Showing posts with label Hari Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Hari Tuhan. Show all posts

Sunday, October 3, 2021

Eksposisi 2 Petrus 3:1-18 tentang Hari Tuhan

Apa yang dimaksud Petrus dengan Hari Tuhan?
Seberapa mengerikankah Hari Tuhan itu?
Siapakah yang dimaksud oleh Petrus dengan pengejek-pengejak Tuhan?
Apa isi dari ejekan mereka?
Bagaimana tanggapan Petrus terhadap para pengejek Tuhan itu?


Oleh: Izar Tirta


 

Tulisan berikut ini merupakan sebuah eksposisi singkat terhadap 2 Petrus 3:1-18 yang menurut Alkitab LAI berbicara tentang Hari Tuhan. Harapan dari tulisan ini adalah agar melalui eksposisi yang bersifat singkat dan sederhana, kita semua dapat memperoleh makanan rohani yang cukup berharga dari setiap ayat yang ada di surat 2 Petrus 3:1-18 tersebut, namun juga cukup singkat atau sederhana untuk dipahami oleh siapapun. Karena eksposisi terhadap 2 Petrus 3:1-18 ini bersifat singkat, maka sayapun tidak masuk terlalu dalam hingga membahas bahasa asli dari ayat-ayat tersebut atau membuat perbandingan-perbandingan serta mendiskusikan komentar-komentar dari para ahli Perjanjian Baru pada umumnya atau ahli Surat 2 Petrus pada khususnya. Melalui Eksposisi singkat 2 Petrus 3:1-18 ini saya berharap kita dapat sama-sama semakin diteguhkan di dalam iman, kasih dan pengharapan kita pada Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita.


2 Petrus 3:1 Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan,

Saudara-saudara yang kekasih,

Melalui ungkapan ini, kita melihat bahwa Rasul Petrus memiliki kasih yang besar kepada jemaatnya. Sama seperti Tuhan Yesus juga mengasihi jemaat, demikian pula para rasul meneruskan kasih itu kepada jemaat. Ini bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Ini bukan sesuatu yang bersifat basa-basi belaka. Kita percaya bahwa ini adalah ungkapan yang tulus dari Petrus kepada jemaat yang dilayaninya.

ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu.

Di satu sisi, ungkapan ini menunjukkan perhatian Petrus kepada jemaat yang dilayaninya. Tetapi disisi lain, ini juga sekaligus menunjukkan bahwa ada persoalan di dalam jemaat ini yang belum bisa diselesaikan melalui surat yang pertama. Ada kairos di dalam pemberian berkat dari Tuhan, oleh karena itu kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya berkat yang Tuhan berikan melalui orang-orang tertentu selagi masih ada kesempatan. Karena kesempatan yang baik seperti itupun bukannya tidak akan berakhir.

Aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan,

Bagi Petrus adalah hal yang penting untuk memberi pengertian yang murni kepada jemaat. Petrus mengatakan bahwa ia berusaha. Petrus tidak santai-santai menyerahkan segala persoalan kepada tangan anugerah Tuhan. Pertumbuhan jemaat memang adalah suatu anugerah Tuhan. Tetapi itu tidak menghilangkan aspek tanggungjawab manusia juga.

Dalam hal ini Petrus berusaha menjalankan tanggungjawabnya sebagai pemimpin jemaat untuk memberi pengertian. Dan pengertian tersebut dicapai melalui peringatan-peringatan.


2 Petrus 3:2 supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu.

Petrus ingin jemaat mengingat perkataan pada nabi dan rasul. Petrus ingin jemaat ingat perintah Tuhan dan Juruselamat. Perkataan nabi biasanya mengacu pada PL. Sedangkan perkataan rasul biasanya mengacu pada PB.


2 Petrus 3:3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.

Yang terutama harus kamu ketahui

Ini adalah informasi dari Rasul Petrus mengenai situasi di antara jemaat saat itu. Selain mengingat akan Firman, jemaat juga diajak melihat apa yang terjadi di sekeliling mereka. Selain mengingatkan tentang Firman, Petrus ingin jemaatnya mengetahui bahaya apa yang sedang mengintai jemaat.

Pada hari-hari zaman akhir

Perhatikan bahwa istilah yang dipakai adalah “zaman akhir,” bukan “akhir zaman.” Istilah tersebut bersifat umum (general) dan jamak, berbicara tentang suatu durasi, bukan satu titik waktu tertentu.

Akan tampil pengejek-pengejek:

Setelah Tuhan Yesus bangkit dan naik ke sorga, Tuhan mengutus para rasul untuk melanjutkan kesaksian mereka. Dari mula-mula 12 Rasul, lalu berkembang 70, lalu 500, lalu 3000 dan seterusnya. Dunia mendapatkan anugerah melalui orang- orang yang diselamatkan tersebut. Akan tetapi Tuhan Yesus juga pernah menyampaikan bahwa di dalam kerajaan Allah, bahkan setan-setan pun mendapat kesempatan untuk menabur benih ilalang. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh apabila akan tampil para pengejek, bersamaan dengan tampilnya para pelayan Kristus.

Yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya:

Petrus juga ingin jemaat tahu seperti apakah profil dari orang orang yang suka mengejek. Yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya saja. Menurut Petrus dalam surat ini, ada hubungan yang erat antara orang yang suka mengejek dan orang yang hidup menuruti hawa nafsu. Sedangkan menuruti hawa nafsu dalam bagian ini dikontraskan dengan orang-orang yang mengingat ajaran nabi dan rasul.


2 Petrus 3:4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan."

Dimanakah janji tentang kedatangan-Nya itu?

Isi dari ejekan orang yang menuruti hawa nafsu di sini adalah terkait dengan kedatangan Tuhan. Mengapa mereka menanyakan hal ini? Apakah ini tanda bahwa mereka rindu akan kedatangan Tuhan? Tidak. Mereka menanyakan hal ini bukan karena mereka memang menantikan Tuhan. Mereka bertanya hal itu justru karena mereka tidak percaya bahwa Tuhan akan datang.

Sejak bapa-bapa leluhur meninggal, segala sesuatu tetap seperti pada waktu dunia diciptakan."

Argumentasi mereka adalah segala sesuatu tetap seperti semula. Sejak bapa leluhur meninggal sudah seperti ini. Bahkan sejak waktu dunia diciptakan pun segalanya sudah seperti ini. Allah tidak pernah datang, Allah tidak pernah bertindak secara nyata. Kehadiran-Nya sungguh tidak riil.


2 Petrus 3:5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air,

Mereka sengaja tidak mau tahu:

Jadi sebetulnya mereka bukannya tidak tahu, tapi sengaja tidak mau tahu. Bukan kurang informasi tetapi lebih kepada hati yang menentang.

Bahwa oleh Firman:

Langit dan bumi bukan terjadi secara kebetulan. Perkataan Tuhanlah yang menyebabkan langit dan bumi ada.

Langit dan bumi telah ada sejak dahulu

Keberadaan langit dan bumi adalah suatu tanda yang objektif dan dapat diobservasi oleh siapapun. Seharusnya, manusia bisa menerima hal ini, karena mereka sudah biasa dengan konsep tersebut. Tapi mengapa manusia masih mengejek? Apa sebetulnya yang menjadi bahan ejekan mereka? Dalam ayat 4 sudah disebutkan bahwa isi dari ejekan mereka adalah tentang kedatangan Allah. Manusia pada zaman akhir, menurut sudut pandang surat Petrus tidak mempertanyakan apakah Allah ada atau tidak? Yang mereka pertanyakan adalah: Apakah Allah akan datang atau tidak. Mengapa mereka mengejek hari kedatangan Allah?

Bumi yang berasal dari air dan oleh air:

Penciptaan dunia bukan dari tidak ada menjadi ada. Tetapi dari kekacauan menjadi teratur. Tadinya kacau, Tuhan berFirman menjadi baik. Tadinya kosong, menjadi terisi. Kekacauan dan kosong sudah ada di dalam ciptaan. Tohu wabohu adalah dunia yang hancur lebur dan mematikan. Manusia tidak mungkin bisa hidup di dalam keadaan seperti ini. Kalaupun akhirnya manusia bisa hidup, itu adalah karena Tuhan menopang. Petrus mempertanyakan, mengapa manusia mengejek pemeliharaan Allah? Bukankah pemeliharaan Allah sudah nyata di dalam bumi yang berasal dari air dan oleh air?


2 Petrus 3:6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah.

Di sini Petrus mengingatkan pembacanya pada peristiwa Air Bah di zaman Nuh. Air yang semula dibatasi dan dijaga daya hancurnya  oleh Allah seperti Kejadian 1. Pada zaman Nuh dilepaskan kembali daya hancurnya sehingga menjadi kekuatan menghancurkan. Dan ketika Allah membiarkan kekuatan menghancurkan ini terlepas. Maka tidak ada kekuatan apapun pada diri manusia untuk mencegahnya. Jangankan manusia, bahkan bumi yang dahulu itupun akhirnya binasa dan musnah.


2 Petrus 3:7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.

Oleh Firman itu juga:

Yaitu oleh Firman yang sama itu juga, Firman yang memelihara bumi sejak penciptaan, Firman yang menghakimi bumi pada peristiwa air bah, Firman yang menahan dan menjaga bumi dari kehancuran. Firman yang sama itu juga, masih relevan hingga jaman Petrus. Bahkan masih relevan hingga hari ini dan relevan sampai selamanya.

Langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api:

Langit dan bumi yang sekarang mengacu pada langit dan bumi yang Petrus kenal, dan pasti juga merupakan langit dan bumi yang kita kenal saat ini, adalah langit dan bumi yang juga berada di dalam pemeliharaan tangan Tuhan. Tidak ada yang berubah.

Apakah daya hancur berikutnya yang dimaksud oleh Petrus? Api. Jika pada jaman Nuh ada air bah yang dipakai Tuhan untuk menghakimi manusia. Maka pada waktu yang ditentukan oleh Tuhan sendiri, bumi akan dimusnahkan oleh api.  Petrus menasihati orang yang tidak percaya: mengapa kamu hidup seolah Tuhan tidak ada? Padahal bumi masih ada sampai sekarang ini adalah karena Tuhan yang memelihara dan menopang. Tuhan pelihara dan topang bumi dari kehancuran, untuk dilepaskan pada hari penghakiman nanti.

Dan disimpan untuk hari penghakiman:

Kata “disimpan” mengindikasikan adanya suatu perencanaan, suatu kesengajaan untuk menunda melakukan sesuatu. Dan dalam hal ini yang ditunda oleh Tuhan adalah hari penghakiman. Jadi meskipun saat ini hari penghakiman yang paling akhir itu belum tiba. Tetapi surat Petrus menegaskan bahwa hal itu pasti akan terjadi.  Oleh karena itu, jika hingga sekarang Tuhan belum menghakimi secara final, itu adalah karena Tuhan menunggu manusia berbalik kepada-Nya. Dan sementara menunggu waktu itu, kita melihat bagaimana Tuhan masih menahan alam ini agar tidak sepenuhnya menghancurkan manusia.


2 Petrus 3:8 Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.

Yang satu ini tidak boleh kamu lupakan

Kita hanya bisa melihat penghakiman Allah yang final itu, atau kiamat melalui perspektif yang satu ini. Kita jangan membuat perspektif lain tentang kiamat.

Yaitu bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti 1000 tahun

Tuhan punya cara hitung waktu yang berbeda, yaitu 1 hari sama seperti 1000 tahun dan demikian pula sebaliknya. Apa arti semua ini? Artinya, Tuhan mau agar kita melihat waktu secara antisipatif. Artinya waktu itu tidak relevan, jangan kita coba untuk hitung hari. Cara hitung harinya adalah dengan menyadari bahwa Tuhan bisa datang kapanpun.


2 Petrus 3:9 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya

Tuhan pasti akan menepati janji-Nya. Jika Dia mengatakan bahwa Dia akan menghakimi dunia, maka penghakiman itu pasti akan terjadi. Kalaupun saat ini belum terjadi penghakiman itu, maka hal itu bukan karena Tuhan lalai. Bukan karena Ia lupa atau ganti rencana. Tetapi karena memang waktunya belum tiba di dalam bijaksana Tuhan.

sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu

Tuhan adalah Pribadi yang sering disalahpahami. Tuhan yang mahamulia, malah dianggap sebagai Tuhan yang lalai. Ini suatu penilaian yang sangat buruk.

Manusia sering lalai, Tuhan tidak pernah lalai. Tetapi justru manusia yang menganggap Tuhan lalai. Bukan Tuhan yang terlebih dahulu mengatai manusia sebagai lalai. Sebagai ganti dari penghakiman dan penghukuman atas kelalaian dan kekurangajaran manusia yang berani menilai Tuhan secara sembarangan, Tuhan justru bersabar.


2 Petrus 3:10 Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri:

Meskipun Tuhan itu bersabar pada manusia. Meskipun Tuhan menunda penghakiman final-Nya. Tetapi kedatangan-Nya tidak mungkin terduga oleh siapapun. Seperti pencuri yang datang ketika semua orang tidak siap. Demikian pula Tuhan akan datang di waktu yang tidak terduga. Tidak seorang pun yang tahu berapa banyak lagi waktu yang dimiliki untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Itu sebabnya, jangan berpikir bahwa kita masih memiliki waktu yang panjang.

langit akan lenyap, dunia akan hangus, bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap:

Jangankan manusia yang rapuh, langit yang perkasa dan seolah tidak ada batasnya pun akan dilenyapkan. Di hadapan penghakiman Tuhan, jangankan manusia yang kecil, dunia yang sedemikian besar inipun akan hangus. Di hadapan Allah yang saat ini tidak kelihatan, suatu saat bumi dan segalanya ini yang justru akan lenyap. Allah yang tidak kelihatan bahkan lebih riil daripada bumi yang kelihatan.


2 Petrus 3:11 Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup

Segala info tentang kehancuran dunia ini bukanlah suatu informasi yang tidak ada hubungannya dengan kita. Jika dunia ini, yang bersifat mati, yang tidak berbuat dosa kepada Tuhan, tetapi mengalami kehancuran yang sedemikian dahsyat. Maka darimanakah timbul pikiran di dalam diri manusia bahwa manusia akan luput dari penghakiman yang dahsyat dari Tuhan.

Informasi tentang hari kiamat, bukanlah sesuatu yang kita pelajari di dalam kelas-kelas teologi tetapi tidak kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang Tuhan dan penghakiman dan hari kiamat hendaknya menjadi peringatan bagi kita untuk hidup suci dan saleh. Orang yang tidak berusaha hidup suci dan saleh. Orang yang malah mengejek Tuhan. Orang yang malah menganggap Tuhan itu lalai. Apakah yang akan terjadi pada mereka, apabila mereka tidak bertobat? Sangat mengerikan.


2 Petrus 3:12 yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.

Kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah:

Orang percaya yang sungguh-sungguh hidup kudus di hadapan Allah, adalah orang yang menantikan kedatangan Allah. Dan orang yang menantikan kedatangan Allah, adalah orang yang juga mempercepat kedatangan hari Allah. Betapa besar kuasa yang Tuhan percayakan di tangan orang-orang kudusnya.

Langit akan binasa dalam api dan unsur dunia akan lenyap dalam nyalanya:

Ini bukan gambaran dari pertobatan. Ini bukan gambaran dari restorasi umat manusia. Ini adalah gambaran dari penghakiman terakhir. Langit dan dunia adalah bagian dari alam yang setia dalam menjalankan fungsinya. Langit dan dunia adalah benda mati yang turut dihancurkan oleh karena dosa manusia. Terlebih lagi yang akan terjadi pada manusia-manusia yang terus mengejek Allah lalai.


2 Petrus 3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

Tetapi sesuai janji-Nya:

Orang percaya menyandarkan harapan mereka di dalam janji Allah. Orang percaya tidak menyandarkan harapan mereka pada keadaan. Atau pada kekuatan mereka. Atau pada kemajuan peradaban, kemajuan teknologi atau apapun. Orang percaya tidak berharap pada manusia. Satu-satunya harapan orang percaya adalah janji Allah untuk memulihkan keadaan.

Kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru:

Kita tidak bersuka cita karena langit dan bumi yang lama itu dihancurkan. Kita bersukacita karena menantikan langit dan bumi yang baru. Allah akan memulihkan dunia ini. Allah akan melenyapkan yang lama dan memberikan yang baru.

Dimana terdapat kebenaran:

Dalam langit dan bumi yang lama, kebenaran Allah juga ada. Tetapi kebenaran Allah itu masih sering dinodai oleh kejahatan manusia. Allah yang benar, masih diejek oleh manusia yang berdosa. Dalam langit dan bumi yang baru, semua noda, kejahatan dan bahkan pribadi orang yang tidak benar itu akan disingkirkan oleh Tuhan. Sehingga di dalam langit dan bumi yang baru, hanya akan terdapat kebenaran.

Kebenaran seperti apa? Pengenalan yang benar akan Pribadi Allah. Ibadah yang benar kepada Allah yang sejati. Para penyembah benar.


2 Petrus 3:14 Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.

Sebab itu:

Sebab janji Allah akan langit dan bumi yang baru itu.

Saudara-saudaraku yang kekasih:

Kembali Rasul Petrus mengulang bentuk ungkapan kasihnya kepada jemaat. Segala nasihat dan peringatan yang diberikan oleh Petrus bukanlah sebuah pesan kebencian. Sekalipun isinya tentang penghakiman Ilahi, tetapi pesan tersebut disampaikan oleh Petrus di dalam kasih kepada saudara-saudara seiman.

Sambil menantikan, kamu harus berusaha:

Orang Kristen tidak pasif saja menunggu janji Allah. Tetapi orang Kristen juga diminta untuk berusaha. Perhatikan bahwa prinsip anugerah dan janji Allah tidak bertentangan dengan keharusan untuk berusaha.

Tak bercacat, tak bernoda, dalam perdamaian dengan Dia:

Seringkali berita Injil disalahmengerti oleh orang Kristen sendiri. Karena terlalu menekankan pada pesan anugerah, maka seolah-olah setiap usaha spiritual manusia langsung dicurigai sebagai legalisme. Tetapi disini kita membaca bahwa Petrus pun mendorong jemaat untuk berusaha hidup tak bercacat, berusaha untuk hidup tidak bernoda dan senantiasa di dalam perdamaian dengan Yesus Kristus.

Di satu sisi, Alkitab mengajarkan bahwa Kristus-lah yang mengerjakan pendamaian kita dengan Allah. Dan bahwa pekerjaan Kristus itu sudah sempurna adanya, tanpa harus ditambahi oleh usaha manusia. Akan tetapi di sisi lain, kita tidak bisa mengesampingkan ayat-ayat seperti yang Petrus tuliskan ini. Sebagai bentuk nyata dari anugerah keselamatan yang telah kita terima, maka kita pun dituntut untuk berusaha hidup di dalam perdamaian dengan Kristus. Inilah berita Injil yang asli.


2 Petrus 3:15 Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.

Kesabaran Tuhan sebagai kesempatan untuk beroleh selamat:

Petrus ingin agar selagi Tuhan memberi kita waktu untuk hidup maka biarlah kita berusaha mengisi hidup kita sedemikian rupa untuk mengerjakan keselamatan kita sebaik-baiknya. (Terdapat pula dalam Filipi 2:12). Janganlah kesabaran Tuhan ini disalahmengerti dan dijadikan sebagai bahan kritikan dan ejekan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang belum mengenal Dia.

Seperti juga Paulus telah menulis kepadamu:

Paulus pernah menuliskan pesan-pesan yang mirip dengan Petrus, misalnya di 1 Tesalonika 4 dan 5:2. Namun masih menjadi diskusi surat mana dari Paulus yang dibaca oleh jemaat Petrus. Sangat mungkin, tulisan-tulisan Paulus yang ditujukan kepada jemaat tertentu, telah dibaca pula oleh jemaat lain yang bukan bagian dari jemaat yang semula dituju oleh Paulus.


2 Petrus 3:16 Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.


Tentang perkara-perkara ini:

Yaitu tentang kedatangan Kristus, penghakiman Ilahi dan upaya orang percaya untuk hidup kudus.

Hal-hal yang sukar dipahami sehingga orang yang tidak paham memutarbalikan:

Sangat mungkin mengacu pada 2 Tesalonika 2.


2 Petrus 3:17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.

Kamu telah tahu karena itu waspadalah:

Sebagai pemimpin Petrus telah memberi tahu jemaat. Sebagai jemaat, harus menerima pengajaran Petrus sebagai dasar untuk berwaspada.

Supaya kamu jangan terseret dalam kesesatan, kehilangan pegangan yang teguh:

Bahaya yang dihadapi orang percaya di jaman Petrus bukan bahaya yang kecil. Jika orang tidak sungguh-sungguh memperhatikan peringatan Petrus, mereka dapat saja akhirnya terseret di dalam kesesatan. Dan masalah kesesatan ini pasti bukan masalah kecil bagi Petrus. Seseorang bisa saja pada akhirnya tidak pernah mengenal Allah dan justru ikut di dalam kelompok orang yang mengejek kedatangan Allah. Kristus adalah pegangan yang teguh, tetapi orang yang semula merupakan anggota gereja pun dapat saja terhilang jika tidak sungguh-sungguh berpegang pada Kristus.

Orang-orang yang tak mengenal hukum:

Iman Kristen mengajarkan bahwa kita tidak diselamatkan oleh Hukum Taurat. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa sebagai orang Kristen kita menjadi orang yang tidak tahu hukum Ilahi dan tidak perduli pada Hukum Taurat.


2 Petrus 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Tetapi bertumbuhlah:

Orang Kristen yang sejati pasti mengalami pertumbuhan. Jika orang Kristen tidak bertumbuh, maka mereka akan terseret ke arah yang lain, yaitu kesesatan, kehilangan pegangan dan hidup tanpa Hukum Ilahi.

Dalam kasih karunia dan pengenalan akan Yesus Kristus:

Orang Kristen bukan bertumbuh di dalam pengetahuan saja. Makin lama makin tinggi pendidikannya. Atau makin lama makin populer. Makin lama makin kaya dan seterusnya. Orang Kristen sejati bertumbuh makin lama makin merasakan kasih karunia Allah. Makin lama makin mengenal Kristus. Dan makin lama makin dapat memberi kasih karunia pula kepada sesamanya.

Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya:

Kemuliaan Kristus haruslah menjadi motivasi utama dalam kehidupan kita.


Penutup:

Melalui eksposisi singkat 2 Petrus 3:1-18 ini kiranya kita memahami 7 hal, yaitu:

  1. Betapa besar kasih Petrus kepada jemaatnya, sehingga ia berusaha memperingatkan mereka.
  2. Bahwa di zaman mereka tampil orang-orang yang suka mengejek Allah.
  3. Yaitu orang-orang yang mengira bahwa Allah tidak akan pernah datang menghakimi manusia.
  4. Tetapi Petrus memperingatkan bahwa Allah pasti akan menghakimi manusia.
  5. Dan kapan waktu penghakiman Allah datang, tidak diketahui oleh siapapun.
  6. Allah menunda penghakiman bukan karena Ia lalai, tetapi karena Ia ingin manusia bertobat.
  7. Oleh karena itu, bertobatlah, bertumbuhlah dan hiduplah demi kemuliaan Tuhan.


Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.


Baca juga:
Pengantar Surat 2 Petrus. Klik disini
Mengapa Yesus Kristus harus menjadi manusia? Klik disini
Apakah manusia tetap diampuni jika ia tidak tahu apa yang ia perbuat? Klik disini
Apakah yang lebih penting dari kekayaan? Klik disini

 

Monday, November 25, 2019

Mengapa di tanahku terjadi bencana: dampak dosa manusia terhadap bumi dan alam semesta

Pandangan Alkitab tentang bencana



… maka terkutuklah tanah karena engkau;
… semak dan rumput duri …
… yang akan dihasilkannya bagimu, (Kej 3:17,18)

Jatuhnya manusia ke dalam dosa membawa implikasi yang sangat serius bukan saja bagi manusia itu sendiri, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. “Terkutuklah tanah karena engkau,” kata Tuhan kepada Adam. Dan semenjak itu, dunia bukan lagi senantiasa menjadi rumah yang aman bagi manusia. Bencana kekeringan, banjir, gunung meletus, taufan hingga tsunami adalah beberapa contoh kecil dari wajah alam yang tidak lagi bersedia untuk menjadi sahabat manusia. Dosa telah merusak relasi manusia dengan alam sekitarnya. [Baca juga: Yesus adalah Tuhan atas seluruh bumi. Klik disini.]

Alam yang semula ditetapkan oleh Tuhan untuk dikuasai  oleh manusia, kini justru menunjukkan taringnya dan siap menantang manusia manapun yang ingin mencoba kekuatan yang dimilikinya. Pesan yang disampaikan oleh Alkitab cukup jelas, ketika manusia memberontak kepada Allah, maka alampun memberontak kepada manusia, tidak ingin dikuasai lagi.[1] Hanya karena anugerah Tuhan sajalah, maka aktivitas keseharian sebagian besar umat manusia masih terpelihara dari hari ke sehari, hingga saat ini. Berkat kebaikan Tuhan sajalah alam masih menahan kegeramannya terhadap dosa-dosa manusia.

Namun keadaan yang relatif terkendali ini tidak akan selamanya berlangsung seperti itu. Coba perhatikan perkataan Petrus berikut ini: hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. (2 Petrus 3:10).

Dari tulisan Petrus, kita tahu bahwa pada suatu hari, akan tiba saatnya, dimana semua bencana alam yang pernah kita lihat hari ini, tidak akan ada artinya lagi jika dibandingkan dengan gemuruh yang dahsyat itu. Pada hari Tuhan, yaitu hari dimana Tuhan hadir di dalam segala kemuliaan dan dalam murka-Nya yang kudus, seluruh alam semesta akan melepaskan segala kekuatannya tanpa ditahan-tahan lagi oleh Sang Pencipta. Dan ketika hal itu terjadi, maka tidak akan ada teknologi atau sistem kapital sebesar apapun yang dapat menahan daya hancur yang teramat dahsyat itu. [Baca juga: Makna Hari Tuhan. Klik disini.]

Kita sering disuguhi film-film bertema apocalyptic oleh Hollywood di mana selalu ada segelintir umat manusia yang berhasil selamat dari bencana. Untuk memberi kesan bahwa bagaimana pun hancurnya dunia, manusia selalu akan menjadi pemenang. Betapa pun buruknya situasi, selalu dapat diatasi oleh manusia. Bahkan tindakan Thanos yang menyebabkan lenyapnya separuh umat manusia pun, dapat dicarikan jalan keluarnya, dapat di-reverse, dikembalikan ke situasi semula.

Tetapi tentu saja, itu semua hanya film belaka. Kita boleh saja terhibur oleh segala keseruan kisah yang ada di dalamnya, tetapi hendaklah kita jangan sampai lupa, bahwa bagaimana pun juga itu hanyalah film.

Apabila hari Tuhan yang disebutkan oleh rasul Petrus itu terjadi, maka dapat dipastikan tak ada seorangpun yang akan bertahan. Zefanya, seorang nabi dari era Perjanjian Lama yang melayani Tuhan di wilayah kerajaan Selatan, pernah berkata: ..hari TUHAN pahit, pahlawan pun akan menangis. (Zefanya 1:14).

Tidak akan ada hero yang muncul pada hari Tuhan, apalagi seorang superhero. Semua orang, bahkan pahlawan pun akan menangis pada hari yang getir itu. Hari di mana Tuhan meluapkan murka-Nya pada manusia yang berdosa.

Ketika Zefanya menulis kalimat tersebut, yang ia maksudkan adalah hari dimana Yerusalem dihancurkan oleh Babilonia. Dari sejarah kita tahu, bahwa kehancuran yang terjadi pada zaman Zefanya itu belum bersifat menyeluruh. Masih ada orang-orang yang tersisa dan berhasil selamat pada hari tersebut.

Tetapi apa yang dilukiskan oleh rasul Petrus, jauh lebih mengerikan dari apa yang dilihat oleh Zefanya. Karena menurut Petrus, pada hari itu Tuhan tidak lagi memakai bangsa Babilonia untuk menghukum Israel yang berdosa. Pada hari itu, Tuhan akan memakai seluruh alam semesta untuk menghukum seluruh umat manusia yang berdosa.

Jika di zaman Zefanya saja, para pahlawan akan menangis. Bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi di zaman yang disebutkan oleh Petrus ini?

“Mengapa di tanahku terjadi bencana?” tanya Ebiet G.Ade di dalam salah satu lagunya. Saya pikir, seandainya saja penyanyi kondang di era awal ’80-an itu merenungkan Firman Tuhan dengan baik, maka ia tentu tidak perlu repot-repot bertanya kepada rumput yang bergoyang, bukan?

Dari Alkitab kita tahu, bahwa alam bukan satu-satunya pihak yang dirugikan, seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang lain pun ikut menanggung akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menulis: “ Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, ….sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh(Roma 8:20 dan 22). Baik alam, maupun makhluk lain yang diciptakan oleh Tuhan, sama-sama merasakan dampak buruk akibat pemberontakan manusia kepada Tuhan. Gara-gara kita, mereka ikut dikutuk.

Jika alam dan hewan-hewan yang tidak turut memberontak kepada Tuhan saja terkena efek negatif dari dosa manusia, apalagi kita manusia, bukan?

Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa problem dosa adalah problem yang berskala kosmik. Problem dosa, bukan cuma persoalan karena kita kedapatan suka mencuri, berzinah, lupa ibadah, bicara kasar kepada sesama, malas bekerja, rakus, cinta uang dan lain sebagainya. Itu semua memang adalah dosa, tetapi semua itu hanyalah suatu fenomena belaka, belum merupakan inti persoalan yang sebenarnya. The root of the evil and the fruit of sin, itulah persoalan utama yang harus diselesaikan oleh manusia.

Jika problem dosa adalah tercemarnya eksistensi kosmos secara menyeluruh akibat pemberontakan manusia kepada Sang Pencipta, maka bagaimana mungkin persoalan sebesar ini bisa diselesaikan hanya dengan puasa (yang kadang-kadang kita lakukan sekedar untuk pamer saja di depan orang lain, dan itupun suka bolong-bolong juga), atau sedekah (yang cuma ala kadarnya, sekedar untuk tidak dicap pelit oleh teman-teman kita), rajin ibadah (yang kadang-kadang juga suka melamun, tidur atau main hape di tempat ibadah), bicara baik-baik kepada sesama (padahal dalam hati kita benci sekali sama orang itu), suka menolong tetangga (supaya orang lain menilai kita sebagai orang baik), rajin menghafal kitab suci (supaya orang lain mengira kita ini jagoan di bidang rohani, padahal kita juga tidak ngerti apa yang kita baca), suka memberi uang (supaya orang lain tahu bahwa kita lebih sukses secara ekonomi daripada orang yang diberi uang), memakai baju-baju keagamaan (supaya kelihatan seperti orang saleh) dan lain sebagainya?

Bagaimana mungkin cara-cara kebaikan kita yang sangat hina seperti ini bisa memperbaiki persoalan kosmik yang sedemikian besar?

Jawabannya, memang tidak bisa. Yesaya bahkan menganggap semua daftar perbuatan di atas itu tidak pantas disebut sebagai kebaikan sama sekali. Sambil berseru Yesaya berkata segala kesalehan kami seperti kain kotor. Kemudian dengan sedih ia melanjutkan, kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin ... Tidak seperti kita, Yesaya dapat memberi penilaian yang akurat terhadap dirinya sendiri dan berani jujur untuk mengakui hal itu.[2]

Hanya orang yang tidak memperhatikan ajaran Alkitab saja, yang merasa cukup percaya diri bahwa suatu hari ia akan datang sendirian, berhadapan muka dengan muka di depan Sang Pencipta sambil mengira bahwa dirinya sudah cukup pantas untuk hidup berdampingan dengan Dia Yang Mahasuci lagipula Mahamulia itu.

Jika tanah yang hanya bisa terdiam, tidak luput dari kutukan Tuhan, mungkinkah manusia akan terluput?

Manusia memang tidak akan terluput dari kutukan Tuhan. Itulah sebabnya Yesus Kristus harus datang sebagai Manusia untuk menerima kutukan itu. Ia mati di atas kayu salib dan dikuburkan. Pada hari ketiga Ia bangkit dari kematian dan sebelum naik ke sorga, Yesus Kristus berpesan: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (Markus 16:15-16) Karena di dalam Kristus sajalah, seluruh alam semesta ini ditebus dan dikembalikan kepada sifatnya yang mulia.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk percaya, supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. (Lukas 21:36)

Tuhan memberkati. (Oleh: Izar Tirta)

Pertanyaan untuk direnungkan:
Mengapa tanah dikutuk Tuhan?
Apa dampak kutukan Tuhan terhadap tanah?
Apakah bumi kita memang telah dikutuk oleh Tuhan? Klik disini
Tanggung jawab orang Kristen terhadap alam semesta. Klik disini
Apakah AKHIR ZAMAN itu sudah dekat? Klik disini
Eksposisi Kejadian 3:17,18
Penjelasan 2 Petrus 3:10. Klik disini
Penjelasan Zefanya 1:14
Penjelasan Roma 8:10
Mengapa puasa, ibadah & perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan? Klik disini
Aspek kosmis dari dosa manusia.
Apakah inti persoalan dosa manusia?
Mengapa Yesus harus mati? Klik disini
Apakah pesan penting Yesus sebelum naik ke sorga? Klik disini




[1] Di dalam sejarah, hanya ada seorang Manusia yang dengan penuh kuasa pernah menghardik alam yang sedang mengamuk dan alam itu pun tunduk terdiam seketika di hadapan-Nya. Nama Orang itu adalah Yesus.
[2] Dikutip dari Yesaya 64:6. Saya sudah pernah membahas hal ini dalam tulisan tentang pertemuan antara Tuhan Yesus dengan pemimpin muda yang kaya raya itu.

Thursday, February 15, 2018

Eksposisi Wahyu Pasal 1 ayat 3: Apa yang dimaksud dengan “waktunya sudah dekat?”

Renungan dari Wahyu 1:3
Apakah waktunya sudah dekat berarti kita sebentar lagi akan kiamat?
Apakah kita sedang di akhir zaman?
Apakah beda antara akhir zaman dan zaman akhir?




Apakah kita sudah dekat kiamat


Pendahuluan
Dalam Wahyu pasal 1 ayat 1 hingga ayat 3 kita mendapati dua ungkapan yang berkaitan dengan waktu. Yang pertama kita jumpai dalam ayat 1 dengan ungkapan “apa yang harus segera terjadi” dan yang kedua kita jumpai di dalam 3 sendiri melalui ungkapan “waktunya sudah dekat.” Hanya dalam satu pasal saja kita menjumpai dua ungkapan yang serupa seperti ini, maka dapat kita simpulkan bahwa ada suatu sense of urgency dari apa yang ingin disampaikan di dalam Wahyu tersebut.
 
 
Buku "Lebih Dari Pemenang" Klik disini.

Dan lagi, dengan adanya fakta bahwa muncul dua ungkapan yang sama-sama mengesankan suatu jangka waktu yang pendek, muncul pertanyaan di dalam benak kita, sesegera apakah hal-hal tersebut akan terjadi? Dan sedekat apakah waktu untuk terjadinya hal-hal yang akan diungkap dalam wahyu?

Kita akan merenungkan kedua ungkapan yang mengisyaratkan adanya kemendesakan dari segi waktu ini dengan mencoba mencari apa artinya serta mencoba mencari referensi yang serupa di dalam Alkitab.

Semoga dengan cara itu, kita dapat lebih memahami apa yang dimaksud dengan Wahyu melalui ungkapan tersebut.

Kekeliruan yang paling umum di dalam memikirkan berita Wahyu
Dalam kaitan dengan waktu yang diberikan oleh kitab Wahyu saya memperhatikan bahwa ada kekeliruan yang cukup umum terjadi di kalangan orang Kristen.

Ada orang Kristen tertentu yang terlalu ekstrem menekankan bahwa berita Wahyu adalah tentang segala sesuatu yang telah terjadi di masa lampu, oleh karena itu bagi kita sekarang ini seolah-olah sudah tidak ada maknanya lagi.

Sementara ada pula orang Kristen tertentu yang terlalu ekstrem menekankan bahwa berita Wahyu adalah tentang segala sesuatu yang belum terjadi, dan baru akan terjadi di masa depan, sehingga bagi kita sekarang ini seolah-olah berita itu belum terlalu memiliki makna yang relevan.

Menurut pendapat saya, berita Wahyu itu sebetulnya menunjuk baik pada peristiwa-peristiwa di masa lalu, di masa mendatang dan lebih lagi berita Wahyu ini pun bahkan relevan pula untuk masa sekarang.

Berita-berita yang disampaikan di dalam Wahyu tidak senantiasa kita baca dari kacamata sebuah kisah yang dituturkan dalam urutan waktu yang kronologis, melainkan lebih merupakan gambaran-gambaran yang saling paralel, saling mengisi dan saling menguatkan antara pesan yang satu dengan pesan yang lain.

Dalam sudut pandang kebudayaan Yunani, waktu tidak selalu dilihat sebagai kronos, yaitu dimana yang ditekankan adalah kaitan antara waktu dengan urut-urutan peristiwa yang terjadi dalamnya. Dalam kebudayaan Yunani, waktu juga dapat dilihat dalam pengertian kairos, yaitu dimana yang ditekankan adalah arti penting dari peristiwa yang sedang terjadi di dalam waktu tertentu.

Kita orang Indonesia mungkin tidak terbiasa memahami waktu dari dua pengertian yang berbeda ini, kairos dan kronos. Namun untuk membantu kita memahami hal ini, saya coba berikan sebuah contoh sederhana yang mudah-mudahan dapat membantu.

Mari kita ambil contoh: “belajar di sekolah dasar,” sebagai peristiwa yang mau kita kaitkan dengan kairos dan kronos. Dari sudut pandang kairos: belajar di sekolah dasar itu terdiri dari urut-urutan peristiwa mulai dari kelas 1, lalu lanjut ke kelas 2, kelas 3, kelas 4 dan seterusnya hingga kelas 6. Sementara dari sudut pandang kronos, belajar di sekolah dasar itu akan tepat sekali jika dilakukan pada usia muda, yaitu antara usia 6 hingga 12 tahun. Mengapa? Karena pada usia-usia semacam itulah kegiatan belajar di sekolah dasar tepat sekali dilakukan. Bukan berarti bahwa seseorang tidak bisa bersekolah dasar di usia 40 tahun misalnya. Secara kronos dan secara teknis, seseorang bisa saja karena satu dan lain hal baru sempat sekolah dasar di usia 40 tahun. Namun secara kairos, hal itu sangat tidak tepat untuk dilakukan. Di usia 40 tahun kita punya hal-hal penting lainnya yang harus kita lakukan dan tanggung jawab kita juga biasanya sudah jauh lebih besar daripada hal-hal mendasar yang dapat kita pelajari dari sekolah dasar.

Kalau boleh saya simpulkan dalam bahasa sederhana, kronos berbicara tentang waktu dari sudut pandang strukturnya, sedangkan kairos berbicara tentang waktu dari sudut pandang isinya atau arti pentingnya.

Kitab Wahyu lebih banyak berbicara tentang berbagai peristiwa dari sudut pandang kairos ketimbang kronos (walau bukan berarti kronos tidak ada sama sekali). Dan oleh karena itu, segala yang disampaikan dalam kitab Wahyu dapat berlaku untuk dibaca di masa lalu, di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Penggenapan dari nubuat di dalam Wahyu terjadi dalam kurun waktu yang dekat, maupun jauh. Setiap zaman akan melihat bagaimana meterai Allah dibuka, bagaimana sangkakala peringatan ditiup dan bagaimana cawan murka Allah ditumpahkan kepada orang-orang yang jahat.

Perkecualian barangkali dapat dibuat pada beberapa hal yang memang belum terjadi saat ini yaitu misalnya kedatangan Yesus yang kedua kali, penghakiman terakhir, perjamuan kawin Anak Domba serta turunnya Yerusalem baru dari Allah.

Waktunya sudah dekat
Bagi para pembaca Wahyu di zaman Yohanes, apa yang dituliskan itu akan segera terjadi, bahkan ada yang sudah terjadi. Meskipun demikian, segala sesuatu yang terjadi tersebut bersifat cukup umum dan general, bukan sebagai sebuah peristiwa tunggal yang hanya terjadi di zaman itu, tetapi sebagai sebuah peristiwa yang sering terjadi, menjadi semacam pola di berbagai zaman. Yang menjadi point utama disini adalah bahwa segala sesuatu yang diberitakan disini diharapkan membuat pembacanya untuk selalu bersiap diri, waktu sudah dekat, jangan ditunda tunda lagi untuk melakukan apapun yang Tuhan ingin agar kita lakukan. Bersiap diri untuk mengalami segala bentuk kesulitan hidup kapan pun itu terjadi di dalam kehidupan. Bersiap diri untuk melayani Tuhan seperti yang dilukiskan di dalam Wahyu itu sendiri.

Pesan Alkitab yang berbunyi waktunya sudah dekat ini bukanlah secara eksklusif milik dari Kitab Wahyu. Kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru juga memuat pesan semacam ini sebagaimana yang akan saya singgung berikut ini.

Beberapa ayat di Alkitab yang menekankan pada prinsip “waktu sudah dekat”
Matius 3:7  7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

Di dalam ayat ini dikatakan “murka yang akan datang,” kapankah datangnya murka itu? Tidak ada yang tau pasti kapan murka itu akan datang kepada orang-orang yang disebut keturunan ular beludak itu. Persoalannya bukan kapan murka itu datang sebab murka itu pasti akan datang apabila mereka tidak bertobat dan tetap hidup bagaikan ular beludak yang jahat. Orang Farisi dan Saduki tidak diberitakan menerima murka itu segera setelah kalimat itu disebutkan, tetapi kita tahu bahwa di dalam kekerasan hati mereka yang tidak mau bertobat itu saja sudah menunjukkan bahwa Allah sudah murka kepada mereka dan tidak melembutkan hati mereka.

Hingga hari Yesus disalibkan, kita tahu masih banyak orang Farisi yang mengeraskan hati. Ketimbang bertobat, mereka justru mengejek dan menghina Yesus yang tersalib. Kegagalan mereka dalam melihat Yesus sebagai Juruselamat saja sudah merupakan bentuk murka Allah bagi mereka saat itu, dan suatu saat setelah mereka mati maka mereka akan mendapati murka Allah menjadi semakin nyata.

Ada dua alasan mengapa murka Allah kepada orang jahat tidak segera terlihat sebagai sebuah hukuman:
a.       Kesempatan bertobat
b.      Menunggu kejahatan mereka menjadi genap.

Matthew 4:17   17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Di dalam ayat ini dikatakan “sejak waktu itu,” sejak kapankah? Sejak waktu Yohanes ditangkap. Dengan ditangkapnya Yohanes Pembaptis berarti berakhirlah era para nabi-nabi Allah yang memberitakan tentang kedatangan Yesus. Kini Yesus sendiri sebagai pusat dari berita para Nabi mulai memberitakan sebuah kabar yang baru yaitu Kerajaan Sorga sudah dekat.

Kerajaan Sorga adalah suatu kondisi atau sifat dimana hal-hal yang sorgawi meraja di dunia. Hal ini ditandai dengan hadirnya Yesus Kristus melayani dunia secara langsung sebagai manusia. Bukan manusia biasa, tetapi manusia sempurna perwakilan dari Sorga. Yesus adalah Raja, oleh karena itu ketika Yesus mulai melayani manusia, maka dapat dikatakan bahwa saat itulah Sorga mulai menjalankan fungsi kerajaannya secara lebih nyata.

Dikatakan sudah dekat, artinya belum tiba. Mengapa belum tiba? Karena Yesus belum mati dan bangkit dari kematian. Ketika Yesus sudah bangkit dari kematian, maka moment itulah Kerajaan Sorga sudah menjadi semakin nyata atau kita katakan sudah tiba.

Gereja adalah wujud nyata dari Kerajaan Sorga di bumi yang berdosa ini. Kita dapat mengatakan demikian karena Yesus Kristus sendiri adalah kepala gereja.

Matthew 24:33-34  33 Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.  34 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.

Kalimat ini jelas sekali mengacu pada zaman dimana para murid dan orang-orang yang hidup di zaman itu masih ada. Mereka akan menjadi saksi mata bahwa apa yang Yesus katakan akan menjadi kenyataan. Dalam sejarah, hal tersebut menjadi nyata ketika Kaisar Nero (dan kaisar-kaisar lainnya yang membenci gereja) berkuasa dan menjalankan kekuasaannya dengan lalim serta membunuhi orang-orang percaya.

Apakah dengan demikian kalimat ini sudah tidak berguna lagi? Tentu tidak, karena sampai sekarang pun, banyak orang dan banyak pemerintahan dunia yang bersikap seperti Nero terhadap gereja. Mereka memusuhi gereja, mereka memusuhi Kristus dan mereka menganiaya anak-anak Tuhan.

Dengan matinya Kristus, bangkit lalu naik ke sorga, kejahatan Iblis mengarahkan kegeramannya kepada gereja. Hal ini diungkap dalam kitab Wahyu yaitu mengenai Naga, perempuan beserta anak dari perempuan itu.

Kesimpulan:
Frasa tentang waktu yang sudah dekat adalah suatu pesan bagi kita untuk melihat arti pentingnya waktu. Waktu yang kita miliki ini tidak selamanya akan menjadi milik kita. Oleh karena itu adalah penting untuk melihat bagaimana kita mengisi waktu yaitu dengan memperhatikan apa yang Allah kita telah lakukan baik bagi hidup kita maupun bagi seluruh dunia.

Para pembaca kitab Wahyu di zaman Yohanes hidup sewajarnya menerima dengan sungguh-sungguh makna yang terkandung dalam kata-kata “waktunya sudah dekat.” Mereka sangat mungkin menerima hal itu secara harafiah dan melalui berita tersebut mereka mendapat penghiburan dan kekuatan. Sangat kecil kemungkinan bagi para pembaca waktu untuk memikirkan zaman yang kita hidupi sekarang ini.

Sebagaimana kita dapat baca dalam kitab Wahyu, kemenangan Kristus adalah sebuah kepastian. Orang yang saat itu teraniaya tentu merasa terhibur dan terbuka pikirannya bahwa apa yang mereka alami bukanlah suatu keadaan yang berada di luar kendali Kristus. Penderitaan mereka bahkan kematian mereka kelak adalah suatu hal yang harus mereka alami sebagai konsekuensi mengikut Yesus. Dan konsekuensi pahit yang mereka alami itu, memberi pengharapan luar biasa terhadap kehidupan setelah nyawa mereka tercabut.

Di bawah ini, sebagai penutup saya menyajikan pula pesan Yesus yang lain kepada kita semua, yang masih bisa menghirup udara kehidupan, untuk senantiasa berjaga-jaga.

Matthew 24:42-51   42 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.  43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.  44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."  45 "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?  46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.  47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.  48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya:  49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk,  50 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya,  51 dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."

Matthew 25:1-13  "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.  2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.  3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,  4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.  5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.  6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!  7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.  8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.  9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.  10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.  11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!  12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.  13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Berjaga-jaga adalah hal yang indah dimata Tuhan. Oleh karena itu janganlah kita terlalu memikirkan kapankah kiamat akan terjadi, atau kapankah peristiwa-peristiwa dalam wahyu akan terjadi, karena bukan itu point pentingnya. Point utamanya adalah bahwa kita harus senantiasa berjaga-jaga, karena waktunya sudah dekat. Sama dekatnya dengan besok, pun sama dekatnya dengan seribu tahun lagi. Jangan menunda-nunda untuk melakukan kehendak Allah. Amin.

Beberapa pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah yang dimaksud dengan waktunya sudah dekat dalam kitab Wahyu?
Apakah yang dimaksud dengan kronos?
Apakah yang dimaksud dengan kairos?
Kekeliruan yang paling umum di dalam menafsirkan berita Wahyu.
Bagaimana membaca Kitab Wahyu dalam kaitannya dengan konteks waktu?
Beberapa ayat di Alkitab yang menekankan pada prinsip “waktu sudah dekat”
Apa pesan Yesus sehubungan dengan berjaga-jaga?
Apakah Kitab Wahyu hanya berbicara tentang masa lalu?
Apakah Kitab Wahyu hanya berbicara tentang hari kiamat?
Apakah Kitab Wahyu relevan untuk saat ini?