Showing posts with label Panggilan Hidup Kristen. Show all posts
Showing posts with label Panggilan Hidup Kristen. Show all posts

Friday, September 19, 2025

Apakah pengikut dari ajaran sesat juga akan dihukum oleh Tuhan?

Jemaat yang tertipu ajaran sesat hingga binasa

Keterangan gambar:

Orang-orang tersebut digambarkan dalam mata tertutup sebagai lambang dari orang yang mata rohaninya buta sehingga beriman secara buta pula, mengikuti saja apa yang diajarkan kepada mereka tanpa melakukan penyelidikan dan pemeriksaan sendiri apakah ajaran yang mereka terima itu sehat ataukah sesat. Tanpa mereka sadari, iblis sendiri yang menggiring jemaat tersebut ke dalam api kebinasaan.

 

Pengajar sesat serta nabi-nabi palsu adalah tema yang cukup banyak dibicarakan di dalam Alkitab. Tema seperti itu dapat di baca dalam tulisan kami tentang Eksposisi Surat 2 Petrus 2:12-22, silahkan klik disini untuk membacanya.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap para pengajar sesat serta para nabi palsu tersebut. Tuhan akan menurunkan penghakiman serta menghadirkan murka-Nya kepada mereka, sebab apa yang mereka lakukan merupakan kejahatan yang sangat serius. Konsep penghukuman terhadap para penyebar ajaran sesat seperti guru palsu dan nabi palsu, merupakan konsep yang cukup dapat diterima oleh pikiran kita, sebab sebagai pengajar mereka mempunyai kuasa atau ketrampilan untuk mempengaruhi orang lain untuk mengambil jalan yang salah. Ada kesan bahwa kejahatan mereka bersifat aktif, sehingga sangat pantas untuk dihukum. [Baca juga: Kesombongan Nabi Palsu dan Guru Palsu. Klik disini.]


Tetapi bagaimana dengan jemaat atau para pengikut ajaran sesat itu? Apakah merekapun akan kena hukuman? Ataukah Tuhan akan bisa memaklumi mereka karena bagaimanapun mereka, para pengikut itu, hanyalah korban kejahatan orang lain semata?

Secara sepintas, memang orang yang mendengarkan ajaran sesat itu seakan-akan adalah orang yang tidak bersalah, karena posisi mereka yang pasif, hanya menerima saja apa yang diberikan kepada mereka. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa orang yang tidak menyukai ajaran kebenaran, dan lebih memilih ajaran yang tidak benar dari si iblis, maka orang itupun akan menerima penghukuman dari Tuhan. Berikut ini, saya akan menyajikan beberapa contoh dan prinsip yang digali dari Alkitab, mengenai penghukuman terhadap jemaat atau pengikut ajaran sesat.

 

Pengikut ajaran sesat pun akan dihakimi oleh Tuhan

Sebelum memulai pembahasan, saya ingin menjelaskan lebih dulu apa yang dimaksud sebagai ajaran sesat dalam konteks yang kita bicarakan ini. Ajaran sesat yang dimasksud disini adalah ajaran yang berbeda dengan apa yang menjadi inti ajaran (core teaching) dari Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab memang kita tidak mungkin dapat menghindar dari apa yang disebut sebagai penafsiran, dan penafsiran ini dapat bersifat subejktif. Satu ayat yang sama, jika dikhotbahkan oleh beberapa orang, dapat menghasilkan beberapa khotbah yang berbeda pula. Akan tetapi meski khotbah-khotbah tersebut berbeda, tetap harus ada suatu kesamaan inti pengajaran yang harus disampaikan oleh para pengkhotbah tersebut.

Untuk mencapai hal itu, maka para pengkhotbah atau pengajar, harus sungguh-sungguh belajar Kitab Suci dengan memakai metode penafsiran yang telah teruji baik lewat sejarah, maupun lewat prinsip berpikir yang sehat, sambil diawasi pula oleh pengajar-pengajar lain yang mampu menilai apakah ajaran yang kita sampaikan itu sesuai koridor Alkitab atau tidak (ada prinsip pengujian atau evaluasi dari orang lain pula). Di bagian akhir tulisan ini, saya memaparkan beberapa contoh pengajaran yang tidak sesuai dengan prinsip berpikir yang sehat tersebut.

Perbedaan antara “mendengar” dan “mendengarkan.”

Mendengar adalah hal yang berbeda dengan mendengarkan. Mendengar bisa terjadi secara pasif, tanpa sengaja atau tanpa rencana, tetapi mendengarkan adalah suatu aktifitas mendengar yang bersifat aktif, ada keinginan, ada perhatian terhadap apa yang didengar tersebut.

Mendengar ajaran sesat, memang sesuatu yang ada kalanya tidak bisa dihindarkan, karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan dikatakan seseorang sebelum hal itu dikatakannya. Akan tetapi mendengarkan ajaran sesat, apalagi sampai menyukai, menyetujui dan bahkan terbiasa dengan ajaran sesat sampai tidak tahu lagi bahwa itu adalah ajaran sesat, maka hal tersebut dipandang sebagai tindakan yang akan menuai hukuman pula dari Tuhan.

 

Dari sudut pandang Pe-mazmur

Mazmur 1:1 mengatakan: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Perhatikan bahwa Mazmur memberi peringatan kepada orang-orang yang berjalan menurut nasihat orang fasik. Pemazmur tidak menganggap sepi, atau memandang enteng kesalahan orang yang mengikuti begitu saja nasihat dari orang fasik. Mengapa demikian?

Pertama, karena menuruti nasihat orang fasik akan membawa orang itu semakin menjauh dari Tuhan. Hal itu dapat dilihat dari perkataan selanjutnya, yaitu berdiri di jalan orang berdosa dan pada akhirnya duduk di dalam kumpulan pencemooh. Menuruti nasihat orang fasik itu berarti ada upaya aktif untuk mendengarkan nasihat tersebut, ada keinginan untuk mendengar lebih banyak, ada perhatian dan bahkan kemudian ada persetujuan dengan nasihat tersebut. Padahal nasihat tersebut adalah nasihat yang disampaikan oleh orang fasik, yaitu golongan orang yang bukan sajat tidak percaya, tetapi bahkan menentang Allah. Bagaimana mungkin orang Kristen sejati bisa sampai kepada titik seperti ini? Fakta bahwa seseorang Kristen bisa sampai ke titik ini, menunjukkan bahwa dari awal pun tidak memang ada ketidaksukaan, ketidakpercayaan pada Pribadi Allah berserta hukum-hukum-Nya.

Berdiri di jalan orang berdosa adalah tindakan yang lebih jauh daripada berjalan menurut nasihat orang fasik. Orang yang berdiri di jalan orang berdosa artinya telah menyetujui dengan segenap hati bahwa jalan orang berdosa itulah yang benar, padahal jalan orang berdosa adalah jalan yang menentang Tuhan. Oleh karena itu, orang yang berjalan di jalan orang berdosa adalah orang yang setuju untuk hidup menentang Tuhan. Ia tidak lagi merasa bersalah dengan hidup yang menentang Tuhan, bahkan ia berpendapat bahwa jalan hidupnya yang menentang inilah yang benar.

Duduk di dalam kumpulan pencemooh adalah tindakan yang bahkan lebih jahat dari berdiri di jalan orang berdosa, sebab pada saat itu, orang tersebut sudah berani secara aktif untuk mencemooh Allah. Ia bukan saja tidak mendengarkan suara Tuhan, ia bukan saja setuju dengan gaya hidup yang menentang Tuhan, tetapi kini ia bahkan dengan berani ikut-ikutan menghina, mencemooh dan mengolok-olok kebenaran Firman Tuhan.

Kedua, karena jika seseorang mau menuruti nasihat orang fasik, maka hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut memang tidak memiliki ketertarikan kepada Tuhan. Ketika masalah timbul, ketika penderitaan datang ke dalam kehidupan seseorang, adalah wajar apabila seseorang mencoba mencari nasihat atau mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Tetapi pertanyaannya adalah, mengapa orang tersebut harus menjadi nasihat dari orang yang tidak mengenal Tuhan? Mengapa orang tersebut tidak pertama-tama mencari nasihat dari Firman Tuhan, atau dari orang-orang yang memiliki kerohanian yang baik dan yang mengenal Tuhan?

Fakta bahwa orang itu mencari nasihat kepada orang fasik, menunjukkan bahwa ia memandang sepi ajaran Tuhan, memandang sepi komunitas Tuhan dan tentu saja memandang sepi kehadiran Tuhan. Bagi orang itu, Tuhan hanyalah sebuah konsep, atau bayang-bayang, yang tidak bisa diandalkan atau tidak bisa dimintai tolong ketika penderitaan datang ke dalam kehidupannya.

Jadi sudah cukup jelas bahwa menurut Mazmur yang bersalah bukan saja si orang fasik atau si orang berdosa atau para pencemooh itu, melain orang yang mengikuti orang fasik, orang berdosa dan mengikuti para pencemooh itupun sama berdosanya dan sama-sama akan menanggung penghakiman dari Tuhan. Hal itu dapat kita baca pula dalam kelanjutan dari Mazmur 1 tadi, yaitu demikian: sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1:6). Dengan kata lain, Tuhan akan turut membinasakan baik orang yang menyesatkan, maupun orang yang bersedia ikut disesatkan tersebut.

 

Dari sudut pandang Rasul Paulus

Bukan cuma penulis Mazmur yang mengajarkan tentang penghakiman bagi para pengikut ajaran sesat. Tetapi Paulus pun mengajarkan hal yang sama. Hal itu dapat kita lihat dari Surat Tesalonika, sebagai berikut: 9Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, 10dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. 11Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, 12supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (2 Tesalonika 2:9-12)

Dari tulisan Rasul Paulus para pengajar sesat itu disebut sebagai pendurhaka, dengan ciri dari pelayanannya adalah tampilnya rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat palsu. Cara mereka menarik perhatian jemaat adalah melalui kejadian-kejadian spektakuler yang ajaib. Tetapi ketika bicara tentang pengajaran, maka yang mereka sampaikan adalah ajaran palsu, yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Tuhan.

Tetapi yang mau disoroti oleh Paulus dalam tulisan tersebut justru adalah para penganut dari ajaran sesat tersebut, yaitu orang-orang yang menyukai para pengajar sesat ini. Para jemaat tersebut dikatakan lebih suka dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, tetapi mereka tidak mau menerima dan tidak mau mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Mereka tidak percaya akan kebenaran, tetapi lebih suka pada kejahatan.

Bari para jemaat yang demikian, Tuhan akan mendatangkan kesesatan, sehingga mereka semakin tersesat, sehingga pada akhinya mereka akan menerima hukuman atau penghakiman dari Tuhan.

 

DARI SUDUT PANDANG INJIL MATIUS

Dalam Injil Matius, Tuhan Yesus pernah berkata: Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." (Matius 15:14)

Melalui perkataan tersebut, kita memahami bahwa bukan hanya orang yang menuntun, yaitu orang yang sesat dan buta itu yang akan jatuh ke dalam lubang, tetapi orang yang dituntunpun, yang seolah-olah pasif saja itupun, akan turut jatuh ke dalam lubang yang sama. Dengan kata lain, baik yang mengajarkan, maupun yang diajarkan, keduanya sama-sama akan jatuh ke dalam kebinasaan.

Yang cukup menakutkan adalah perkataan Tuhan Yesus di awal kalimat, “biarkanlah mereka itu.” Ini berarti Tuhan pun sudah tidak ingin melakukan apa-apa terhadap mereka, baik kepada para penyesat itu, maupun kepada orang yang disesatkan tersebut.

 

DARI SUDUT PANDANG KITAB WAHYU

Kitab Wahyu yang secara tradisi dipercaya merupakan wahyu Ilahi kepada rasul Yohanes, juga mencatat sebuah prinsip tentang kebinasaan dari jemaat yang mengikuti ajaran sesat.

9 Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,  10 maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. (Wahyu 14:9-10)

Berdasarkan kitab Wahyu di atas, murka Ilahi disediakan bagi orang yang menerima tanda dari binatang dan patung tersebut. Jadi bukan hanya pihak yang memberi, yaitu dalam hal ini iblis beserta para nabi palsunya, melainkan juga pihak yang menerima, yaitu jemaat atau para pengikut kelompok tersebut pun, akan sama-sama dihadapkan pada penghakiman dan hukuman Ilahi.

 

KESIMPULAN

Dari berbagai contoh yang kita temukan di dalam Alkitab, kita dapat menarik kesimpulan bahwa para pengikut ajaran sesat pun akan di hukum oleh Tuhan, bukan hanya para pengajarnya.

Itu sebabnya di dalam Alkitab Tuhan Yesus memberi peringatan: Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (Luke 8:18)

Tuhan sudah pasti akan menjatuhkan penghukuman kepada para pengajar sesat atau nabi palsu, tetapi kepada para pendengar yang setuju, yang menerima, yang mengikuti ajaran nabi palsu tersebut, Tuhan juga tidak akan meluputkan mereka dari hukuman. Itu sebabnya, sebagai jemaat kita pun punya tanggungjawab untuk membaca dan mempelajari Firman Tuhan sehingga kita tidak menelan begitu saja segala sesuatu yang diajarkan kepada kita.

Tuhan senang apabila jemaat memiliki keinginan untuk belajar, menyelidiki dan mencermati sebuah pengajaran untuk memastikan apakah ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab atau tidak. Hal itu tercermin dalam Kisah Rasul demikian: Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kisah Rasul 17:11)


Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk menjadi pendengar yang baik, sehingga kita boleh menerima ajaran yang benar, sehat dan sesuai dengan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan pada gilirannya kita boleh bertumbuh di dalam kerohanian kita. Amin.

Baca juga: 7 Hal yang mampu mengalahkan keganasan Iblis. Klik disini.

Monday, November 11, 2024

Mengapa Tuhan Yesus dibawa ke padang gurun? (Matius 4:1)

Serie Pencobaan di padang gurun.

Mengapa Tuhan Yesus dibawa ke padang gurun?

Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (Matius 4:1)
 
Padang gurun tempat Tuhan Yesus dicobai adalah sebuah gunung atau bukit gersang yang bertumpu di atas lempengan wilayah Yeriko, dengan ketinggian bukit sekitar 396 m. Lokasi wilayah Yeriko sendiri berada pada titik yang rendah yaitu -276 m di bawah permukaan laut, sehingga menyisakan gunung tersebut berada pada ketinggian 120 m di atas permukaan laut.

Kepergian Tuhan Yesus ke padang gurun bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau random, melainkan ada banyak pesan yang ingin disampaikan kepada umat Tuhan. Dan kita bisa melihat peristiwa itu, baik dari sudut pandang paralel maupun sudut pandang kontras.

Sudut pandang paralel maksudnya adalah kisah-kisah lain di dalam Alkitab yang sejajar atau punya persamaan dengan kisah pencobaan Tuhan Yesus tersebut. Sedangkan kontras maksudnya adalah kisah-kisah di dalam Alkitab yang isinya bertolak belakang atau berkebalikan dengan kisah pencobaan Tuhan Yesus tersebut.

Paralel kisah pencobaan Kristus dengan kisah Adam Hawa di taman Eden

Persamaan antara kisah pencobaan Kristus dengan kisah Adam dan Hawa di Taman Eden adalah bahwa baik Kristus maupun Adam Hawa, semua sama-sama diuji, sama-sama dicobai oleh iblis.

Hal ini merupakan sebuah pesan kepada kita semua, bahwa sebagai manusia tidak mungkin kita luput dari pencobaan yang dilancarkan oleh si iblis. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini, entah dia percaya akan keberadaan iblis ataupun tidak percaya, yang dapat luput dari bidikan maut si iblis.

Rasul Petrus sendiri pernah berkata: Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Petrus 5:8)

Menurut rasul Petrus, iblis itu ada, sangat ganas, dan sangat aktif. Iblis tidak pernah berhenti mencari manusia untuk dapat ditelannya. Sungguh amat disayangkan bahwa manusia tidak menyadari hal ini. Sungguh amat tragis jika manusia malah menganggap bahwa iblis itu tidak ada. Hal tersebut justru akan membuat sepak terjang si iblis menjadi semakin bebas, sehingga semakin mudahlah baginya untuk menangkap jiwa-jiwa manusia dan semakin ganaslah ia menelan jiwa-jiwa tersebut.

Fakta bahwa di dunia ini, jauh lebih banyak orang yang tidak mau mengikuti Yesus Kristus. Fakta bahwa banyak orang di dunia ini yang meremehkan keberadaan si iblis. Fakta bahwa banyak orang yang tertarik kepadanya dan bahkan mendirikan tempat-tempat pemujaan baginya, adalah suatu bukti bahwa pekerjaan iblis di dunia ini terbilang cukup berhasil.

Jika iblis sedemikian kuat dan pekerjaannya di dunia sedemikian berhasil, lalu bagaimana kita sebagai orang percaya dapat mengalahkan si iblis? Mengenai hal itu, silahkan Baca tulisan yang saya berjudul : 7 hal yang mampu mengalahkan keganasan si iblis. Klik disini.

Kontras dengan Adam Hawa

Selain melihat dari sudut pandang persamaan atau paralel, kita akan melihat peristiwa pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun dengan pencobaan Adam Hawa di Taman Eden.

Satu hal yang pertama-tama terlihat adalah bahwa Tuhan Yesus beada di padang gurun yang gersang, sedangkan Adam dan Hawa beada di taman Eden. Tempat Tuhan Yesus dicobai sangatlah tidak nyaman, jika dibandingkan dengan tempat dimana Adam Hawa berada.

Di Taman Eden Adam Hawa memiliki serba kecukupan, buah manapun yang mereka inginkan untuk dimakan dari Taman tersbut, telah diperbolehkan oleh Tuhan, kecuali 1 buah saja yang dilarang. Sedangkan di padang gurun, Tuhan Yesus dalam keadaan tidak ada makanan sama sekali.

TETAPI, dalam kondisi serba kecukupan itu, Adam Hawa justru tidak taat terhadap perintah dan larangan Tuhan, sedangkan Tuhan Yesus, sekalipun sedang di dalam kondisi padang gurun yang serba kekurangan, dapat tetap taat kepada perintah Bapa-Nya.

Kita bersyukur atas kehadiran Tuhan Yesus Manusia yang sempurna, yang layak untuk menjadi tebusan bagi hutang dosa kita kepada Allah dan pantas untuk menjadi teladan di dalam kehidupan kita.

Paralel dengan Israel

Kisah perjalanan ke padang gurun, bukanlah kisah yang sangat asing di dalam sejarah Alkitab. Bukan Cuma Tuhan Yesus yang pernah dipimpin ke padang gurun, melainkan Israel sebagai bangsa juga pernah dipimpin keluar dari Mesir oleh Tuhan, untuk beribadah di padang gurun (Keluaran 7:16)

Sebagaimana bangsa Israel dibawa ke padang gurun selama 40 tahun, demikian pula Tuhan Yesus dibawa ke padang gurun selama 40 hari. Tentang perjalanan bangsa Israel di padang gurun, Alkitab mencatat demikian: Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: (Bilangan 14:34)

Kontras dengan Israel.

Meskipun Israel berada di padang gurun, tetapi bangsa Israel tidak sedang berpuasa dan dalam kondisi kelaparan seperti Tuhan Yesus. Bangsa Israel diberi makan setiap hari dengan manna yang dikirimkan oleh Tuhan agar hidup mereka terpelihara dari hari ke sehari, tetapi meski demikian, bangsa Israel tidak taat pada perintah Tuhan. Tuhan Yesus berada di padang gurun, berpuasa, merasakan kelaparan, namun Tuhan Yesus tetap taat dan tidak tunduk kepada pencobaan yang dilancarkan oleh si iblis.

Bangsa Israel dibawa ke padang gurun selama 40 tahun oleh Tuhan karena bangsa itu harus menanggung penderitaan akibat kesalahan mereka terhadap Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun selama 40 hari, bukan untuk menanggung kesalahan diri-Nya sendiri, melainkan untuk menanggung kesalahan manusia di hadapan Allah.

Keutamaan Kristus Yesus

Tuhan Yesus adalah sosok yang sangat istimewa. Tidak seperti Adam Hawa yang gagal di dalam pencobaan, Tuhan Yesus tetap bertahan meskipun kondisi-Nya sangat sulit. Dan tidak seperti Israel yang tidak taat, meski telah diberi kecukupan, Tuhan Yesus tetap bertahan meski dalam keadaan serba kekurangan. Oleh karena itu janganlah seorangpun yang pernah dan boleh meremehkan Tuhan Yesus. Ia adalah sosok yang sangat Agung, sangat Suci, sangat Taat, sangat Cinta Bapa, dan sekaligus juga sangat mencintai kita. Siapakah manusia yang boleh meremehkan, merendahkan, apalagi menghina Tuhan Yesus? Tidak wajarkah apabila manusia dilempar ke Neraka, karena telah menghina Pribadi yang sedemikian baik dan sedemikian suci seperti Tuhan Yesus?

Anugerah Tuhan bagi manusia sudah sedemikian hebat, sedemikian besar, apabila manusia tidak menghargai perbuatan Kristus, apabila manusia tidak memperdulikan kehadiran Tuhan Yesus, apabila manusia menjual Tuhan Yesus, demi mendapatkan kekayaan, demi memperoleh penerimaan dari manusia, maka sangatlah wajar dan sangatlah pantas apabila manusia seperti itu di buang ke Neraka.

Padang gurun adalah tempat yang berkali-kali muncul di dalam Alkitab.

Padang gurun bukan tempat yang tidak memiliki makna apa-apa. Sekalipun tempat itu gersang, tidak banyak hal menyenangkan yang dapat ditemui disana, tetapi padang gurun adalah tempat yang sering dipakai oleh Allah untuk menguji manusia.

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. (Ulangan 8:2)

Melalui padang gurun, karakter manusia dibentuk oleh Tuhan. Manusia diajar untuk merendahkan hati. Manusia diuji keinginannya untuk berpegang pada perintah Tuhan, sekalipun situasi sedang tidak enak dan tidak nyaman.

Kalau semua kondisi disekitar kita baik-baik saja, maka karakter manusia belum teruji. Tetapi melalui penderitaan, ujian, dan kesukaran, maka barulah karakter manusia itu bisa teruji. Ayub, adalah orang yang saleh, tetapi Tuhan mengizinkan Ayub mengalami penderitaan, dengan tujuan untuk menguji dia. Alkitab menampilkan banyak tokoh-tokoh yang dibentuk karakternya melalui berbagai kesulitan. Abraham diuji melalui perjalanan ke Mesir. Yusuf, Musa, Daud, Daniel, Petrus, Paulus, Yohanes Pembaptis dan masih banyak lagi, semua mengalami ujian melalui kesulitannya masing-masing.

Karakter adalah sesuatu yang baru muncul, setelah ada ujian, setelah ada kesukaran. Ambil satu contoh saja, berkenaan dengan kesetiaan. Bagaimana kita bisa mengetahui seseorang itu setia atau tidak? Kita tidak akan pernah tahu apakah seseorang itu setia atau tidak, kecuali jika kita menguji kesetiaannya di dalam kurun waktu yang panjang dan melalui berbagai kesukaran. Jika seseorang tetap setia, meski ada kesukaran dan meski harus menjalani proses yang panjang, maka sangat mungkin orang itu memang memiliki karakter kesetiaan di dalam dirinya.

Kekristenan tidak mempermuliakan penderitaan.

Meskipun Tuhan sering memakai situasi padang gurun, kesukaran dan penderitaan tetapi kekristenan bukanlah suatu kepercayaan yang suka mempermuliakan penderitaan. Mengapa? Sebab jika kekristenan mempermuliakan penderitaan, maka Tuhan pasti tidak mencipta sorga. Jika kekristenan mempermuliakan penderitaan, maka tidak ada RS Kristen, sekolah. Tetapi, semenjak manusia jatuh ke dalam dosa, penderitaan, kesulitan, kesengsaraan adalah kondisi yang tidak terhindarkan.

Bagi orang berdosa, penderitaan di dunia adalah bayang-bayang dari kematian kekal. Semua orang tidak terkecuali apakah ia orang kaya, orang terkenal, orang berpengaruh, semua mereka tidak ada yang luput dari kesukaran. Bagi orang percaya, Tuhan juga tidak meluputkan kita dari penderitaan, kesukaran, Tetapi itu bukan sebagai bayang-bayang kematian, melainkan sebagai alat yang berguna di tangan Tuhan, untuk menguji iman, untuk mempertumbuhkan iman orang-orang Kristen.

Anugerah dan tanggung jawab

Orang Kristen suka mendengar berita anugerah, tetapi orang Kristen agak jarang merenungkan bahwa dibalik setiap anugerah, Tuhan senantiasa memberikan pula tanggungjawab untuk dipikul.

Anugerah yang Tuhan berikan, bukan sama dengan hidup santai, pasif, enak-enakan, tidak mengerjakan apa-apa, tidak ada tanggungjawab apa-apa. Sebaliknya, anugerah Tuhan selalu diiringi dengan tugas, tanggungjawab, kesukaran, buktinya:

1. Manusia diberi Eden, tapi diberi tugas mengelola (Kej 2:15)
2. Bangsa Israel diberi tanah Kanaan, tetapi harus lebih dulu memerangi bangsa yang ada disana.
3. Seorang lumpuh diberi kesembuhan, tetapi ia harus bangun, angkat tilam dan berjalan (Yoh 5:8)

Ada begitu banyak tokoh Alkitab yang bersinggungan dengan kondisi padang gurun kehiduapn: bangsa Israel, Yusuf, Daud, Daniel, Sadrakh, Ayub dan Yunus adalah beberapa contoh dari orang-orang yang mengalami ujian dari Tuhan. Peristiwa padang gurun kehidupan sangat berguna bagi pengujian iman dan pertumbuhan iman manusia.

Tuhan menerima kita apa adanya, tetapi Tuhan tidak akan membiarkan kita apa adanya. Dia ingin menjadikan kita seperti Kristus. Dan Tuhan memakai padang gurun sebagai sarana untuk membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Yesus Kristus.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita. Amin.

Baca artikel lain:
Apakah Tuhan merestui hubungan cinta kaum LGBTQ?
Klik disini.