![]() |
| Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1) |
“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)
I. Kemerdekaan Indonesia: Anugerah ataukah murni hasil sebuah perjuangan?
Jika kita merenungkan kemerdekaan Indonesia, sebuah pertanyaan mendasar patut kita ajukan: apakah kemerdekaan bangsa kita itu merupakan hasil perjuangan sendiri, ataukah karena anugerah yang diberikan oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan kita?
Untuk memahami hal tersebut, kita perlu melihat pada kerangka sejarah dunia. Perang Dunia II dimulai pada 1 September 1939, yaitu ketika Jerman menyerang Polandia. Serangan ini didahului oleh sebuah operasi militer palsu, di mana tentara Jerman menyamar sebagai orang Polandia lalu menyerang sebuah stasiun radio Jerman di daerah perbatasan Gleiwitz. Serangan ini memberi Hitler suatu alasan wajar untuk menginvasi Polandia. Akibat serangan tersebut, Inggris dan Prancis pun tidak bisa tinggal diam. Jika Hitler tidak dihentikan, maka Jerman akan menjadi kekuatan berbahaya bagi Eropa. Oleh karena itu, Inggris dan Prancis pun menyatakan perang terhadap Jerman dan dimulailah sebuah perang besar di Eropa.
Amerika Serikat pada awalnya memilih untuk tidak ikut campur dalam peperangan Eropa antara Inggris, Prancis, dan Jerman ini, namun semuanya berubah ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 — sebagai upaya untuk melumpuhkan armada Pasifik Amerika dan mengamankan ambisi ekspansinya di Asia Tenggara. Serangan yang cukup dahsyat itu pun membuat Amerika akhirnya terjun ke dalam peperangan, berhadapan dengan Jepang, sekaligus melawan Jerman, dan Italia.
Pada tahun 1942, Amerika meluncurkan Proyek Manhattan, proyek rahasia pengembangan bom atom yang dimaksudkan untuk menandingi kekuatan teknologi militer Jerman. Kisah ini terabadikan dalam film “Oppenheimer”, yang menggambarkan bagaimana para ilmuwan Yahudi yang diusir dari Jerman bahu-membahu mengembangkan sebuah teori fisika menjadi sebuah senjata dahsyat yang diharapkan dapat menghentikan perang dunia yang sudah terlanjur pecah.
Namun, sejarah berjalan dengan caranya sendiri. Sementara Proyek Manhattan sedang berjalan, Jerman juga sedang dihantam dari dua arah sekaligus. Dari sisi Barat, Sekutu menyerang melalui Operasi Overlord di Normandia (6 Juni 1944), sementara Uni Soviet mengepung dari arah timur, setelah serangan Jerman ke Stalingrad sebelumnya mengalami kegagalan. Dijepit dari dua sisi seperti itu, Jerman pun akhirnya menyerah pada sekitar bulan Mei 1945, bahkan sebelum bom atom yang disiapkan melalui proyek Manhattan tersebut sempat digunakan.
Karena Jerman sudah kalah, bom atom yang diberi nama “Little Boy” itu akhirnya dijatuhkan di Hiroshima (pusat militer dan pelabuhan penting Jepang). Dan pada 6 Agustus 1945, disusul bom atom bernama “Fat Man” yang dijatuhkan di kota Nagasaki (sebuah pangkalan angkatan laut dan pusat industri Jepang). Akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1945, Jepang pun menyerah kepada Sekutu. Kekuatan militer Jepang di seluruh wilayah pendudukan, termasuk Indonesia, melemah hingga nyaris kosong. Momentum kelemahan Jepang inilah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Jadi sekarang, apakah kemerdekaan Indonesia itu dapat dikatakan sebagai hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri? Bisa dikatakan iya, sebab ada semangat untuk merdeka dari bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia tidak pasif saja ketika Jepang menjajah negeri. Lalu ada pula pengorbanan dari tentara-tentara Indonesia melawan tentara Jepang yang tersisa. Sekalipun secara negara Jepang sudah menyerah, tetapi sebagai tentara belum tentu semua orang mau menyerah begitu saja ketika diserang. Tentara Jepang pun melakukan perlawanan terhadap tentara Indonesia sehingga ada korban pula yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Singkatnya, ada perjuangan dari bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.
Tetapi apakah kita dapat merdeka semata-mata karena kepandaian kita dalam strategi perang untuk mengalahkan Jepang dalam suatu peperangan frontal? Jelas bukan. Indonesia merdeka dan berhasil melepaskan diri dari Jepang, dikarenakan Jepang sendiri sedang limbung dan mengalami kelemahan mental sebagai akibat dari kekalahannya terhadap Sekutu. Tentara Jepang sudah tidak kuat lagi secara psikologis dan mental untuk berperang karena merasa ngeri membayangkan apa yang terjadi di negara mereka, di tengah-tengah keluarga mereka. Serangan Sekutu begitu dahsyat, hingga pemerintah Jepang menyerah dan menarik pasukannya dari medan peperangan.
Oleh karena itu, kemerdekaan Indonesia tidak bisa tidak, harus dilihat pula sebagai sebuah hadiah. Yaitu hadiah dari Tuhan yang memegang dan mengatur sejarah. Sering kali kita tergoda berpikir bahwa kesuksesan kita semata-mata karena kepintaran, kejelian, atau kerja keras kita sendiri. Namun, kita sering lupa bahwa ada campur tangan Ilahi yang jauh lebih besar dari semua rencana dan usaha kita itu.
Baca juga: Ada 8 alasan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia. Klik disini.
II. Kristus Telah Memerdekakan Kita
Jika kemerdekaan bangsa kita sebagai sebuah negara saja tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Ilahi, betapa lebih lagi kemerdekaan kita dari kuk perhambaan dosa, bukan? Tidak ada satu pun manusia yang mampu, dengan kekuatannya sendiri, keluar dari perhambaan dan mengalahkan kuasa dosa itu.
Rasul Paulus menegaskan dalam Galatia 5:1 bahwa “Kristus telah memerdekakan kita.” Kemerdekaan dari dosa bukanlah sesuatu yang kita raih, melainkan sesuatu yang diberikan oleh Kristus. Orang Kristen yang sejati sadar bahwa hidupnya adalah anugerah dari Tuhan Yesus. Sebagaimana bangsa Israel dikeluarkan dari perbudakan Mesir dan diberi anugerah tanah Kanaan — bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah — demikian pula kita dibebaskan dari perbudakan dosa oleh Kristus atas dasar kasih karunia tersebut.
Karena itu, sebagai orang Kristen, kita tidak boleh sombong, merasa paling benar, atau merasa tidak ada dosa dalam hidup kita. Semua orang telah jatuh dalam kuk perhambaan dosa. Tuhan datang bukan untuk memerdekakan demi kemerdekaan itu sendiri, melainkan agar melalui kemerdekaan tersebut, kita bebas mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi — serta mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.
III. Merdeka untuk Apa?
Pertanyaan yang harus kita renungkan sebagai orang Kristen bukanlah sekadar apakah kita sudah merdeka atau belum merdeka. Pertanyaan yang harus direnungkan adalah, untuk apa Tuhan memerdekakan kita dari dosa? Kita tidak dimerdekakan oleh Kristus demi kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus bukanlah kebebasan tanpa arah. Ada tujuan mulia di balik kemerdekaan tersebut, di bawah ini adalah beberapa tujuan dari kemerdekaan kita dari dosa, yaitu:
1. Merdeka untuk Beribadah kepada Allah
Sejak awal, kemerdekaan selalu berkaitan dengan penyembahan. Dalam Keluaran 7:16, Allah berkata kepada Musa: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun.” Tuhan membebaskan bangsa Israel bukan semata-mata agar mereka dapat menikmati kebebasan dari perbudakan Mesir saja. Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, agar mereka dapat dengan bebas beribadah kepada-Nya.
2. Merdeka untuk Menyembah Dia
Lukas 17:15-16 15Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
Kemerdekaan yang Tuhan berikan, seharusnya membawa seseorang untuk bersyukur dan memuliakan Dia. Kita bukan disembuhkan semata-mata agar memiliki hidup yang berkualitas. Sakit penyakit dan dosa adalah penghambat kita untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Tuhan datang membawa kesembuhan kepada manusia, bukan supaya manusia bisa memakai kesembuhan itu untuk bebas melakukan apapun yang ia suka. Kesembuhan yang Tuhan berikan adalah untuk membawa jiwa manusia kepada keadaan yang penuh ucapan syukur dan hidup mempermuliakan Tuhan.
3. Merdeka untuk Melakukan Pekerjaan Baik
Efesus 2:8-10 8Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Efesus 2:8-10 tersebut dengan jelas mengajarkan bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia Allah melalui iman. Namun keselamatan itu bukan akhir perjalanan — melainkan awal dari sebuah misi. Kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, agar kita hidup di dalamnya.
IV. Menghayati Kemerdekaan Sejati
Kemerdekaan Kristen hanya bisa dihayati dengan sungguh-sungguh oleh mereka yang benar-benar menyadari bahwa dirinya pernah — dan tanpa Kristus masih akan — berada dalam kuk perhambaan dosa. Hanya orang yang rendah hati, yang mengakui kelemahan dan dosa-dosanya, yang dapat sungguh-sungguh menghargai anugerah pembebasan dari Kristus.
Yohanes 8:31-32 berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Kemerdekaan Kristen tidak terpisah dari Firman Tuhan. Kemerdekaan kita bukan kemerdekaan tanpa komitmen sebagai murid yang sungguh-sungguh.
Sebagai contoh, ada beberapa gambaran nyata dari orang yang mengalami kemerdekaan sejati:
- Dalam Kejadian 2:15, Allah menempatkan manusia di Taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Orang yang sadar bahwa hidupnya diambil dan ditempatkan oleh Tuhan akan merdeka dari kesombongan saat karier berjaya dan merdeka dari keputusasaan saat keadaan biasa-biasa saja. Berapa banyak orang Kristen yang menganggap bahwa kariernya, jabatannya, titelnya adalah suatu milik yang mendefinisikan jati dirinya. Padahal kalau orang mengerti kebenaran bahwa hidup ini adalah panggilan Tuhan, maka orang itu akan merdeka dari keinginan hati membangga-banggakan dirinya dari orang lain.
Baca juga: Apakah resep hidup berkelimpahan dan berhasil? Klik disini.
- Dalam Lukas 23:42, penjahat di kayu salib berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Orang yang sadar bahwa yang terpenting adalah diingat oleh Tuhan, akan merdeka dari kejar-kejaran pengakuan manusia. Berapa banyak orang yang terus mengejar pengakuan dari orang lain? Mereka ingin terus dikenang, diingat, diakui eksistensinya, jasanya, pencapaiannya. Tapi penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus mengingatkan pada kita bahwa satu-satunya hal yana paling penting adalah ketika Tuhan mengingat kita. Manusia boleh lupa pada kita, manusia boleh salah paham pada kita, manusia boleh saja tidak menganggap kita sebagai orang yang berharga, tetapi ketika kita menghayati akan Tuhan yang mengingat kita, maka kita akan merdeka dari upaya untuk terus menerus ingin dikenang oleh dunia ini.
Baca juga: Manusia lebih suka pada kesementaraan daripada kekekalan. Klik disini.
- Kemerdekaan Kristen juga membebaskan kita dari tuntutan bahwa hidup ini harus selalu hebat dan tanpa kepedihan. Pemahaman bahwa duka dan sakit penyakit bukan tanda penolakan Tuhan adalah bagian dari kemerdekaan itu. Kita tidak perlu menyembunyikan air mata atau berpura-pura kuat. Dengan merdeka, kita dapat membawa seluruh kepedihan kita ke hadirat Tuhan.
Penutup
Kemerdekaan Indonesia mengajarkan kita bahwa tidak ada pencapaian besar yang murni hasil tangan manusia semata. Di balik setiap momentum bersejarah, ada tangan Tuhan yang mengatur. Terlebih lagi, kemerdekaan kita dari perhambaan dosa — itu sepenuhnya adalah karya Kristus, bukan hasil usaha kita.
Baca juga: Apakah tujuan hidup kita di dunia? Klik disini.
Maka, berdirilah teguh dalam kemerdekaan yang telah dianugerahkan itu. Jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan — baik perhambaan dosa, perhambaan akan pengakuan manusia, maupun perhambaan akan rasa takut dan keputusasaan. Kita telah dimerdekakan — bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap keberadaan kita.
Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
.jpg)