Showing posts with label Iman Sejati. Show all posts
Showing posts with label Iman Sejati. Show all posts

Friday, September 19, 2025

Apakah pengikut dari ajaran sesat juga akan dihukum oleh Tuhan?

Jemaat yang tertipu ajaran sesat hingga binasa

Keterangan gambar:

Orang-orang tersebut digambarkan dalam mata tertutup sebagai lambang dari orang yang mata rohaninya buta sehingga beriman secara buta pula, mengikuti saja apa yang diajarkan kepada mereka tanpa melakukan penyelidikan dan pemeriksaan sendiri apakah ajaran yang mereka terima itu sehat ataukah sesat. Tanpa mereka sadari, iblis sendiri yang menggiring jemaat tersebut ke dalam api kebinasaan.

 

Pengajar sesat serta nabi-nabi palsu adalah tema yang cukup banyak dibicarakan di dalam Alkitab. Tema seperti itu dapat di baca dalam tulisan kami tentang Eksposisi Surat 2 Petrus 2:12-22, silahkan klik disini untuk membacanya.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap para pengajar sesat serta para nabi palsu tersebut. Tuhan akan menurunkan penghakiman serta menghadirkan murka-Nya kepada mereka, sebab apa yang mereka lakukan merupakan kejahatan yang sangat serius. Konsep penghukuman terhadap para penyebar ajaran sesat seperti guru palsu dan nabi palsu, merupakan konsep yang cukup dapat diterima oleh pikiran kita, sebab sebagai pengajar mereka mempunyai kuasa atau ketrampilan untuk mempengaruhi orang lain untuk mengambil jalan yang salah. Ada kesan bahwa kejahatan mereka bersifat aktif, sehingga sangat pantas untuk dihukum. [Baca juga: Kesombongan Nabi Palsu dan Guru Palsu. Klik disini.]


Tetapi bagaimana dengan jemaat atau para pengikut ajaran sesat itu? Apakah merekapun akan kena hukuman? Ataukah Tuhan akan bisa memaklumi mereka karena bagaimanapun mereka, para pengikut itu, hanyalah korban kejahatan orang lain semata?

Secara sepintas, memang orang yang mendengarkan ajaran sesat itu seakan-akan adalah orang yang tidak bersalah, karena posisi mereka yang pasif, hanya menerima saja apa yang diberikan kepada mereka. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa orang yang tidak menyukai ajaran kebenaran, dan lebih memilih ajaran yang tidak benar dari si iblis, maka orang itupun akan menerima penghukuman dari Tuhan. Berikut ini, saya akan menyajikan beberapa contoh dan prinsip yang digali dari Alkitab, mengenai penghukuman terhadap jemaat atau pengikut ajaran sesat.

 

Pengikut ajaran sesat pun akan dihakimi oleh Tuhan

Sebelum memulai pembahasan, saya ingin menjelaskan lebih dulu apa yang dimaksud sebagai ajaran sesat dalam konteks yang kita bicarakan ini. Ajaran sesat yang dimasksud disini adalah ajaran yang berbeda dengan apa yang menjadi inti ajaran (core teaching) dari Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab memang kita tidak mungkin dapat menghindar dari apa yang disebut sebagai penafsiran, dan penafsiran ini dapat bersifat subejktif. Satu ayat yang sama, jika dikhotbahkan oleh beberapa orang, dapat menghasilkan beberapa khotbah yang berbeda pula. Akan tetapi meski khotbah-khotbah tersebut berbeda, tetap harus ada suatu kesamaan inti pengajaran yang harus disampaikan oleh para pengkhotbah tersebut.

Untuk mencapai hal itu, maka para pengkhotbah atau pengajar, harus sungguh-sungguh belajar Kitab Suci dengan memakai metode penafsiran yang telah teruji baik lewat sejarah, maupun lewat prinsip berpikir yang sehat, sambil diawasi pula oleh pengajar-pengajar lain yang mampu menilai apakah ajaran yang kita sampaikan itu sesuai koridor Alkitab atau tidak (ada prinsip pengujian atau evaluasi dari orang lain pula). Di bagian akhir tulisan ini, saya memaparkan beberapa contoh pengajaran yang tidak sesuai dengan prinsip berpikir yang sehat tersebut.

Perbedaan antara “mendengar” dan “mendengarkan.”

Mendengar adalah hal yang berbeda dengan mendengarkan. Mendengar bisa terjadi secara pasif, tanpa sengaja atau tanpa rencana, tetapi mendengarkan adalah suatu aktifitas mendengar yang bersifat aktif, ada keinginan, ada perhatian terhadap apa yang didengar tersebut.

Mendengar ajaran sesat, memang sesuatu yang ada kalanya tidak bisa dihindarkan, karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan dikatakan seseorang sebelum hal itu dikatakannya. Akan tetapi mendengarkan ajaran sesat, apalagi sampai menyukai, menyetujui dan bahkan terbiasa dengan ajaran sesat sampai tidak tahu lagi bahwa itu adalah ajaran sesat, maka hal tersebut dipandang sebagai tindakan yang akan menuai hukuman pula dari Tuhan.

 

Dari sudut pandang Pe-mazmur

Mazmur 1:1 mengatakan: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Perhatikan bahwa Mazmur memberi peringatan kepada orang-orang yang berjalan menurut nasihat orang fasik. Pemazmur tidak menganggap sepi, atau memandang enteng kesalahan orang yang mengikuti begitu saja nasihat dari orang fasik. Mengapa demikian?

Pertama, karena menuruti nasihat orang fasik akan membawa orang itu semakin menjauh dari Tuhan. Hal itu dapat dilihat dari perkataan selanjutnya, yaitu berdiri di jalan orang berdosa dan pada akhirnya duduk di dalam kumpulan pencemooh. Menuruti nasihat orang fasik itu berarti ada upaya aktif untuk mendengarkan nasihat tersebut, ada keinginan untuk mendengar lebih banyak, ada perhatian dan bahkan kemudian ada persetujuan dengan nasihat tersebut. Padahal nasihat tersebut adalah nasihat yang disampaikan oleh orang fasik, yaitu golongan orang yang bukan sajat tidak percaya, tetapi bahkan menentang Allah. Bagaimana mungkin orang Kristen sejati bisa sampai kepada titik seperti ini? Fakta bahwa seseorang Kristen bisa sampai ke titik ini, menunjukkan bahwa dari awal pun tidak memang ada ketidaksukaan, ketidakpercayaan pada Pribadi Allah berserta hukum-hukum-Nya.

Berdiri di jalan orang berdosa adalah tindakan yang lebih jauh daripada berjalan menurut nasihat orang fasik. Orang yang berdiri di jalan orang berdosa artinya telah menyetujui dengan segenap hati bahwa jalan orang berdosa itulah yang benar, padahal jalan orang berdosa adalah jalan yang menentang Tuhan. Oleh karena itu, orang yang berjalan di jalan orang berdosa adalah orang yang setuju untuk hidup menentang Tuhan. Ia tidak lagi merasa bersalah dengan hidup yang menentang Tuhan, bahkan ia berpendapat bahwa jalan hidupnya yang menentang inilah yang benar.

Duduk di dalam kumpulan pencemooh adalah tindakan yang bahkan lebih jahat dari berdiri di jalan orang berdosa, sebab pada saat itu, orang tersebut sudah berani secara aktif untuk mencemooh Allah. Ia bukan saja tidak mendengarkan suara Tuhan, ia bukan saja setuju dengan gaya hidup yang menentang Tuhan, tetapi kini ia bahkan dengan berani ikut-ikutan menghina, mencemooh dan mengolok-olok kebenaran Firman Tuhan.

Kedua, karena jika seseorang mau menuruti nasihat orang fasik, maka hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut memang tidak memiliki ketertarikan kepada Tuhan. Ketika masalah timbul, ketika penderitaan datang ke dalam kehidupan seseorang, adalah wajar apabila seseorang mencoba mencari nasihat atau mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Tetapi pertanyaannya adalah, mengapa orang tersebut harus menjadi nasihat dari orang yang tidak mengenal Tuhan? Mengapa orang tersebut tidak pertama-tama mencari nasihat dari Firman Tuhan, atau dari orang-orang yang memiliki kerohanian yang baik dan yang mengenal Tuhan?

Fakta bahwa orang itu mencari nasihat kepada orang fasik, menunjukkan bahwa ia memandang sepi ajaran Tuhan, memandang sepi komunitas Tuhan dan tentu saja memandang sepi kehadiran Tuhan. Bagi orang itu, Tuhan hanyalah sebuah konsep, atau bayang-bayang, yang tidak bisa diandalkan atau tidak bisa dimintai tolong ketika penderitaan datang ke dalam kehidupannya.

Jadi sudah cukup jelas bahwa menurut Mazmur yang bersalah bukan saja si orang fasik atau si orang berdosa atau para pencemooh itu, melain orang yang mengikuti orang fasik, orang berdosa dan mengikuti para pencemooh itupun sama berdosanya dan sama-sama akan menanggung penghakiman dari Tuhan. Hal itu dapat kita baca pula dalam kelanjutan dari Mazmur 1 tadi, yaitu demikian: sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1:6). Dengan kata lain, Tuhan akan turut membinasakan baik orang yang menyesatkan, maupun orang yang bersedia ikut disesatkan tersebut.

 

Dari sudut pandang Rasul Paulus

Bukan cuma penulis Mazmur yang mengajarkan tentang penghakiman bagi para pengikut ajaran sesat. Tetapi Paulus pun mengajarkan hal yang sama. Hal itu dapat kita lihat dari Surat Tesalonika, sebagai berikut: 9Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, 10dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. 11Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, 12supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (2 Tesalonika 2:9-12)

Dari tulisan Rasul Paulus para pengajar sesat itu disebut sebagai pendurhaka, dengan ciri dari pelayanannya adalah tampilnya rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat palsu. Cara mereka menarik perhatian jemaat adalah melalui kejadian-kejadian spektakuler yang ajaib. Tetapi ketika bicara tentang pengajaran, maka yang mereka sampaikan adalah ajaran palsu, yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Tuhan.

Tetapi yang mau disoroti oleh Paulus dalam tulisan tersebut justru adalah para penganut dari ajaran sesat tersebut, yaitu orang-orang yang menyukai para pengajar sesat ini. Para jemaat tersebut dikatakan lebih suka dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, tetapi mereka tidak mau menerima dan tidak mau mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Mereka tidak percaya akan kebenaran, tetapi lebih suka pada kejahatan.

Bari para jemaat yang demikian, Tuhan akan mendatangkan kesesatan, sehingga mereka semakin tersesat, sehingga pada akhinya mereka akan menerima hukuman atau penghakiman dari Tuhan.

 

DARI SUDUT PANDANG INJIL MATIUS

Dalam Injil Matius, Tuhan Yesus pernah berkata: Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." (Matius 15:14)

Melalui perkataan tersebut, kita memahami bahwa bukan hanya orang yang menuntun, yaitu orang yang sesat dan buta itu yang akan jatuh ke dalam lubang, tetapi orang yang dituntunpun, yang seolah-olah pasif saja itupun, akan turut jatuh ke dalam lubang yang sama. Dengan kata lain, baik yang mengajarkan, maupun yang diajarkan, keduanya sama-sama akan jatuh ke dalam kebinasaan.

Yang cukup menakutkan adalah perkataan Tuhan Yesus di awal kalimat, “biarkanlah mereka itu.” Ini berarti Tuhan pun sudah tidak ingin melakukan apa-apa terhadap mereka, baik kepada para penyesat itu, maupun kepada orang yang disesatkan tersebut.

 

DARI SUDUT PANDANG KITAB WAHYU

Kitab Wahyu yang secara tradisi dipercaya merupakan wahyu Ilahi kepada rasul Yohanes, juga mencatat sebuah prinsip tentang kebinasaan dari jemaat yang mengikuti ajaran sesat.

9 Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,  10 maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. (Wahyu 14:9-10)

Berdasarkan kitab Wahyu di atas, murka Ilahi disediakan bagi orang yang menerima tanda dari binatang dan patung tersebut. Jadi bukan hanya pihak yang memberi, yaitu dalam hal ini iblis beserta para nabi palsunya, melainkan juga pihak yang menerima, yaitu jemaat atau para pengikut kelompok tersebut pun, akan sama-sama dihadapkan pada penghakiman dan hukuman Ilahi.

 

KESIMPULAN

Dari berbagai contoh yang kita temukan di dalam Alkitab, kita dapat menarik kesimpulan bahwa para pengikut ajaran sesat pun akan di hukum oleh Tuhan, bukan hanya para pengajarnya.

Itu sebabnya di dalam Alkitab Tuhan Yesus memberi peringatan: Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (Luke 8:18)

Tuhan sudah pasti akan menjatuhkan penghukuman kepada para pengajar sesat atau nabi palsu, tetapi kepada para pendengar yang setuju, yang menerima, yang mengikuti ajaran nabi palsu tersebut, Tuhan juga tidak akan meluputkan mereka dari hukuman. Itu sebabnya, sebagai jemaat kita pun punya tanggungjawab untuk membaca dan mempelajari Firman Tuhan sehingga kita tidak menelan begitu saja segala sesuatu yang diajarkan kepada kita.

Tuhan senang apabila jemaat memiliki keinginan untuk belajar, menyelidiki dan mencermati sebuah pengajaran untuk memastikan apakah ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab atau tidak. Hal itu tercermin dalam Kisah Rasul demikian: Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kisah Rasul 17:11)


Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk menjadi pendengar yang baik, sehingga kita boleh menerima ajaran yang benar, sehat dan sesuai dengan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan pada gilirannya kita boleh bertumbuh di dalam kerohanian kita. Amin.

Baca juga: 7 Hal yang mampu mengalahkan keganasan Iblis. Klik disini.

Saturday, November 16, 2024

Tidak makan tidak minum 40 hari 40 malam, tetapi masih hidup, kok bisa? (Matius 4:2)

Serie Pencobaan di Padang Gurun

Tuhan Yesus berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (Matius 4:2)

 

Berpuasa 40 hari 40 malam

Ketika berada di padang gurun, Tuhan Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam. Sebagai pembaca modern, kita bertanya: Selama berpuasa itu, apakah Tuhan Yesus tidak makan dan tidak minum sama sekali? Ataukah Tuhan Yesus tidak makan, namun tetap minum?

Mengapa pertanyaan sepeti ini muncul? Karena kita mencoba mencocokkan kisah di Alkitab tersebut dengan realita yang kita hadapi sehari-hari. Berdasarkan konsensus yang kita terima hingga saat ini, ada hukum 333 yang berlaku. Manusia akan kesulitan untuk hidup jika: 3 menit tanpa oksigen, 3 hari tanpa air dan 3 minggu tanpa makanan. Tidak harus salah sebetulnya, ketika kita mencocokkan kisah Alkitab dengan kenyataan sehari-hari. Tetapi kita perlu hati-hati, karena Alkitab adalah perkataan Tuhan, yang isinya bisa saja melampaui segala sesuatu yang pada umumnya terjadi, misalnya:

Lautan terbelah,
Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. (Keluaran 14:21)

Matahari berhenti.
13Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. 14Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN. (Yosua 10:13-14)

Dan masih banyak lagi…

Sehingga ketika kita membaca peristiwa yang terjadi pada Tuhan Yesus di padang gurun itu, maka kita merasa seolah-olah ada sesuatu yang tidak bisa dipercaya terjadi di sana. Kisah puasa selama 40 hari 40 malam tersebut, jadi terdengar seperti dongeng (fairy tale) saja layaknya. Dan karena di dalam hati kita mulai timbul perasaan atau dugaan bahwa kisah tersebut hanyalah dongeng, maka kita tidak terlalu menanggapinya dengan serius, lalu kita tidak berniat belajar apa-apa dari peristiwa tersebut.

Dan celakanya lagi, semakin banyak kita dilatih untuk berpikir bahwa ini seperti dongeng, ini hanya sebuah mukjizat, ini supranatural dan seterusnya, maka lambat laun keyakinan kita terhadap Alkitab akan semakin luntur. Kita mulai tidak melihat Alkitab sebagai sebuah kitab Kebenaran, melainkan sebagai semacam kitab magis yang penuh dengan cerita dongeng, mitos dan takhayul. Sehingga pada akhirnya, bukan saja kita tidak mau belajar lebih dalam tentang isi dari Alkitab, tetapi bahkan kita sudah segan untuk membacanya sama sekali.

Tetapi disinilah justru iman kita diuji. Apakah dalam keadaan seperti ini kita masih mau percaya kepada Tuhan? Ataukah kita hanya mau percaya kepada-Nya ketika segala sesuatu sesuai dengan kriteria kita? Sesuai dengan logika kita? Sesuai dengan pengalaman kita?

Apabila seseorang telah mendapat anugerah iman, maka orang itu bisa percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab, sekalipun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Alkitab sendiri mencatat bahwa kasih Allah itu melampaui segala akal (Efesus 3:18) sehingga tidak seharusnya akal budi kita dijadikan sebagai pedoman satu-satunya dalam mengukur kebenaran Ilahi.

Ketika Alkitab mengatakan sesuatu, maka hal itu dikatakan dari dalam diri Allah yang kasih-Nya melampaui segala akal itu. Ketika Alkitab bicara sesuatu, maka yang dibicarakan itu pasti adalah suatu kebenaran, sebab Allah yang berbicara adalah Sang Kebenaran itu sendiri. Seringkali ketika Alkitab bercerita sesuatu di dalam Perjanjian Baru, maka hal itu dapat kita temukan pula jejak-jejak keterkaitannya dengan kisah di Perjanjian Lama.

Kisah Tuhan Yesus yang berpuasa di padang gurun, ternyata memiliki keserupaan pula dengan kisah lain di dalam Perjanjian Lama, yaitu kisah Musa yang tercatat dalam kitab Keluaran, sebagai berikut: 27Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel." 28Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman. (Keluaran 34:27-28)

Jadi, Tuhan Yesus bukanlah satu-satunya Pribadi yang pernah berpuasa selama 40 hari, tanpa makan dan minum, sebab Musapun ternyata pernah melakukan hal tersebut, yaitu ketika Musa harus bersusah payah naik ke gunung Sinai untuk mendapatkan 10 perintah Allah. [Baca juga: Mengapa Tuhan Yesus dibawa ke padang gurun oleh Roh? Klik disini.]

Dan apabila kita menggali lebih dalam lagi kisah-kisah dalam Perjanjian Lama, ternyata bukan hanya Musa pula yang pernah berpuasa selama 40 hari 40 malam seperti itu, melainkan Elia pun demikian, sebagaimana yang dicatat oleh Kitab Suci: Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. (1 Raja-raja 19:8)

Pada waktu Elia bergumul dengan puasa, Elia sedang ada di dalam konteks peperangan rohani melawan nabi-nabi Baal dan orang-orang yang tidak percaya. Hal itu mirip dengan yang terjadi pada Tuhan Yesus yang pada saat itu juga sedang berperang melawan iblis.

Pengalaman Tuhan Yesus bukanlah pengalaman unik yang sama sekali belum ada cerita lain yang serupa dengan itu. Tuhan Yesus adalah penerus dari nabi-nabi yang sebelumnya. Sedangkan nabi-nabi yang sebelumnya adalah bayang-bayang dari Kristus yang akan datang.

Setelah membandingkan antara kisah satu dengan kisah yang lain, maka kita dapati bahwa puasa Musa adalah doa syafaat bagi Israel yang sedang dimurkai Tuhan, sedangkan puasa Elia adalah sebuah peperangan rohani (melawan nabi Baal dan pengaruhnya).

Oleh karena itu, puasa yang Tuhan Yesus lakukan tersebut:

  • Pertama, tidak melibatkan unsur makanan dan minuman, seperti Musa dan Elia.
  • Kedua, berhubungan dengan mencari kehendak Allah
  • Ketiga, berhubungan dengan peperangan rohani melawan kekuatan setan.

Akhirnya laparlah Yesus...

Kita mungkin heran mengapa Tuhan Yesus, Musa dan Elia, dapat bertahan hidup tanpa makanan dan minuman di tengah-tengah situasi padang gurun yang dahsyat seperti itu? Tetapi barangkali inilah kesempatan bagi kita untuk melihat seperti apakah kemampuan Tuhan dalam memelihara manusia, sedemikian rupa sehingga seorang manusia dapat ditopang kehidupannya walaupun tidak diberi makan dan minum.

Benarlah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa manusia bukan hidup dari roti (makanan fisikal) saja, tetapi hidup dari setiap Firman yang diucapkan oleh Allah (makanan spiritual). Jika Allah ber-Firman: hidup !, maka meski orang tidak makan/minum, ia tetap hidup. Tetapi jika Tuhan berkata: mati !, maka orang itu pasti akan mati sekalipun dalam keadaan sehat, cukup makan, cukup minum dan cukup istirahat.

Kita manusia jangan sombong mengira hidup ini ada di tangan kita sendiri? Kita diberi demonstrasi tentang kuasa dan kedaulatan Allah melalui para hamba-Nya dan secara khusus melalui Anak-Nya ini. Biarlah kita tidak menjadi tinggi hati karena segala apa yang kita miliki. Biarlah kita sadar bahwa hidup kita sepenuhnya ada di tangan Tuhan.

Janganlah kita tidak percaya pada mukjizat, sebab Allah itu mahakuasa, tetapi di sisi lain, janganlah kita juga bergantung pada mukjizat semata, sebab Tuhan pun tidak selalu memakai cara-cara yang supranatural dalam bekerja. Hanya dalam konteks tertentu saja Allah memberi hak istimewa kepada seseorang untuk mengalami pemeliharaan yang dahsyat seperti Musa dan Elia.

Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi." (Zakaria 4:10)

Ayat ini mengajarkan prinsip penting dan berlaku selamanya yaitu tentang: pentingnya memperhatikan atau tidak meremehkan hal-hal yang kecil di dalam hari-hari yang biasa saja. Sebab hal-hal kecil dari hari yang biasa pun akan membawa pada sukacita dan tergenapinya pekerjaan Tuhan.

Dalam keseharian, Allah bahkan jauh lebih banyak berkarya melalui kejadian-kejadian yang biasa dan natural, ketimbang melalui hal-hal yang spektakuler atau supranatural. Dan hal seperti itu berlaku pula bagi Tuhan Yesus. Setelah kurun waktu penetapan Allah bagi Tuhan Yesus untuk berpuasa selesai, maka Tuhan Yesus pun kembali merasa lapar, sama seperti manusia lainnya.

Tuhan Yesus dalam keadaan fisik yang sangat lemah, lapar, haus, tersendiri di padang gurun (bukit) nan gersang. Siapa pun yang ada di dalam situasi itu pasti maklum, jika Ia lapar. Tapi justru dalam kondisi inilah, serangan roh jahat menjadi semakin intens. Ada kalanya kita pikir, semakin setia kepada Tuhan, maka iblis makin takut, menjauh. Ternyata, makin setia pada Tuhan, semakin kita diincar untuk dijatuhkan oleh iblis. [Baca juga: 7 hal yang dapat mengalahkan keganasan si iblis. Klik disini.]

Apa yang dialami oleh Tuhan Yesus di padang gurun bukan dimaksudkan untuk kita menjadi orang yang ketakutan, cemas berlebihan seolah-olah kita tidak memiliki harapan dalam menghadapi iblis. Pengalaman Tuhan Yesus di padang gurun yang dicobai oleh iblis justru menjadi pengingat bagi kita akan potensi bahaya dari si iblis, agar kita menjadi waspada. Dan sekaligus pengingat bagi kita untuk setia bergantung pada Kristus, sebab hanya Dia satu-satunya yang mampu menghadapi dan mengalahkan si iblis.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati dan menolong kita. Amin.

Baca artikel lain:
Apakah Tuhan merestui hubungan cinta kaum LGBTQ? Klik disini.