Showing posts with label Panggilan Hidup Kristen. Show all posts
Showing posts with label Panggilan Hidup Kristen. Show all posts

Monday, June 1, 2026

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1)

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1)
 

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

 

I. Kemerdekaan Indonesia: Anugerah ataukah murni hasil sebuah perjuangan?

Jika kita merenungkan kemerdekaan Indonesia, sebuah pertanyaan mendasar patut kita ajukan: apakah kemerdekaan bangsa kita itu merupakan hasil perjuangan sendiri, ataukah karena anugerah yang diberikan oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan kita?

Untuk memahami hal tersebut, kita perlu melihat pada kerangka sejarah dunia. Perang Dunia II dimulai pada 1 September 1939, yaitu ketika Jerman menyerang Polandia. Serangan ini didahului oleh sebuah operasi militer palsu, di mana tentara Jerman menyamar sebagai orang Polandia lalu menyerang sebuah stasiun radio Jerman di daerah perbatasan Gleiwitz. Serangan ini memberi Hitler suatu alasan wajar untuk menginvasi Polandia. Akibat serangan tersebut, Inggris dan Prancis pun tidak bisa tinggal diam. Jika Hitler tidak dihentikan, maka Jerman akan menjadi kekuatan berbahaya bagi Eropa. Oleh karena itu, Inggris dan Prancis pun menyatakan perang terhadap Jerman dan dimulailah sebuah perang besar di Eropa.

Amerika Serikat pada awalnya memilih untuk tidak ikut campur dalam peperangan Eropa antara Inggris, Prancis, dan Jerman ini, namun semuanya berubah ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 — sebagai upaya untuk melumpuhkan armada Pasifik Amerika dan mengamankan ambisi ekspansinya di Asia Tenggara. Serangan yang cukup dahsyat itu pun membuat Amerika akhirnya terjun ke dalam peperangan, berhadapan dengan Jepang, sekaligus melawan Jerman, dan Italia.

Pada tahun 1942, Amerika meluncurkan Proyek Manhattan, proyek rahasia pengembangan bom atom yang dimaksudkan untuk menandingi kekuatan teknologi militer Jerman. Kisah ini terabadikan dalam film “Oppenheimer”, yang menggambarkan bagaimana para ilmuwan Yahudi yang diusir dari Jerman bahu-membahu mengembangkan sebuah teori fisika menjadi sebuah senjata dahsyat yang diharapkan dapat menghentikan perang dunia yang sudah terlanjur pecah.

Namun, sejarah berjalan dengan caranya sendiri. Sementara Proyek Manhattan sedang berjalan, Jerman juga sedang dihantam dari dua arah sekaligus. Dari sisi Barat, Sekutu menyerang melalui Operasi Overlord di Normandia (6 Juni 1944), sementara Uni Soviet mengepung dari arah timur, setelah serangan Jerman ke Stalingrad sebelumnya mengalami kegagalan. Dijepit dari dua sisi seperti itu, Jerman pun akhirnya menyerah pada sekitar bulan Mei 1945, bahkan sebelum bom atom yang disiapkan melalui proyek Manhattan tersebut sempat digunakan.

Karena Jerman sudah kalah, bom atom yang diberi nama “Little Boy” itu akhirnya dijatuhkan di Hiroshima (pusat militer dan pelabuhan penting Jepang). Dan pada 6 Agustus 1945, disusul bom atom bernama “Fat Man” yang dijatuhkan di kota Nagasaki (sebuah pangkalan angkatan laut dan pusat industri Jepang). Akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1945, Jepang pun menyerah kepada Sekutu. Kekuatan militer Jepang di seluruh wilayah pendudukan, termasuk Indonesia, melemah hingga nyaris kosong. Momentum kelemahan Jepang inilah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Jadi sekarang, apakah kemerdekaan Indonesia itu dapat dikatakan sebagai hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri? Bisa dikatakan iya, sebab ada semangat untuk merdeka dari bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia tidak pasif saja ketika Jepang menjajah negeri. Lalu ada pula pengorbanan dari tentara-tentara Indonesia melawan tentara Jepang yang tersisa. Sekalipun secara negara Jepang sudah menyerah, tetapi sebagai tentara belum tentu semua orang mau menyerah begitu saja ketika diserang. Tentara Jepang pun melakukan perlawanan terhadap tentara Indonesia sehingga ada korban pula yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Singkatnya, ada perjuangan dari bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Tetapi apakah kita dapat merdeka semata-mata karena kepandaian kita dalam strategi perang untuk mengalahkan Jepang dalam suatu peperangan frontal? Jelas bukan. Indonesia merdeka dan berhasil melepaskan diri dari Jepang, dikarenakan Jepang sendiri sedang limbung dan mengalami kelemahan mental sebagai akibat dari kekalahannya terhadap Sekutu. Tentara Jepang sudah tidak kuat lagi secara psikologis dan mental untuk berperang karena merasa ngeri membayangkan apa yang terjadi di negara mereka, di tengah-tengah keluarga mereka. Serangan Sekutu begitu dahsyat, hingga pemerintah Jepang menyerah dan menarik pasukannya dari medan peperangan.

Oleh karena itu, kemerdekaan Indonesia tidak bisa tidak, harus dilihat pula sebagai sebuah hadiah. Yaitu hadiah dari Tuhan yang memegang dan mengatur sejarah. Sering kali kita tergoda berpikir bahwa kesuksesan kita semata-mata karena kepintaran, kejelian, atau kerja keras kita sendiri. Namun, kita sering lupa bahwa ada campur tangan Ilahi yang jauh lebih besar dari semua rencana dan usaha kita itu.

Baca juga: Ada 8 alasan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia. Klik disini.

 

II. Kristus Telah Memerdekakan Kita

Jika kemerdekaan bangsa kita sebagai sebuah negara saja tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Ilahi, betapa lebih lagi kemerdekaan kita dari kuk perhambaan dosa, bukan? Tidak ada satu pun manusia yang mampu, dengan kekuatannya sendiri, keluar dari perhambaan dan mengalahkan kuasa dosa itu.

Rasul Paulus menegaskan dalam Galatia 5:1 bahwa “Kristus telah memerdekakan kita.” Kemerdekaan dari dosa bukanlah sesuatu yang kita raih, melainkan sesuatu yang diberikan oleh Kristus. Orang Kristen yang sejati sadar bahwa hidupnya adalah anugerah dari Tuhan Yesus.  Sebagaimana bangsa Israel dikeluarkan dari perbudakan Mesir dan diberi anugerah tanah Kanaan — bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah — demikian pula kita dibebaskan dari perbudakan dosa oleh Kristus atas dasar kasih karunia tersebut.

Karena itu, sebagai orang Kristen, kita tidak boleh sombong, merasa paling benar, atau merasa tidak ada dosa dalam hidup kita. Semua orang telah jatuh dalam kuk perhambaan dosa. Tuhan datang bukan untuk memerdekakan demi kemerdekaan itu sendiri, melainkan agar melalui kemerdekaan tersebut, kita bebas mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi — serta mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

 

III. Merdeka untuk Apa?

Pertanyaan yang harus kita renungkan sebagai orang Kristen bukanlah sekadar apakah kita sudah merdeka atau belum merdeka. Pertanyaan yang harus direnungkan adalah, untuk apa Tuhan memerdekakan kita dari dosa? Kita tidak dimerdekakan oleh Kristus demi kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus bukanlah kebebasan tanpa arah. Ada tujuan mulia di balik kemerdekaan tersebut, di bawah ini adalah beberapa tujuan dari kemerdekaan kita dari dosa, yaitu:

1. Merdeka untuk Beribadah kepada Allah

Sejak awal, kemerdekaan selalu berkaitan dengan penyembahan. Dalam Keluaran 7:16, Allah berkata kepada Musa: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun.” Tuhan membebaskan bangsa Israel bukan semata-mata agar mereka dapat menikmati kebebasan dari perbudakan Mesir saja. Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, agar mereka dapat dengan bebas beribadah kepada-Nya.

2. Merdeka untuk Menyembah Dia

Lukas 17:15-16 15Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Kemerdekaan yang Tuhan berikan, seharusnya membawa seseorang untuk bersyukur dan memuliakan Dia. Kita bukan disembuhkan semata-mata agar memiliki hidup yang berkualitas. Sakit penyakit dan dosa adalah penghambat kita untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Tuhan datang membawa kesembuhan kepada manusia, bukan supaya manusia bisa memakai kesembuhan itu untuk bebas melakukan apapun yang ia suka. Kesembuhan yang Tuhan berikan adalah untuk membawa jiwa manusia kepada  keadaan yang penuh ucapan syukur dan hidup mempermuliakan Tuhan.

3. Merdeka untuk Melakukan Pekerjaan Baik

Efesus 2:8-10 8Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Efesus 2:8-10 tersebut dengan jelas mengajarkan bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia Allah melalui iman. Namun keselamatan itu bukan akhir perjalanan — melainkan awal dari sebuah misi. Kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, agar kita hidup di dalamnya.

 

IV. Menghayati Kemerdekaan Sejati

Kemerdekaan Kristen hanya bisa dihayati dengan sungguh-sungguh oleh mereka yang benar-benar menyadari bahwa dirinya pernah — dan tanpa Kristus masih akan — berada dalam kuk perhambaan dosa. Hanya orang yang rendah hati, yang mengakui kelemahan dan dosa-dosanya, yang dapat sungguh-sungguh menghargai anugerah pembebasan dari Kristus.

Yohanes 8:31-32 berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Kemerdekaan Kristen tidak terpisah dari Firman Tuhan. Kemerdekaan kita bukan kemerdekaan tanpa komitmen sebagai murid yang sungguh-sungguh.

Sebagai contoh, ada beberapa gambaran nyata dari orang yang mengalami kemerdekaan sejati:

  • Dalam Kejadian 2:15, Allah menempatkan manusia di Taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Orang yang sadar bahwa hidupnya diambil dan ditempatkan oleh Tuhan akan merdeka dari kesombongan saat karier berjaya dan merdeka dari keputusasaan saat keadaan biasa-biasa saja. Berapa banyak orang Kristen yang menganggap bahwa kariernya, jabatannya, titelnya adalah suatu milik yang mendefinisikan jati dirinya. Padahal kalau orang mengerti kebenaran bahwa hidup ini adalah panggilan Tuhan, maka orang itu akan merdeka dari keinginan hati membangga-banggakan dirinya dari orang lain.

 Baca juga: Apakah resep hidup berkelimpahan dan berhasil? Klik disini.

  • Dalam Lukas 23:42, penjahat di kayu salib berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Orang yang sadar bahwa yang terpenting adalah diingat oleh Tuhan, akan merdeka dari kejar-kejaran pengakuan manusia. Berapa banyak orang yang terus mengejar pengakuan dari orang lain? Mereka ingin terus dikenang, diingat, diakui eksistensinya, jasanya, pencapaiannya. Tapi penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus mengingatkan pada kita bahwa satu-satunya hal yana paling penting adalah ketika Tuhan mengingat kita. Manusia boleh lupa pada kita, manusia boleh salah paham pada kita, manusia boleh saja tidak menganggap kita sebagai orang yang berharga, tetapi ketika kita menghayati akan Tuhan yang mengingat kita, maka kita akan merdeka dari upaya untuk terus menerus ingin dikenang oleh dunia ini.

Baca juga: Manusia lebih suka pada kesementaraan daripada kekekalan. Klik disini.

  • Kemerdekaan Kristen juga membebaskan kita dari tuntutan bahwa hidup ini harus selalu hebat dan tanpa kepedihan. Pemahaman bahwa duka dan sakit penyakit bukan tanda penolakan Tuhan adalah bagian dari kemerdekaan itu. Kita tidak perlu menyembunyikan air mata atau berpura-pura kuat. Dengan merdeka, kita dapat membawa seluruh kepedihan kita ke hadirat Tuhan.

 

Penutup

Kemerdekaan Indonesia mengajarkan kita bahwa tidak ada pencapaian besar yang murni hasil tangan manusia semata. Di balik setiap momentum bersejarah, ada tangan Tuhan yang mengatur. Terlebih lagi, kemerdekaan kita dari perhambaan dosa — itu sepenuhnya adalah karya Kristus, bukan hasil usaha kita.

Baca juga: Apakah tujuan hidup kita di dunia? Klik disini.

Maka, berdirilah teguh dalam kemerdekaan yang telah dianugerahkan itu. Jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan — baik perhambaan dosa, perhambaan akan pengakuan manusia, maupun perhambaan akan rasa takut dan keputusasaan. Kita telah dimerdekakan — bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap keberadaan kita.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Friday, September 19, 2025

Apakah pengikut dari ajaran sesat juga akan dihukum oleh Tuhan?

Jemaat yang tertipu ajaran sesat hingga binasa

Keterangan gambar:

Orang-orang tersebut digambarkan dalam mata tertutup sebagai lambang dari orang yang mata rohaninya buta sehingga beriman secara buta pula, mengikuti saja apa yang diajarkan kepada mereka tanpa melakukan penyelidikan dan pemeriksaan sendiri apakah ajaran yang mereka terima itu sehat ataukah sesat. Tanpa mereka sadari, iblis sendiri yang menggiring jemaat tersebut ke dalam api kebinasaan.

 

Pengajar sesat serta nabi-nabi palsu adalah tema yang cukup banyak dibicarakan di dalam Alkitab. Tema seperti itu dapat di baca dalam tulisan kami tentang Eksposisi Surat 2 Petrus 2:12-22, silahkan klik disini untuk membacanya.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap para pengajar sesat serta para nabi palsu tersebut. Tuhan akan menurunkan penghakiman serta menghadirkan murka-Nya kepada mereka, sebab apa yang mereka lakukan merupakan kejahatan yang sangat serius. Konsep penghukuman terhadap para penyebar ajaran sesat seperti guru palsu dan nabi palsu, merupakan konsep yang cukup dapat diterima oleh pikiran kita, sebab sebagai pengajar mereka mempunyai kuasa atau ketrampilan untuk mempengaruhi orang lain untuk mengambil jalan yang salah. Ada kesan bahwa kejahatan mereka bersifat aktif, sehingga sangat pantas untuk dihukum. [Baca juga: Kesombongan Nabi Palsu dan Guru Palsu. Klik disini.]


Tetapi bagaimana dengan jemaat atau para pengikut ajaran sesat itu? Apakah merekapun akan kena hukuman? Ataukah Tuhan akan bisa memaklumi mereka karena bagaimanapun mereka, para pengikut itu, hanyalah korban kejahatan orang lain semata?

Secara sepintas, memang orang yang mendengarkan ajaran sesat itu seakan-akan adalah orang yang tidak bersalah, karena posisi mereka yang pasif, hanya menerima saja apa yang diberikan kepada mereka. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa orang yang tidak menyukai ajaran kebenaran, dan lebih memilih ajaran yang tidak benar dari si iblis, maka orang itupun akan menerima penghukuman dari Tuhan. Berikut ini, saya akan menyajikan beberapa contoh dan prinsip yang digali dari Alkitab, mengenai penghukuman terhadap jemaat atau pengikut ajaran sesat.

 

Pengikut ajaran sesat pun akan dihakimi oleh Tuhan

Sebelum memulai pembahasan, saya ingin menjelaskan lebih dulu apa yang dimaksud sebagai ajaran sesat dalam konteks yang kita bicarakan ini. Ajaran sesat yang dimasksud disini adalah ajaran yang berbeda dengan apa yang menjadi inti ajaran (core teaching) dari Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab memang kita tidak mungkin dapat menghindar dari apa yang disebut sebagai penafsiran, dan penafsiran ini dapat bersifat subejktif. Satu ayat yang sama, jika dikhotbahkan oleh beberapa orang, dapat menghasilkan beberapa khotbah yang berbeda pula. Akan tetapi meski khotbah-khotbah tersebut berbeda, tetap harus ada suatu kesamaan inti pengajaran yang harus disampaikan oleh para pengkhotbah tersebut.

Untuk mencapai hal itu, maka para pengkhotbah atau pengajar, harus sungguh-sungguh belajar Kitab Suci dengan memakai metode penafsiran yang telah teruji baik lewat sejarah, maupun lewat prinsip berpikir yang sehat, sambil diawasi pula oleh pengajar-pengajar lain yang mampu menilai apakah ajaran yang kita sampaikan itu sesuai koridor Alkitab atau tidak (ada prinsip pengujian atau evaluasi dari orang lain pula). Di bagian akhir tulisan ini, saya memaparkan beberapa contoh pengajaran yang tidak sesuai dengan prinsip berpikir yang sehat tersebut.

Perbedaan antara “mendengar” dan “mendengarkan.”

Mendengar adalah hal yang berbeda dengan mendengarkan. Mendengar bisa terjadi secara pasif, tanpa sengaja atau tanpa rencana, tetapi mendengarkan adalah suatu aktifitas mendengar yang bersifat aktif, ada keinginan, ada perhatian terhadap apa yang didengar tersebut.

Mendengar ajaran sesat, memang sesuatu yang ada kalanya tidak bisa dihindarkan, karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan dikatakan seseorang sebelum hal itu dikatakannya. Akan tetapi mendengarkan ajaran sesat, apalagi sampai menyukai, menyetujui dan bahkan terbiasa dengan ajaran sesat sampai tidak tahu lagi bahwa itu adalah ajaran sesat, maka hal tersebut dipandang sebagai tindakan yang akan menuai hukuman pula dari Tuhan.

 

Dari sudut pandang Pe-mazmur

Mazmur 1:1 mengatakan: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Perhatikan bahwa Mazmur memberi peringatan kepada orang-orang yang berjalan menurut nasihat orang fasik. Pemazmur tidak menganggap sepi, atau memandang enteng kesalahan orang yang mengikuti begitu saja nasihat dari orang fasik. Mengapa demikian?

Pertama, karena menuruti nasihat orang fasik akan membawa orang itu semakin menjauh dari Tuhan. Hal itu dapat dilihat dari perkataan selanjutnya, yaitu berdiri di jalan orang berdosa dan pada akhirnya duduk di dalam kumpulan pencemooh. Menuruti nasihat orang fasik itu berarti ada upaya aktif untuk mendengarkan nasihat tersebut, ada keinginan untuk mendengar lebih banyak, ada perhatian dan bahkan kemudian ada persetujuan dengan nasihat tersebut. Padahal nasihat tersebut adalah nasihat yang disampaikan oleh orang fasik, yaitu golongan orang yang bukan sajat tidak percaya, tetapi bahkan menentang Allah. Bagaimana mungkin orang Kristen sejati bisa sampai kepada titik seperti ini? Fakta bahwa seseorang Kristen bisa sampai ke titik ini, menunjukkan bahwa dari awal pun tidak memang ada ketidaksukaan, ketidakpercayaan pada Pribadi Allah berserta hukum-hukum-Nya.

Berdiri di jalan orang berdosa adalah tindakan yang lebih jauh daripada berjalan menurut nasihat orang fasik. Orang yang berdiri di jalan orang berdosa artinya telah menyetujui dengan segenap hati bahwa jalan orang berdosa itulah yang benar, padahal jalan orang berdosa adalah jalan yang menentang Tuhan. Oleh karena itu, orang yang berjalan di jalan orang berdosa adalah orang yang setuju untuk hidup menentang Tuhan. Ia tidak lagi merasa bersalah dengan hidup yang menentang Tuhan, bahkan ia berpendapat bahwa jalan hidupnya yang menentang inilah yang benar.

Duduk di dalam kumpulan pencemooh adalah tindakan yang bahkan lebih jahat dari berdiri di jalan orang berdosa, sebab pada saat itu, orang tersebut sudah berani secara aktif untuk mencemooh Allah. Ia bukan saja tidak mendengarkan suara Tuhan, ia bukan saja setuju dengan gaya hidup yang menentang Tuhan, tetapi kini ia bahkan dengan berani ikut-ikutan menghina, mencemooh dan mengolok-olok kebenaran Firman Tuhan.

Kedua, karena jika seseorang mau menuruti nasihat orang fasik, maka hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut memang tidak memiliki ketertarikan kepada Tuhan. Ketika masalah timbul, ketika penderitaan datang ke dalam kehidupan seseorang, adalah wajar apabila seseorang mencoba mencari nasihat atau mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Tetapi pertanyaannya adalah, mengapa orang tersebut harus menjadi nasihat dari orang yang tidak mengenal Tuhan? Mengapa orang tersebut tidak pertama-tama mencari nasihat dari Firman Tuhan, atau dari orang-orang yang memiliki kerohanian yang baik dan yang mengenal Tuhan?

Fakta bahwa orang itu mencari nasihat kepada orang fasik, menunjukkan bahwa ia memandang sepi ajaran Tuhan, memandang sepi komunitas Tuhan dan tentu saja memandang sepi kehadiran Tuhan. Bagi orang itu, Tuhan hanyalah sebuah konsep, atau bayang-bayang, yang tidak bisa diandalkan atau tidak bisa dimintai tolong ketika penderitaan datang ke dalam kehidupannya.

Jadi sudah cukup jelas bahwa menurut Mazmur yang bersalah bukan saja si orang fasik atau si orang berdosa atau para pencemooh itu, melain orang yang mengikuti orang fasik, orang berdosa dan mengikuti para pencemooh itupun sama berdosanya dan sama-sama akan menanggung penghakiman dari Tuhan. Hal itu dapat kita baca pula dalam kelanjutan dari Mazmur 1 tadi, yaitu demikian: sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1:6). Dengan kata lain, Tuhan akan turut membinasakan baik orang yang menyesatkan, maupun orang yang bersedia ikut disesatkan tersebut.

 

Dari sudut pandang Rasul Paulus

Bukan cuma penulis Mazmur yang mengajarkan tentang penghakiman bagi para pengikut ajaran sesat. Tetapi Paulus pun mengajarkan hal yang sama. Hal itu dapat kita lihat dari Surat Tesalonika, sebagai berikut: 9Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, 10dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. 11Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, 12supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (2 Tesalonika 2:9-12)

Dari tulisan Rasul Paulus para pengajar sesat itu disebut sebagai pendurhaka, dengan ciri dari pelayanannya adalah tampilnya rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat palsu. Cara mereka menarik perhatian jemaat adalah melalui kejadian-kejadian spektakuler yang ajaib. Tetapi ketika bicara tentang pengajaran, maka yang mereka sampaikan adalah ajaran palsu, yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Tuhan.

Tetapi yang mau disoroti oleh Paulus dalam tulisan tersebut justru adalah para penganut dari ajaran sesat tersebut, yaitu orang-orang yang menyukai para pengajar sesat ini. Para jemaat tersebut dikatakan lebih suka dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, tetapi mereka tidak mau menerima dan tidak mau mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Mereka tidak percaya akan kebenaran, tetapi lebih suka pada kejahatan.

Bari para jemaat yang demikian, Tuhan akan mendatangkan kesesatan, sehingga mereka semakin tersesat, sehingga pada akhinya mereka akan menerima hukuman atau penghakiman dari Tuhan.

 

DARI SUDUT PANDANG INJIL MATIUS

Dalam Injil Matius, Tuhan Yesus pernah berkata: Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." (Matius 15:14)

Melalui perkataan tersebut, kita memahami bahwa bukan hanya orang yang menuntun, yaitu orang yang sesat dan buta itu yang akan jatuh ke dalam lubang, tetapi orang yang dituntunpun, yang seolah-olah pasif saja itupun, akan turut jatuh ke dalam lubang yang sama. Dengan kata lain, baik yang mengajarkan, maupun yang diajarkan, keduanya sama-sama akan jatuh ke dalam kebinasaan.

Yang cukup menakutkan adalah perkataan Tuhan Yesus di awal kalimat, “biarkanlah mereka itu.” Ini berarti Tuhan pun sudah tidak ingin melakukan apa-apa terhadap mereka, baik kepada para penyesat itu, maupun kepada orang yang disesatkan tersebut.

 

DARI SUDUT PANDANG KITAB WAHYU

Kitab Wahyu yang secara tradisi dipercaya merupakan wahyu Ilahi kepada rasul Yohanes, juga mencatat sebuah prinsip tentang kebinasaan dari jemaat yang mengikuti ajaran sesat.

9 Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,  10 maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. (Wahyu 14:9-10)

Berdasarkan kitab Wahyu di atas, murka Ilahi disediakan bagi orang yang menerima tanda dari binatang dan patung tersebut. Jadi bukan hanya pihak yang memberi, yaitu dalam hal ini iblis beserta para nabi palsunya, melainkan juga pihak yang menerima, yaitu jemaat atau para pengikut kelompok tersebut pun, akan sama-sama dihadapkan pada penghakiman dan hukuman Ilahi.

 

KESIMPULAN

Dari berbagai contoh yang kita temukan di dalam Alkitab, kita dapat menarik kesimpulan bahwa para pengikut ajaran sesat pun akan di hukum oleh Tuhan, bukan hanya para pengajarnya.

Itu sebabnya di dalam Alkitab Tuhan Yesus memberi peringatan: Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (Luke 8:18)

Tuhan sudah pasti akan menjatuhkan penghukuman kepada para pengajar sesat atau nabi palsu, tetapi kepada para pendengar yang setuju, yang menerima, yang mengikuti ajaran nabi palsu tersebut, Tuhan juga tidak akan meluputkan mereka dari hukuman. Itu sebabnya, sebagai jemaat kita pun punya tanggungjawab untuk membaca dan mempelajari Firman Tuhan sehingga kita tidak menelan begitu saja segala sesuatu yang diajarkan kepada kita.

Tuhan senang apabila jemaat memiliki keinginan untuk belajar, menyelidiki dan mencermati sebuah pengajaran untuk memastikan apakah ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab atau tidak. Hal itu tercermin dalam Kisah Rasul demikian: Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kisah Rasul 17:11)


Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk menjadi pendengar yang baik, sehingga kita boleh menerima ajaran yang benar, sehat dan sesuai dengan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan pada gilirannya kita boleh bertumbuh di dalam kerohanian kita. Amin.

Baca juga: 7 Hal yang mampu mengalahkan keganasan Iblis. Klik disini.