Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, March 16, 2022

Mengapa orang Kristen tidak menyimpan teks Kitab Suci yang asli?


 

 

Alkitab adalah sebuah buku yang sangat penting bagi kehidupan orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebab bagi orang percaya, Alkitab bukanlah buku sembarang buku, melainkan Firman atau Perkaataan Tuhan sendiri.

Pada saat ini, kita tidak lagi berjumpa dengan Tuhan Yesus dalam wujud Manusia, seperti yang terjadi pada zaman ketika rasul Petrus, Yohanes dan rasul lainnya hidup, mereka melihat Tuhan Yesus dengan mata kepala mereka sendiri, sedangkan kita yang hidup di abad ke 21 ini tidak. Tuhan Yesus sudah naik ke sorga dan meskipun pada suatu saat kita percaya Tuhan akan datang kembali, tetapi saat tersebut belum tiba bagi kita.

Jika demikian apakah orang Kristen sama sekali tidak dapat berjumpa dengan Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat manusia itu? Jawabannya adalah dapat. Dan cara kita berjumpa dengan Tuhan Yesus adalah melalui Firman-Nya yang tertulis, yaitu Alkitab.

Melalui Alkitab, kita mengenal Pribadi Kristus, kita belajar mengenal isi hati-Nya, pikiran-Nya, kehendak-Nya, perasaan-Nya dan rencana-Nya bagi kita maupun bagi seluruh dunia ini. Melalui Alkitab, kita dapat bergaul secara pribadi dengan Allah Tritunggal.

Meskipun sedemikian pentingnya peran Alkitab bagi orang Kristen, teks Kitab Suci yang sekarang ini dimiliki dan masih disimpan di museum bukanlah teks yang asli, melainkan kumpulan dari salinan-salinan terhadap teks yang mula-mula. Mengapa demikian? Mengapa orang Kristen tidak menyimpan teks Kitab Suci yang asli?

Ada dua alasan utama mengapa orang Kristen tidak menyimpan atau mempunyai naskah asli teks-teks Kitab Suci mereka.

Alasan pertama adalah karena Yerusalem kuno telah dua kali dihancurkan. Pertama oleh kerajaan Babel. Kedua oleh orang Romawi. Hampir mustahil untuk mempertahankan teks kuno yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun tanpa mengalami kerusakan.

Alasan kedua adalah tradisi Yahudi kuno sangat menghormati teks Kitab Suci mereka begitu rupa sehingga ketika ada naskah asli kuno yang cacat, entah karena waktu ataupun karena terkena sesuatu maka orang Yahudi akan mengubur teks tersebut dengan ritual yang sama seperti mereka menguburkan seseorang yang wafat. Tentu saja sebelum dikuburkan, mereka terlebih dahulu membuat salinan dari teks-teks tersebut.

Dari dua alasan ini saja, kita dapat membayangkan betapa tidak mungkinnya kita memiliki teks-teks asli tersebut. Akan tetapi kita tahu pasti bahwa meskipun yang kita miliki adalah salinan, tradisi Yahudi memastikan bahwa salinan itu sama isinya dengan yang asli.

Dalam tulisan saya yang berjudul “Bagaimana kita bisa yakin bahwa Alkitab yang kita miliki berisi berita yang benar?” [Klik disini.] saya sudah menguraikan argumentasi yang cukup kuat sehingga kita bisa meyakini bahwa Alkitab yang miliki itu berisikan berita yang benar. Meskipun demikian, saya harus katakan bahwa faktor utama yang membuat kita punya keyakinan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, bukanlah segala bukti-bukti eksternal tersebut dan bukan pula karena pola pikir dan logika manusia yang sangat pandai, melainkan terutama bergantung pada kesaksian Roh Kudus di dalam hati kita.

Kebergantungan kita terutama adalah pada Pribadi Tuhan sendiri yang memberi kesaksian bahwa Firman-Nya adalah kebenaran. Penjelasan secara logis dan pengajaran akan adanya bukti-bukti tentang kebenaran Alkitab memang sangat membantu untuk membangun iman dan keyakinan seseorang, akan tetapi tanpa orang itu terlebih dahulu disentuh oleh Roh Kudus, maka logika dan penjelasan apapun tidak akan ada gunanya.

Iman Kristen tidak bergantung pada ada atau tidaknya naskah asli yang pertama-tama ditulis oleh Musa atau Daud atau Matius, Petrus, Yohanes atau Paulus. Iman Kristen bergantung semata-mata pada belas kasihan Roh Kudus yang membuka hati dan pikiran seorang manusia sehingga mereka mendengar Suara Allah dan melihat Kehadiran-Nya yang nyata di dalam hidup mereka saat ini.

Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Oleh: Izar Tirta)

Friday, November 26, 2021

Mengapa manusia mempertanyakan berita kebangkitan Yesus Kristus?

 


 

Sebuah zaman dimana manusia menjadi semakin pintar

Di dalam tulisan berjudul “Menentang berita kebangkitan Yesus Kristus dari kematian” saya sudah sempat menyebutkan bagaimana sikap orang-orang di abad Pencerahan terhadap berita kebangkitan Yesus Kristus [klik disini]. Dan dalam tulisan tersebut, saya menyinggung pula pandangan seorang teolog bernama Stanley J.Grenz tentang abad Pencerahan, yaitu suatu abad di mana penolakan terhadap kebangkitan Yesus Kristus semakin meningkat.

 

Buku "The Unshakeable Truth" - Josh McDowell
Klik disini.

Seorang teolog lain bernama Alister E McGrath, di dalam bukunya berpendapat bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah salah satu komponen utama dari kritik abad Pencerahan terhadap kekristenan. McGrath mengatakan: The question whether Christ was indeed raised from the dead brings together the central components of the Enlightenment critique of traditional Christianity. [Alister E. McGrath, Christian Theology: An Introduction (Oxford: Blackwell Publishers, 1996), 376.] McGrath cukup memahami sejarah, karena selain dikenal sebagai teolog, dia juga adalah seorang ahli sejarah dan seorang cendekiawan, di samping pula menjabat sebagai seorang pendeta.

McGrath memakai istilah the central components of the Enlightenment critique of traditional Christianity”. Jadi agaknya ada banyak juga kritik-kritik lain bermunculan di abad Pencerahan, yang diarahkan kepada kekristenan. Tetapi pusat dari segala kritik itu rupa-rupanya terletak pada pertanyaan: Apakah Kristus sungguh-sungguh bangkit dari kematian?

 

Kepintaran manusia yang dipakai untuk menyerang Allah

Sungguh merupakan hal yang patut disayangkan bukan? Ada sebuah abad yang disebut sebagai abad Pencerahan, namun yang kita temui justru orang-orang yang hidupnya semakin jauh dari kebenaran Firman Tuhan.

Kemajuan dalam cara berpikir, di satu sisi memang telah menjadikan manusia menjadi semakin kritis di dalam mempertanyakan realita dan hal itu tidak selalu merupakan hal yang buruk. Akan tetapi di sisi lain, sikap kritis seperti itu sayangnya justru dipakai untuk menyerang Allah dan mempertanyakan Firman-Nya pula. Ini sungguh-sungguh merupakan suatu kecelakaan yang tidak seharusnya terjadi.

[Baca juga: Tema-tema penting dalam Perjanjian Baru. Klik disini]

Dapat dikatakan keberanian dalam mempertanyakan realitas seperti ini, sudah melewati batas sehingga terkesan seperti suatu kebalikan dari ide tentang pencerahan itu sendiri, di mana pencerahan itu seharusnya identik dengan terang dan kemampuan untuk melihat. Tetapi kaum yang kritis ini, dengan sikapnya tersebut, justru membuat zaman itu lebih tepat jika dinamai sebagai zaman kegelapan, yaitu zaman di mana manusia gagal mengenal Allah yang mengasihi mereka.

Mengapa bisa terjadi sikap kritis yang demikian?
Apa sumber utama dari sikap menentang yang Ilahi seperti ini?
Dan bagaimana kita sebagai orang Kristen harus menghadapi situasi ini?

 

Mengapa muncul sikap kritis yang menentang Allah itu?

Sikap penuh kritik yang mengemuka di dalam abad Pencerahan muncul karena dua faktor yang paling populer di zaman tersebut yaitu pertama, bahwa akal budi manusia dianggap memiliki kemampuan yang amat tinggi untuk mengetahui kebenaran dan kedua, bahwa suatu peristiwa harus dapat diverifikasi terlebih dahulu di dalam sejarah masa lampau sebelum peristiwa itu diterima sebagai kebenaran.

Secara sepintas, sepertinya tidak ada yang salah dengan cara pandang seperti yang disebutkan di atas. Akan tetapi jika renungkan kembali, maka kita akan menyadari bahwa dengan berbuat seperti demikian sesungguhnya manusia telah menjadikan akal budinya sendiri menjadi sama seperti allah, yaitu faktor mutlak yang menentukan mana yang merupakan kebenaran dan mana yang bukan.

Sebab, siapakah yang dapat membuktikan bahwa akal budi manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui segala kebenaran? Bukankah ada banyak hal di dunia ini yang manusia sendiri belum dapat ketahui dan pahami?

 

Apa sumber utama dari sikap seperti ini?

Mari kita simak pendapat McGrath yang mengungkapkan karakteristik seperti apakah yang cenderung dimiliki oleh manusia abad Pencerahan, McGrath mengatakan: The characteristic Enlightenment emphasis on the omnicompetence of reason and the importance of contemporary analogs to past events led to the development of an intensely skeptical attitude toward the resurrection. [Alister E. McGrath, Christian Theology, 376]

Dari penuturan McGrath di atas, kita mendapati beberapa pokok pikiran yang menjadi sumber utama dari sikap yang terlalu berani di dalam mengkritisi Tuhan. Adapun pokok pikiran itu adalah:

  • Kemahakuasaan akal budi (peng-ilahi-an) akal budi.
  • Arti penting dari perbandingan dengan peristiwa serupa.
  • Sikap hati yang skeptis.

Tentang kemahakuasaan akal budi, hal tersebut mengingatkan kita kepada peristiwa di Taman Eden yaitu kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa.

Allah dengan jelas melarang Adam dan Hawa untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, tetapi Hawa dengan mudahnya diperdayakan oleh ular untuk memakan buah tersebut.

Pertanyaanyannya adalah mengapa memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu menjadi sesuatu yang menarik. Apa maksud dari tindakan tersebut?

Dalam pengertian sederhana, memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu sama artinya dengan keinginan manusia untuk menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah di dalam tindakan mereka. Manusia tidak ingin digurui oleh Allah mengenai apa yang benar dan apa yang salah, mereka ingin otonomi dan tidak ingin bergantung pada Allah.

Tindakan Hawa dan kemudian diikuti oleh Adam ini, sangat mirip dengan pola pikir orang-orang di zaman Pencerahan. Mereka ingin memutuskan sendiri, berdasarkan daya pikir mereka, apa yang benar dan apa yang salah. Daya pikir atau intelegensia menjadi faktor penentu kebenaran tersebut. Manusia tidak ingin tunduk kepada penentuan Allah, manusia tidak ingin diatur oleh Allah.

Itu sebabnya, dengan berani manusia kemudian seolah-olah mendatangi Allah dan menentang peristiwa kebangkitan, semata-mata karena peristiwa kebangkitan itu tidak cocok dengan logika manusia.

Tentang arti penting perbandingan dengan peristiwa serupa, manusia menganggap bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus itu tidak dapat diterima karena peristiwa itu tidak memiliki padanan peristiwa yang serupa di dalam sejarah. Menurut orang-orang di zaman Pencerahan, segala sesuatu baru dapat diterima sebagai kebenaran apabila hal itu dapat diperbandingkan dengan peristiwa lainnya di dalam sejarah.

Keyakinan seperti ini membuat orang-orang di zaman Pencerahan sulit diyakini bahwa sebelum peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pun, Alkitab sebetulnya telah mencatat peristiwa-peristiwa lain di dalam Perjanjian Lama tentang kebangkitan orang mati.

Dalam peristiwa Elia, ada orang yang dibangkitkan dari kematian. Dalam peristiwa tulang-tulang Elisa juga ada catatan serupa. Lalu di Perjanjian Baru juga ada peristiwa serupa yaitu peristiwa kebangkitan Lazarus.

Semua catatan Alkitab tentang kebangkitan itu tidak digubris oleh orang-orang di abad Pencerahan karena hati mereka memang sudah memutuskan bahwa Alkitab bukanlah suatu tulisan yang berotoritas sehingga apapun yang tertulis di dalamnya layak untuk dipertanyakan, ditentang dan tidak dipercayai.

Di dalam kekerasan hatinya, mereka membuat semacam postulat bahwa segala sesuatu itu baru dapat dikatakan benar, apabila ada peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi atau ada peristiwa-peristiwa lain yang akan terulang lagi kejadiannya.

 

Bagaimana sebagai orang  Kristen harus menghadapi hal ini?

Dalam menghadapi cara berpikir dunia yang menentang Kristus, kita tidak akan menemukan solusi apapun yang lain kecuali apabila kita mengarahkan hati untuk kembali kepada Alkitab.

Sebab bagi kita orang percaya, bukan apa yang dikatakan orang yang merupakan kebenaran, tetapi apa yang dikatakan oleh Tuhan itulah yang harus kita pegang sebagai kebenaran. Orang yang sudah mengeraskan hati untuk tidak mau percaya, tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun yang disampaikan kepada mereka.

Dalam sebuah perumpamaan, Tuhan Yesus pernah menceritakan tentang Lazarus dan orang kaya. Setelah keduanya meninggal dunia, maka si orang kaya masuk ke neraka sedangkan Lazarus ada di pangkuan Abraham. Di dalam neraka, si orang kaya berkata kepada Abraham agar menyuruh Lazarus kembali ke dunia untuk memperingatkan sanak saudaranya akan api neraka ini, tetapi kita kemudian mendengar jawaban Abraham (yang tentunya merupakan jawaban Tuhan Yesus juga): Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Lukas 16:31)

Menurut Tuhan Yesus, manusia tidak membutuhkan bukti atau penjelasan atau argumentasi yang sedemikian rumit untuk mengubah mereka dari tidak percaya menjadi percaya. Sebab segala yang disampaikan oleh kesaksian Musa sudah cukup bagi manusia jika mereka mau percaya.

Persoalan manusia bukanlah kurang informasi tentang kebangkitan Kristus dari kematian. Persoalan manusia adalah hati yang ingin memberontak dan tidak ingin diatur oleh Allah, sehingga peristiwa besar seperti apapun tidak akan mengubah hati mereka.

Mereka tidak juga akan mau diyakinkan, itulah perkataan Tuhan Yesus tentang orang-orang fasik yang hatinya telah memutuskan untuk menentang Allah. Orang yang bangkit dari antara orang matipun tidak akan cukup untuk membuktikan kekuasaan Allah.

Semoga kita yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang hatinya mau mendengar Firman Tuhan dan tidak sibuk mendengarkan suara-suara dari dunia ini atau suara-suara yang mengajarkan kesesatan untuk menentang Allah yang telah begitu mengasihi umat manusia. Amin (oleh: izar tirta)

 

Baca juga:
Apa peran penting para saksi mata dalam pemberitaan Injil? Klik disini.

Apa arti penting kebangkitan Yesus Kristus? Klik disini.

Saturday, November 9, 2013

Konsep kebangunan rohani Jonathan Edwards



Konsep Kebangunan Rohani Jonathan Edwards



SIAPAKAH JONATHAN EDWARDS?

Jonathan lahir 5 Oktober 1703 dari pasangan Timothy Edwards, seorang pendeta di Connecticut, dan istrinya Ester. Jonathan anak ke 5 dan merupakan satu-satunya anak laki-laki dari 11 bersaudara. Ia masuk Yale College pada usia 13 tahun, pada tahun berikutnya Jonathan Edwards begitu tertarik mempelajari buku karya John Locke berjudul “Essay concerning human undestanding Buku itu begitu mempesona dia dan membuat dia sangat tertarik pada science. Ia begitu tertarik pada Isac Newton sebagai orang sezamannya.
 

 
 
Buku Bagus
"Pengharapan Yang Tak Tergoyahkan"

Sementara banyak ilmuwan yang tertarik ke arah Deisme, Jonathan Edwards justru melihat science sebagai cara Tuhan untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Tahun 1727, setelah menjadi dosen di New York dan Yale University, Edwards terpanggil untuk menjadi Pendeta. Ia melayani di Northampton, Massachusetts selama 23 tahun.


LATAR BELAKANG MUNCULNYA KONSEP KEBANGUNAN ROHANI
 
Walaupun lahir dari keluarga Pendeta, Allah mengerjakan karya keselamatan dalam diri Edwards melalui berbagai proses. Dari ketertarikannya pada alam, science, keindahan lalu mengarah pada Pribadi Allah dan karya keselamatannya.

Setelah mengaku percaya pun, Edwards semula tidak puas dengan pertobatannya itu, ia semula menganggap ajaran “Pemilihan” sebagai suatu ajaran yang mengerikan. Bagaimana mungkin seseorang dapat menerima Allah yang memilih beberapa orang untuk diselamatkan, dan membiarkan yang lainnya hilang ke neraka? Namun, pergumulan Edwards ini tidak berlangsung selamanya, Roh Kudus memberi pencerahan pada Edwards sehingga ia akhirnya menerima ajaran Alkitab ini.

Setelah keluar dari pergumulan ini, Edwards semakin maju di dalam pelayanannya dan semakin berani dalam pemberitaannya. Terlihat kesan bahwa pencerahan pribadi yang dialaminya inilah yang menjadi titik tolak kebangkitan spiritual dalam dirinya, yang kemudian berlanjut pada kebangkitan spiritual yang lebih besar.

Pada tanggal 7 Juli 1731, dengan penuh keberanian, Edwards berkhotbah di hadapan publik di Boston untuk menyerang gagasan Arminianisme. Edwards sangat dipengaruhi oleh ajaran Calvin tentang doktrin keselamatan yang seringkali diringkas menjadi TULIP.

Di bawah ini adalah perbandingan antara pandangan Johanes Calvin dan pandangan Jacobus Arminius terhadap ajaran tentang keselamatan:

Calvin
Arminius
Total Depravity:
Kehancuran total. Manusia tidak lagi punya kebebasan. Kemauan bebasnya hanyalah untuk berbuat dosa.
Free will or human ability:
Manusia tidak sepenuhnya rusak oleh dosa. Manusia masih punya kebebasan dan kemampuan untuk menerima anugerah Allah.
Unconditional Election:
Manusia dipilih tanpa syarat oleh Allah di dalam kedaulatan-Nya
Conditional Election:
Allah memilih orang-orang yang sudah diketahui-Nya akan menjadi percaya.
Limmited Atonement:
Penebusan Yesus terbatas hanya bagi orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah di dalam kekekalan.
Universal redemption or general atonement:
 Yesus mati untuk semua orang, tetapi hanya yang percaya pada-Nya yang akan diselamatkan.
Irresistible Grace:
Kasih karunia Allah tidak dapat ditolak oleh manusia.
The Holy Spirit can be effectually resisted:
Manusia dapat menolak anugerah yang diberikan padanya.
Perseverance of the Saints:
Ketekunan orang kudus. Keselamatan seseorang tidak mungkin hilang lagi, karena Allah pasti akan memelihara iman orang tersebut.
Falling from grace:
Bagi penganut Arminianisme, keselamatan adalah pekerjaan Allah dan respon manusia.

Fokus utama khotbah Edwards adalah kedaulatan utama Allah di dalam karya keselamatan. Iman percaya yang dimiliki oleh manusia bukanlah hasil perbuatan manusia itu sendiri melainkan anugerah Allah.

Khotbah-khotbah Alkitabiah yang secara setia di sampaikan oleh Edwards akhirnya membuahkan kebangunan rohani pada tahun 1733 di Northampton dan kebangunan itu terus berlanjut sampai dua tahun berikutnya.

Pada tahun 1735 ada peristiwa mengerikan yang terjadi, yaitu ketika ada sekelompok orang yang terkena dampak kengerian khotbah Edwards namun tetap berkeras hati untuk tidak bertobat, akhirnya karena mereka percaya bahwa jiwa mereka telah terhilang, mereka kemudian justru melakukan tindakan bunuh diri secara bersama-sama. Tidak kurang paman dari Jonathan Edwards sendiri yang bernama Joseph Hawley menjadi korban dari insiden ini. Peristiwa mengerikan itu sekaligus menjadi penutup bagi serangkaian peristiwa kebangunan rohani di Northampton.

Lima tahun kemudian, yaitu tahun 1940, seorang bernama George Whitefield yang juga merupakan pengkhotbah keliling dan yang telah dipakai Tuhan untuk mengobarkan kebangunan rohani dimana-mana, akhirnya tiba di gereja yang dilayani Edwards. Pelayanan Whitefield di tempat itu ternyata menjadi semacam pemicu terhadap serangkaian kebangunan rohani berikutnya di Northampton. Tahun 1941, Jonathan Edwards mengkhotbahkan tema yang sangat terkenal yaitu “Sinners in the hand of an Angry God” dan melalui khotbah itu terjadilah suatu fenomena yang luar biasa di dalam diri jemaat. Walaupun Edward berkhotbah dengan suara yang lembut dan hanya membaca dari teks yang telah ia buat, para jemaat dilaporkan ketakutan, beberapa berteriak dan berpegangan pada kursi, tiang atau apa pun karena mereka merasa bahwa seakan-akan dirinya akan ditarik ke dalam bumi oleh karena dosa-dosa mereka.

Sebenarnya, apa yang dikhotbahkan Edward pada waktu itu, bukanlah sesuatu yang baru, namun urapan Allah terhadap khotbah itulah yang membuat jemaat takut. Seolah mereka berhadapan sendiri dengan Allah yang murka terhadap mereka.


APA KONSEP KEBANGUNAN ROHANI JONATHAN EDWARDS?

Pertama, kejenuhan spiritual adalah penyakit yang harus disembuhkan.
Kejenuhan spiritual yang dimaksud di sini adalah suatu situasi di mana realitas Allah dan Injil sudah begitu lemah dan tidak menarik hati bagi kita. Hal ini tidak selalu harus diartikan sebagai tindakan dosa yang nyata atau tindakan amoral yang begitu jelas. Tidak. Kejenuhan spiritual dapat berupa suatu ibadah formal yang mulai salah arah dan kehilangan makna.

Kedua, Allah dan kemuliaan-Nya adalah sumber dan tujuan dari kebangunan sejati
Melalui Jonathan Edwards, kita melihat bahwa kebangunan rohani dapat ditandai dengan orang-orang yang ketakutan karena sadar akan dosa-dosa mereka. Hal itu terjadi karena melalui kebangunan rohani yang terjadi dikota tempat Jonathan Edwards melayani, orang-orang mulai melihat akan ke Mahasucian Allah dan keberdosaan manusia. Dan bagi Edwards, justru hal inilah yang seharusnya menjadi tujuan dari kebangunan sejati yaitu  ketika orang melihat dan mengenal Allah dalam kemuliaan-Nya.

Ketiga, khotbah Firman dan doa adalah metode utama
Tema dalam khotbah haruslah mengenai Kristus dan kelahiran baru oleh Roh Kudus. Tema-tema penghakiman yang dikhotbahkan oleh Edwards, terlihat dari judul-judul khotbahnya, seperti: The Justice of God in the Damnation of Sinners, The excellency of Christ, Pressing into the Kingdom, Justification by Faith Alone, The Divine and Supernatural Light, Sinners in The Hands of an Angry God. Dari khotbah-khotbahnya itu, terlihat bahwa Jonathan Edwards kerap kali mengusung tema-tema yang berhubungan dengan penghakiman Allah, keadilan-Nya serta kedaulatan-Nya.

Fokus dari khotbah-khotbah Edwards itu adalah ketidak berdayaan manusia dan kedaulatan Allah yang bersifat mutlak di dalam Yesus Kristus.

Selain itu, Jonathan Edwards juga sangat mendorong untuk diadakannya doa-doa yang dipanjatkan secara khusus untuk meminta belas kasihan Tuhan agar berkenan untuk memberikan pemulihan, kesejahteraan gereja, menyatakan kemuliaan-Nya serta memajukan kerajaan Allah di dunia ini, seperti yang terdapat dalam doa Bapa kami: “datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di dalam surga.”

Keempat, kebangunan bukanlah hasil akhir
Kebangunan rohani adalah pembaharuan, bukan hasil akhir yang mutlak. Setelah peristiwa kebangunan rohani, problem dan masalah masih saja akan ada. Dalam pengalamannya, Jonathan Edwards tidak jarang mendapati munculnya orang-orang yang menjadi pengacau dan selalu ingin menimbulkan konflik di dalam gereja yang digembalainya.

Kelima, esensi dari kebangunn rohani adalah hati yang mengalami pencerahan
Kebangunan rohani bukan tentang emosi yang meluap-luap. Bukan pula tentang karunia rohani spektakuler seperti bahasa lidah. Kebangunan rohani adalah tentang hati yang mengalami pencerahan. Hati yang dicerahkan artinya, seseorang yang memiliki pengertian yang baru, sudut pandang yang baru, serta keinginan yang diperbaharui untuk memuliakan Allah.

Keenam, kebangunan rohani harus memberi dampak pada penginjilan
Kebangunan rohani haruslah ditandai oleh semangat penginjilan. Semangat memberitakan Firman. Kebangunan rohani bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh seorang individu demi dirinya sendiri. Roh Kudus tidak pernah melengkapi seseorang hanya demi orang itu semata. Kita diberi karunia dengan tujuan untuk membangun jemaat. Demikian pula suatu kebangunan rohani yang sejati, tidak mungkin hanya berdampak di dalam jemaat saja, tetapi keluar kepada dunia melalui penginjilan.




Buku Bagus
"You Are Never Alone"

HAL-HAL YANG DAPAT MENJADI PELAJARAN

Melihat sejarah kebangunan rohani dari Jonathan Edwards, saya menarik beberapa point penting yang dapat kita jadikan pelajaran serta bahan perenungan:

Pertama: Iman sungguh adalah anugerah semata dari Tuhan.
 
Tidak semua anak Pendeta akhirnya juga memiliki iman yang kokoh di dalam Injil. Jonathan sudah menemukan keindahan science sejak masa mudanya. Sementara orang lain yang tertarik pada science dapat akhirnya menjauh dari Tuhan, Jonathan justru “berhasil” melihat science dari kacamata yang benar, yaitu science sebagai cara Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia (wahyu umum). Saya berikan tanda petik pada kata berhasil, untuk menegaskan maksud saya bahwa itu semua pada dasarnya adalah anugerah Allah semata kepada manusia. Berbahagialah kita yang jika dikaruniai otak pintar seperti Jonathan namun tidak menjadi sombong, melainkan tetap dapat melihat Allah melalui karya ciptaan-Nya ini.

Kedua: Iman adalah sesuatu yang pribadi
 
Walaupun orang tua dari Edwards adalah pendeta, ia tetap harus memiliki imannya sendiri. Iman orang tua bukanlah sesuatu yang mutlak pasti dimiliki oleh anak. Setiap pribadi, termasuk anak-anak harus mengalami pergumulan dan pertumbuhan imannya secara pribadi bersama Tuhan. Hal ini menjadi peringatan bagi kita untuk memperhatikan pembinaan iman kepada anak-anak kita.

Ketiga: Betapa pentingnya teologi
 
Semua kebangunan rohani yang terjadi sejak zaman Reformasi selalu berangkat dari pergumulan teologi yang dibangun atas dasar Alkitab. Bahkan Jonathan Edwards pun harus bergumul dengan teologi secara pribadi lebih dahulu sebelum dirinya mengalami kebangunan rohani pribadi. Pada gilirannya, kebangunan rohani pribadi inilah yang membangkitkan kebangunan rohani masal di kota tempat ia melayani.

Pada masa ini, teologi sudah mulai ditinggalkan, bahkan gereja pun tidak semua memperhatikan teologi dengan baik. Penggalian Alkitab kurang ditekankan, atau Alkitab dibaca namun tidak ada upaya penggalian yang mendalam sampai pada titik teologi jemaat sama dengan teologi Alkitab. Jika taraf ini sudah dicapai, maka jemaat dapat diharapkan untuk mengalami perubahan, yaitu sebagai pelaku Firman.

Jika teologi ditinggalkan, lalu bagaimana kita dapat berharap akan mengalami kebangunan rohani?

Keempat: Dosa paling berbahaya adalah dosa yang tidak kentara
 
Spiritualitas adalah sesuatu yang sudah menjadi ciri dari manusia. Setelah jatuh ke dalam dosapun, sifat spiritualitas ini tetap masih ada, namun melenceng dari arah yang seharusnya. Meski demikina, sifat spiritualitas inilah yang membedakan manusia dari hewan. Paul Tillich bahkan berkata: agama adalah the ultimate concern bagi seorang manusia.

Dengan spiritualitasnya ini, manusia memiliki kerinduan untuk menyembah apapun yang kuasanya lebih besar daripada dirinya. Dan hal ini dapat dilakukan terhadap apa saja. Orang melihat gunung yang besar, sungai yang besar, kilat, matahari atau apa saja, lalu muncul kerinduan untuk menyembah semua itu. Pada masa kini, orang bisa menjadikan teknologi, uang, rasio sebagai allah mereka.

Spiritualitas yang telah dicemari oleh dosa menyebabkan seseorang dapat terlihat begitu rajin beribadah, bahkan datang ke gereja, ikut kegiatan gerejawi, namun pada saat yang bersamaan tidak pernah memiliki pengenalan pribadi akan Tuhan. Hal ini sungguh mengerikan. Karena keberdosaan semacam ini bersifat sangat halus, tidak kentara, sulit dideteksi dan bercampur dengan kebenaran.

Jika kita menemukan seseorang yang korupsi, atau seperti Daud yang mengambil istri orang misalnya, maka dengan mudah kita bisa menemukan dosa orang itu. Tetapi terhadap seseorang terlihat sedang rajin beribadah dan giat melayani, darimanakah kita bisa mengetahui apakah orang itu sedang melakukan dosa atau tidak? Di sinilah letak bahaya dan kengerian dari dosa spiritualitas semacam ini.

 Kemampuan manusia untuk menipu dirinya sendiri sangat tidak terbatas. Aktivitas ke gereja, dapat dilakukan oleh seseorang tanpa orang itu mengenal Kristus. Matius 7:21-23 adalah contoh paling tepat sekaligus mengerikan dari permasalahan ini.

21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23)

Orang-orang itu berseru pada Yesus, bernubuat demi nama Yesus, mengusir setan demi nama Yesus, mengadakan banyak mujizat demi nama Yesus. Tapi Yesus menyuruh mereka pergi. Tidak semua orang yang melakukan aktivitas agama dan ibadah Kristen, adalah orang yang sudah diselamatkan.

Kejenuhan spiritual adalah seperti ini, yaitu ketika di satu sisi aktivitas agama nampak begitu luar biasa, namun di sisi lain hubungan Pribadi dengan Yesus Kritus tidak ada. Dalan kondisi semacam ini, tidak ada buah Roh apa pun yang akan dihasilkan oleh orang-orang tersebut.

Kelima: Kebangunan rohani yang sejati bersifat Teosentris
 
Ada orang yang menganggap bahwa tujun dari kebangunan rohani adalah sukacita. Ada yang menganggap bahwa kebangunan rohani ditandai dengan ibadah yang ramai dan penuh semangat, banyak terjadi mukjizat, banyak berkat, ada kesembuhan Ilahi dan lain-lain. Ada orang yang menganggap bahwa kebangunan rohani ditandai dengan kesuksesan dan hal-hal penuh gairah lainnya.

Semua itu adalah gambaran dari kebangunan rohani yang bersifat antroposentris (berpusat pada manusia), bukan Teosentris (berpusat pada Allah). Kebangunan rohani semacam itu ditandai dengan kepuasan manusia, baik intelektual, maupun emosional.

Reaksi yang tepat dari kesadaran yang benar akan Allah yang Mahasuci dan Mahamulia adalah rasa takut dan rasa takluk, bukan rasa puas diri. Karena ketika kita melihat Allah yang Mahasuci itu, pada saat yang sama kita juga melihat betapa hinanya jiwa kita.

Suatu kebangunan rohani yang sejati harus menyentuh sisi spiritual, aspek kemauan dan tindakan yang berubah. Inilah yang disebut dengan menghasilkan buah Roh.

Dari buahnyalah kita mengetahui apakah suatu kebangunan rohani itu sejati atau tidak. Apakah setelah kebangunan rohani, kecintaan orang terhadap Alkitab semakin besar? Apakah setelah kebangunan rohani, kecintaan untuk berdoa semakin besar? Bagaimana dengan kebencian terhadap dosa? Apakah jemaat masih dipenuhi dengan gosip, fitnah, ketamakan, percabulan, perselingkuhan, kelicikan dan kemunafikan? Bagaimana dengan persembahan? Apakah ada peningkatan dalam kecintaan jemaat terhadap pekerjaan Tuhan? Bagaimana dengan penginjilan? Hal-hal semacam ini dapat membantu kita melihat apakah kebangunan rohani yang sejati telah terjadi ataukah belum.

Keenam: Firman Tuhan harus dikhotbahkan
 
Roma 10:17  mengatakan: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Khotbah ekspositori dari Alkitab adalah suatu keharusan. Kelemahan gereja-gereja pada masa ini adalah terlalu sering memakai metode tema yang bersifat topikal. Niatnya tentu baik, yaitu mencoba mencari topik-topik apa yang sedang populer lalu mencoba mencari solusi melalui Firman. Tetapi cara ini mengandung kelemahan, yaitu jemaat tidak pernah memperoleh kesempatan untuk berkenalan dengan Alkitab secara intim dan menyeluruh. Topik yang melompat-lompat membuat pendengar tidak memiliki gambaran yang utuh dari Alkitab. Jangankan seluruh Alkitab, satu buku dari sebuah Alkitab pun belum tentu ada jemaat yang memahami.

Khotbah Firman yang dilakukan secara konsisten dan serial layak untuk dilakukan atau dimulai. Sebab hal itu akan membentuk suatu biblical worldview dan akan membantu jemaat semakin cinta pada Alkitab.

Biblical worldview adalah suatu cara pandang yang menyeluruh terhadap dunia ini, terhadap keseharian kita, dengan menggunakan sudut pandang Alkitab. Menanamkan suatu biblical worldview di dalam benak jemaat bukanlah perkara mudah. Harus ada kesungguhan dan harus melalui upaya-upaya yang sistematis dan berkesinambungan untuk mencapainya.


CIRI-CIRI DARI KEROHANIAN SESEORANG YANG SUDAH TERBANGUN

Pekerjaan Roh Kudus di dalam menciptakan suatu kebangunan rohani memang merupakan misteri. “Bagaikan angin yang bertiup kemana ia mau,” kata Yesus kepada Nikodemus, “demikianlah halnya dengan orang yang lahir dari Roh.” Meskipun demikian, seseorang yang rohaninya sudah terbangun dapat terlihat dari beberapa ciri sebagai berikut:

  1. Cinta akan Firman Tuhan dan eksposisi Alkitab; Alkitab bukan hanya dibaca, tetapi juga dipelajari, direnungkan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Cinta doa, baik pribadi maupun bersama-sama; doa menjadi nafas kehidupan sehari-hari. Dalam senang maupun susah, dalam keadaan apapun berbicara dengan Tuhan menjadi penghayatan hidup sehari-hari.
  3. Cinta penginjilan sebagai wujud dari cinta kepada sesama. Orang Kristen yang sudah mengenal kebenaran pasti sadar bahwa tanpa Kristus tidak mungkin seseorang dapat diselamatkan. Memberitakan injil adalah konsekuensi wajar dari orang yang sudah bertumbuh.
  4. Benci terhadap dosa dan berusaha hidup kudus. Tidak ada gunanya jika seseorang mendalami Alkitab namun tetap hidup di dalam dosa. Berbuat dosa tidak sama dengan hidup di dalam dosa. Setiap orang Kristen, masih bisa berbuat dosa, tetapi orang Kristen sejati tidak mungkin merasa nyaman dengan dosa-dosanya. Tunduk di hadapan Tuhan dengan perasaaan yang hancur karena dosa adalah respon yang wajar dari seorang yang sudah bertumbuh. Orang yang tidak merasa terganggu dengan dosa-dosanya, mungkin sekali adalah orang yang belum sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru.
  5. Ada buah Roh yang mulai tampak dalam keseharian. Dalam Galatia 5:22 ada uraian mengenai buah Roh. Itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dalam diri orang percaya. Kita harus peka untuk melihat apakah Roh Kudus sudah mengerjakan hal-hal itu di dalam diri kita? Seberapa pun kecilnya, seberapa pun samarnya, buah Roh haruslah muncul di dalam diri kita.

Beberapa hal yang nampak rohani namun belum tentu merupakan tanda kesejatian:
 
  1. Ada mukjizat: Iblis pun bisa melakukan mukjizat. Mukjizat tidak selalu merupakan tanda kehadiran Allah, Iblis pun pada tingkat tertentu dapat melakukan keajaiban yang menakjubkan orang banyak. Para dukun Firaun dalam kitab Kejadian, adalah contoh yang tepat untuk hal ini.
  2. Banyak aktivitas: orang yang tidak percaya pun dapat beraktivitas di gereja. Aktivitas yang tinggi untuk kerajaan Allah memang dapat menjadi ciri-ciri dari orang Kristen yang sejati. Tetapi siapa yang dapat memastikan bahwa seseorang memang sedang beraktivitas dan bekerja demi Kerajaan Allah atau demi alasan lain?
  3. Senang bersekutu: orang yang tidak percaya pun dapat senang bersekutu. Manusia memang adalah makluk sosial, oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak di antara kita yang suka berkumpul dengan orang lain. Hal ini sama sekali belum menunjukkan kerohanian sejati dari orang tersebut. Orang atheis pun dapat menyukai persekutuan dengan kelompok mereka.
  4. Kelimpahan berkat: tidak semua orang yang mendapat berkat, pasti diselamatkan. Kisah perjumpaan Yesus dengan pemimpin muda yang kaya dalam Matius 19 adalah salah satu contoh yang tepat untuk hal ini.
  5. Banyak memakai kata-kata rohani dalam keseharian: perbuatan jauh lebih dapat membuktikan kesejatian daripada kata-kata, walau bukan berarti kata-kata itu tidak penting sama sekali.
 
AKHIR KATA
 
Kebangunan rohani adalah sesuatu yang layak kita rindukan terjadi di dalam gereja kita. Di satu sisi, kebangunan rohani adalah suatu pekerjaan Roh Kudus dan hanya Dia-lah yang menjadi sumber dari kebangunan rohani itu. Akan tetapi di sisi lain, sebagai anak Tuhan kita tidak sepatutnya hanya pasif menunggu sampai Roh Kudus bekerja, melainkan kita pun dapat melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengarahkan dan mempersiapkan hati menuju pada suatu kebangunan.

Kiranya melalui peristiwa kebangunan rohani yang terjadi pada masa Jonathan Edwards ini kita dapat belajar sesuatu yang berharga dan berguna bagi pertumbuhan rohani kita di masa sekarang ini.

Tuhan memberkati (Oleh: Izar Tirta).