Thursday, November 26, 2020

Sebuah perenungan dari Yohanes 3:16 dan 18

Eksposisi Yohanes 3:16 dan 18
Apakah yang dimaksud dengan "percaya" menurut Yohanes 3:16?
Orang Farisi percaya bahwa Mesias akan datang, tetapi apakah mereka akan diselamatkan?
Yohanes 3:16 adalah ayat yang sangat terkenal, tetapi apakah kita sudah benar-benar memahami ayat tersebut?
Mengapa Allah dapat mengasihi Yakub tetapi tega untuk membenci Esau?
 

Perenungan dari Yohanes 3:16 dan 18

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal. Supaya barangsiapa percaya, mendapat hidup kekal. Tetapi barangsiapa tidak percaya, telah berada di bawah hukuman.

Begitu besarnya kasih Allah

 
Kekristenan adalah suatu sistem kepercayaan yang didasarkan pada penyataan diri Allah sendiri. Tanpa adanya Allah yang menyatakan diri kepada manusia, maka tidak ada kemungkinan bagi seorang manusia untuk dapat mengenal siapa Dia.

Allah seperti apakah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia? Salah satu ayat Alkitab yang paling terkenal di Alkitab, yaitu Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah adalah Dia yang memiliki kasih yang sangat besar.

 

 Buku: "3:16 - Angka Pengharapan"
 
Hal ini sewajarnya mendorong kita untuk merenung. Apabila kita mengikuti Allah yang memiliki kasih sedemikian besar, apakah kita sendiri sebagai pengikut-Nya juga telah menjadi seorang pribadi yang mampu mengasihi?

Memang betul, bahwa tidak ada di antara kita yang memiliki kasih yang sempurna, Tetapi apakah setidaknya kita sendiri memiliki keinginan untuk lebih mengasihi? Ataukah kita bahkan tidak terlalu memikirkan hal itu?

"Karena begitu besar kasih Allah..". ini bukan hanya suatu statement yang kosong belaka. Ini bukan sekedar suatu ayat untuk di afalkan dan ini juga bukan sekedar suatu pengetahuan teologi untuk diajarkan di ruang-ruang kelas semata.

Ini adalah sebuah undangan. Yaitu undangan dari Pencipta kita sendiri untuk menjalani hidup seperti Dia, yaitu hidup yang penuh kasih.

Biarlah kita menaruh beban ini di dalam hati kita. Dan biarlah kita bertekut lutut, berdoa dan memohon kepada Tuhan agar Dia memampukan kita untuk lebih mengasihi lagi. Mengasihi Dia, dan juga mengasihi sesama kita.
 

Dunia yang dikasihi oleh Allah

 
Ada bagian Alkitab yang mengajarkan bahwa Allah mengasihi dunia ini, seperti yang kita baca dalam Yohanes 3:16. Tetapi ada pula bagian Alkitab yang mengajarkan bahwa kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia (misalnya dalam Roma 12:2), bahkan ada pula perintah yang jelas-jelas melarang kita untuk mengasihi dunia ini (misalnya dalam 1 Yoh 2:15)

Mengapa Alkitab terkesan begitu simpang siur seperti ini? Apakah para penulis Alkitab seperti Yohanes ataupun Paulus adalah orang-orang yang plin plan?

Jadi sebetulnya, harus kita apakan dunia ini? Apakah harus kita benci? Ataukah harus kita kasihi, sebagaimana Bapa juga mengasihi?

Dari persoalan ini kita sadar betapa pentingnya membaca Alkitab secara keseluruhan sehingga kita dapat memahami konteks yang sedang dibicarakan oleh para penulis Alkitab. Kita tidak dapat mengambil satu ayat saja lalu memakainya untuk segala keadaan, segala kondisi, segala situasi tanpa mencoba memahami apa yang dimaksud oleh ayat tersebut.

Di dalam Alkitab, kata “dunia” memiliki setidaknya tiga pengertian:

Perngertian pertama dari kata "dunia":

“Dunia” berarti dunia material ciptaan Allah yang dapat kita lihat, kita raba, kita rasakan dengan panca indera kita. Dalam hal ini, dunia material adalah kontras dari dunia spiritual. Menurut kitab Kejadian, dunia material ini harus kita kuasai dan taklukkan demi kemuliaan Tuhan.


Pengertian kedua dari kata "dunia":

“Dunia” berarti keseluruhan ras manusia, sebagai kontras dari sebagian kelompok manusia saja. Nikodemus mengira bahwa Allah hanya mengasihi bangsa Israel saja, itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa sesungguhnya Allah mengasihi dunia ini yaitu seluruh ras manusia yang telah Ia ciptakan, entah itu orang Israel ataupun orang non-Israel.


Pengertian ketiga dari kata "dunia":

“Dunia” berarti semua prinsip, semua cara berpikir, semua cara bekerja yang berlaku di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dunia semacam inilah yang menurut Paulus dan Yohanes (dalam suratnya) harus dihindarkan dan tidak boleh dikasihi.

Lalu Yohanes 3:16 memakai kata "dunia" menurut pengertian yang mana?

Yohanes 3:16 yang sangat populer itu, membicarakan dunia menurut pengertian nomer 2 yang saya paparkan di atas. Menurut Tuhan Yesus, Allah mengasihi semua orang melampaui suku, melampaui bangsa, ras dan kebudayaan.

Menurut Tuhan Yesus semua bangsa di bumi ini memiliki kesempatan yang sama untuk dikasihi oleh Bapa. Itulah sebabnya sebagai orang Kristen kita pun tidak sepatutnya memelihara sikap yang rasis di dalam hati kita.

Marilah kita mulai belajar mengasihi orang lain, yang berbeda sekalipun dengan diri kita, sebab Bapa kita juga menaruh kasih terhadap mereka. Apabila kita belum dapat mengasihi mereka di dalam perbuatan, maka setidaknya marilah kita belajar untuk berdoa bagi mereka.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk memiliki kasih yang demikian.

Sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal

 
Di bagian atas tadi, kita sudah merenungkan akan kasih Allah yang begitu besar. Tetapi pernahkah kita membayangkan, seberapa besarkah kasih-Nya itu? Apa bukti kongkrit dari kasih Allah yang sangat besar itu?

Sebetulnya, Allah tidak ada kewajiban untuk membuktikan kasih-Nya pada kita. Pun dari sisi kita, tidak ada kepatutan sedikitpun untuk mempertanyakan kasih-Nya itu. Sebab dari kenyataan bahwa Dia telah menciptakan diri kita beserta segala sesuatu untuk dinikmati saja, sudah merupakan suatu tanda dari kasih-Nya itu.

Tetapi Allah di dalam kasih-Nya yang begitu besar, ternyata bahkan memberi bukti yang sangat kongkrit dan jauh lebih mulia lagi. Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi kita. Jika kenyataan ini tidak dapat menggetarkan hati kita, saya tidak tahu hal apa lagikah di dunia ini yang dapat menggetarkan hati kita yang keras dan dingin ini?

Pernahkah kita berada di dalam situasi dimana kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga? Uang barangkali? Atau mobil? Atau terpaksa menjual rumah demi melunasi hutang mungkin? Bagaimana jika kita terpaksa harus melihat anak semata wayang kita mati, sebagai akibat dari hutang kita sendiri yang terlalu besar? Anggaplah kita berhutang kepada seorang mafia, lalu ketika kita tidak mampu membayar hutang itu, ia menembak mati anak kita. Apakah hati kita tidak akan hancur?

Sekarang, bagaimana jika kita harus kehilangan anak kita satu-satunya, sebagai akibat dari hutang orang lain? Bukankah realita ini terlalu sulit untuk dibayangkan dapat terjadi pada diri kita?

Tetapi sementara kita sulit untuk sekedar membayangkannya, Allah kita justru telah melakukannya bagi kita. Ia merelakan anak-Nya yang tunggal mati, sebagai akibat dari hutang dosa kita yang tidak terperikan ini.


Kasih Allah terhadap dunia bukanlah kasih yang bersifat emosional belaka. Kasih Allah kepada dunia ini adalah suatu kasih yang kongkrit. Sebab di dalam kasih-Nya itu, Allah telah memberikan sesuatu kepada dunia yang Ia kasihi itu.

Seringkali di dalam dunia kita yang telah jatuh ini, kasih dimaknai sebagai perasaan yang dalam terhadap sesuatu, atau ucapan sangat indah yang ditujukan kepada seseorang. Tetapi menurut Alkitab, kasih yang sejati adalah kasih yang memberi.

Apakah Allah pernah mengatakan bahwa Ia mengasihi kita? Ya, tentu, baca saja Yeremia 31:3 dan kita tahu bahwa Yahwe pernah berkata-kata seperti itu. Apakah kasih Allah itu adalah kasih yang mendalam? Ya, tentu, baca saja Efesus 3:18 dan kita akan tahu bahwa kasih Allah adalah kasih yang mendalam.

Tetapi kasih Allah tidak hanya berhenti di dalam perkataan dan emosi yang mendalam saja. Alkitab mengajarkan bahwa kasih Allah adalah kasih yang memberi, kasih yang berkorban, bukan demi kepentingan diri-Nya sendiri, tetapi demi kepentingan orang lain, yaitu kita orang-orang yang ditebus-Nya ini.

Menurut prinsip Alkitab, kita belum benar-benar mengasihi, jika kita belum pernah memberi sesuatu yang berharga kepada orang yang kita kasihi itu. Orang yang memberi, belum tentu merupakan orang yang mengasihi, tetapi orang yang mengasihi, pasti akan terdorong untuk memberi.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk dapat lebih mengasihi Dia yang terlebih dahulu telah mengasihi kita.

 

Supaya barangsiapa percaya


 
Di atas sudah kita renungkan bahwa kasih Allah ditujukan kepada semua ras manusia, bukan terbatas pada satu ras saja, atau satu bangsa saja, seperti bangsa Israel misalnya, tetapi kepada semua bangsa, semua ras, suku dan golongan. Ada kesan general (umum) di dalam pesan seperti ini.

Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa semua orang di dunia pada akhirnya akan diselamatkan. Injil Yohanes dengan jelas mengajarkan bahwa ada orang-orang yang percaya dan ada pula orang yang tidak percaya.

Dan Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa hanya yang percaya kepada Sang Anak saja yang akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan sekarang adalah, apa yang dimaksud dengan “percaya” dalam ayat ini?

Istilah Yunani yang dipakai untuk kata “percaya” di dalam Yohanes 3:16 adalah pisteuon, yang merupakan sebuah kata kerja present participle active.

Present participle active adalah kata kerja bentuk sekarang dan mengindikasikan suatu kegiatan yang sedang berlangsung, dilakukan secara berulang-ulang, terus menerus, kontinual.

Ada orang Kristen yang kalau ditanya, apakah kamu yakin bahwa kamu diselamatkan? Maka dia menjawab: ya saya yakin. Darimana kamu bisa yakin? Aku yakin karena dulu tahun 2000 (ini contoh saja) aku pernah angkat tangan terima Yesus masuk ke dalam hati, maka aku yakin diselamatkan.

[Baca juga: Seperti apakah iman yang sejati itu? Klik disini]

Dalam hal ini, saya tidak ingin buru-buru mengatakan bahwa cara berpikir semacam itu salah. Tapi saya ingin mengajak kita melihat kembali Yohanes 3:16 yang mengajarkan bahwa percaya kepada Yesus adalah berbicara tentang kepercayaan kita pada saat ini. Percaya kepada Yesus adalah sebuah kata kerja present tense, bukan past tense.

Mungkin dulu kita pikir kita sudah percaya, pertanyaannya adalah apakah hari ini kita masih percaya?
Mungkin dulu kita pikir kita sudah menerima Dia masuk ke dalam hati kita, pertanyaannya adalah, apakah Dia masih ada di dalam hati kita sekarang ini?
Mungkin dulu kita pikir kita sudah bertobat, pertanyaannya adalah apakah kita masih bertobat juga hari ini?

Kekristenan tidak dapat disederhanakan ke dalam formula: terima Yesus masuk dalam hati lalu tinggal tunggu mati dan kita akan pergi ke sorga. Coba renungkan, jika kekristenan isinya hanya seperti ini saja, Tuhan tidak mengirimkan 39 buku Perjanjian Lama dan 27 buku Perjanjian Baru untuk kita Baca, bukan?

Kekristenan adalah tentang hidup bersama Yesus hari lepas hari, berjalan bersama Dia seumur hidup, menyangkal diri dan memikul salib-Nya setiap hari.

Kekristenan adalah tentang present tense. (Sekarang)
Bukan past tense. (Dulu)
Bukan future tense. (Nanti)
Tetapi present tense.

Kita tahu bahwa dulu kita benar-benar percaya pada Yesus, jika hingga hari inipun kita masih percaya.
Kita tahu bahwa dulu kita benar-benar terima Dia di dalam hati, jika hingga hari inipun kita masih melihat Dia bertakhta di dalam hati kita.
Kita tahu bahwa dulu kita benar-benar bertobat, jika hingga hari inipun kita masih bertobat.

Salah seorang tokoh Reformasi Kristen yang terkenal, yaitu John Calvin, pernah menjelaskan prinsip semacam ini dengan istilah Perseverance of the Saints atau ketekunan orang-orang kudus.

Perserverance may be defined as that continuous operation of the Holy Spirit in the believer, by which the work of divine grace that is begun in the heart, is continued and brought to completion (Louis Berkhof, Systematic Theology, 607)

Keselamatan adalah sebuah anugerah. Dan kita tahu bahwa kita sudah menerima anugerah itu, apabila di dalam diri kita muncul suatu ketekunan di dalam mengikut Tuhan.

Kekristenan bukan: karena aku tekun maka aku terima anugerah.
Kerkristenan adalah: karena aku telah menerima anugerah, maka tanda bahwa aku sudah terima anugerah adalah aku kini punya kekuatan untuk bertekun.

Keselamatan adalah sebuah hidup yang baru. Dan kita tahu bahwa kita telah menerima hidup yang baru itu, apabila di dalam diri kita ada suatu pertumbuhan di dalam kerohanian.

Orang yang mengaku pernah terima Yesus di masa lampau, tetapi setelah itu tidak lagi memperhatikan jalan hidupnya bersama Tuhan, tidak lagi tekun mengikut Dia, tidak ada kerinduan untuk mendengar suara Dia, tidak ada kerinduan untuk taat, tidak muncul suatu kebencian atau kegelisahan terhadap dosa, tidak berminat sama sekali untuk sangkal diri memikul salib, sangat wajar bagi orang itu untuk mulai berpikir, apakah sebenarnya aku sudah percaya kepada Dia yang diberitakan oleh Yohanes 3:16 itu? Atau jangan-jangan selama ini aku cuma berfantasi saja tentang ayat itu atau berfantasi saja tentang Dia?

Ingatlah..
Pisteuon adalah sebuah present tense

Kiranya Tuhan berbelas kasihan menolong kita untuk percaya kepada Dia yang telah dikaruniakan Allah Bapa bagi penebusan dosa-dosa kita.
 

Memperoleh hidup kekal


 
Alkitab menjanjikan, barangsiapa percaya kepada Anak tunggal Allah, maka orang itu tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Ini adalah suatu janji yang besar. Ini adalah janji yang sewajarnya dapat menarik perhatian kita. Apalagi jika kita tahu bahwa bagi orang lain yang memutuskan untuk tidak percaya, bukan saja tidak akan memperoleh hidup kekal, tetapi mereka itu akan mengalami siksaan yang kekal.

Betapa kontrasnya, betapa jomplang, betapa bertolak belakangnya kondisi yang dialami oleh seseorang sebagai akibat dari kepercayaannya kepada Sang Anak Allah itu.

Alkitab tidak mengatakan barang siapa percaya akan mendapat hidup yang kekal.
Tetapi barangsiapa tidak percaya, akan mendapat hidup yang biasa-biasa saja.

Alkitab tidak berkata barang siapa percaya dapat hidup kekal.
Lalu barangsiapa tidak percaya, dapat hidup yang kurang sempurna atau kurang maksimal.

Alkitab juga tidak berkata barangsiapa percaya dapat hidup kekal.
Dan bagi yang tidak percaya hanya mendapat umur yang panjang, tetapi tidak kekal.

Tidak demikian…
Perbedaan antara yang percaya dan yang tidak percaya ternyata tidaklah sekecil itu.

Perbedaan antara yang percaya dan yang tidak percaya adalah antara mereka yang mendapat hidup kekal dan mereka yang mendapat kebinasaan kekal. Betapa jauh berbeda dan betapa amat mengerikan perbedaan tersebut, bukan?

Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan, betapa berharganya dan betapa mahalnya karunia iman keselamatan yang Tuhan telah berikan kepada orang percaya itu, bukan? Itu sebabnya, kekristenan tidak pernah mengajarkan sebuah konsep yang disebut sebagai cheap grace (anugerah murahan).

Jika cheap maka pasti itu bukan grace.
Dan jika itu adalah grace yang sejati, maka pasti hal itu tidak cheap.

Sebab untuk memberikan grace kepada kita, Bapa telah membayar harga yang sangat-sangat mahal.
Jadi pilihannya adalah apakah ada grace (kasih karunia) atau tidak ada grace sama sekali.
Entah percaya, atau tidak percaya.
Entah hidup baru, atau tidak ada hidup baru.
Entah bertumbuh atau tidak bertumbuh sama sekali… alias mati.

[Baca juga: Orang Kristen harus bertumbuh atau mati. Klik disini]

Tidak ada kondisi yang berada tepat di tengah-tengahnya secara stabil.
Percaya sih engga, tetapi tidak percaya juga engga.
Aku sih tidak benci sama Yesus, tetapi percaya Dia sebagai Tuhan juga aku ogah..

Kita tahu, tidak ada yang seperti itu di dalam ajaran kekristenan yang sejati..
Bahkan orang yang suam-suam kuku pun akan dimuntahkan oleh Tuhan Yesus (Wahyu 3:16)

Di bagian atas tadi, saya sudah memaparkan bahwa orang yang berpikir bahwa dahulu kala pernah menerima Yesus, tetapi ternyata dalam hidupnya tidak ada relasi dengan Kristus, sangat mungkin sebetulnya memang belum mengalami kelahiran yang baru. Sebab kelahiran yang baru bukan datang tanpa tanda-tanda.

Alkitab memang tidak mengajarkan bahwa setelah lahir baru maka seorang manusia mendadak menjadi sempurna semua, pasti tidak. Akan tetapi Alkitab mengajarkan bahwa orang yang telah memiliki hidup yang baru, bukan tanpa disertai oleh tanda-tanda kelahiran yang baru tersebut.

[Baca juga: Tujuan akhir kehidupan Kristiani. Klik disini]

Kita akan membicarakan secara lebih khusus mengenai tanda-tanda orang percaya dalam tulisan-tulisan mendatang, tetapi dalam kesempatan ini yang ingin saya tekankan adalah betapa besarnya anugerah iman yang Tuhan telah berikan kepada kita.

Kita sering berpikir bahwa hadiah atau berkat dari Tuhan itu adalah ketika tadinya tidak ada pekerjaan sekarang ada pekerjaan, atau tadinya jalan kaki sekarang naik mobil, tadinya masih ngontrak rumah sekarang punya rumah sendiri.

[Baca juga: Apakah kekayaan dan kesuksesan adalah tanda diberkati Allah? Klik disini]

Tentu tidak ada yang salah melihat semua itu sebagai berkat, itu memang berkat, dan kita tentu harus bersyukur atas pemberian Tuhan yang demikian. Tetapi apakah kita menyadari bahwa berkat anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada kita yang sesungguhnya … adalah iman kita kepada-Nya?

Mungkin ada orang yang jadi kecewa… yaah.. cuma iman toh? Padahal aku inginnya mobil, misalnya..  Tetapi pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku bisa percaya? Sementara teman-temanku yang lain sulit sekali untuk percaya? Kita tidak menjadi percaya karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena Allah berkenan memberikan iman itu kepada kita. Inilah pemberian yang luar biasa besar bagi hidup kita.

Meskipun Yesus Kristus telah mati di kayu salib, tetapi jika Allah tidak memberikan anugerah iman kepada kita, maka kita pun tetap tidak diselamatkan, bukan? Kita tentu tidak berpikir bahwa mentang-mentang Yesus telah mati di salib, maka semua orang lalu akan diselamatkan, gak peduli apakah dia percaya atau tidak percaya, bukan?

Berkat dalam bentuk mobil, mungkin dapat menolong kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara lebih cepat (dan lebih nyaman), tetapi tidak bisa memindahkan kita dari alam maut kepada hidup yang kekal. Uang seberapa banyakpun, meski datangnya dari Tuhan, tidak mungkin memindahkan kita dari status dimurkai menjadi status diampuni. Hanya anugerah iman ini yang menolong kita pindah, dari kebinasaan kekal menuju kepada kehidupan kekal.

Mobil masih bisa dibeli (atau kredit dulu tidak apa jika memang perlu), tetapi tidak ada uang seberapa banyakpun yang dapat digunakan untuk membeli iman. Sebab iman adalah anugerah cuma-cuma dari Bapa kita, yang telah dibayar oleh Bapa dengan darah Anak-Nya yang tunggal.

Mari bersyukur kepada Tuhan, yang telah berbelas kasihan kepada kita, dengan memberikan kesempatan dan kemampuan untuk percaya kepada-Nya. Dan mari, tetaplah kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Soli Deo Gloria.
 

Barangsiapa tidak percaya

 
Pada umumnya kita menganggap bahwa yang dimaksud dengan orang yang tidak percaya adalah orang-orang lain yang ada di luar sana, entah mereka yang punya keyakinan berbeda, entah mereka yang atheis, tidak pernah baca Alkitab, tidak pernah datang ke gereja dan seterusnya.. dan seterusnya..

Tentu ada benarnya juga pandangan seperti itu, orang-orang semacam demikian memang biasanya termasuk kelompok orang yang tidak percaya. Tetapi kalau kita baca Alkitab lebih teliti dan lebih lengkap, ternyata persoalannya tidaklah selalu sesederhana itu.

Orang Farisi dan para ahli Taurat, bukan kelompok manusia yang tidak pernah baca Alkitab, sebaliknya, mereka justru tergolong ahli di dalam pengetahuan tentang Alkitab. Orang Farisi dan ahli Taurat bukan orang yang tidak percaya akan adanya seorang Mesias, yaitu Dia yang diurapi dan Dia yang dijanjikan oleh Allah.

Tetapi ironisnya, waktu Yesus Kristus datang ke dunia, justru kelompok Farisi dan ahli Taurat inilah yang paling gigih berjuang untuk melenyapkan Tuhan kita. Sebetulnya, apa sih persoalan mereka?

Persoalan mereka adalah, sekalipun mereka percaya akan adanya seorang Mesias, tetapi mereka terlanjur membangun sendiri konsep tentang Mesias itu seperti apa. Bagi mereka, Mesias itu adalah orang yang akan menjadi raja di Israel, Mesias adalah sosok yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi dan akan mengembalikan kejayaan dan kemakmuran kerajaan Israel sama seperti zaman nenek moyang mereka, yaitu Daud dan Salomo.

Itu sebabnya, ketika Yesus datang ke dalam kehidupan orang Farisi, dengan sosok-Nya yang sederhana, datang dari desa kecil bernama Nazareth (desa ini tidak tercatat sama sekali di PL), anak tukang kayu pula, gak punya militer, masuk Yerusalem pun dengan naik keledai, sudah begitu suka menentang mereka, menjungkirbalikan meja dagangan mereka di Bait Suci, menegor mereka sebagai keturunan iblis, mencuri simpati orang-orang Yahudi pula…

Orang Farisi jadi kesal dan mulai kebakaran jenggot. “Wah.. wah.. wah… apa-apaan ini? Kita ini kan keturunan Abraham. Kita yang pantas duduk di kursi Musa. Tapi orang ini bilang iblislah bapak kita. Kurang ajar banget! Ini pasti bukan Mesias! Ini biang rusuh namanya, mari kita lenyapkan saja orang kayak gini, daripada bikin posisi kita jadi susah.!”

Ada bahaya yang luar biasa besar jika kita membangun sendiri konsep kita tentang Mesias tanpa membuka hati dan membiarkan Sang Mesias memperkenalkan jatidiri-Nya yang sejati melalui Firman-Nya. Siapa bilang orang sekedar percaya bahwa ada Mesias saja, otomatis pasti diselamatkan? Orang Farisi percaya kok pada Mesias. Tetapi orang Farisi tidak diselamatkan karena mereka hanya mau menerima Mesias yang cocok dengan kriteria mereka saja, mereka tidak mau percaya kepada Mesias sejati yang tidak segan-segan menelanjangi kebobrokan mereka selama ini.

Bagaimana dengan kita? Mungkin selama ini kita pikir kita sudah percaya Yesus, tetapi coba renungkan, Yesus macam apa yang kita percayai? Yesus yang selalu memeluk? Yesus yang selalu menyembuhkan? Yesus yang selalu kirim uang kalau kita lagi butuh? Yesus yang selalu berbicara lembut? Yesus yang selalu cinta damai? Yesus yang selalu meluputkan kita dari persoalan? Yesus macam apa?

Alkitab memang mengajarkan bahwa Yesus adalah Pribadi yang penuh kelembutan, Ia bisa mengasihi seorang perempuan dari Samaria. Ia bisa mengampuni seorang wanita yang kedapatan berzinah. Yesus bersedia menerima kembali Petrus yang telah mengkhianati-Nya. Yesus masih mau memakai Paulus si pembunuh kejam itu sebagai rasul-Nya. Apakah Yesus berhati baik, penuh kelembutan dan penuh pengampunan? Ya, tentu saja! Tidak ada keraguan sedikitpun tentang hal itu.

Tetapi di balik kelembutan-Nya, Alkitab juga mencatat Yesus yang datang mengobrak-abrik meja-meja di pelataran Bait Allah. Bagaimana jika Dia datang lalu menjungkirbalikkan kehidupan kita yang tidak berkenan di hati-Nya? Apakah kita masih mau percaya kepada-Nya?

Yesus yang penuh kasih itu, adalah Yesus yang membentak Petrus dengan perkataan keras: Enyahlah iblis!. Bagaimana jika suatu hari Ia berbicara keras pada kita: Enyahlah kamu hai para pecinta uang. Enyahlah kamu hai pengajar palsu! Enyahlah kamu hai pemalas! Apakah kita akan bertobat? Atau justru pergi meninggalkan Dia karena tersinggung?

Yesus yang berkhotbah panjang lebar di atas bukit itu, menolak berbicara sepatah katapun kepada Herodes, walaupun Herodes menanyakan sesuatu kepada-Nya. Bagaimana jika suatu hari kita berdoa kepada-Nya dan Dia diam saja seribu bahasa? Apakah kita masih akan menaruh kepercayaan pada-Nya? Apakah kita akan introspeksi, bersabar dan tetap menantikan Dia?

Yesus yang hatinya penuh kedamaian itu, adalah Dia yang pernah berkata: “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Bagaimana jika pedang itu datang ke dalam keluarga kita, memisahkan kita yang percaya dari anggota keluarga kita yang tidak percaya? Masihkah kita akan tetap memilih Dia ketimbang keluarga kita?

Yesus yang mencintai kita dengan kasih yang kekal itu, adalah Dia yang juga pernah berkata: “Barangsiapa Ku-kasihi, dia akan Ku-tegor dan Ku-hajar.” Tidak sulit membaca kalimat seperti ini. Yang sulit adalah kalau tegoran itu diarahkan kepada diri kita. Apa yang akan kita lakukan? Bertobat? Atau malah tersinggung dan kecewa pada-Nya?

Mungkin kita sering membayangkan Yesus sebagai Sang Penyembuh segala penyakit. Tetapi pernahkah kita memikirkan, mengapa dari sejumlah besar orang sakit di kolam Betesda itu, hanya satu saja yang Ia sembuhkan? Bukankah Dia punya kuasa? Mengapa hanya satu orang yang disembuhkan? Apa ini gak keterlaluan namanya?

Bagimana jika aku juga ada di situ, terbaring sakit dan lemah tetapi Dia seperti melewatkanku begitu saja? Ketika Covid menyerang, bukan hanya orang tidak percaya yang jadi korban. Anak-anak Tuhan pun banyak yang terkena dampaknya dan bahkan meninggal. “Mengapa Engkau menyelamatkan orang lain dari penyakit tetapi tidak menyelamatkan keluargaku oh Yesus?” keluarga dari korban bisa saja bertanya seperti ini.

Ada saatnya Yesus mengirimkan malaikat untuk mengeluarkan Petrus dari penjara, tetapi ada saatnya pula, ketika Tuhan seolah diam saja ketika Petrus digiring oleh tentara Romawi untuk disalibkan. Ada saatnya Paulus luput dari berbagai bencana, tetapi ada pula waktunya ketika Tuhan tidak menahan pedang Romawi memenggal kepala Paulus.

Yesus macam apakah yang kita imani hari ini?
Apakah kita hanya mau Yesus yang memeluk, tetapi menolak Yesus yang menegor?
Apakah kita hanya mau Yesus ketika Ia memberi kita kelepasan, tetapi menolak Dia ketika persoalan kita tidak kunjung selesai?

Kita tidak bisa menerima Yesus dalam gambaran yang sepotong-sepotong, sebab jika demikian, jangan-jangan pada akhirnya kita pun jatuh ke dalam kesalahan fatal yang dihidupi oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu.

Sebetulnya, pemahaman orang Farisi tentang Mesias tidak sepenuhnya keliru. Sebab kita tahu bahwa Mesias memang adalah raja yang berkuasa. Tetapi karena orang Farisi menolak sosok Mesias sejati sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus. Pada akhirnya, mereka gagal mengenal keseluruhan Pribadi Sang Mesias yang sejati itu.

Mudah sekali bagi kita untuk menilai orang dari kepercayaan lain sebagai orang yang tidak percaya, sebab mereka memang jelas-jelas bukan orang yang percaya kepada Yesus. Tetapi alangkah baiknya jika kita memakai kesempatan ini untuk bertanya pada diri sendiri: “Apakah sesungguhnya aku sendiri sudah percaya kepada Mesias sejati sesuai dengan yang diberitakan oleh Alkitab itu? Ataukah selama ini aku hanya menciptakan saja gambaran tentang Mesias yang sebetulnya berbeda dengan apa yang diberitakan oleh Alkitab?”

Kiranya Allah sumber segala anugerah berbelas kasihan menolong kita untuk mengenal Kristus yang sejati itu.
 

Telah berada di bawah hukuman

 
Charles Templeton adalah salah seorang penginjil besar yang pernah dimiliki oleh dunia kekristenan. Ia sering pergi melakukan KKR ke berbagai tempat bersama senior sekaligus sahabatnya, yaitu Pdt Billy Graham. Dan karena kedekatannya itulah, banyak orang lalu menganggap bahwa Templeton ini suatu saat akan menjadi the next Billy Graham bagi dunia kekristenan. Sungguh suatu kondisi yang sangat menggembirakan bagi kita semua, bukan?

Akan tetapi dalam perjalanan kerohaniannya, setelah kira-kira 20 tahun berkhotbah di mana-mana dan bahkan setelah menyelesaikan studi teologinya di Princeton Theological Seminary, Templeton tiba-tiba berbalik arah. Ia tidak mau lagi menjadi pengikut Kristus, dan memutuskan untuk menjadi atheist hingga akhir hayatnya. Salah satu karya tulis Templeton yang terkenal adalah sebuah buku yang berjudul “Farewell to God” (Perpisahan dengan Tuhan).

Dunia kekristenan cukup terguncang akibat peristiwa ini dan banyak orang penasaran serta bertanya-tanya; apa yang telah terjadi dengan seorang Charles Templeton?

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Lee Strobel, seorang jurnalis Kristen, Templeton mengungkapkan alasan mengapa ia akhirnya meninggalkan Yesus Kristus untuk selamanya. Dan jika dapat saya simpulkan dari beberapa kutipan wawancara yang saya baca, keputusan Templeton pergi dari Yesus adalah disebabkan oleh dua hal utama: problem of evil dan reliability of the Bible (Masalah Kejahatan dan Masalah Keterandalan Alkitab)

Problem of evil (Mengapa ada kejahatan/bencana di dunia ini?)
Pada suatu hari Templeton melihat sampul majalah LIFE yang memasang foto dari seorang wanita berkulit hitam yang sedang menggendong mayat bayi sambil matanya menengadah ke atas langit. Bayi itu dikabarkan mati kehausan karena daerah tempat tinggal mereka tidak turun hujan untuk jangka waktu yang lama.

Templeton sangat terpukul sekaligus marah melihat foto tersebut. Ia marah terutama kepada Tuhan. Dalam pikiran Templeton: “Tuhan macam apakah yang ada di atas sana, yang tega sekali membiarkan seorang bayi mati kehausan, padahal dengan mudahnya Tuhan Yang Mahakuasa itu dapat menurunkan hujan?”

Reliability of the Bible: (apakah Alkitab dapat dipercaya/diandalkan?)
Templeton merasa sangat-sangat terganggu dengan kisah Kejadian pasal 1 mengenai penciptaan langit dan bumi. Menurut Templeton, kisah itu sangat bodoh, sangat aneh, tidak masuk akal dan tidak patut dipercayai. Templeton jauh lebih mudah menerima Teori Darwin yang menurutnya jauh lebih masuk akal ketimbang kisah tentang Allah yang kelihatannya agak malas dan mudah lelah sehingga membutuhkan istirahat pada hari ke 7 setelah menciptakan langit dan bumi.

Persoalan yang diajukan oleh Templeton sebetulnya tidak terlalu sulit untuk dijawab, apabila kita telah mengenal Allah kita secara pribadi. Mengapa ada orang yang menolak kebaikan Allah yang begitu besar, hanya demi kesalahpahaman yang sedemikian kecil seperti ini? Mengapa ia tidak belajar Alkitab dengan sungguh-sungguh sehingga bisa memahami jawaban atas persoalan-persoalan semacam itu?

Dari peristiwa ini, kita semakin disadarkan, betapa besar perbedaan antara orang yang sudah dilahirbarukan dengan orang yang masih hidup di dalam kegelapan. Apa yang bagi kita sangat jelas karena ada terang Tuhan yang menyinari, ternyata bagi orang lain, seperti Charles Templeton misalnya, bisa sangat gelap sehingga ia tidak dapat melihat apa-apa selain kegelapan dunia dan kejahatan Allah (menurut pandangan dia).

Problem of evil atau problem of goodness?

Seharusnya kita tidak perlu dibingungkan oleh pertanyaan: mengapa di dunia ini ada kejahatan?
Pertanyaan yang lebih wajar untuk diajukan adalah: mengapa di dunia ini masih ada kebaikan?

Dunia tempat kita tinggal memang sudah dalam keadaan yang terhukum atau terkutuk oleh Tuhan sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Ini adalah kondisi normal (default setting) dari dunia kita setelah kejatuhan tersebut. Apa yang dapat kita harapkan dari dunia yang terkutuk ini selain daripada kepedihan, kejahatan, bencana, kekacauan, kematian, kelaparan, ketidakadilan, kesepian, kekecewaan, sakit penyakit, perang dan segala macam keburukan lainnya?

Pertanyaan yang harus kita ajukan bukanlah: mengapa ada bayi yang mati kehausan?
Pertanyaan yang sewajarnya kita ajukan adalah: mengapa ada bayi di dunia ini yang masih bisa bertumbuh sehat?

Orang yang bertanya mengapa ada bayi yang mati kehausan, cenderung akan menyalahkan Tuhan.
Tetapi orang yang bertanya mengapa ada bayi yang masih bisa bertumbuh sehat, akan lebih mudah untuk bersyukur kepada Tuhan.

Cara kita mempertanyakan kehidupan, cukup menggambarkan seperti apa kondisi kerohanian kita di hadapan Allah.

Seorang bapa gereja yang sangat berpengaruh, yaitu Agustinus, suatu kali pernah ditanya:
Mengapa bapak percaya kepada Allah yang bisa mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau? Allah macam apa itu, yang tega-teganya membenci Esau?

Pertanyaan semacam ini diajukan bukan karena orang yang bertanya itu kepingin tahu atau ingin sekali mengenal Allah. Orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini biasanya hanya bermaksud men-diskreditkan karakter Allah dan menjadikan hal itu sebagai alasan bagi dia untuk tidak mau datang dan percaya kepada-Nya.

Agustinus segera menjawab:
Sebetulnya saya sendiri tidak heran mengapa Allah membenci Esau.
Yang justru membuat saya heran adalah, mengapa Allah bisa mengasihi Yakub?

Hanya orang-orang yang hatinya telah diterangi oleh pengenalan akan Kristus melalui Alkitab yang dapat melihat keadaan dunia ini dari sudut pandang yang benar. Agustinus tidak ayal lagi adalah seorang tokoh Kristen yang sangat memahami Alkitab, sehingga jawaban yang disampaikan pun sesuai dengan isi hati Tuhan yang tertuang di dalam Alkitab tersebut.

Dunia kita adalah dunia yang telah berada dibawah hukuman Ilahi. Jadi kalau ada seorang bayi yang mati kehausan seperti yang dilihat oleh Templeton, seharusnya ia tidak menyalahkan Tuhan. Seharusnya ia mempertanyakan dirinya sendiri, sudah berapa banyak bayi di dunia ini yang ia tolong? Seharusnya ia mempertanyakan karakter manusia, mengapa manusia begitu dingin hatinya sehingga gagal menolong begitu banyak manusia yang juga terkena bencana kekeringan di berbagai tempat? Seharusnya ia menelpon majalah Life dan bertanya apa yang dilakukan oleh fotografer majalah tersebut setelah mengambil gambar si ibu yang malang? Apakah ia sudah memberi minum? Agar ibunya tidak turut mati?

Segala kekacauan di dunia ini bukan pertama-tama diciptakan oleh Allah. Sebab pada mulanya Allah menciptakan segala sesuatu itu dalam keadaan baik. Manusialah yang memberontak, dan kita manusialah yang kemudian menerima konsekuensinya.

Manusia yang mempersalahkan Tuhan atas segala kerusakan di alam semesta ini tidak ayal lagi adalah orang-orang yang belum ditebus, atau mungkin pula dia adalah orang yang sudah ditebus namun karena kelemahannya ia jatuh kembali ke dalam dosa. Jika kita mengenal seseorang yang demikian, biarlah kita berdoa untuk dia agar ia tidak tenggelam semakin jauh di dalam kesalahannya tersebut.

Biarlah kita mengingat perkataan Tuhan Yesus terhadap dunia yang tidak percaya ini:
Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Orang-orang seperti Templeton, yang menyalahkan Tuhan atas kekacauan dunia ini, tidak punya alasan lagi untuk berdalih (mempersalahkan Tuhan) sebab terang telah datang ke dalam dunia. Yesus sudah melakukan sesuatu untuk dunia yang hancur dan kehausan ini. Yang jadi persoalan adalah manusia lebih menyukai kegelapan hati mereka daripada terang Firman Kristus, sebab jauh di dalam lubuk hati mereka yang gelap itu, mereka memang mencintai kejahatan, bukan mencari kebenaran. Mereka hanya pura-pura bertanya dimanakah Tuhan? Sebab jika Tuhan akhirnya menyatakan diripun, mereka tetap tidak mau datang kepada-Nya. Mereka hanya pura-pura bertanya: apa kehendak Tuhan? Sebab jika Tuhan menyatakan kehendak-Nya pun, mereka tetap tidak mau taat.

Berbahagialah kita yang oleh kebaikan Allah boleh tetap percaya kepada kasih dan kuasa Kristus melalui berita Injil, sekalipun saat ini kita masih tinggal di dalam dunia yang telah berada di bawah hukuman Allah karena dosa.

Kiranya Tuhan menolong kita menemukan orang-orang yang masih hidup di dalam kegelapan itu, untuk kemudian dibawa keluar menuju terang Kristus yang sangat mulia itu melalui Injil yang membebaskan. Amin.