Showing posts with label Doa Yabes. Show all posts
Showing posts with label Doa Yabes. Show all posts

Tuesday, June 11, 2024

Kiranya Engkau melindungi sehingga kesakitan tidak menimpa aku (Serie Doa Yabes)


Sehingga kesakitan tidak menimpa aku


"Kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" (1 Tawarikh 4:10)

Di dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kita sudah membahas beberapa hal tentang Yabes, yaitu:
- Mengapa Yabes lebih dimuliakan? Klik disini.
- Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah. Klik disini.
- Kiranya Engkau memperluas daerahku. Klik disini.

Dalam tulisan ini kita akan melihat bagian lain dari doa Yabes, yaitu
- Permohonan Yabes agar Tuhan menyertai dan melindungi dari malapetaka
- Harapan Yabes agar kesakitan tidak menimpa dia.

Pertama: Kiranya tanganMu menyertai aku dan melindungi aku dari malapetaka

Doa Yabes mengajarkan kita untuk dengan rendah hati memohon penyertaan Tuhan dalam mengemban tanggungjawab yang juga berasal dari Tuhan. Permohonan Yabes ini merupakan cerminan dari suatu sikap yang rendah hati. Yabes tidak merasa kuat atau mampu untuk menghadapi segala macam tantangan dalam kehidupan sehingga ia memohon agar tangan Tuhan yang mahakuat itu mau menyertai dan melindungi dia.

Tidak semua orang Kristen punya sikap hati seperti ini, karena hal seperti ini bukan sesuatu yang timbul secara otomatis. Seseorang perlu mengenal siapakah Tuhan itu, siapakah dirinya di hadapan Tuhan dan kondisi seperti apakah yang sedang dihadapinya di dunia. Melalui pengenalan itu, seseorang akan bertumbuh dalam kerohanian sehingga mulai timbul suatu kebergantungan yang sehat kepada Tuhan.

Tanpa pengenalan akan Tuhan, seseorang cenderung keliru dalam mengenal dirinya sendiri. Adakalanya seseorang melihat diri terlalu rendah sehingga tidak ada keberanian dalam memikul tanggungjawab dalam kehidupan. Ia tidak berani meminta agar Tuhan memperluas daerahnya, seperti yang didoakan Yabes. Ia tidak berani melibatkan diri dalam peperangan rohani yang sedang dikobarkan oleh Tuhan. Ia bagaikan katak dalam tempurung yang hidup hanya untuk mencari aman saja.

Di sisi lain, ada pula orang yang melihat dirinya terlalu tinggi, sehingga merasa sombong, merasa paling mampu, merasa tidak butuh orang lain dan pada akhirnya merasa tidak membutuhkan Tuhan. Kepandaian, kekuatan fisik maupun ketahanan mental, serta harta kekayaan dapat membawa seseorang ke dalam perasaan kuat yang palsu. Orang itu tidak sadar bahwa di dalam sebuah peperangan rohani, yang menjadi lawan kita adalah iblis yang sangat kuat dan sangat pandai. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melawan iblis dengan kekuatannya sendiri. Hanya kebergantungan kepada Tuhan-lah yang mampu menyelamatkan seorang manusia dari tipuan dan serangan iblis.

Dalam peristiwa pencobaan di padang gurun, Tuhan Yesus yang mahakuasa pun telah memberi contoh bahwa satu-satunya cara untuk melawan iblis adalah melalui kebersandaran seutuhnya pada Firman Tuhan. Tuhan Yesus tidak memakai kekuatan supranatural yang dimiliki-Nya sebagai Pribadi Allah untuk melumpuhkan Iblis. Tuhan mau kita pun meneladani Dia.

Seruan Yabes agar Tuhan menyertai dan melindungi dia, dapat diparalelkan dengan Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dalam Doa Bapa Kami ada ucapan: "dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan." Melalui ucapan ini Tuhan Yesus mengajar kita untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan yaitu dengan memohon agar Tuhan tidak memasukkan kita ke dalam pencobaan. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa kita ini lemah dan berpotensi untuk mengalami kegagalan ketika pencobaan datang.

Malapetaka jasmani dan malapetaka rohani

Dalam doa Yabes, kita diajar bahwa ada malapetaka yang dapat berpotensi menimpa kita di dalam hidup ini. Hal mana disebabkan karena adanya peperangan rohani melawan iblis yang punya kekuatan lebih besar dari kita. Satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa malapetaka itu tidak selalu berupa malapetaka jasmani, tetapi dapat pula berupa malapetaka rohani.

Kita mungkin mudah memahami malapetaka jasmani sebagai kecelakaan fisik, sakit penyakit, bencana alam, aniaya dan pembunuhan. Tetapi apa itu malapetaka rohani? 

Malapetaka rohani adalah suatu bencana yang memberi pengaruh besar terhadap keadaan rohani kita. Misalnya, ada orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan, lalu dalam perjalanan hidupnya ia berjumpa dengan seseorang penganut atheisme yang sangat pandai dalam berargumentasi tentang betapa masuk akalnya pandangan atheisme dibandingkan dengan pandangan iman Kristen. Karena orang Kristen tadi tidak menaruh perhatian pada Firman, akhirnya ia pun turut menganut pandangan atheisme dan sama sekali meninggalkan kekristenan. Ini sebuah malapetaka yang terjadi dalam ranah kerohanian, bukan (belum) menjadi malapetaka jasmani.

Banyak orang terlalu fokus menghindar dari malapetaka jasmani seperti kecelakaan, sakit penyakit, kelaparan, jatuh miskin dan lain sebagainya tadi, tetapi tidak menganggap malapetaka rohani sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Padahal malapetaka rohani itu akan membawa seorang manusia kepada kebinasaan kekal.

Iblis bekerja dibalik setiap malapetaka rohani yang menimpa manusia. Hal itu sudah terlihat sejak awal penciptaan. Dalam kisah Adam dan Hawa, iblis tidak datang dalam wujud monster menakutkan yang mencakar Adam dan Hawa hingga terluka berdarah-darah. Sebaliknya iblis justru tampil dalam wujud yang biasa saja di mata Hawa maupun Adam. Hal itu terbukti dari reaksi Hawa dan Adam yang tidak berteriak ketakutan ketika melihat iblis dalam wujud sang ular di Taman Eden.

Hal yang paling berbahaya dari perbuatan iblis bukanlah dikarenakan dalam wujudnya sebagai ular itu ia telah berusaha menggigit Adam dan Hawa atau mencekik mereka dengan lilitan yang sangat mematikan. Hal paling berbahaya dari iblis adalah bahwa ia telah menanamkan ide atau gambaran yang salah tentang Allah sehingga manusia memutuskan untuk menentang Dia. Dan inilah malapetaka rohani yang membawa seluruh umat manusia kemudian terseret dalam jurang kebinasaan kekal.

Iblis masih melancarkan serangannya melalui berbagai ajaran, ide atau gagasan, atau paradigma yang menjauhkan manusia dari pengenalan akan Allah yang sejati. Malapetaka yang ditebarkan oleh iblis cukup berhasil dalam ukuran manusia. Hal itu terbukti dari banyaknya jumlah orang yang memilih untuk menolak Allah yang telah hadir dalam diri Yesus Kristus. Hanya 1/3 saja jumlah manusia di bumi yang dapat diasosiasikan keterkaitannya dengan gereja, dan dari jumlah 1/3 itupun, hanya sedikit saja jumlah yang benar-benar mengalami kelahiran baru oleh Roh Kudus sehingga melihat kerajaan Allah yang sebenarnya.

Oleh karena itu, doa Yabes agar Tuhan menyertai dan melindungi, sungguh merupakan doa yang sangat pantas untuk dipanjatkan. Sebab tanpa penyertaan Tuhan, sangatlah mudah bagi seorang manusia untuk terjatuh dan kalah di hadapan tipu daya iblis.

Apabila kita perbandingkan dengan Doa Bapa Kami yang memohon kepada Bapa agar tidak memasukkan kita ke dalam pencobaan, maka kita dapati bahwa doa Yabes memiliki keselarasan dengan Doa Bapa Kami. Sekalipun dalam hidup kekristenan, Allah tidak menghapus kesulitan kita, tetapi dari sisi kita manusia, sepatutnya kita bersikap rendah hati dan tidak menantang kesulitan. Sebab hanya Bapa yang tahu persis hingga di manakah kekuatan kita dalam menghadapi pencobaan tersebut.

Kedua: Sehingga kesakitan tidak menimpa aku

Melalui doa, Yabes berharap agar Tuhan menyertainya sehingga kesakitan tidak menimpa dia. Lalu pertanyaannya adalah apakah penyertaan Tuhan memang pasti membuat seseorang dapat terbebas dari hal-hal yang menyakitkan? Jika di dalam Alkitab ternyata justru ada banyak kasus dimana kedekatan dengan Tuhan justru membawa seseorang kepada kesulitan dan tantangan yang sangat berat, lalu bagaimana kita memahami permohonan Yabes yang sekalipun terdengar enak di telinga namun tidak realistis ini? 

Apakah mungkin orang Kristen dapat terbebas dari kesakitan? Ini merupakan pertanyaan yang justru terdengar seperti bertentangan dengan panggilan Kristus sendiri. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus pernah berkata: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Siapakah yang dapat mengatakan bahwa menyangkal diri sendiri dan memikul salib merupakan tindakan yang tidak menyakitkan?

Tuhan Yesus cukup serius dalam perkara yang berkaitan dengan memikul salib ini, sebab di bagian lain Ia bahkan pernah berkata: "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38). Artinya, seseorang tidak bisa berkata bahwa ia adalah Kristen (artinya pengikut Kristus), tetapi ia tidak mau ikut memikul salib bersama Sang Kristus. Menurut Tuhan Yesus, hal seperti itu tidak memungkinkan untuk dipadankan. Memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang bersifat pilihan, apabila kita mengaku sebagai orang Kristen.

Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, dipertegas pula oleh Rasul Paulus. Dalam surat Filipi, Paulus berkata: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya," (Filipi 3:10).

Melalui surat tersebut Rasul Paulus berpendapat bahwa pengenalan akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, tidak mungkin dipisahkan dari persekutuan dalam penderitaan dan keserupaan dalam kematian-Nya. Sehingga sekali lagi kita mendapati bahwa kehidupan orang Kristen tidak mungkin dapat dipisahkan dari penderitaan serta kesakitan, sebagai akibat dari pengikutan kita kepada Yesus Kristus.

Jika kehidupan orang Kristen tidak mungkin dipisahkan dari kesakitan, lalu mengapa Yabes berdoa agar kesakitan tidak menimpa dia? Apakah Yabes salah berdoa? Tetapi jika ia salah berdoa, lalu mengapa Tuhan berkenan mengabulkan doanya tersebut? Bagaimana kita memahami hal yang seakan-akan saling bertentangan ini?

Kita tidak mungkin tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini, kecuali apabila kita kembali kepada ajaran Alkitab tentang kesulitan dan penderitaan, serta hal baik apa yang dapat dihasilkan daripadanya.

Alkitab mengajarkan bahwa kesulitan dan penderitaan adalah hal yang tidak mungkin dihindarkan dari kehidupan seluruh umat manusia, entah dari kalangan orang yang percaya kepada Yesus Kristus, maupun kelompok orang yang tidak percaya. Hal ini terjadi terutama karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa sedemikian besarnya, sehingga bukan hanya manusia saja yang mengalami penderitaan, tetapi seluruh alam semesta, seperti tanah, tumbuhan dan hewan, juga mengalaminya. Bahkan Allah Tritunggal pun turut mengalami kepedihan, penderitaan dan kematian dari salah satu Pribadi-Nya sebagai akibat dari dosa manusia.

Penderitaan bagi orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus (non-believer)

Tadi sudah saya sebutkan, bahwa ada jauh lebih banyak jumlah manusia di dunia ini yang memilih untuk menolak Yesus Kristus atau yang tidak menaruh kepedulian pada-Nya. Menurut hitungan kasar saja, diperkirakan hanya 1/3 penduduk bumi yang dapat dikategorikan sebagai orang yang punya hubungan dengan gereja. Dan dari yang 1/3 itupun, tidak semuanya menjalankan kehidupan imannya berdasarkan pemahaman Alkitab yang sehat dan memadai untuk dipertanggungjawabkan. Sehingga jumlah orang yang memiliki relasi dengan Kristus, yaitu yang kehidupannya digerakkan oleh kehidupan Kristus, pasti jauh lebih sedikit lagi.

Akibatnya, kebanyakan manusia di bumi ini tidak sadar bahwa mereka sedang hidup di dalam kegelapan. Mereka tidak tahu siapa Tuhan, mereka tidak tahu siapa diri mereka di hadapan Tuhan, sehingga pada akhirnya mereka juga tidak sadar betapa dalam mereka sudah jatuh ke dalam dosa. Percaya atau bahkan tahu bahwa Tuhan ada, itu satu hal. Tetapi tanpa memiliki pengenalan akan Dia, sehingga mengerti apa yang menjadi perintah-Nya, maka manusia tidak mungkin mengerti sejauh apa manusia telah berdosa di hadapan Tuhan. 

Dan apabila kita tidak sadar akan keberdosaan kita, lalu bagaimana mungkin ada pertobatan di dalam hati dan ada upaya untuk hidup bergantung kepada Tuhan? Pada akhirnya, kepercayaan kepada Tuhan tadi hanyalah terbatas sebagai konsep atau slogan yang kita setujui dalam pikiran, tetapi kemudian tidak berpengaruh apa-apa terhadap cara kita berpikir, cara merasa dan cara bertindak. Jika ukurannya hanya percaya bahwa Tuhan itu ada, iblis pun percaya demikian, dan bahkan mereka ketakutan. Tetapi apakah itu cukup atau berguna bagi perubahan si iblis? Mereka tetap akan dibinasakan karena mereka tidak akan bertobat dan tidak akan berubah taat kepada Tuhan.

Mungkin jika dilihat berdasarkan ukuran dunia, yaitu kehidupan yang terlihat dipermukaan, kehidupan dari orang yang tidak peduli pada Tuhan itu, bisa saja tampak baik. Mereka terlihat bahagia karena berkecukupan secara materi, terpandang di masyarakat dan punya pendidikan tinggi. Mereka punya banyak pencapaian dalam hidup dan menerima banyak pengakuan dari orang lain. Tetapi meski demikian, apakah jauh di lubuk hati mereka ada suatu kebahagiaan, kedamaian dan bebas dari penderitaan? Sangat mungkin tidak.

Sudah banyak kesaksian di media massa dari para selebriti baik dalam dan luar negeri, bahwa sekalipun mereka adalah orang-orang yang memiliki segalanya dalam ukuran dunia, tetapi hati mereka menderita karena kosong, bosan, kehilangan arti dan tidak tahu lagi harus melakukan apa yang baik. Belum lagi persoalan pernikahan, hubungan orangtua dengan anak, relasi bisnis, munculnya para haters, ketergantungan pada alkohol, obat terlarang dan lain sebagainya. Dunia sudah tidak terlalu kaget lagi dengan orang-orang sukses yang justru melakukan bunuh diri karena depresi atau sakit mental lainnya.

Kalau pun ada orang sukses di dunia ini yang benar-benar bahagia dan mengaku tidak mengalami penderitaan, maka sikap mereka yang tidak mau mengenal Allah Sang Pencipta melalui Yesus Kristus, suatu saat pasti akan membawa mereka pada penderitaan kekal di neraka. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, siap atau tidak siap, hal itu pasti akan terjadi pada setiap orang yang menolak Kristus. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tidak ada orang dari kelompok ini yang tidak akan menderita, entah di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

Penderitaan bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus (believer)

Sebelumnya sudah saya sebutkan bahwa orang percaya maupun bukan orang percaya, pasti akan mengalami penderitaan, oleh sebab kita hidup di suatu rentang waktu di mana dunia telah jatuh ke dalam dosa. Meski demikian, bukan berarti penderitaan orang yang percaya pada Yesus Kristus (believer) dan orang yang tidak percaya kepada-Nya (non-believer) itu ada kesamaan di dalam makna dan tujuannya.

Ketika seorang non-believer menderita, ia menderita sendirian tanpa adanya penyertaan Tuhan. Sebab bagaimana mungkin orang itu dapat memperoleh penyertaan dan penghiburan Tuhan apabila percaya kepada-Nya pun tidak?

Tetapi tidak demikian halnya dengan orang percaya, penderitaannya menjadi sesuatu yang bernilai, sebab Allah sendiri turut menderita bersamanya. Allah yang mahakuasa telah rela menjadi Manusia, untuk turut merasakan penderitaan dan kelemahan manusia, dan bahkan dalam natur-Nya sebagai Manusia, Ia telah menderita penghukuman yang sangat mengerikan hingga mati dengan cara yang menyakitkan di atas kayu salib.

Selain Allah turut menderita bagi dan bersama orang percaya, Allah juga memakai penderitaan di dunia sebagai suatu sarana yang positif bagi umat-Nya. Sebagaimana yang dapat kita lihat sendiri secara faktual, kita dapati kenyataan bahwa Tuhan memang tidak menghapus penderitaan di dalam dunia. Ada waktunya kelak dimana Tuhan akan menghapus segala penderitaan di dunia, tetapi untuk sekarang Tuhan membiarkan penderitaan itu tetap ada. Penderitaan adalah akibat ulah perbuatan manusia sendiri dan sebetulnya Tuhan tidak ada kewajiban untuk membereskan apa yang sudah dirusak oleh manusia.

Akan tetapi, sementara penderitaan itu dibiarkan tetap ada di dalam dunia, Tuhan memakai penderitaan itu sebagai sarana untuk mencapai beberapa tujuan yang positif. Di tangan Tuhan yang mahakuasa, penderitaan dipakai sebagai:

A. jalan bagi umat-Nya untuk bersekutu dengan Pribadi-Nya.
B. sarana untuk mempertumbuhkan kerohanian umat-Nya.
C. alat untuk menguji isi hati, kesetiaan dan kesejatian iman dari umat-Nya.

Melalui penderitaan yang Tuhan izinkan untuk terjadi inilah, dunia yang kita kenal sekarang ini perlahan-lahan berjalan menuju kebinasaan atau kematiannya. Orang yang tidak percaya (non-believer) akan ikut binasa bersama dengan dunia yang tercemar dosa ini. Sedangkan orang-orang percaya (kaum believer), juga berjalan di dalam jalan salib menuju kematian mereka bersama Kristus.

Sampai pada bagian ini, seakan-akan jalan kehidupan non-believer sama dengan jalan kehidupan believer. Sama-sama mati. Kelompok yang satu akan mati bersama dunia, karena mereka begitu mencintai dunia, selalu mendengarkan nasihat dunia dan ingin sama seperti dunia. Sementara kelompok believer akan mati bersama Kristus, karena mereka mengasihi Kristus, selalu mendengarkan nasihat Kristus dan ingin menjadi sama seperti Kristus. Lalu bedanya di mana?

Bedanya adalah yang mati bersama dunia, akan terus mati, mereka mengalami kebinasaan kekal. Sedangkan yang mati bersama Kristus akan dibangkitkan bersama Kristus. Yang mati bersama dunia, tidak akan mendapatkan Kristus dan tidak akan mendapatkan dunia yang baru. Sementara kaum believer yang mati bersama Tuhan Yesus, mereka bersama-sama dengan seluruh ciptaan yang lain akan memperoleh dunia yang baru, yang dicipta ulang oleh Allah, sebuah dunia yang bebas dari penderitaan. Jadi, yang mati dan bangkit bersama Kristus akan mendapatkan Kristus, sekaligus mendapatkan kesempatan hidup kekal dalam dunia yang baru tersebut.

Jika semua orang pasti menderita, lantas bagaimana Yabes dapat meminta dalam doa untuk dibebaskan dari kesakitan atau penderitaan?

Pembahasan Doa Yabes untuk dibebaskan dari penderitaan, ada di dalam kategori pembicaraan tentang penderitaan yang dipakai Tuhan untuk mempertumbuhkan kerohanian umat-Nya. Secara sederhana dapat dikatakan seperti ini: "Tuhan memakai penderitaan untuk mempertumbuhkan kerohanian seseorang. Lalu ketika kerohanian seseorang sudah semakin bertumbuh, cinta kasihnya pada Allah dan pada sesama juga bertumbuh, maka penderitaan yang harus dihadapi orang itu terasa jadi lebih mudah ditanggung. Bukan karena penderitaannya menjadi kecil atau penderitaannya dihilangkan, melainkan karena orang yang mengalaminya sudah semakin matang, semakin kuat dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan, semakin mampu memaknai sebuah penderitaan yang diizinkan Tuhan, bahwa semua itu terjadi demi mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu pertumbuhan rohani dan keserupaan dengan Kristus."

Yesus Kristus mengalami penderitaan selama hidup-Nya di dunia, bahkan sampai saat kematian-Nya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin kita yang menjadi pengikut-Nya tidak akan mengalami atau mencicipi hal serupa?

Bagaimana penderitaan kita dipakai Tuhan untuk mempertumbuhkan kerohanian?

Penderitaan yang ada di dunia ini sebagai akibat dosa manusia, tidak dihapuskan oleh Tuhan. Sebaliknya penderitaan itu dipakai oleh Tuhan sebagai sarana untuk mempertumbuhkan kerohanian umat pilihan. Melalui penderitaan, iman mereka diuji, karakter mereka diasah sehingga lambat laun mereka menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus.

Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat Roma, ada sebuah petunjuk tentang bagaimana penderitaan atau kesengsaraan itu membawa kita pada pertumbuhan rohani. Rasul Paulus menulis: Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:2-5).

Rasul Paulus tidak memandang kesengsaraan dari sudut pandang yang negatif. Ia memandang kesengsaraan sebagai suatu dasar untuk bermegah. Tentu saja dengan berkata seperti ini bukan berarti bahwa kita lalu menjadi sombong karena telah lebih banyak menderita dibanding orang lain, melainkan berarti kita diajak melihat bahwa penderitaan yang terjadi atas seizin Tuhan harus kita lihat sebagai tanda bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu pada diri kita.

Apa yang dapat dihasilkan dari sebuah kesulitan? Menurut Paulus kesulitan menimbulkan ketekunan. Dan ketekunan adalah sebuah karakter yang baik. Dari sesuatu yang terlihat sebagai negatif, berubah menjadi sesuatu yang positif. Dan dari ketekunan pun, kemudian menghasilkan karakter-karakter lain yang juga baik di mata Tuhan, hingga pada akhirnya orang itu mampu menaruh pengharapan pada kasih Tuhan.

Pengharapan bukanlah suatu hal yang sepele. Dalam konteks yang umum saja, sebuah pengharapan sudah mampu membuat seseorang menjadi lebih kuat di dalam menahan penderitaan. Apalagi dalam konteks pengharapan kepada Allah yang hidup. Ketika sebuah penderitaan membawa manusia kepada Allah, maka sengat dari penderitaan itu menjadi semakin dapat ditanggung.

Tetapi sebaliknya, ketiadaan pengharapan dapat membuat seseorang mengalami kehancuran mental dan merasakan penderitaan sebagai sesuatu yang tak tertahankan.

Pertumbuhan rohani membuat kesakitan tidak menimpa kita

Harapan Yabes agar kesakitan tidak menimpa lagi, dapat dicapai apabila seseorang mengalami pertumbuhan rohani. Ketika seseorang bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih, maka sekalipun penderitaan itu ada, orang tersebut akan dimampukan untuk menanggungnya.

Tuhan tidak menghilangkan penderitaan dan kesakitan di dalam dunia ini. Tuhan justru ikut menderita bahkan mati bersama dengan manusia. Dan barangsiapa menderita dan mati bersama Dia, maka penderitaan dan kematiannya tidak sia-sia. Penderitaannya membuat ia bertumbuh, dan kematiannya membuat ia bangkit bersama Kristus.

Tuhan tidak menghapus penderitaan di dalam dunia, tetapi Ia memakai penderitaan itu untuk memperkuat kerohanian anak-anak-Nya sehingga pada gilirannya, penderitaan itupun dapat lebih ditanggung. Bukankah ketika seseorang mengasihi, maka orang itu lebih siap menderita demi orang yang dikasihi?

Seorang Ibu rela mengalami kesakitan demi mendapatkan anak yang dicintai. Setelah anak itu lahir, penderitaan si ibu tidak berhenti, melainkan terus menerus datang silih berganti. Namun karena cintanya sebagai orang tua kepada anaknya, maka segala kesulitan dan penderitaan itu ditanggungnya dengan rela, bahkan ada kalanya tidak dianggap sebagai penderitaan lagi. Ini adalah contoh sederhana dari hilangnya penderitaan karena ditelan oleh kasih sayang.

Bukankah kita juga rela melakukan banyak hal, rela direpotkan oleh orang yang kita cintai? Tanpa diminta pun kita bersedia melakukan segala yang diperlukan demi orang yang dicintai itu, bukan? Tetapi bagaimana jika ada orang yang tidak kita cintai datang lalu minta tolong pada kita untuk mengerjakan ini dan itu? Bukankah kita jadi merasa sangat terganggu, tertekan, kesal, ingin marah dan muncul rupa-rupa perasaan sulit lainnya? Tanpa cinta, banyak hal terasa seperti beban yang berat.

Dalam ucapan Tuhan Yesus mengenai "tampar pipi kiri, beri pipi kanan," kita jangan memahami ucapan itu sebagai suatu ajaran kebodohan atau kelemahan. Sebaliknya, Tuhan ingin kita menjadi kuat di dalam kasih, hingga lebih rela menderita dan lebih siap dilukai oleh dunia ini. Di dalam dunia kita mengalami keterlukaan, katakanlah seperti orang yang ditampar pipi sebelah kirinya. Orang yang tidak punya kasih, akan menampar balik, jika ia mampu, atau jika tidak cukup kuat untuk membalas, maka ia akan pergi menjauh. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kasih yang besar mampu menahan kita dari keinginan membalas atau menjauh. Kasih yang besar membuat kita bertahan, tetap melayani dunia ini, meski dengan risiko akan menerima tamparan berikutnya. Itu sama seperti "memberi peluang bagi orang lain untuk menampar pipi yang lain."

Tuhan Yesus memiliki kasih yang sempurna. Demi mengasihi dunia, Ia bukan saja rela ditampar, tetapi bahkan dipukuli, diludahi, diejek, ditelanjangi bahkan akhirnya disiksa hingga mati. Apakah Tuhan Yesus tidak merasa kesakitan? Tentu saja. Tetapi Tuhan Yesus mampu melalui semua itu karena Ia memiliki kasih yang sangat besar. Kasih-Nya pada Bapa dan kasih-Nya pada manusia, membuat penderitaan menjadi sesuatu yang relatif.

Dalam di Kitab Wahyu, kita juga mendapati kondisi jemaat saat itu yang sedang mengalami siksaan dari Kaisar Dominitian yang kejam, sehingga mereka berseru-seru kepada Tuhan. Yang menarik untuk dipelajari adalah bahwa Tuhan bukan meresponi seruan umat dengan cara melenyapkan Kaisar yang kejam tadi, tetapi Tuhan memerintahkan agar fokus orang Kristen-lah yang harus dipertajam kepada Kristus dan Firman-Nya.

Penutup

Pekerjaan Tuhan di dunia begitu besar dan sekalipun Ia mahakuasa, Tuhan tetap memilih untuk melayani dunia ini melalui tangan orang-orang yang telah ditebus-Nya. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Beliau melayani orang-orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia-Nya. Tetapi bukan itu saja yang dilakukan-Nya, Tuhan Yesus pun mengajar, memuridkan orang-orang percaya, supaya pada gilirannya para murid pun dapat mewakili Tuhan, menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk melayani dunia ini.

Tuhan memanggil orang percaya, anak-anak-Nya, para murid yang setia, untuk memikul salib sambil berjalan mengikuti Dia. Dalam hal seperti inilah doa Yabes menemukan penggenapannya. Dalam persekutuan penderitaan bersama Kristus seperti inilah, Bapa dipermuliakan.

Friday, May 31, 2024

Kiranya Engkau memperluas daerahku (Serie Doa Yabes)

 

Kiranya Engkau memperluas daerahku

Di dalam isi dari Doa Yabes ada seruan agar Allah memperluas daerah Yabes. Apa maksud perkataan tersebut? Daerah apa yang Yabes ingin agar diperluas oleh Tuhan?

Dalam tulisan-tulisan terdahulu saya sudah mengutarakan kecenderungan kita sebagai manusia berdosa yang sering dipengaruhi oleh hasrat akan kekayaan materi dan kemuliaan dunia, sehingga tidak jarang ketika membaca Alkitab pun kita memakai pola pikir yang demikian.

Bukan tidak mungkin bahwa ada orang Kristen yang ketika mendengar seruan Yabes agar daerahnya diperluas oleh Tuhan, maka ia pun ingin turut berdoa seperti Yabes, apalagi di bagian akhir disebutkan bahwa Tuhan mengabulkan doa Yabes tersebut. Akan tetapi ketertarikan orang Kristen untuk turut berdoa seperti Yabes tadi, sangat mungkin disebabkan atau digerakkan oleh anggapan bahwa yang akan diperluas oleh Tuhan adalah kepemilikan akan harta di dunia, seperti rumah yang diperluas, tanah diperluas, bangunan pabrik diperluas, toko diperluas, jaringan bisnis diperluas, popularitas diperluas dan lain sebagainya yang tidak jauh-jauh berkisar di antara urusan materi dan kemuliaan duniawi semata. 

Padahal bukan itu yang didoakan oleh Yabes, dan bukan permintaan jenis itu yang akan dikabulkan oleh Tuhan (Yakobus 4:3)

Apabila kita kembali kepada konteks yang dihadapi oleh Yabes semasa hidupnya di era hakim-hakim (sebagaimana telah saya uraikan dalam tulisan terdahulu), maka kita mendapati bahwa Yabes sedang menerima tanggungjawab dari Tuhan untuk memerangi penduduk Kanaan yang tidak mengenal Allah yang sejati. Sehingga Yabes memohon agar Tuhan memberkati dia secara berlimpah-limpah dengan keberanian untuk berperang dan kesetiaan kepada Tuhan.

Oleh karena itu, permohonan Yabes agar daerahnya diperluas oleh Tuhan, sudah pasti bukan bicara tentang kepemilikan akan harta dan kemuliaan duniawi, melainkan agar daerah yang menjadi tanggungjawabnya itu boleh diperluas, agar Tuhan bersedia mempercayakan tanggungjawab yang lebih besar lagi kepadanya, agar ia boleh lebih banyak lagi terlibat di dalam pekerjaan Tuhan di dunia ini. Doa seperti inilah yang akan dikabulkan oleh Tuhan, sebab doa seperti ini sudah pasti sejalan dengan kehendak Tuhan sendiri.


Bukan kepemilikan materi dan kemuliaan duniawi yang diperluas oleh Tuhan

Darimana kita tahu bahwa Yabes bukan bicara tentang kepemilikan materi yang semakin luas? Tentu saja dari kisah-kisah lain di dalam Alkitab.

Sementara pandangan dunia beranggapan bahwa kehidupan orang yang diberkati Tuhan itu semakin lama semakin makmur dan ditandai dengan kepemilikan materi yang semakin banyak, semakin besar, semakin luas; beberapa tokoh penting di dalam Alkitab justru mengalami hal yang sebaliknya. Mereka jauh dari kondisi makmur, tidak punya banyak materi dan ruang gerak kehidupan mereka justru semakin dipersempit dan dikekang.

Tuhan Yesus mengakhiri hidup-Nya dalam keadaan yang sangat miskin. Jangankan memiliki banyak harta, satu-satunya kepemilikan yang melekat pada tubuh Tuhan, yaitu baju, itupun diambil daripada-Nya. Tuhan Yesus tidak memiliki ruang gerak yang semakin lama semakin luas, sebaliknya, pada akhir hidup-Nya, Tuhan Yesus justru tidak bisa bergerak karena dipakukan kepada kayu salib. Di hadapan manusia pada waktu itu, Tuhan Yesus adalah sosok orang kecil, orang tidak penting, sampah masyarakat yang perlu disingkirkan, bukan sosok mulia yang membanggakan. Bahkan para murid pun salah paham pada-Nya. Jadi, apabila Doa Yabes bicara tentang kehidupan materi yang semakin makmur, properti yang semakin luas, maka hal itu sungguh-sungguh tidak berlaku pada diri Yesus Kristus. Sehingga bagaimana mungkin Doa Yabes menjadi doa yang sesuai kehendak Allah sehingga perlu dikabulkan?

Bukan hanya Tuhan Yesus yang mengalami ruang lingkup kehidupan duniawi yang semakin dipersempit, tetapi tokoh-tokoh lain yang setia kepada Tuhan, mengalami hal yang serupa. Yohanes Pembaptis yang semula bebas berjalan-jalan kemanapun ia mau, pada akhirnya harus mengalami penjara dan bahkan mati di sana. Yesaya dan Yeremia pun mengalami hal yang serupa dengan Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis.

Bahkan kepada Petrus, Tuhan Yesus menubuatkan suatu kehidupan yang pasti sangat berbeda dengan angan-angan dunia tentang apa yang dimaksud dengan sebuah kehidupan yang baik. Tuhan Yesus berkata: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." (Yohanes 21:18). Kehidupan Petrus secara jasmaniah dan duniawi, justru semakin dipersempit dan bukan semakin diperluas.

Berdasarkan beberapa contoh dan prinsip kehidupan kristiani yang saya utarakan tadi, maka jelaslah bagi kita, bahwa yang diminta oleh Yabes agar diperluas oleh Tuhan bukanlah kepemilikan materi ataupun kemuliaan duniawi, melainkan keluasan di dalam tanggungjawab dan kepercayaan dari Tuhan serta keluasan di dalam keterlibatan dengan pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa Tuhan mau mengabulkan doa Yabes tersebut.

Di dalam Perjanjian Baru kita juga mendapati prinsip perluasan yang dikerjakan Tuhan dalam diri para hamba-Nya. Prinsip perluasan tersebut memiliki kemiripan dengan yang terdapat di dalam doa Yabes, dan bahkan lebih dari itu, prinsip tersebut juga mengalami perkembangan (progressive revelation) di dalam bentuknya.

Setidaknya ada tiga hal yang diperluas oleh Tuhan di dalam kehidupan spiritual para hamba-Nya, sebagaimana tercatat dalam Perjanjian Baru, yaitu:

  • Tuhan memperluas tanggungjawab pelayanan para hamba-Nya
  • Tuhan memperluas jangkauan orang-orang yang diselamatkan-Nya.
  • Tuhan memperluas hati hamba-Nya untuk sabar menerima kekurangan orang lain.

Kita akan membahas satu persatu pekerjaan Tuhan ini beserta contoh-contoh yang diambil dari Alkitab.


Tuhan memperluas tanggungjawab pelayanan para hamba-Nya

Dalam kisah Rasul, Tuhan Yesus berjanji bahwa daerah pelayanan para murid akan diperluas. Tuhan berkenan memberi para murid kepercayaan yang lebih besar, tanggungjawab yang lebih berat dan jangkauan pelayanan kesaksian yang semakin luas. Tuhan Yesus berkata: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8).

Meminta tanggungjawab yang lebih besar kepada Tuhan adalah suatu sikap yang baik, asalkan di dasarkan pada motivasi yang benar. Tetapi jika motivasinya keliru, maka Tuhan pun pasti tidak berkenan untuk mengabulkannya. Motivasi yang benar adalah ketika seseorang melihat betapa besarnya dan betapa pentingnya pekerjaan Tuhan di dunia ini sehingga ia terdorong untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan tersebut. Orang semacam itu melihat hati Tuhan yang mengasihi dunia yang sedang binasa ini dan hatinya pun turut bergetar bersama hati Tuhan, sehingga tercetuslah sebuah keinginan untuk turut bersusahpayah di dalam pekerjaan Tuhan itu.

Seorang teolog Inggris bernama John Knox (1514 - 1572) melihat betapa besar kebutuhan masyarakat Skotlandia untuk mengenal Yesus Kristus dan ia tidak tinggal diam. Doa John Knox yang terkenal adalah "Give me Scotland Lord, or I die." Berikan Skotlandia padaku ya Tuhan atau biarkan aku mati saja. 

Doa John Knox ini bukanlah suatu bentuk kesombongan, melainkan sebuah keinginan kuat dan kerelaan untuk dipakai dan diutus oleh Tuhan sebagai saksi-Nya dan sikap ini tidak bertentangan dengan keinginan Tuhan bagi para pengikut-Nya untuk menjadi saksi hingga ke ujung dunia. Bahkan mungkin tidak keliru juga apabila kita membandingkan ucapan John Knox ini dengan ucapan nabi Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8)

Kita dapat menghayati Doa Yabes di dalam konteks yang benar, yaitu ketika kita meminta kepada Tuhan agar diberi tanggungjawab pelayanan di dalam area yang lebih luas, entah lebih luas secara geografis, maupun secara bidang-bidang pelayanan yang semakin beragam dan berkembang luas.


Tuhan memperluas jangkauan orang-orang yang diselamatkan-Nya.

Pada awal-awal perjumpaan antara bangsa Israel dan Tuhan, sebagaimana yang mungkin dialami pula oleh Yabes, ada anggapan di dalam benak bangsa Israel bahwa Tuhan datang haya untuk menyelamatkan bangsa Israel saja dan akan membiarkan bangsa lain dalam kebinasaan.

Begitu kuatnya anggapan tersebut dipegang oleh mayoritas orang Yahudi sehingga mereka menganggap bangsa Israel merupakan bangsa paling istimewa yang lebih unggul dari bangsa manapun. Dan meskipun selama masa Perjanjian Lama Tuhan telah mengajar bangsa Israel bahwa Tuhan memperhatikan dan mau menyelamatkan pula bangsa-bangsa lain, orang Yahudi seperti sudah terlanjur merasa sebagai bangsa yang sangat istimewa dibandingkan bangsa yang lain. Mereka seperti lupa atau kurang menaruh perhatian bahwa di dalam Perjanjian Lama pun Tuhan mau menerima Rahab, perempuan Kanaan maupun Rut yang adalah perempuan Moab. Bahkan di dalam Kitab Yunus, Tuhan berupaya menyelamatkan Niniwe dari kebinasaan dengan cara mengutus Yunus ke sana.

Kesalahpahaman atau kekurangmengertian orang Israel bahwa Allah berencana pula untuk menyelamatkan bangsa-bangsa lain di luar Israel, agaknya masih terjadi pada orang Israel yang hidup sejaman dengan Tuhan Yesus. Rasul Petrus yang telah hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama kurun waktu 3 tahun pun tidak mudah untuk membuka hati bagi bangsa lain di luar Yahudi. Petrus telah sangat dipengaruhi oleh pandangan orang Yahudi yang menganggap bahwa orang berkebangsaan lain adalah orang najis atau tidak tahir. Hal ini dapat kita ketahui dari ucapan Petrus sendiri demikian: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir." (Kisah Para Rasul 10:28).

Suatu ketika, pada saat Petrus sedang lapar, Tuhan memberi penglihatan kepada Petrus tentang sekumpulan binatang yang dianggap najis bagi orang Yahudi, lalu Tuhan menyuruh Petrus untuk menyembelih dan memakan binatang-binatang tersebut. Sebagai penganut ajaran agama yang saleh, tentu saja Petrus menolak hal tersebut. Tetapi Tuhan punya maksud lain.

Mungkin semula Petrus pun merasa agak heran, mengapa Tuhan menyuruh dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah dalam Taurat? Tetapi dari sinilah Petrus belajar bahwa sekalipun Tuhan pernah mengajarkan konsep tahir dan najis di dalam soal makanan pada era Perjanjian Lama, namun bukan berarti bahwa prinsip itu dapat diterapkan kepada manusia. Tuhan memberi arahan kepada Petrus demikian: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." (Kisah Para Rasul 10:15)

Berdasarkan Firman Tuhan itulah Petrus mulai menyadari bahwa ia harus belajar untuk menerima pula orang lain yang non-Yahudi. Dan pada akhirnya Petrus menerima panggilan Tuhan untuk melayani Kornelius yang adalah seorang Romawi. Maka kemudian Petrus pun berkata: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang." (Kisah Para Rasul 10:34-36).

Jadi apakah contoh dari penggenapan atas Doa Yabes agar Tuhan memperluas daerahnya? Contohnya adalah Petrus yang telah memperluas sudut pandangnya tentang orang-orang yang membutuhkan Injil Keselamatan. Semula Petrus mengira hanya Yahudi saja, kini hatinya diperluas untuk menerima non-Yahudi juga.

Siapakah orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai orang asing atau kelompok orang yang tidak kita sukai sehingga kita merasa segan atau menganggap bahwa mereka tidak perlu dijangkau oleh Injil Tuhan? Mari kita perluas hati untuk menjangkau mereka juga.


Tuhan memperluas hati hamba-Nya untuk sabar menerima kekurangan orang lain.

Kalau dalam peristiwa Petrus dan Kornelius, persoalan yang mengemuka adalah seputar penerimaan terhadap orang yang berbeda, yang belum kita kenal, maka dalam peristiwa Paulus berikut ini, persoalan yang mengemuka adalah seputar mengampuni orang yang pernah mengecewakan kita.

Alkitab mencatat bahwa Paulus pernah bertengkar dengan Barnabas karena ulah perbuatan Markus, demikian: Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: "Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka." Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. (Kisah Para Rasul 15:35-39)

Dalam bagian ini, Paulus digambarkan sebagai pribadi yang sulit menerima orang lain, yaitu Markus, yang secara kerohanian kelihatan lemah dan kurang serius dalam melayani Tuhan. Bagi Paulus, orang seperti itu sudah dianggap gagal, serta tidak perlu diberi kesempatan atau kepercayaan lagi. Paulus adalah seorang pelayan yang terbiasa kerja keras dan sangat serius dalam melayani Tuhan. Tidak ada ruang di hati Paulus untuk orang-orang lemah seperti Markus.

Tetapi rekan sepelayanan Paulus yang bernama Barnabas, punya sikap yang berbeda. Barnabas bersedia memberi kesempatan lagi kepada Markus. Perbedaan itu cukup tajam hingga Paulus dan Barnabas pun berpisah sambil saling berselisih. Suatu gambaran yang mungkin kurang sedap dipandang, namun menjadi suatu kenyataan di dalam kehidupan setiap kita.

Betapapun Paulus adalah seorang rasul yang pandai dan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, kita perlu ingat bahwa beliau pun seorang manusia yang tidak luput dari kekurangan atau kelemahan. Dalam hal ini, kekuatan Paulus dalam melayani Tuhan justru menjadi suatu kelemahan dalam memahami orang lain dan menerima mereka yang masih lemah. Mungkin Paulus berharap semua orang bisa seperti dia dalam sikap melayani, padahal dalam kenyataannya tentu tidak semua orang bisa disamakan kekuatannya serta keadaan spiritualnya. Ada orang yang sudah lebih matang, tetapi ada pula orang yang masih bersifat kekanak-kanakan, bahkan ada pula mereka-mereka yang sedang bergumul dengan dosa.

Yang indah dari kisah ini bukanlah kisah kegagalan Markus dalam ujian kesetiaan atau kegagalan Paulus dalam ujian kesabaran untuk menerima kelemahan orang lain, yang indah dari kisah ini adalah bahwa Tuhan bekerja di dalam hati anak-anak-Nya, sehingga seorang Paulus yang semula berhati sempit, berubah menjadi pribadi yang berhati luas. Sebab dari surat Paulus kepada Timotius terungkap sikap hati Paulus yang telah menerima Markus kembali. Bahkan Paulus menganggap pelayanan Markus adalah sesuatu yang penting dalam menopang pelayanannya sendiri. 

Paulus menulis: "Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku" (2 Timotius 4:11). Pada akhirnya rasul Paulus membuka hatinya untuk Markus dan kita bersyukur atas kesempatan dan kepercayaan sang rasul ini kepada rekan pelayanannya yang lebih muda, karena di kemudian hari Markus pun dipakai Tuhan untuk menulis Injil yang pertama, yaitu Injil Markus yang kita kenal sekarang.


Penutup

Berdoa seperti Yabes agar Tuhan memperluas daerah kita, merupakan suatu hal yang baik apabila didasarkan pada pengertian yang benar dan motivasi yang benar, itu sebabnya Tuhan mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh Yabes. Akan tetapi apabila pemahaman kita salah dan motivasi kita pun salah, maka sangat mungkin Tuhan tidak akan mengabulkan doa kita tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita.

Kita masih akan melanjutkan pembahasan tentang Doa Yabes dalam tulisan mendatang.

Berlanjut ke:
Kiranya Engkau menyertai dan melindungi agar kesakitan tidak menimpa aku. Klik disini.


Sunday, May 26, 2024

Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah. (Serie Doa Yabes)

 

Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah

 

Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu. (1 Tawarikh 4:10)


Kiranya Engkau memberkati aku

Seruan Yabes agar Allah Israel memberkati dia, mengingatkan kita pada peristiwa pergulatan Yakub dengan Tuhan di tepi sungai Yabok. Setelah fajar menyingsing, ketika Tuhan akan meninggalkan dia, Yakub juga memohon agar Tuhan memberkati dia (Kej 32:26). Dua orang yang sama-sama sedang dalam pergumulan, dua orang yang sama-sama berseru kepada Allah Israel, dan dua orang yang sama-sama minta diberkati. Sulit untuk tidak melihat kesamaan di antara ke dua peristiwa, yaitu Yakub dan Yabes tersebut.

Pertanyaannya adalah pergumulan apa yang sedang mereka hadapi? Dan berkat apa yang sedang mereka minta dari Tuhan?

Bagi Yakub, pergumulan yang sedang ia hadapi adalah rasa takut karena sadar bahwa ia telah bersalah di hadapan Tuhan dan sesama. Yakub pernah menipu Esau, kakaknya, dan kini ia takut bahwa kakaknya akan marah sekali dan akan membunuh dia. Selain itu, Yakub juga merasa takut apabila ia harus mati dalam keadaan berdosa, maka ia harus berhadapan dengan penghakiman Ilahi atas dosa-dosanya tersebut.

Oleh karena itu, kita dapat menduga berkat apakah yang kiranya diminta oleh Yakub, dalam keadaan seperti itu, bukan? Apakah Yakub ingin berkat kekayaan yang berlimpah-limpah? Atau berkat kesehatan? Atau berkat puji-pujian dan pengakuan dari manusia? Tentu saja tidak.

Berkat yang dibutuhkan oleh Yakub adalah pengampunan dari Allah atas perbuatannya, sehingga ketika ia sudah menerima pengampunan dari Allah, ia sudah siap menerima konsekuensi dari Esau, apabila kakaknya itu masih marah kepadanya. Ketika Allah mengampuni Yakub, memang tidak ada jaminan baginya bahwa Esau juga akan mengampuni dia, tetapi hubungan yang dibereskan dengan Tuhan itu menjadi suatu landasan atau dasar bagi Yakub untuk berani menerima tanggungjawab atas perbuatannya di masa lalu.

Lalu sekarang, berkat apa yang diminta oleh Yabes melalui seruan kepada Allah Israel? Dalam konteks kitab Tawarikh sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya, maka dapat dipastikan bahwa bukan berkat berupa harta kekayaanlah yang diminta oleh Yabes. Hidup di era Hakim-hakim, Yabes bersama orang Israel lainnya, sedang berada dalam situasi peperangan dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah Israel.

Di dalam konteks peperangan seperti yang dihadapi oleh Yabes, ia meminta agar Tuhan yang telah mengutus dia untuk berperang itu berkenan untuk memberkati dia dengan keberanian dan kesetiaan.

Mengapa Yabes ingin mendapat berkat berupa keberanian? Sebab Yabes menghadapi peperangan yang diinisiasi oleh Tuhan, sebuah peperangan yang bersifat fisik, sekaligus merupakan peperangan yang bersifat rohani. Peperangan fisik yang dihadapi Yabes adalah peperangan yang benar-benar berhadapan dengan prajurit musuh yang bersifat garang serta berniat untuk membunuh lawannya, sehingga dalam peperangan itu pasti akan melibatkan otot, ketrampilan dasar untuk bertempur serta berisiko besar akan mengalami luka atau bahkan terbunuh dengan cara yang menyakitkan. 

Bersamaan dengan peperangan fisik ini, berkecamuk pula peperangan rohani, yaitu menumpas orang-orang berdosa yang menolak pengenalan sejati akan Tuhan. Kesesatan mereka harus ditumpas, agar dunia tidak semakin dicemari oleh ajaran sesat. Bagi kita di zaman modern ini, gagasan untuk menumpas orang berdosa yang tidak mengenal Tuhan secara fisik di dalam suatu peperangan, mungkin akan menjadi gagasan yang sulit diterima. Tetapi setidaknya ada dua hal yang harus kita pegang, pertama, gagasan yang sesat dari manusia yang tidak mengenal Tuhan, tetap harus kita lawan hingga saat ini, yaitu melalui pemberitaan Firman Tuhan dengan cara yang bertanggungjawab, secara gigih dan konsisten. Melalui pemberitaan Firman itu, kita turuf ambil bagian di dalam peperangan Ilahi dalam menumpas ajaran sesat dan ketidakmengenalan manusia akan Tuhan. Kedua, mengenai penumpasan secara fisik, memang semenjak zaman Perjanjian Baru hal itu sudah tidak diminta untuk dilakukan lagi oleh kita orang percaya, sebab kita telah diminta untuk menyerahkan segala penghakiman dan pembalasan ke dalam tangan Tuhan. 

Kita percaya bahwa pembalasan Tuhan itu bersifat pasti dan bersifat adil. Ada kalanya Tuhan mengizinkan orang jahat tetap hidup untuk jangka waktu tertentu, tetapi pada akhirnya kita tahu bahwa Tuhan memberi batas waktu bagi setiap orang, jika sudah tiba waktunya, maka orang-orang jahat yang menyesatkan dunia ini pasti akan ditumpas pula oleh Tuhan dengan cara-cara yang Tuhan sendiri tentukan. Ada yang mati karena sakit, ada yang mati karena dibunuh oleh aparat keamanan, ada yang mati karena kecelakaan dan lain sebagainya. Tuhan akan menjaga dan memelihara dunia ini dan Tuhan pasti akan membalas kejahatan manusia dengan penghakiman.

1 Tawarikh 4:41-43 dan 5:20 membicarakan tentang bangsa-bangsa yang harus ditumpas oleh orang-orang sebangsa dengan Yabes atas perintah Tuhan. Sebagai manusia yang normal dan bukan pembunuh profesional yang jiwanya penuh kebencian dan kesadisan, tentu saja Yabes dan sebagian besar orang Israel akan merasa takut untuk menghadapi peperangan yang bisa membawa risiko kematian. Oleh karena itu, bersama-sama, mereka juga berseru kepada Tuhan, mereka percaya kepada-Nya, sehingga mereka memiliki keberanian dalam menjalankan peperangan suci tersebut bagi Tuhan. 

Gambaran Alkitab tentang peperangan Tuhan, selalu bicara tentang penyertaan dari Tuhan, kekuatan dari Tuhan dan kemenangan dari Tuhan. Bukan seperti gambaran peperangan yang umumnya dikisahkan dalam cerita lain di luar Alkitab yang menekankan pada heroisme seorang manusia, dengan segala keberanian serta strateginya yang hebat. Di dalam peperangan Tuhan yang dibicarakan oleh Alkitab, Tuhanlah yang senantiasa menjadi pahlawan sejati, bukan manusia. Yabes menyadari hal itu, sehingga ia tidak mengandalkan hidupnya di atas kekuatannya sendiri, melainkan bersandar pada Tuhan yang memberikan berkat keberanian.

Sebagai orang Kristen, kita juga harus seperti Yabes dalam hal bersandar kepada Tuhan. Jangan memandang enteng peperangan rohani yang sedang berkecamuk di dalam dunia. Tanpa pertolongan dari Tuhan, maka segala strategi kita pasti akan menghasilkan kejatuhan, sebab lawan kita si iblis jauh lebih pandai daripada manusia manapun. Ketika kita pikir bahwa kita telah berhasil mengalahkan si iblis dengan kekuatan kita, maka sebenarnya justru pada saat itu kita telah masuk ke dalam perangkapnya. Kita menjadi sombong karena merasa menang, kita merasa tidak memerlukan Tuhan lagi, karena menganggap diri sendiripun mampu. Dan sementara kita sedang merasa menang seperti itu, iblis justru tertawa melihat jiwa kita yang terperangkap dalam kemenangan yang palsu tersebut, sebab target utama iblis justru adalah untuk menjauhkan manusia dari Tuhan, untuk membuat manusia merasa tidak memerlukan Tuhan lagi. Ironis sekali, bahwa di dalam kemenangan itu, kita justru sedang menuju kebinasaan.

Mengapa Yabes ingin mendapat berkat berupa kesetiaan? Sebab tanpa pertolongan Tuhan, manusia dengan mudah dapat berubah setia. Abraham yang disebut-sebut sebagai bapak kaum beriman pun pernah berubah setia, ia nyaris mengorbankan istrinya dan nyaris membuat Mesir dikutuk oleh Tuhan, sebagai akibat ketidaksetiaannya. Daud pernah berubah setia, Salomo pun pernah berubah setia. Bahkan murid-murid Tuhan Yesus pun tidak mampu untuk tetap setia menyertai Tuhan menuju Golgota. Dan secara khusus dalam 1Tawarikh 5:25 pun kita melihat orang-orang Israel yang berubah setia dari panggilan Tuhan.

Tidak seorang pun mampu untuk tetap setia kepada Tuhan, kecuali apabila Tuhan sendiri yang menganugerahkan hati yang setia kepada orang itu. Dan melalui Yabes kita belajar betapa dirinya memiliki rasa takut yang sehat, yaitu takut berubah setia kepada Tuhan ketika ia menjalankan tugasnya. 

Mengapa rasa takut Yabes disebut sebagai rasa takut yang sehat? Sebab rasa takut tersebut dikaitkan dengan Pribadi Tuhan. Banyak orang di dunia ini yang merasa takut akan sesuatu, tetapi ketakutan mereka diarahkan kepada hal-hal yang sebetulnya tidak penting (bahkan berdosa) di dalam pandangan Tuhan, misalnya, takut tidak diakui sebagai orang kaya, takut tidak diterima dalam status sosial tertentu, takut tidak dianggap penting oleh orang lain dan lain sebagainya. Semua itu merupakan rasa takut yang tidak ada hubungannya dengan Pribadi Allah, semua itu merupakan ketakutan yang timbul dari sifat kedagingan yang berdosa dan justru menjadi tanda bahwa orang tersebut belum atau kurang mengenal Allah yang sejati.

Yabes memiliki ketakutan yang ada kaitannya dengan Pribadi Allah, ia takut tidak setia pada-Nya, itu sebabnya ia meminta Tuhan memberkati dia dengan kesetiaan. Berapa banyak di antara kita yang masih setia untuk Tuhan setelah sekian lama menjadi Kristen? Adakah kita memohon dengan sungguh-sungguh agar Tuhan memberkati kita dengan kesetiaan? Ataukah dengan sikap yakin yang palsu kita menganggap bahwa hal itu tidak perlu terlalu diperhatikan? Kita berasumsi saja, bahwa sekali setia maka pasti akan tetap setia? Itu sikap yang sangat keliru. Mari belajar dari Yabes yang dengan rendah hati tetap memohon agar Tuhan memberkati dia dengan kesetiaan.


Berlimpah-limpah di dalam keberanian dan kesetiaan.

Jika kita sudah memahami berkat apa yang diminta oleh Yabes, maka mungkin kita bisa memahami mengapa Yabes meminta berkat tersebut secara melimpah-limpah. Yabes sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa, namun harus mengemban tugas yang besar dari Allah, itu sebabnya ia memohon agar Tuhan memberkati dia dengan berlimpah, agar ia mampu mengemban tugas mulia tersebut.

Harapan Yabes untuk mendapat berkat keberanian dan kesetiaan yang melimpah adalah gambaran orang yang rendah hati dan sadar akan betapa berlimpahnya Pribadi Tuhan, sadar akan betapa pentingnya pekerjaan Tuhan dan sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Tidak jarang orang Kristen yang justru bersikap sebaliknya dari sikap Yabes. Karena tidak mengenal siapa Tuhan, maka mereka pun tidak berdoa minta apa-apa pada-Nya. Karena tidak sadar akan tugas tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan, maka mereka tidak sungguh-sungguh di dalam berdoa. Dan karena memandang diri terlalu tinggi, di dalam rasa percaya diri yang palsu, dan terlalu memandang remeh tantangan yang dihadapi, akhirnya mereka merasa tidak terlalu membutuhkan pertolongan dari Tuhan.

Sangat tidak tepat jika berkat berlimpah-limpah yang dituliskan disini kemudian dipahami sebagai berkat materi, atau kesehatan atau kemuliaan dunia, sebab pasti bukan itu yang dipikirkan oleh Yabes. Mengapa kita bisa yakin bahwa bukan itu yang diminta oleh Yabes? Pertama, sebab apabila permintaan Yabes bersifat materi dan duniawi, maka tentu tidak akan cocok dengan konteks yang sedang dihadapi oleh Yabes saat itu. Kedua, jika permintaan Yabes bersifat material dan duniawi, maka tidak mungkin Tuhan mengabulkan permintaan tersebut.

Darimana kita tahu bahwa yang didoakan oleh Yabes, bukan kelimpahan harta atau kesehatan atau status sosial yang tinggi di mata manusia?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hati kita yang berdosa ini jauh lebih mudah untuk tertarik kepada kelimpahan harta duniawi, kelimpahan akan kesehatan badani serta kelimpahan pengakuan dari orang lain akan betapa hebatnya, mulianya dan luarbiasanya diri kita. Jauh di dasar lubuk hati manusia, ada kerinduan untuk menjadi seperti Allah (Kejadian 3).

Oleh karena itu, boleh jadi kepopuleran Doa Yabes di kalangan orang Kristen pun sebenarnya disebabkan karena secara sepintas doa ini terdengar seperti jalan keluar yang sangat rohani untuk memenuhi hasrat jiwa kita yang terdalam akan kelimpahan materi dan berbagai kemuliaan duniawi tadi. Pertanyaannya, akankah kita masih tetap menyanyikan Doa Yabes dengan sepenuh hati apabila kita sudah mengerti makna yang sebenarnya dari doa ini?

Kelimpahan yang diminta oleh Yabes, sudah pasti bukan kelimpahan materi atau kelimpahan akan kemuliaan dan kemegahan duniawi, sebab hal itu pasti akan bertentangan dengan prinsip-prinsip mendasar yang diajarkan di dalam Alkitab. Selain itu, doa-doa yang dipanjatkan untuk memenuhi nafsu duniawi seperti demikian, sudah pasti tidak mungkin akan dikabulkan oleh Tuhan (Yakobus 4:3)

Alkitab tidak mengajarkan kelimpahan materi sebagai sesuatu yang harus dikejar oleh orang percaya. Yang diajarkan oleh Alkitab agar dikejar oleh orang Kristen adalah:

  • sifat ke-Raja-an Allah (Matius 6:33)
  • wajah Allah atau pengenalan akan Pribadi Allah (2 Tawarikh 7:14)
  • kehidupan spiritual yang berbuah (Roma 7:4)
  • kekudusan hidup di hadapan Allah. (1 Petrus 1:16)

Mengenai kebutuhan manusia akan materi, Tuhan yang memelihara kita telah berjanji bahwa Dia sendirilah yang akan mencukupkannya bagi kita, sehingga tidak perlulah kita sedemikian banyak mengerahkan energi atau merasa sedemikian khawatir semata-mata untuk mencari apa yang harus dimakan atau diminum atau dipakai. Itu semua adalah hal-hal yang dicari oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. (Matius 6:31-32)

Bagi orang yang mengenal Allah, Tuhan Yesus mengajar kita melalui Doa Bapa Kami untuk meminta makanan yang secukupnya saja (Matius 6:11), bukan makanan yang berlimpah-limpah, bukan berkat materi yang berlimpah-limpah, sebagaimana yang disalahmengerti oleh orang Kristen ketika membaca doa Yabes. Prinsip serupa dengan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini, dapat kita temukan pula dalam tulisan Paulus, demikian : Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1 Timotius 6:8)

Jadi melalui perspektif Doa Yabes, kita diajar untuk meminta berkat rohani (seperti keberanian dan kesetiaan) yang berlimpah-limpah, tetapi melalui Doa Bapa Kami, kita diajar untuk meminta berkat jasmani (seperti makanan) yang secukupnya saja. Inilah prinsip Alkitab yang benar. Dan hal itu dapat kita lihat pula dalam kehidupan Tuhan Yesus dan para murid-Nya yang jauh dari gelimangan harta, hidup dalam kesederhanaan dan bahkan meninggal dunia secara terbunuh oleh orang-orang yang jahat.

Meski demikian, cukup disayangkan bahwa di dalam kehidupan orang Kristen sehari-hari, justru sebaliknya-lah yang lebih sering terjadi. Orang Kristen lebih tertarik pada berkat jasmani yang berlimpah, tetapi tidak ada atau kurang memiliki kepedulian pada berkat rohani. Orang Kristen pun lebih sering menganggap kesehatan fisik jauh lebih penting daripada kesehatan spiritual. Orang Kristen begitu tertarik pada ibadah penyembuhan fisik yang disertai mukjizat, tetapi tidak tertarik pada ibadah yang bersifat pengajaran Alkitab. Padahal jenis ibadah yang disebutkan pertama tadi lebih fokus pada kesembuhan fisik, sedangkan jenis ibadah yang disebutkan kedua, justru dapat menyembuhkan sakit rohani, melalui pengenalan yang benar akan Allah. Jika hasrat orang Kristen saat ini sudah sedemikian berbeda dalam cara pandang dan cara hidup Tuhan Yesus, maka bagaimana mungkin mereka akan memiliki persekutuan yang benar dengan Dia?

Tidak sedikit orang Kristen yang begitu menyukai perkataan Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes yang berbunyi: Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10), karena di dalam benak mereka Tuhan Yesus akan memenuhi hasrat mereka terdalam akan kekayaan materi, kesehatan dan berbagai kemuliaan dunia. Padahal bukan itu yang Tuhan Yesus maksudkan.

Yang Tuhan Yesus maksudkan dengan hidup berkelimpahan di dalam Yohanes 10 adalah hidup dari seseorang yang rela memberikan apapun bagi orang yang dikasihi, bagaikan seorang gembala yang rela menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya (lihat Yohanes 10:11,15 dan 17)

Orang yang hidup berkelimpahan menurut versi Alkitab adalah orang yang hatinya rela dan siap untuk memberi atau berbagi dengan sesamanya, karena orang itu berkelimpahan dengan cinta kasih Tuhan. Dan pemberian terbesar yang dapat diberikan oleh seseorang bagi sesama yang dikasihinya itu adalah nyawanya atau hidupnya sendiri. Tuhan Yesus sendiri pernah berkata: Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13).

Jadi sangatlah keliru apabila menafsirkan perkataan Tuhan Yesus tentang "hidup berkelimpahan" sebagai kehidupan yang berkelimpahan akan harta, kesehatan badani ataupun berlimpah di dalam bentuk-bentuk kemuliaan duniawi lainnya.

Kita perlu berhati-hati di dalam memaknai perkataan-perkataan di dalam Alkitab. Jangan biarkan hasrat kita yang berdosa atau nafsu kita akan dunia ini mempengaruhi cara kita memahami Firman Tuhan. Kita perlu menggali makna yang sebenarnya dari sebuah ayat dengan mempertimbangkan ayat-ayat lain di dalam Alkitab dan juga mempertimbangkan konteks dari ayat itu sendiri, sebab itulah cara yang paling bertanggungjawab di dalam menafsirkan Alkitab. Dan sebagai tambahan akhir yang justru paling penting adalah, kita perlu berdoa dengan hati yang jujur dan terbuka agar Roh Kudus memberi pengertian kepada kita sebab Roh Kudus-lah yang telah menuliskan ayat-ayat tersebut.

Kita masih akan melanjutkan pembahasan mengenai Doa Yabes di dalam tulisan-tulisan mendatang.

Berlanjut ke tulisan berjudul:
Kiranya Engkau memperluas daerahku. Klik disini.


Sunday, May 5, 2024

Mengapa Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya? (Serie Doa Yabes)

Mengapa Yabes lebih dimuliakan dari saudara-saudaranya?

Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan." (1 Tawarikh 4:9)


Mengapa doa Yabes menjadi sangat terkenal? Padahal itu merupakan doa yg sangat pendek? Dan bahkan nama Yabes sendiri pun sebetulnya hanya satu kali saja muncul di seluruh Alkitab.

Mengapa doa-doa seperti puji-pujian Hana misalnya kurang digali? Atau nyanyian pujian Maria contohnya? Mengapa tidak ada lagu untuk puji-pujian seperti itu? Padahal namanya jelas merupakan pujian Hana dan nyanyian pujian Maria.

Apakah karena isi dari doa Yabes yang sangat menarik, yang diam-diam telah membangkitkan hasrat kita yangbterdalam akan materi, kenyamanan dan cinta pada diri sendiri? Hanya diri kita dan Tuhan saja yang tahu tentang motivasi kita tersebut.

Tetapi jika kita kembali kepada Alkitab, kita mendapati bahwa nama Yabes hanya muncul satu kali saja, yaitu dalam 1 Tawarikh 4 ini, khususnya ayat 9 dan 10 yang membicarakan isi dari doa Yabes dan bagaimana respon Allah terhadap doa Yabes tersebut. Artinya, tidak banyak informasi yang dapat kita gali hanya berdasarkan dua ayat itu saja, sehingga kita harus berhati-hati sekali ketika ingin mengerti ayat ini, agar jangan sampai membuat penafsiran yang sesuka hati, sesuai angan-angan kita sendiri saja. 

Dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab yang cukup minim informasi seperti Doa Yabes ini, kita harus memakai prinsip-prinsip yang sudah ada di dalam bagian-bagian lain dari Alkitab dan membandingkan dengan apa yang dikatakan dalam doa Yabes ini. Prinsip penafsiran semacam ini biasa disebut dengan istilah: Alkitab menafsirkan Alkitab.


Dalam konteks zaman apakah Kitab Tawarikh ditulis?

Tawarikh ditulis oleh Ezra, tahun 440 SM dan di dalamnya menceritakan tentang peristiwa yang terjadi pada sekitar tahun 1.000-960 SM, dan bahkan ada pula sedikit pembahasan tentang Adam. Jadi singkatnya kitab ini memulai dari Adam, lanjut pada kisah penaklukan Kanaan, pemerintahan Daud, Salomo, raja-raja dan akhirnya tentang pembuangan bangsa Israel ke Babel.

Mengapa demikian? Sebab kitab ini ditulis kepada generasi baru Israel. Ini adalah bangsa yang baru saja keluar dari pembuangan. Mereka perlu diingatkan akan sejarah bangsa mereka agar memahami jati diri mereka yang sesungguhnya.

Israel dibuang ke Babel pada 586 SM, lalu pada kira-kira tahun 516 SM, oleh bangsa Persia mereka diizinkan untuk kembali ke Kanaan dan membangun Bait Allah. Jadi ada sekitar 70 tahun, mereka terbuang dari hadapan Tuhan, yang ditandai dengan terpisahnya mereka dari Bait Suci.

Sekilas tentang Sejarah Bait Suci, Bait Suci adalah suatu perwakilan dari kehadiran Allah secara khusus di tengah-tengah umat-Nya. Memang Bait Allah adalah bangunan buatan manusia, tetapi bangunan tersebut dijadikan simbolisasi kehadiran Allah yang nyata, sehingga menjadi suatu elemen yang sangat penting di dalam penyembahan kepada Yahwe. Secara substansi memang kita mempercayai Allah yang Mahabesar, yang kebesaran-Nya tidak mungkin di tampung di dalam sebuah bangunan buatan manusia. Tetapi di dalam anugerah-Nya, Tuhan telah bersedia menyatakan diri-Nya secara khusus di dalam Bait tersebut.

Di dalam sejarah Alkitab, semenjak keluar dari Mesir dan mengembara di padang gurun, bangsa Israel beribadah kepada Yahwe yang menandai kehadiran-Nya melalui Kemah Suci (Keluaran 25:9). Dan bangsa Israel terus beribadah, selama kurang lebih 500 tahun, di depan Kemah Suci itu sampai Salomo mendirikan Bait Suci. Hal itu dapat kita baca dalam Alkitab, demikian: Di hadapan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan, mereka melayani sebagai penyanyi sampai Salomo mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem. Mereka melakukan tugas jabatannya sesuai dengan peraturannya (1 Tawarikh 6:32).

Pada tahun 957 SM, Salomo mendirikan Bait Suci yang pertama. Namun Bait ini kemudian dihancurkan oleh Nebukadnezar dari Babilonia pada tahun 587/586 SM dan mengangkut orang Israel ke negri Babel.

Kelak, seperti dikatakan di atas, Bait Allah ke dua dibangun kembali pada saat bangsa Israel diizinkan untuk datang kembali ke Kanaan. Pembangunan Bait Allah kedua dipimpin oleh seorang bernama Zerubabel, Alkitab mencatat demikian: Pada waktu itu mulailah Zerubabel bin Sealtiel dan Yesua bin Yozadak membangun rumah Allah yang ada di Yerusalem. Mereka didampingi dan dibantu oleh nabi-nabi Allah. (Ezra 5:2)

Bait Allah yang ada pada zaman Tuhan Yesus adalah Bait Allah kedua yang telah diperbesar, diperbaharui secara cukup masif oleh Herodes. Waktu yang dipakai oleh Herodes untuk merenovasi Bait Allah adalah 46 tahun, yaitu dari 20 SM sampai dengan 26 M. Hal itu sempat dituliskan oleh rasul Yohanes demikian : Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" (Yohanes 2:20).

Generasi baru Israel pembaca kitab Tawarikh, perlu mengetahui sejarah perbuatan Allah kepada leluhur mereka, bagaimana Allah membuang Israel, bagaimana Allah memelihara Israel dan bagaimana Allah mengembalikan mereka ke Tanah Perjanjian, agar mereka mengenal siapa Allah yang mereka sembah dan siapakah jatidiri mereka yang sebenarnya, yaitu umat pilihan Allah yang mendapat anugerah, sekaligus mendapat tugas dan tanggungjawab sebagai wakil Allah di dunia ini.

Yabes diperkirakan hidup di dalam konteks jaman hakim-hakim, yaitu sesudah bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. Mereka diberikan tanah perjanjian, sebagai sebuah anugerah, sekaligus sambil memikul tanggungjawab, yaitu berperang melawan bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. Inilah tanggungjawab sebagai wakil Tuhan dalam menyatakan kesucian-Nya serta penghakiman-Nya atas bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

Dalam konteks Hakim-hakim ada dua hal yang perlu dijaga oleh umat Tuhan, yaitu keberanian untuk melawan bangsa lain dan kesetiaan kepada Allah, agar tidak menyimpang kepada allah lain yang disembah oleh orang Kanaan.


Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya

Mengapa Yabes dikatakan lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya? Alkitab tidak memberikan penjelasan yang eksplisit tentang mengapa, tetapi dari teks-teks selanjutnya kita membaca setidaknya ada dua hal yang mau diajarkan kepada generasi baru Israel, yaitu:

  • bahwa Yabes lahir dari kesakitan.
  • bahwa Yabes berseru/berdoa pada Allah Israel.

Tetapi, apa hubungan antara kesakitan dan kemuliaan? Hidup di dunia bersama Tuhan, hal pertama yang harus kita hayati bukanlah bagaimana hidup penuh sukacita, apalagi kemuliaan ala dunia, melainkan merenungkan apa artinya berdukacita secara rohani.

Tuhan Yesus pernah berkata: Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur (Matius 5:4). Dukacita adalah emosi yang sewajarnya dimiliki oleh orang-orang yang sudah melihat kesucian Allah, melihat keberdosaan dirinya dan melihat keadaan dunia yang sedang berjalan menuju kebinasaan ini. Apabila kita tidak memiliki perasaan berduka atas kehidupan kita di dunia ini, maka agak disangsikan apakah kita juga sudah mengerti apa itu Injil Keselamatan Allah, apa itu karya keselamatan yang dikerjakan Kristus. Kematian Kristus di atas kayu salib sudah pasti bukan suatu kejadian yang pantas kita tanggapi dengan tertawa-tertawa, senyum-senyum dan apalagi berpesta. Tuhan sedang mengalami kematian, yang sebenarnya merupakan kematian kita sendiri, apakah sukacita merupakan sikap yang tepat dalam menanggapi penderitaan dan kematian Tuhan kita?

Baru setelah ada kebangkitan, ada penghiburan serta ada pengharapan di dalam Tuhan yang bangkit itulah, maka kita punya alasan untuk bersukacita.

Di dalam kitab Yesaya kita mendapati penggalan kalimat seperti ini: ..".untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung" (Yesaya 61:2). Dari kalimat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa tanpa adanya penghayatan akan perkabungan, bagaimana mungkin akan ada penghiburan yang dari Tuhan?

Kekristenan yang hanya mengerti sukacita, gembira-gembira, senda gurau, tetapi tidak mengerti apa itu kematian di dalam Tuhan dan tidak mengerti dukacita rohani apa yang meliputi dunia, bukanlah kekristenan sejati, sebab Tuhan datang untuk menghibur yang berduka. Tetapi sebaliknya, kekristenan yang murung, sedih, marah putus asa terus menerus, juga bukan kekeristenan sejati, sebab pengharapan di dalam Tuhan bukanlah sesuatu yang sia-sia. 

Dalam Perjanjian Lama pun ada gambaran yang cukup kontras tentang kehidupan keluarga Kain dan keluarga Set. Di mana keluarga Kain diisi oleh orang-orang yang sukses, gagah perkasa, sedap dipandang, sedangkan keluarga Set justru tidak ada penyebutan apapun tentang prestasi mereka. Keluarga Kain tidak ada penghayatan akan hidup menderita, justru mereka yang membuat orang lain menderita. Keluarga Kain tidak ada penghayatan bahwa mereka berdosa, hidup di tanah yang terkutuk, sedang sebaliknya keluarga Set justru adalah keluarga yang mengerti apa itu penderitaan, apa itu kutukan dari Tuhan, sehingga mereka menantikan penghiburan dari Tuhan. Dan ketika Tuhan akhirnya memberi penghiburan, mereka pun sangat bersuka cita, sebagaimana yang dicatat oleh Alkitab demikian: 28 Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki, 29 dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: "Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN." (Kejadian 5:28-29). Keturunan Set, pengganti Habel, justru menghayati apa itu hidup bersusah payah dan apa artinya hidup dibawah keterkutukan.

Keluarga Kain tidak mengerti apa artinya berduka di hadapan Tuhan. Mereka tahu bagaimana sukses mengatasi masalah, bagaimana sukses mengalahkan orang lain, sukses menguasai dunia dan menjadi kaya. Sementara keluarga Set justru mengerti apa itu berduka. Dan kita (seharusnya) sudah tahu, kehidupan mana yang diperkenan oleh Tuhan, dan mana yang dikutuk oleh Tuhan, bukan?

Kita mungkin sering berduka, tetapi apa yang seringkali membuat kita berduka? Karena perekonomian yang sedang turun? Karena orang lain tidak mengerti kita? Karena tidak dihargai atau kurang dikagumi oleh orang banyak? Apabila kedukaan kita hanya sebatas hal-hal ini, maka penghiburan dari Kristus tidak akan relevan bagi kita. Tetapi apabila kedukaan kita disebabkan oleh kesadaran akan dosa kita, kesadaran akan ketidakmampuan kita membalas cinta kasih Tuhan, kesadaran bahwa kita belum bisa mengasihi sesama kita atau kedukaan yang timbul karena hati yang makin selaras dengan hati Tuhan yang juga sedang berduka melihat kerusakan di dunia ini, maka kedatangan Kristus benar-benar merupakan penghiburan bagi kita.


Jadi, mengapa Yabes lebih mulia dari saudaranya?

Alasan Pertama mengapa Yabes dimuliakan adalah: karena ia mengerti apa artinya menderita bersama Tuhan di dalam dunia yang terkutuk ini. Yabes adalah gambaran dari Kristus yang juga mendapat kemuliaan setelah melewati penderitaan. Iniil Lukas mencatat demikian: Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (Lukas 24:26)

Perhatikan hubungan antara penderitaan dan kemuliaan dalam hidup Kristus, seperti yang dikatakan dalam Injil Lukas. Tidak jarang orang Kristen berpikir, "yang menderita itukan Kristus, bukan saya, berarti saya aman dong?" Atau cara berpikir lain adalah: "Justru karena Kristus sudah menderita, maka berarti saya bebas, tidak harus menderita lagi."

Sepintas cara berpikir seperti itu ada benarnya, tetapi kalau kita berpikir demikian, maka hal ini hanya menunjukkan, bahwa kita tidak ada relasi kasih dengan Dia. Sebab kalau kita menyayangi seseorang, lalu orang itu menderita. Apakah kita dengan mudahnya dapat berkata: "biarlah itu urusan Dia, yang menderita itukan dia, saya kan tidak?"

Lagipula, Alkitab sendiri tidak mendukung cara berpikir seperti yang saya uraikan dalam paragraf di atas. Alkitab, khususnya Kitab Roma berikut ini, justru berkata: Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:17)

Alasan Kedua mengapa Yabes lebih dimuliakan adalah karena Yabes berdoa atau berseru kepada Allah yang benar. Hal itu dapat kita ketahui dari ayat berikutnya, yaitu: Yabes berseru kepada Allah Israel (1 Tawarikh 4:10).

Apa hubungan antara doa dan kemuliaan? Doa adalah suatu perbuatan yang membedakan antara manusia dan binatang. Darimana kita tahu prinsip seperti ini? Dari kisah Nebukadnezar dalam Daniel 4:34. Nebukadnezar dianggap sebagai manusia oleh Tuhan ketika ia bisa berdoa kepada Yahwe. Sebelum ia bisa berdoa, berkata-kata kepada Tuhan, maka bagi Tuhan Nebukadnezar pada dasarnya adalah binatang.

Begitu pentingnya doa dalam kehidupan orang percaya, namun sayangnya, tidak semua orang Kristen bisa dan biasa berdoa. Ada orang Kristen yang tidak bisa berdoa, ketika tiba-tiba ditunjuk untuk berdoa, orang itu ketakutan dan menolak, lalu dengan agak panik meminta agar orang lain saja yang berdoa. Dalam konteks kehidupan orang Kristen, menolak untuk berdoa di depan umum adalah indikasi sederhana dari kehidupan pribadi yang jarang atau tidak pernah berdoa. Ia tidak biasa berbicara dengan Tuhan sehingga ketakutan ketika diminta berdoa secara spontan sambil didengarkan orang lain. Atau mungkin juga orang itu memang pernah berdoa, tetapi doa yang diucapkan adalah doa hafalan yang diucapkan berulang-ulang, tanpa ia sendiri menyadari apa yang sedang ia katakan kepada Tuhan, sehingga ucapan tersebut lebih mirip sebuah mantra ketimbang sebuah pembicaraan antara orang percaya dengan Tuhannya.

Di sisi lain, ada juga orang yang kelihatannya seperti pandai berdoa, fasih lidah, tahu memakai kata-kata yang tepat, enak di dengar dan bahkan berdoa dalam durasi yang panjang. Tetapi belum tentu orang seperti ini memang biasa berdoa di dalam kehidupannya, dalam arti, belum tentu senantiasa melibatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, belum tentu bertanya kepada Tuhan ketika akan mengambil keputusan. Di depan orang lain keliatan pandai berdoa, tetapi di dalam keseharian ia lebih mengandalkan kepandaiannya, kekayaannya, koneksinya, pengalamannya dan lain-lain, ketimbang mengandalkan Tuhan melalui doa. Ketrampilannya berdoa di depan orang lain mungkin disebabkan karena ia memang pandai bicara, atau mungkin juga karena orang itu ingin pamer saja di depan orang lain agar kelihatan hebat, kelihatan rohani dan lain sebagainya.

Pada praktiknya ada orang-orang yang merasa dirinya cukup hebat, cukup pandai, cukup berani, cukup berpengalaman, sehingga merasa tidak perlu berdoa. Bagi orang seperti itu, doa hanya menjadi pilihan yang terakhir, ketika usaha manusia tampak menemukan jalan buntu, ketika tantangan sudah terlalu besar.

Yabes berbeda, ia disebut lebih mulia dari saudara-saudaranya karena ia berseru kepada Allah Israel. Yabes dalam hal ini adalah sosok yang seperti Kristus, yang juga senantiasa berdoa di dalam segala situasi. Kristus berdoa sebelum memilih murid-murid-Nya (Lukas 6), Ia berdoa di pagi hari ketika hari masih gelap (Markus 1:35), berdoa sebelum menolong para murid yang terkena badai (Matius 14:23), Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemane sebelum Ia mengalami penderitaan di atas kayu salib.

Berdoa adalah gesture kerendahan hati di hadapan Allah. Jika Kristus saja yang mahakuasa, mau merendahkan diri-Nya di hadapan Bapa, mengapa kita manusia justru tidak? Itu sebabnya, ketika ada manusia yang bersikap seperti Kristus, mau merendahkan dirinya di dalam doa, mau membiarkan Tuhan memimpin langkah hidupnya, mau meminta petunjuk Allah dalam mengerti kebenaran, mau bersandar pada kekuatan Tuhan dan bukan pada kekuatannya sendiri, mau bersandar pada hikmat Tuhan dan bukan pada pengertiannya sendiri, maka wajar sekali apabila orang itu dianggap lebih mulia daripada saudara-saudaranya yang tidak demikian.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita.


Bersambung ke tulisan selanjutnya:
Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah. Klik disini.