Showing posts with label Dosa. Show all posts
Showing posts with label Dosa. Show all posts

Monday, October 7, 2024

Siapakah para Nephilim itu?

Sebuah kebenaran tentang Nephilim yang jarang dibicarakan oleh gereja.


Kejadian 6:1-4 1Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, 2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. 3Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." 4Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.


Kejadian Pasal 6 ini merupakan salah satu topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, karena di dalamnya terdapat suatu gambaran yang tidak biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari orang modern, yaitu gambaran tentang orang-orang raksasa yang ada di bumi atau yang biasa disebut juga sebagai Nephilim.

Tetapi sebelum tiba pada pembahasan tentang orang-orang raksasa itupun, kisah ini sudah cukup banyak menimbulkan pertanyaan seperti: siapakah anak-anak Allah yang dimaksud dalam ayat 1? Dan siapa pula anak perempuan manusia yang dimaksudkan di sana? Mengapa tindakan mengawini anak-anak perempuan itu merupakan sebuah kejahatan yang layak diganjar oleh air bah? Apakah orang-orang raksasa itu sudah ada sebelum anak-anak Allah menghampiri anak perempuan manusia? Ataukah mereka itu merupakan hasil perkawinan itu sendiri?

Tidak terlalu mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, oleh karena itu kita perlu untuk masuk sedikit lebih dalam dan melihat secara lebih teliti apa saja yang diajarkan melalui Kejadian 6:1-4 ini.

 

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,

Sesuai dengan rencana Allah, agar manusia menjadi semakin bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, sebagaimana ada tertulis demikian: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Maka Kejadian 6 ini memberikan informasi bahwa kejatuhan manusia pun ternyata tidak dapat menghalangi rencana Allah yang semula tersebut.

Namun sungguh sangat disayangkan bahwa manusia telah membuat kehidupan yang indah ini menjadi tercemar oleh dosa, sehingga dengan semakin bertambah banyaknya jumlah manusia di bumi, maka penyebaran dosa pun menjadi semakin luas dan bumi pun semakin dekat pada potensi kehancuran sebagai akibat dari dosa-dosa manusia tersebut. 

Dari kenyataan tersebut, kita belajar bahwa semakin besar anugerah yang diberikan oleh Tuhan, maka semakin besar pulalah tanggungjawab yang harus diemban oleh manusia, sehingga ketika sesuatu yang buruk terjadi, maka secara otomatis akan semakin besar pulalah potensi kerusakan yang akan terjadi. Meski di sisi lain, satu hal yang tetap harus kita ingat adalah, bahwa di balik segala kegagalan manusia, Allah selalu mempunyai rencana untuk mengantisipasi serta melindungi ciptaan-Nya, sehingga sekalipun manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan tanah menjadi terkutuk sebagai akibatnya, bumi tidak serta merta hancur lebur tanpa harapan sama sekali. 

Jadi, di satu sisi ada bahaya kehancuran yang mengintai, tetapi di sisi lain, ada Allah yang berkuasa untuk menopang, menjaga serta memelihara kehidupan manusia yang telah tercemar oleh dosa itu.

Adapun manusia yang dibicarakan dalam Kejadian 6:1 ini, sangat mungkin merupakan populasi manusia secara keseluruhan, bukan semata-mata keturunan dari Kain saja, tetapi meliputi pula keturunan Set. Bukan keturunan yang berasal dari roh kejahatan, yaitu si ular saja, melainkan dari keturunan yang berasal dari orang-orang yang mendapat anugerah pula, yaitu para keturunan dari si wanita.

Kalau pun pada bagian akhir dari kalimat tersebut diberi suatu keterangan mengenai "anak-anak perempuan manusia," maka hal itu dapat kita lihat sebagai suatu pengantar kepada kisah selanjutnya, yaitu kejatuhan manusia ke dalam dosa yang bersifat semakin luas, sehingga Allah mencetuskan suatu penghakiman untuk membasmi hampir seluruh umat manusia. 

Adapun anak-anak perempuan manusia yang disebutkan dalam bagian ini adalah perempuan yang cantik-cantik, tetapi sungguh ironis bahwa kecantikan mereka itu justru kemudian menjadi semacam pemicu bagi keberdosaan manusia yang semakin besar. 

Pada dasarnya, kecantikan dan keindahan adalah sesuatu yang baik adanya, akan tetapi ketika perintah Tuhan tidak diperhatikan dan Pribadi-Nya tidak dianggap sebagai sosok yang penting lagi bagi manusia, maka kecantikan dan keindahan pun dapat membawa manusia masuk ke dalam jurang kehancuran dan kebinasaan.

 

maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

Siapakah anak-anak Allah yang dibicarakan di dalam ayat ini? Ada beberapa pandangan terhadap siapakah anak-anak Allah tersebut.

Pandangan pertama, anak-anak Allah itu adalah para malaikat.

Pada abad pertama hingga abad ke dua, beberapa Bapa Gereja seperti Justinus Martyr, Eusebius, Clement of Alexandria, Origen, dan Commodianus bahwa “the sons of God" dalam Kejadian 6:1–4 adalah malaikat jahat (fallen angels) yang melakukan hubungan seksual yang tidak natural dengan para perempuan dari kalangan manusia, sehingga melahirkan orang-orang raksasa yang disebut Nephilim.

Tetapi pandangan ini sudah sering ditentang dan tidak diterima lagi oleh mayoritas ahli Perjanjian Lama dan para teolog pada umumnya. Walaupun sangat mungkin sekali bahwa pandangan seperti ini justru masih sangat populer di kalangan orang Kristen awam.

Ada beberapa kelemahan dari pandangan yang mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah malaikat, yaitu:

Gambaran tentang malaikat dan manusia yang hidup berdampingan bersama, apalagi sampai melakukan hubungan seksual dan melahirkan anak, sungguh-singguh tidak memiliki keterkaitan apapun dengan bagian manapun dari Kitab Kejadian, bahkan hal itu  menjadi tema yang sangat asing bagi keseluruhan Alkitab sendiri. 

Masuknya figur malaikat ke dalam kisah kejatuhan manusia terasa bagaikan sebuah nada sumbang bagi seluruh harmonisasi konteks dalam Alkitab, khususnya kitab Kejadian. Semenjak Kejadian pasal 3 sampai 5, dosa manusia menjadi tema yang sangat dominan. Dan pada gilirannya, dosa manusialah yang akan ditebus oleh Allah, bukan dosa malaikat. Dosa-dosa malaikat sama sekali bukan pusat pembicaraan di dalam bagian-bagian sebelum Kejadian 6 maupun setelahnya.

Penulisan Alkitab ditujukan kepada manusia, dengan segala persoalan nyata yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, sehingga kisah-kisah yang bersifat fantastis, seperti perkawinan antara malaikat dan manusia, sulit mendapat tempat di dalam persoalan nyata yang dihadapi oleh manusia dalam keseharian.

Pandangan kedua, anak-anak Allah itu adalah anak-anak dari para penguasa

Pandangan ini lebih dapat diterima ketimbang pandangan pertama tadi, sebab “elohim” sendiri berarti “penguasa,” sehingga bagi orang Yahudi, sebutan “Elohim” ini dapat diterapkan pula kepada Yahwe yang adalah penguasa dari segala penguasa. 

Selain itu, pandangan seperti ini, tidak memiliki pertentangan yang nyata dengan bagian-bagian sebelum Kejadian 6 karena masih sama-sama membicarakan tentang kejahatan manusia. Dan jika kita baca Kejadian 6:5, maka kita mendapati bahwa kejahatan yang sedang dibicarakan pun adalah kejahatan manusia, dan sama sekali tidak menyinggung tentang keterlibatan dari para malaikat yang jahat. Kejahatan manusia inilah yang menjadi dasar dari kisah air bah yang merupakan penghakiman Ilahi atas kejahatan manusia tersebut.

Meski demikian, pandangan seperti ini pun bukan tanpa persoalan. Setidaknya ada dua kelemahan dari pandangan ini, yaitu:

Pertama, pribadi anak-anak penguasa itu tidak pernah diidentifikasikan, sehingga kita tidak bisa melihat pertalian atau hubungan antara mereka dengan keturunan Adam yang dibicarakan di dalam Kejadian 5. Meskipun mereka adalah sama-sama manusia, dan bukan malaikat jahat seperti pandangan pertama tadi, tetapi dengan tidak adanya idetifikasi yang jelas, maka bagaimana kita dapat melihat keterkaitan antara Kejadian 6 dengan Kejadian 5?

Kedua, karena tidak ada suatu penjelasan mengenai siapakah anak-anak para penguasa tersebut, maka kita juga sulit menemukan dasar atau alasan tentang mengapa perbuatan anak-anak penguasa ini dianggap sedemikian jahat dimata Allah, hanya karena mereka mengawini perempuan-perempuan cantik tersebut? Mengapa perbuatan seperti yang mereka lakukan itu dapat disebut sebagai jahat? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sulit dijawab karena tidak ada keterkaitan yang nyata mengenai jatidiri parapenguasa dengan jatidiri orang-orang dalam pasal-pasal sebelumnya.

Pandangan ketiga, anak-anak Allah adalah perwakilan dari keturunan Set, sedangkan anak perempuan manusia adalah perwakilan dari keturunan Kain.

Pandangan ketiga ini, jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan dari segi penafsiran karena memiliki banyak keterkaitan dengan pasal sebelum dan sesudahnya dan terlihat adanya kesatuan tema, kesamaan pola serta keserupaan dalam pemakaian istilah-istilah, simbol-simbol maupun warna teologi yang ada di dalamnya.

Kesatuan tema yang dimaksud adalah tema dosa. Sebagaimana dalam pasal-pasal sebelumnya, terdapat banyak pembahasan tentang dosa, maka hadirnya anak-anak Allah ini juga menjadi semacam pemicu atas kondisi keberdosaan manusia yang semakin besar.

Kesamaan pola yang dimaksud adalah pola sifat dosa yang cenderung mengalami perkembangan dan perluasan. Dari sedikit orang, lalu menyebar keorang lain, makin lama makin banyak yang terkena pengaruh.

Keserupaan dalam istilah, simbol dan warna teologi yang dimaksud misalnya adalah istilah “melihat.” Sama seperti Hawa yang melihat buah, demikian pula anak-anak Allah itu melihat anak perempuan manusia. Lalu sama seperti Hawa yang melihat ada keindahan di dalam buah itu sehingga ia tertarik, demikian pula anak-anak Allah itu melihat kecantikan di dalam diri anak perempuan manusia sehingga mereka tertarik. Hawa begitu ingin memuaskan nafsunya untuk menikmati buah terlarang, sedangkan anak-anak Allah ingin memuaskan nafsu seksualnya dengan anak perempuan manusia. Semua sama-sama lebih mementingkan keinginan badani mereka ketimbang memperdulikan larangan atau batasan-batasan spiritual yang ditetapkan oleh Allah. Ada pola yang sama antara Hawa dan anak-anak Allah itu, yaitu mereka melihat lalu mengambil apapun atau siapapun yang mereka sukai. Kesukaan pribadi menjadi hal yang sangat mempengaruhi tindakan mereka, bukan perkataan Tuhan, buka rasa takut ataupun hormat kepada Tuhan

Selanjutnya, kita melihat kemunculan manusia-manusia raksasa di dalam ayat 4 juga memiliki kesamaan pola dengan kisah Kain, yaitu tentang kebanggaan, kekuatan dan kebesaran manusia. Ukuran badaniah menjadi sesuatu yang sangat penting dan ditekankan dalam hal ini. Kemuliaan jasmaniah, kelimpahan materi dan kekuasaan adalah sifat-sifat yang sangat dekat dimiliki oleh keturunan Kain.

Anak-anak Allah yang mewakili keturunan Set adalah keturunan yang diberkati, yang akan menerima janji keselamatan. Sedangkan anak perempuan manusia adalah keturunan Kain yang telah mendapat kutukan. Tidak seharusnya orang yang diberkati itu bercampur dengan orang-orang yang menerima kutukan. Perkawinan di antara kedua kelompok manusia tersebut akan mengakibatkan orang-orang pilihan pun menjadi tercemar dan ikut rusak karena dosa dan kutukan.

Orang-orang pilihan ini seharusnya menyembah Tuhan dengan setia, tetapi mereka telah mengedepankan keinginan daging mereka lebih daripada perintah dan larangan Tuhan, sehingga sebagai akibatnya, mereka pun harus turut menanggung hukuman Ilahi berupa air bah.

Pandangan ketiga ini dianut oleh Agustinus dan dipopulerkan melalui tulisannya yang berjudul City of God dan diterima secara luas dengan baik pula oleh orang-orang Kristen pada era Reformasi.

Pandangan yang bersifat metafor, bahwa perkawinan anak-anak Allah dan anak perempuan manusia itu adalah representasi dari percampuran antara keturunan Set dan keturunan Kain, sangat sesuai dengan keseluruhan rangkaian pengajaran di dalam Alkitab, yaitu bahwa orang benar harus hidup kudus, terpisah dari orang dunia yang tidak mengenal Tuhan. Orang benar adalah mereka yang menyembah Allah yang sejati, sedangkan orang fasik adalah orang yang tidak mengenal Allah sejati. Dalam pandangan Allah, kedua kelompok ini tidak seharusnya dicampuradukkan satu sama lain, sebab kelompok yang rusak itu akan turut menghancurkan kelompok yang baik.


Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."

Kejahatan manusia yang hanya peduli pada keinginan mata dan kepuasan jasmani tersebut membuat Allah menjadi murka. Dan sebagai respon atas keberdosaan manusia, Tuhan membatasi usia manusia menjadi 120 tahun saja. Dalam ukuran usia manusia di Perjanjian Lama, usia 120 merupakan jangka waktu yang terbilang pendek.

Bencana air bah yang Tuhan kirimkan kepada manusia, menjadi suatu sarana untuk membatasi atau memperpendek usia manusia tersebut. Tidak ada lagi yang akan berusia panjang karena mereka akan mati oleh air bah tersebut.

Pada masa sekarang, usia rata-rata manusia bahkan jauh lebih pendek lagi dibandingkan dengan era Alkitab. Sakit penyakit, peperangan, bencana alam adalah utusan Tuhan untuk memperpendek usia manusia, sama seperti Tuhan pernah mengutus air bah di zaman Nuh.

Tanpa tindakan Allah untuk menyelamatkan Nuh melalui bahtera, maka umat manusia akan punah selamanya. Demikian pula di dalam Perjanjian Baru, Tuhan bertindak untuk menyelamatkan sebagian kecil umat manusia melalui Kristus, agar umat manusia tidak punah secara keseluruhan akibat dosa, melainkan ada sekelompok kecil yang akan diselamatkan dan mengalami kehidupan bersama Tuhan.


4Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Tidak sedikit jumlah kalangan Kristen yang menganggap bahwa orang-orang raksasa yang ada di bumi itu adalah hasil perkawinan anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia. Hal ini tidak lepas dari anggapan bahwa anak-anak Allah itu adalah makhluk supranatural seperti malaikat. 

Akan tetapi anggapan tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima apabila kita setuju bahwa anak-anak Allah adalah wakil dari kelompok keturunan Set, sedangkan anak-anak perempuan manusia adalah kelompok dari keturunan Kain. Sebab kedua kelompok tersebut adalah manusia biasa, bukan makhluk supranatural yang berpotensi melahirkan raksasa.

הַנְּפִלִ֞ים (dibaca HaNephilim) berasal dari istilah Ibrani נְּפִלִ֞י  (naphal) yang berarti “jatuh” atau “to fall.” Jika kita menafsirkan sesuai dengan arti kata dasarnya, maka Nephilim bisa dimengerti sebagai sekumpulan orang-orang yang telah jatuh ke dalam dosa atau orang yang berkarakter jahat atau sekumpulan para pendosa. 

Selanjutnya, apabila kita membaca kalimat pembukaan dalam Kejadian 6:4, maka istilah yang dipakai adalah “pada waktu itu, Nephilim ada di bumi,” kalimat yang dipakai dalam bahasa Ibrani adalah: HaNephilim HaYu BaAres BaYamim HaHem, (The Nephilim WERE in The Earth In Those days), sehingga kita dapat memahami bahwa para Nephilim tersebut sudah ada terlebih dahulu di bumi, pada saat terjadinya peristiwa perkawinan antara anak-anak Allah dan anak perempuan manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa para Nephilim itu bukanlah hasil perkawinan dari anak-anak Allah, wakil dari keturunan Set, dengan anak-anak perempuan manusia, wakil dari keturunan Kain.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Kejadian 6:4 ini adalah, bahwa dunia sudah sedemikian rupa dipengaruhi oleh dosa, dan populasi manusia berdosa pun sudah sedemikian banyaknya, sehingga cara hidup mereka itu pada akhirnya sangat mempengaruhi anak-anak Allah dalam mengambil keputusan untuk mengawini anak perempuan manusia. 

Anak-anak Allah, keturunan Set, yang di dalam Kejadian 5 digambarkan sebagai sekumpulan orang-orang yang mengenal Tuhan, hidup bergaul dengan Tuhan, giat dalam menghasilkan buah bagi Tuhan serta taat pada perintah-Nya, kini telah mengikuti cara dunia bertindak. Mereka tidak lagi menjadikan perkataan Tuhan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil tindakan, melainkan berdasarkan apa yang mereka lihat baik atau cantik, menurut apa yang menjadi kesukaan mereka. Atau dalam bahasa yang dipakai dalam Kejadian 3, anak-anak Allah ini telah memutuskan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat menurut kehendak mereka.

Percampuran antara anak-anak keturunan wanita dan anak-anak keturunan si ular, tentu saja merupakan suatu perbuatan atau kejadian yang tidak disukai oleh Tuhan. Sebab semenjak manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah mengadakan permusuhan di antara kedua kelompok manusia tersebut. Oleh karena itu, perbuatan tersebut merupakan dosa yang besar dan berpotensi mendatangkan penghakiman Allah yang berakibat pada hancurnya begitu banyak kehidupan di muka bumi ini, bukan saja kehidupan manusia, tetapi hewan-hewan yang tidak berdosa pun turut menjadi korbannya. Pesan dari peristiwa itu sangat jelas, yaitu dosa senantiasa membawa dampak kehancuran yang bersifat kosmos.


Apa akibat dari kawin campur tersebut?

Hasil dari kawin campur antara kedua garis keturunan manusia ini adalah dilahirkannya pahlawan-pahlawan yang gagah, orang-orang kenamaan di jamannya. Dalam ukuran dunia, apa yang salah dengan hal seperti ini?

Menurut ukuran dunia, hadirnya pada pahlawan yang gagah perkasa, serta orang-orang yang kenamaan, bukanlah suatu persoalan sama sekali. Sebaliknya, dunia justru suka dengan segala sesuatu yang menampilkan kemegahan, kebesaran, keperkasaan, kekayaan, kehebatan dan lain sebagainya.

Tetapi menurut Firman dari Tuhan yang sejati, semua ketertarikan terhadap kemuliaan duniawi itu justru merupakan akibat dari dosa manusia. Bukan kemuliaan Tuhan yang menjadi tujuan hidup manusia, tetapi kemuliaan, kehebatan dan nama besar manusia. Gambaran yang ditampilkan oleh keturunan manusia hasil kawin campur tadi, justru sangat cocok dengan gambaran dari kehidupan keluarga Kain, yang diliputi oleh keberhasilan duniawi dan kehebatan manusiawi. Dan justru gambaran kehidupan seperti inilah yang merupakan jenis kehidupan yang dikutuk oleh Tuhan.

Dengan kebanggaan manusia akan dirinya sendiri, kehebatannya sendiri dan nama besarnya sendiri itu, Tuhan Allah menilai bahwa populasi manusia kini telah menjadi semakin serupa dengan keturunan Kain ketimbang keturunan Set. Dan berdasarkan kenyataan tersebut, maka Tuhan Allah kemudian mengambil tindakan dengan mengirimkan air bah ke bumi untuk melenyapkan percampuran antara yang baik dan yang jahat tersebut sehingga pengaruh dosa yang semakin meluas itu dapat dihentikan.

Sungguh amat disayangkan bahwa hingga kini pun, banyak orang di dunia, termasuk orang-orang yang menamakan dirinya Kristen, jauh lebih tertarik untuk mengejar kemuliaan duniawi dan kehebatan manusiawi, ketimbang kemuliaan dan kehebatan Allah.


Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari hal Kejadian 6:1-4 ini adalah:

  1. Kehidupan manusia yang berdosa memiliki sifat yang menular.
  2. Keturunan orang percaya pun jika tidak hati-hati akan terjerat di dalam kebinasaan, yaitu ketika mereka mulai meninggalkan Tuhan.
  3. Keberdosaan manusia yang digambarkan di dalam bagian ini ditunjukkan melalui kemuliaan duniawi yang mereka miliki, yaitu berupa keperkasaan, kehebatan dan nama besar.
  4. Tuhan tidak tinggal diam melihat kerusakan manusia, Tuhan mendatangkan penghakiman melalui pembatasan usia manusia, sebagai langkah awal.
  5. Dan pada akhirnya, Tuhan mendatangkan penghakiman yang lebih besar yaitu air bah yang nyaris melenyapkan seluruh umat manusia pada saat itu.


Sekilah tentang pandangan Teologi Reformed tentang Kejadian 6:1-4

Para penganut Teologi Reformed, memegang pandangan bahwa perkawinan anak Allah dan anak manusia sebagai perkawinan antara keturunan Kain dan keturunan Set, sehingga tidak terlalu memberi penekanan pada orang-orang raksasa di dalam arti yang senantiasa harafiah. 

Teologi reformed bukan tidak menerima fakta Alkitab bahwa ada orang-orang yang bertubuh besar seperti Goliat, tetapi istilah raksasa yang muncul di Alkitab mungkin tidak senantiasa harus ditafsirkan sebagai raksasa secara fisik saja, melainkan orang-orang yang merasa dirinya besar di dalam kekuasaan, pengaruh dan otoritas, sehingga merasa berhak untuk menindas orang lain yang lebih lemah.


Untuk pembahasan yang lebih terperinci tentang mengapa sebaiknya menafsirkan istilah Nephilim sebagai sekelompok orang-orang yang sudah jatuh di dalam dosa atau orang-orang yang berkarakter jahat, dapat dibaca dalam tulisan berjudul: Istilah Nephilim menurut kitab Kejadian, Bilangan dan Yehezkiel. [Benarkah Nephilim harus identik dengan orang bertubuh raksasa? Klik disini.]

Tuesday, July 16, 2024

Upaya iblis menjauhkan kita dari pemahaman akan kasih Allah


Upaya iblis menjauhkan kita dari kasih Allah

Surat Yohanes banyak membicarakan tentang Allah yang adalah Kasih, untuk mengajarkan kepada pembacanya bahwa mereka pun harus mengasihi sama seperti Allah yang adalah kasih tersebut. Dan untuk memahami apa itu kasih, maka orang percaya harus menggali pengertian tersebut dari Pribadi Allah sendiri.

Seringkali manusia mencoba membuat sendiri definisi dari kasih, tanpa mempertimbangkan apa yang Alkitab katakan tentang kasih melalui Pribadi Allah. Akibatnya manusia menghasilkan definisi yang keliru dari kasih.

Ada orang yang beranggapan bahwa atas nama kasih, maka segala sesuatu menjadi diperbolehkan. Anak-anak muda melakukan hubungan seksual di luar pernikahan dianggap sesuatu yang baik-baik saja, asalkan dilandaskan pada rasa saling mengasihi. Laki-laki menikahi laki-laki lain dan banyak orang menganggap bahwa itu baik-baik saja asalkan dilandaskan kasih sayang satu sama lain. Tentu saja anggapan ini sangat keliru.

Dari Allah kita belajar, bahwa kasih tidak dapat dipisahkan dari kekudusan. Dan ketika berbicara tentang kekudusan, maka kita bicara tentang apa yang baik dan apa yang jahat menurut standar Allah. Apabila manusia melanggar kekudusan, maka atas nama kasih Allah akan menegur manusia dari dosa dan pelanggarannya, agar mereka bertobat.

Berhubungan seksual sebelum menikah, atau menikah dengan sesama jenis adalah perbuatan yang salah menurut standar kekudusan Tuhan. Sehingga atas nama kasih, perbuatan itu justru harus dicegah dan pelakunya perlu bertobat dari dosanya tersebut. Justru bukan merupakan sebuah kebencian, apabila kita berupaya membawa seseorang kembali kepada Tuhan, ketimbang membiarkan mereka dalam kesesatan yang berujung pada kebinasaan.

Gagasan Alkitab tentang kasih sulit diterima oleh sebagian besar umat manusia, sebab mengandung beberapa pengertian yang mengganggu hati manusia yang berdosa. Manusia tidak suka diatur oleh otoritas yang lebih tinggi yaitu Tuhan. Sebaliknya, manusia memilih untuk menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat menurut standar mereka.

Hati manusia yang ingin menjadi tuhan bagi diri sendiri ini, didukung pula oleh iblis yang sangat senang melihat ketidakpercayaan manusia kepada Tuhan. Dalam aktivitasnya, iblis mengajukan beberapa gagasan yang menyimpang tentang Allah yang adalah kasih, yaitu:

Penyimpangan pertama, Allah bukan kasih, Ia patut dicurigai

Iblis senantiasa membuat manusia tidak sadar siapakah Tuhan dan siapakah manusia di hadapan Tuhan. Manusia akan digoda untuk melihat bahwa dirinya begitu istimewa dan bahwa Allah adalah sosok meragukan yang patut dicurigai, karena berpotensi untuk melakukan kejahatan atau kecurangan pada manusia.

Menurut kebiasaan di jaman ketika Alkitab mula-mula ditulis, yaitu sekitar zaman Musa hidup, seorang penjaga taman istana tidak boleh memakan buah dari pohon yang ada di dalam kebun sang raja. Tetapi melalui Kejadian kita diajarkan bahwa Tuhan adalah Raja yang sangat murah hati, sehingga semua buah dari pohon di Taman Eden boleh dinikmati oleh manusia. Manusia bukan pemilik Taman Eden, manusia ditempatkan di Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara Taman itu, manusia pada dasarnya hanyalah seorang pekerja atau tukang kebun di Taman yang dimiliki oleh Tuhan.

Tetapi Adam dan Hawa justru merasa curiga bahwa Allah itu pelit dan jahat karena ada satu buah yang tidak boleh dimakan. Bukankah ini merupakan sesuatu yang sangat keterlaluan? Tetapi inilah sikap hati manusia yang ditunjukkan melalui Kejadian. Dan ketika kecurigaan itu mulai muncul, maka dengan mudahnya Iblis membujuk manusia untuk masuk ke dalam dosa yang nyata, yaitu memberontak terhadap perintah Allah. Sampai sekarang, seringkali di dalam hidup ini, kita merasa curiga kepada Tuhan, hanya karena ada satu masalah saja yang kurang beres di dalam hidup kita. Padahal Tuhan sudah menyediakan begitu banyak kebaikan kepada kita semua.

Kesadaran akan cinta kasih Tuhan sangatlah penting, sebab kita memiliki kecenderungan untuk curiga kepada Tuhan dan sikap curiga seperti itu sangatlah salah. Allah adalah kasih. Ia adalah sumber kasih. 

Penyimpangan kedua: Allah adalah kasih, tetapi Ia tidak mengasihi kamu

Iblis bisa menggoda kita dengan mengatakan: Allah memang adalah kasih, tetapi Ia tidak mengasihi kamu. Tentu saja pikiran-pikiran yang salah seperti ini jangan dibiarkan ada di dalam diri kita. Kita bertanggungjawab untuk melawannya dengan penuh kesadaran, sebab Alkitab justru ditulis untuk mengajarkan bahwa Allah adalah kasih.

Untuk melawan godaan iblis seperti ini, kita perlu belajar dari Tuhan Yesus ketika Beliau digoda oleh iblis di padang gurun. Cara yang dipakai oleh Tuhan Yesus bukan melalui demonstrasi kekuatan supranatural seperti tenaga dalam untuk memukul iblis atau kekuatan alam seperti petir atau api untuk membakar iblis. Cara yang dipakai oleh Tuhan Yesus adalah melalui Firman Tuhan yang telah ditulis sebelumnya, yaitu Perjanjian Lama.

Ketika orang Kristen digoda iblis dengan gagasan bahwa Allah tidak mengasihi kita secara pribadi, maka yang harus dilakukan orang Kristen adalah bersungguh-sungguh membaca Kitab Suci dari kitab yang paling permulaan hingga kitab paling akhir. Melalui proses pembacaan itu, bukalah hati serta pikiran kita dan dengarkan Allah berbicara kepada kita. Biarkan Allah sendiri yang memberi kita keyakinan bahwa Ia mengasihi kita secara pribadi, bukan sekedar kasih yang bersifat general kepada sekelompok manusia saja, tetapi juga kasih yang bersifat khusus kepada masing-masing pribadi.

Ada saatnya Alkitab menggambarkan kasih Allah yang bersifat global, misalnya Yohanes 3:16 dimana kasih Allah ditujukan kepada seluruh dunia. Tetapi ada saatnya kasih Allah digambarkan secara sangat personal, misalnya dalam peristiwa Pentakosta, dimana lidah api Roh Kudus bukan turun dalam bentuk api yang sangat besar berkobar-kobar melingkupi semua orang yang hadir, melain turun secara satu persatukepada masing-masing pribadi. Ada sentuhan yang sangat personal di dalam peristiwa Pentakosta.

Penyimpangan ketiga: definisi yang keliru terhadap kasih Allah

Bentuk lain dari penyimpangan terhadap pengertian akan kasih Allah adalah, dengan membuat definisi yang keliru dari kasih Allah. Ada beberapa interpretasi keliru tentang apa artinya Allah adalah kasih

Ada orang yang menganggap bahwa Allah itu baru adalah kasih, apabila Ia memberi hadiah kepada saya. Dan yang dimaksud dengan hadiah di sini, biasanya berupa kesehatan, kekayaan, kondisi kehidupan yang baik, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, kelancaran, kenyamanan dan lain sebagainya yang sejenis dengan itu. Apabila Tuhan ternyata tidak memberikan hadiah seperti yang diharapkan, maka kita pantas marah dan menilai bahwa Allah itu bukan kasih.

Melalui anggapan seperti ini, tanpa sadar kita telah bertindak seolah-olah diri kita inilah yang menjadi standar dari kasih. Seakan-akan, kitalah yang berwenang membuat definisi tentang kasih, serta menjadi standar untuk mengukur mana yang merupakan kasih Allah dan mana yang bukan. Tentu saja anggapan seperti ini adalah keliru dan sesat.

Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membuat standar dari mana yang bukan kasih Allah dan mana yang adalah kasih Allah? Manusia begitu banyak jumlahnya, masing-masing orang mempunyai standarnya sendiri, lalu standar siapakah yang mau dipegang? Selain itu, siapakah manusia yang merasa mampu mengenal Allah secara sempurna sehingga merasa mampu dan berhak untuk memberi penilaian terhadap hal mana yang Allah harus lakukan dan hal mana yang tidak patut dilakukan-Nya.

Dari logika sederhana seperti ini saja sudah terlihat betapa absurdnya cara berpikir seperti ini, bukan?

Penyimpangan keempat: kasih Allah diwujudkan dalam aspek-aspek yang keliru

Betapa licik dan licinnya cara iblis menggoda manusia dengan menawarkan berbagai gagasan sesat yang sangat efektif membawa manusia ke neraka bersama dia. Pada penyimpangan pertama, iblis menegasi kebenaran dengan berkata bahwa Allah bukan kasih. Serangannya ditujukan kepada Pribadi Allah, sebagai subjek dari kasih. Pada penyimpangan kedua, iblis setuju bahwa Allah kasih, tetapi Ia tidak mengasihi manusia, serangannya ditujukan kepada manusia sebagai objek dari kasih. Pada penyimpangan ketiga, iblis menyerang definisi dari kasih itu sendiri sambil memberikan definisi-definisi palsu dari kasih Allah.

Pada penyimpangan keempat ini, yang diserang oleh iblis adalah konsekuensi atau implikasi dari kasih. Iblis mencoba mengacaukan orang Kristen agar mereka keliru dalam mengaplikasikan kasih ke dalam hidup mereka. Sedemikian rupa sehingga sekalipun orang Kristen terlihat bertindak baik, namun mereka melakukan kebaikan di dalam arah yang keliru.

Setelah empat penyimpangan tersebut, kita melihat betapa kasih Allah telah diserang dari berbagai segi dan aspek agar manusia tidak pernah mengenal dengan benar, tidak bisa mengalami kasih itu secara penuh dan pada akhirnya kasih itu tidak akan bisa berbuah di dalam kehidupan orang Kristen.

Melalui penyimpangan yang ke empat ini, orang beranggapan: karena Tuhan adalah kasih, maka doktrin atau ajaran Alkitab tidaklah penting. Untuk apa belajar Alkitab secara mendalam? Bukankah pada akhirnya kita akan bertengkar karena doktrin?  Anggapan ini tentu saja keliru. Kita perlu mengerti doktrin Alkitab dengan baik agar kita dapat mengenal Tuhan dengan lebih baik sehingga ketika kita mengasihi, maka kita dapat mengasihi dengan cara yang benar, kepada objek yang benar dan dilandasi oleh motivasi yang benar.

Anggapan lain yang keliru adalah: Karena Tuhan adalah kasih, maka semua orang adalah anak Allah, semua orang dicintai Allah, semua orang akan diterima atau diselamatkan oleh Allah. Tentu saja anggapan sepeti itu adalah anggapan yang keliru dari kasih Allah. 

Apakah karena Allah adalah kasih maka semua orang adalah anak Allah? Tidak demikian. Allah adalah kasih, tetapi bukan semua orang dapat dikatakan sebagai anak Allah sebab manusia telah jatuh ke dalam tangan iblis. Hanya orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sajalah yang diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

Apakah karena Allah adalah kasih, maka semua orang dicintai Allah? Tidak demikian. Manusia berdosa adalah musuh Allah dan meskipun Allah itu adalah kasih, bukan berarti Ia tidak bisa membenci. Allah membenci dosa. Allah benci kepada Esau. Allah mengadakan permusuhan dengan keturunan ular.

Apakah karena Allah adalah kasih, maka semua orang akan diselamatkan? Tidak. Hanya orang yang percaya kepada Tuhan Yesus saja yang akan diselamatkan. Orang yang tetap tidak percaya akan tetap berada di bawah hukuman dan murka Ilahi.

Kesimpulan

Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, punya kecenderungan untuk tidak menyukai Allah. Di sisi lain, ada iblis yang melakukan segala upaya untuk menjauhkan manusia dari pengenalan akan Allah. Dua faktor tersebut sudah merupakan penghalang yang sangat besar bagi manusia untuk dapat mengenal Allah dan Kasih-Nya.

Tanpa anugerah dari Allah, maka adalah sebuah kemustahilan bagi manusia untuk dapat mengenal Dia. Namun ketika Allah beranugerah kepada manusia, maka ciri-ciri atau tandanya bahwa orang itu mendapat anugerah adalah timbulnya keinginan untuk mengerti Firman dan bertindak sesuai dengan Firman Tuhan tersebut.

Tanpa pengertian yang benar sesuai ajaran Firman Tuhan, maka kasih pun bisa mengalami kekeliruan di dalam banyak hal.


Tuesday, April 2, 2024

Tantangan yang dihadapi Rasul Paulus di dalam jemaat Roma


Tantangan yang dihadapi Paulus di Roma

Mengapa Paulus menulis surat kepada jemaat Roma? 

Kita tahu bahwa setiap penulis Penjanjian Baru tergerak untuk menyampaikan sesuatu kepada jemaat, karena mereka melihat ada persoalan di dalam jemaat.

Para rasul menyampaikan ajaran kepada jemaat bukan karena mereka terlalu banyak waktu luang sehingga mencoba mengisi waktu dengan mengajar. Para rasul juga bukan mengajar karena mereka ingin mendapatkan uang. Para rasul itu mengajar dan menulis surat kepada jemaat karena mereka mengasihi Tuhan dan mereka melihat bahwa jemaat yang dikasihi Tuhan itu sedang membutuhkan pertolongan, agar mereka tidak sesat dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan.

Jemaat Roma yang berasal dari keturunan Yahudi merasa kecewa melihat sikap Tuhan yang seolah-olah lebih memberkati orang Kristen yang bukan berasal dari keturunan Yahudi seperti orang Romawi dan orang Yunani misalnya.

Mengapa jemaat Roma yang keturunan Yahudi itu merasa kecewa? Mereka merasa kecewa sebab melihat jumlah mereka yang semakin menyusut, kalah dibandingkan dengan jumlah jemaat Kristen yang non-Yahudi tadi. Orang Kristen Yahudi yang sebelumnya mayoritas, kini menjadi minoritas sebagai akibat dari diusirnya mereka dari Roma oleh Kaisar Klaudius (Kis 18:2).

Dalam anggapan mereka, bukankah orang Yahudi adalah bangsa pilihan Allah, dan bukankah sebagai orang Kristen pun mereka adalah umat pilihan Allah juga? Mereka melihat diri mereka sangat istimewa, bangsa pilihan Allah dan umat pilihan Allah sekaligus. Di atas bumi tidak ada golongan manusia yang begitu istimewa seperti ini, bukan?

Oleh karena itu, mereka kemudian bertanya-tanya, mengapa mereka harus mengalami kondisi yang agak memalukan seperti itu? Mengapa Tuhan menambah jumlah orang Kristen dari keturunan lain, tetapi membiarkan orang Kristen keturunan Yahudi malah menyusut dan jadi minoritas di Roma? Mengapa Tuhan bersikap pilih-pilih kasih seperti ini?

Demi mengajar jemaat Yahudi yang seperti inilah Paulus menulis surat Roma, agar jemaat di tempat itu berhenti menyalahkan Tuhan dan kembali melihat segala sesuatu dari perspektif yang benar, yaitu perspektif Tuhan semata-mata. Jemaat Kristen Yahudi di Roma harus melihat siapakah Kristus, siapakah diri mereka dan siapakah orang Kristen lain di hadapan Tuhan. Sehingga dengan demikian mereka bisa berhenti melihat diri sendiri terlalu istimewa hingga meremehkan orang lain dan bahkan sampai berani menyalahkan Tuhan pula.

Merasa istimewa dan merasa lebih baik daripada orang lain

Jemaat Yahudi di Roma merasa lebih istimewa karena mereka mempunyai Taurat, sementara bangsa-bangsa lain tidak. Taurat yang sesungguhnya merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan, kini disalah mengerti oleh orang Yahudi sebagai suatu identity marker, yang membuat mereka seolah lebih istimewa dari bangsa lain.

Atas kekeliruan itu, rasul Paulus memberi penjelasan bahwa Taurat memang berharga sebab Taurat adalah Firman Tuhan, dan bahwa bangsa Israel pun adalah orang yang berharga di mata Tuhan sebab kepada bangsa inilah Tuhan telah mempercayakan Firman-Nya.

Akan tetapi bangsa Israel seharusnya sadar, bahwa Taurat itu diberikan dengan tujuan untuk dibaca, diajarkan kepada orang lain dan untuk ditaati. Taurat tidak dimaksudkan untuk dipakai sebagai alat kebanggaan, apalagi sampai menjadi sarana untuk menjelek-jelekkan orang lain yang tidak menerima Taurat. Seharusnya, jika bangsa Israel sadar bahwa hanya kepada mereka Taurat telah diberikan, maka mereka juga sadar akan tanggungjawab untuk mengajar bangsa lain, memperkenalkan siapakah Tuhan yang sejati kepada bangsa lain.

Seharusnya bangsa Israel sadar bahwa keistimewaan mereka bukan terletak pada diri mereka sendiri, melainkan terletak pada Pribadi Tuhan yang mau memilih bangsa ini sebagai alat untuk memperkenalkan Diri-Nya pada dunia. Seharusnya bangsa Israel menerima status itu sebagai tanggungjawab yang harus dipikul. Sepatutnya bangsa Israel menjadi rendah hati di hadapan Tuhan, bukan malah menjadi sombong seperti itu.

Semua orang adalah orang berdosa di hadapan Tuhan

Di hadapan Tuhan, orang yang tidak diberikan Hukum Taurat, adalah orang berdosa, sebab kepada mereka telah diberikan hati nurani. Mereka bersalah karena sekalipun nurani mereka tahu apa yang benar dan apa yang salah, mereka telah memilih apa yang salah dan apa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Tetapi disisi lain, bangsa Yahudi sebagai bangsa yang punya Taurat, juga merupakan bangsa yang berdosa, sebab sekalipun mereka memiliki Taurat, mereka ternyata tidak taat pada Taurat itu. Oleh karena itu, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi semua sama-sama berdosa di hadapan Tuhan.

Inilah yang disebut sebagai universal unrighteousness atau universal sinfulness. Tidak ada seorang pun yang benar, sehingga tidak ada satu orang pun yang pantas mempertanyakan keadilan Tuhan. Sebab mempertanyakan tindakan Tuhan sama saja seperti mau menjadi hakim atas Tuhan. Sehingga seharusnya orang itu adalah sama benar atau bahkan lebih benar dari Tuhan. Faktanya, orang-orang seperti itu justru semakin berdosa di hadapan Tuhan.

Karena semua orang telah berdosa, dan sedang kehilangan kemuliaan Allah, maka semua orang pada dasarnya layak mendapat hukuman dari Tuhan. Bangsa Israel tidak patut merasa menjadi orang benar, sebab orang yang benar tidak akan mempertanyakan Tuhan, apalagi sampai menuduh Tuhan telah berlaku tidak adil. Orang yang benar seharusnya bersikap setia dan bergantung pada kesetiaan Tuhan.

Kesetiaan Tuhan dinyatakan melalui Injil-Nya.

Apa itu kesetiaan Tuhan? Kesetiaan Tuhan pada manusia yang berdosa adalah injil. Atas keberdosaan manusia, Tuhan akan memperlihatkan keadilan-Nya. Tetapi keadilan Tuhan dalam hal ini adalah Injil, dan bukan hukuman. Di dalam Injil itu nyata kebenaran Allah. Meskipun manusia tidak adil, berdosa, tetap Tuhan berkenan menyatakan kebenaran-Nya yaitu Injil baik bagi orang yang punya Taurat, maupun yang tidak punya Taurat.

Jadi Injil itu bukan hanya tentang jawaban bagi orang yang tidak yakin akan keselamatannya. Luther memang sempat bergumul di dalam keyakinan apakah Tuhan akan menyelamatkan atau tidak. Lalu kitab Roma ini membuat ia yakin. Tetapi aspek yang diliput oleh Roma ini jauh lebih luas dari sekedar menolong orang seperti Luther.

Tidak semua orang bergumul tentang hal yang sama, yaitu kekurangyakinan akan keselamatan. Orang Kristen berpikir bahwa cuma mereka yang punya keyakinan keselamatan, sedangkan orang di luar Kristen dianggap tidak ada keyakinan akan keselamatan. Tetapi Paulus sebelum menjadi pengikut Kristus, bukan orang yang tidak yakin akan keselamatan. Paulus justru sangat yakin pada kepercayaannya, makanya ia mencoba membasmi orang Kristen. Setelah berjumpa Kristus, Paulus yang yakin itu dibuat ragu-ragu lebih dahulu. Setelah itu barulah ia diberi keyakinan yang baru.

Paulus orang yang punya keyakinan yang kuat, hanya saja sebelumnya ia salah arah. Injil datang kepada Paulus untuk mengubah keyakinannya dari yang salah ke arah yang benar. Tantangan  yang dihadapi Paulus di jemaat Roma adalah jemaat yang sangat dikuasai oleh perasaan self righteousness dan self pride yang tinggi. Sikap semacam ini membuat manusia tidak akan mengerti Injil.

Kita bisa saja merasa atau mengaku diri sebagai orang Kristen, tetapi tanpa adanya pertobatan dari self pride yang seperti ini, bagaimana kita bisa mengerti Injil keselamatan Kristus yang sejati? Kita akan menjadi orang yang sulit mengampuni, sehingga tidak mungkin bagi orang seperti itu dapat menghayati pengampunan dari Allah. Bagi orang yang self righteous, justru orang lainlah yang harus bertobat karena mereka terlihat selalu salah. Dan apabila sudah seperti ini, maka akan berakibat, orang Kristen itupun pasti akan sulit untuk bertobat.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita dari jeratan self righteous seperti ini. Amin.

Sunday, August 6, 2023

Teologi Salib menurut pandangan Martin Luther

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)

Teologi Salib menurut Martin Luther

Apa itu Teologi Salib?


Di dalam ajaran Kristen, yang dimaksud dengan Teologi Salib adalah sebuah pandangan teologis yang menitikberatkan pembahasannya pada arti penting dari salib Kristus. Dan Martin Luther, sebagai tokoh Reformasi Protestan pada abad ke-16, menempatkan teologi salib sebagai salah satu elemen kunci dalam pemahaman iman Kristen dan menyatakan bahwa salib merupakan inti pesan Injil.


Rekomendasi Buku:
"Yesus - Allah yang mengenal nama Anda"
Klik disini.

 

Apa yang dikatakan oleh Martin Luther ini memiliki kesejajaran dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus. Paulus berkata: Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Kor 2:2)

Melalui ayat ini kita mendapat gambaran bahwa Rasul Paulus tidak memiliki materi pengajaran lain yang lebih penting untuk disampaikan, selain mengajarkan tentang Tuhan Yesus yang tersalib itu. Ini adalah topik yang paling penting melampaui topik pembicaraan lainnya.

Martin Luther juga melihat pemberitaan salib sebagai hal yang sangat penting untuk dibicarakan dan diajarkan kepada orang Kristen. Hal itu terjadi demikian, selain karena berita salib merupakan berita yang sentral di dalam kekristenan, disebabkan juga karena Martin Luther melihat bahwa orang Kristen masih lebih suka pada Teologi Kemuliaan ketimbang Teologi Salib.

 

Seperti apa yang bukan Teologi Salib?

 

Teologi Kemuliaan adalah suatu pandangan teologis yang mengedepankan kemuliaan-kemuliaan duniawi sebagai elemen utama yang diberitakan kepada dunia. Sebagai contoh: orang Kristen ingin memperkenalkan Kristus melalui profil gereja yang kuat secara finansial, kuat secara politik, memiliki jemaat yang terdiri dari pejabat, penguasa, ilmuwan yang highly educated, orang-orang berpengaruh, terkemuka dan disegani oleh masyarakat. Selain profil gereja yang seperti itu, orang Kristen yang menganut teologi kemuliaan juga berusaha tampil sukses secara finansial, memakai dan memiliki barang-barang bermerek, dan sangat jauh dari kesan kelemahan.

Bagi Luther model pemberitaan seperti itu, memiliki arah yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menjadikan Salib Kristus sebagai sentral pemberitaannya. Dan apabila kita perhatikan bagaimana Alkitab sendiri memberitakan tentang Kristus, maka dapat dikatakan bahwa semenjak kelahiran, hingga kematian-Nya, Tuhan Yesus senantiasa membawa kisah Salib di dalam setiap langkah kehidupan-Nya.

 

Apa saja unsur-unsur yang dibicarakan dalam Teologi Salib?

 

Secara umum, atau secara garis besar sederhana, ada beberapa poin penting dalam pandangan teologi Salib Martin Luther:

1. Keadilan Allah dan Kasih Allah:

Luther menganggap Salib sebagai demonstrasi terbesar dari keadilan dan kasih Allah. Dalam kematian Kristus di kayu Salib, keadilan Allah terpenuhi karena dosa-dosa manusia dihukum dan dibayar sepenuhnya. Sementara itu, kasih Allah yang tak terbandingkan ditunjukkan dengan pemberian-Nya, yaitu Anak-Nya yang satu-satunya, untuk menebus dosa-dosa manusia.

2. Penebusan Dosa:

Luther percaya bahwa kematian Yesus Kristus di Salib adalah pembayaran penebusan untuk dosa-dosa manusia. Manusia, karena sifat dosanya, tidak dapat membebaskan diri mereka sendiri dari konsekuensi dosa. Kristus sebagai "Korban Allah" menggantikan manusia sebagai ganti penebusan dosa dan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan Allah.

3. Sola Fide (Iman Saja):

Teologi Salib Luther berhubungan erat dengan prinsip Sola Fide atau "Iman Saja." Luther mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidak diperoleh melalui perbuatan baik atau usaha manusia, tetapi melalui iman pribadi kepada Kristus sebagai Juruselamat penebus dosa. Ketika seseorang mempercayai bahwa Kristus telah membayar dosa-dosa mereka di Salib, keselamatan dan pengampunan diberikan oleh anugerah Allah melalui iman semata.

4. Perubahan Batiniah:

Luther juga menekankan pentingnya perubahan batiniah atau perubahan hati yang dialami oleh seseorang melalui iman dalam Kristus. Kematian Kristus di Salib mempengaruhi jiwa manusia, membawa pertobatan, dan mengubah arah hidup mereka untuk hidup dalam ketaatan dan pelayanan kepada Allah.

5. Pengenalan Diri:

Luther menekankan perlunya pengenalan diri sebagai dosa, kelemahan, dan keterbatasan manusia. Hanya ketika seseorang menyadari keadaan dosanya dan kebutuhan akan penyelamatan, mereka akan mencari pertolongan dan keselamatan melalui iman kepada Kristus yang mati dan bangkit.

 

Kendala dalam menghayati Teologi Salib

 

Bagi Luther, teologi Salib adalah hal yang tak terpisahkan dari pengajaran Alkitab. Ia menekankan bahwa gereja harus kembali ke dasar iman Kristen yang sejati, yaitu Yesus Kristus dan karyanya di kayu Salib. Seluruh ajaran dan praktik gerejawi harus dilihat melalui lensa salib, karena di sana terdapat titik puncak dari kasih dan keadilan Allah untuk menyelamatkan umat manusia.

Pemberitaan seperti ini tentu saja berbeda dengan model pemberitaan yang  menjunjung tinggi kesuksesan, kekayaan, kemegahan, kepintaran dan kemuliaan gereja. Sebab semua itu justru memang dijunjung tinggi sebagai kemuliaan ala dunia, dan bukan kemuliaan melalui penderitaan salib seperti yang Tuhan Yesus perlihatkan dalam kehidupan-Nya.

Bagaimana mungkin orang dapat masuk ke dalam penghayatan tentang keadilan dan kasih Allah apabila yang dikedepankan adalah kekayaan materi, kesuksesan, kepintaran dan kekuatan sebuah gereja di dalam dunia ini? Berbicara tentang dosa manusia, adalah berbicara tentang kegagalan dan kerendahan manusia, bukan tentang betapa sukses dan terhormatnya seorang manusia atau sebuah gereja.

 

Teologi Salib di dalam kehidupan Tuhan Yesus sendiri.

 

Tuhan Yesus sendiri sejak kelahiran hingga kematian-Nya, senantiasa hidup di bawah bayang-bayang salib. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia sebagai bayi, bukan sebagai penguasa yang sangat kuat. Dan kelahiran-Nya pun terjadi di antara orang miskin dan bahkan di dalam kandang binatang. Sama sekali bukan gambaran yang high-life dan elite dari seorang penguasa.

Ketika Tuhan Yesus beranjak dewasa, Ia tidak tinggal di Yerusalem, kota yang terkenal sejak jaman Daud, sebuah kota suci dimana Bait Allah berdiri. Tuhan Yesus justru tinggal di Nazareth, sebuah kota kecil yang bahkan tidak pernah dibicarakan satu kalipun di dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus tidak memiliki kehidupan yang membuat orang berdecak kagum berdasarkan tempat tinggal-Nya atau status social-Nya, tetapi memilih hidup di dalam kerendahan dan kesederhanaan. Sangat bertolak belakang dengan orang Kristen atau gereja yang menganut Teologi Kemuliaan, yaitu orang yang ingin kelihatan hebat dan terpandang tadi.

Kehidupan keluarga Tuhan Yesus juga bukan sebuah kehidupan yang sempurna dalam ukuran dunia. Ayah-Nya yaitu Yusuf sudah meninggal semenjak Tuhan Yesus masih muda. Untuk seorang Pribadi yang memiliki kuasa melakukan mukjizat, Tuhan Yesus tidak melakukan mukjizat kesembuhan bagi ayah-Nya sendiri. Tuhan Yesus juga memiliki saudara-saudari yang tidak menerima Dia begitu saja. Alkitab mencatat bahwa saudara-saudari Tuhan Yesus sendiri menganggap Dia sebagai orang yang tidak waras. Injil Markus mencatat: Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. (Markus 3:21)

Sudah cukup berat apabila orang lain yang bukan keluarga menyalahpahami kita, Tuhan Yesus bukan saja disalahpahami oleh orang lain, tetapi bahkan keluarga-Nya sendiri pun seperti tidak berpihak kepada Dia. Inilah jalan salib yang harus ditempuh oleh Tuhan Yesus sepanjang kehidupan-Nya.

Kematian di atas kayu salib adalah puncak dari Teologi Salib itu sendiri bagi Tuhan Yesus. Dia yang tidak berdosa justru harus mati dengan cara yang sangat memalukan dan sangat menyakitkan, demi menebus dosa manusia. Sebagai suatu peringatan akan betapa rendahnya dan betapa parahnya kondisi keberdosaan manusia hingga kehidupan seseorang Pribadi yang begitu baik dan suci pun harus ikut terseret ke dalam kehancuran.

 

Kesimpulan singkat dari Teologi Salib

 

Jadi bagaimana mungkin seseorang dapat memberitakan tentang Pribadi Allah yang seperti Yesus Kristus, melalui model pemberitaan yang isinya adalah kekayaan, kesuksesan, keberhasilan, kekuatan dan tepuk tangan dunia?

Berita Salib adalah berita tentang kemiskinan, kegagalan, ketidakmampuan, kelemahan dan penghakiman Ilahi. Tidak heran apabila sebagian besar manusia di dunia ini menganggap berita salib sebagai suatu kebodohan. Hanya orang-orang yang hatinya sudah diterangi oleh Roh Kudus saja yang mampu melihat berita salib sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kiranya Tuhan memberkati kita, amin.