, sama-sama merasakan dampak buruk akibat pemberontakan manusia kepada Tuhan. Gara-gara kita, mereka ikut dikutuk.

Jika alam dan hewan-hewan yang tidak turut memberontak kepada Tuhan saja terkena efek negatif dari dosa manusia, apalagi kita manusia, bukan?

Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa problem dosa adalah problem yang berskala kosmik. Problem dosa, bukan cuma persoalan karena kita kedapatan suka mencuri, berzinah, lupa ibadah, bicara kasar kepada sesama, malas bekerja, rakus, cinta uang dan lain sebagainya. Itu semua memang adalah dosa, tetapi semua itu hanyalah suatu fenomena belaka, belum merupakan inti persoalan yang sebenarnya. The root of the evil and the fruit of sin, itulah persoalan utama yang harus diselesaikan oleh manusia.

Jika problem dosa adalah tercemarnya eksistensi kosmos secara menyeluruh akibat pemberontakan manusia kepada Sang Pencipta, maka bagaimana mungkin persoalan sebesar ini bisa diselesaikan hanya dengan puasa (yang kadang-kadang kita lakukan sekedar untuk pamer saja di depan orang lain, dan itupun suka bolong-bolong juga), atau sedekah (yang cuma ala kadarnya, sekedar untuk tidak dicap pelit oleh teman-teman kita), rajin ibadah (yang kadang-kadang juga suka melamun, tidur atau main hape di tempat ibadah), bicara baik-baik kepada sesama (padahal dalam hati kita benci sekali sama orang itu), suka menolong tetangga (supaya orang lain menilai kita sebagai orang baik), rajin menghafal kitab suci (supaya orang lain mengira kita ini jagoan di bidang rohani, padahal kita juga tidak ngerti apa yang kita baca), suka memberi uang (supaya orang lain tahu bahwa kita lebih sukses secara ekonomi daripada orang yang diberi uang), memakai baju-baju keagamaan (supaya kelihatan seperti orang saleh) dan lain sebagainya?

Bagaimana mungkin cara-cara kebaikan kita yang sangat hina seperti ini bisa memperbaiki persoalan kosmik yang sedemikian besar?

Jawabannya, memang tidak bisa. Yesaya bahkan menganggap semua daftar perbuatan di atas itu tidak pantas disebut sebagai kebaikan sama sekali. Sambil berseru Yesaya berkata segala kesalehan kami seperti kain kotor. Kemudian dengan sedih ia melanjutkan, kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin ... Tidak seperti kita, Yesaya dapat memberi penilaian yang akurat terhadap dirinya sendiri dan berani jujur untuk mengakui hal itu.[2]

Hanya orang yang tidak memperhatikan ajaran Alkitab saja, yang merasa cukup percaya diri bahwa suatu hari ia akan datang sendirian, berhadapan muka dengan muka di depan Sang Pencipta sambil mengira bahwa dirinya sudah cukup pantas untuk hidup berdampingan dengan Dia Yang Mahasuci lagipula Mahamulia itu.

Jika tanah yang hanya bisa terdiam, tidak luput dari kutukan Tuhan, mungkinkah manusia akan terluput?

Manusia memang tidak akan terluput dari kutukan Tuhan. Itulah sebabnya Yesus Kristus harus datang sebagai Manusia untuk menerima kutukan itu. Ia mati di atas kayu salib dan dikuburkan. Pada hari ketiga Ia bangkit dari kematian dan sebelum naik ke sorga, Yesus Kristus berpesan: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (Markus 16:15-16) Karena di dalam Kristus sajalah, seluruh alam semesta ini ditebus dan dikembalikan kepada sifatnya yang mulia.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk percaya, supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. (Lukas 21:36)

Tuhan memberkati. (Oleh: Izar Tirta)

Pertanyaan untuk direnungkan:
Mengapa tanah dikutuk Tuhan?
Apa dampak kutukan Tuhan terhadap tanah?
Apakah bumi kita memang telah dikutuk oleh Tuhan? Klik disini
Tanggung jawab orang Kristen terhadap alam semesta. Klik disini
Apakah AKHIR ZAMAN itu sudah dekat? Klik disini
Eksposisi Kejadian 3:17,18
Penjelasan 2 Petrus 3:10. Klik disini
Penjelasan Zefanya 1:14
Penjelasan Roma 8:10
Mengapa puasa, ibadah & perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan? Klik disini
Aspek kosmis dari dosa manusia.
Apakah inti persoalan dosa manusia?
Mengapa Yesus harus mati? Klik disini
Apakah pesan penting Yesus sebelum naik ke sorga? Klik disini




[1] Di dalam sejarah, hanya ada seorang Manusia yang dengan penuh kuasa pernah menghardik alam yang sedang mengamuk dan alam itu pun tunduk terdiam seketika di hadapan-Nya. Nama Orang itu adalah Yesus.
[2] Dikutip dari Yesaya 64:6. Saya sudah pernah membahas hal ini dalam tulisan tentang pertemuan antara Tuhan Yesus dengan pemimpin muda yang kaya raya itu.