Showing posts with label Kejadian. Show all posts
Showing posts with label Kejadian. Show all posts

Monday, October 7, 2024

Siapakah para Nephilim itu?

Sebuah kebenaran tentang Nephilim yang jarang dibicarakan oleh gereja.


Kejadian 6:1-4 1Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, 2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. 3Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." 4Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.


Kejadian Pasal 6 ini merupakan salah satu topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, karena di dalamnya terdapat suatu gambaran yang tidak biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari orang modern, yaitu gambaran tentang orang-orang raksasa yang ada di bumi atau yang biasa disebut juga sebagai Nephilim.

Tetapi sebelum tiba pada pembahasan tentang orang-orang raksasa itupun, kisah ini sudah cukup banyak menimbulkan pertanyaan seperti: siapakah anak-anak Allah yang dimaksud dalam ayat 1? Dan siapa pula anak perempuan manusia yang dimaksudkan di sana? Mengapa tindakan mengawini anak-anak perempuan itu merupakan sebuah kejahatan yang layak diganjar oleh air bah? Apakah orang-orang raksasa itu sudah ada sebelum anak-anak Allah menghampiri anak perempuan manusia? Ataukah mereka itu merupakan hasil perkawinan itu sendiri?

Tidak terlalu mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, oleh karena itu kita perlu untuk masuk sedikit lebih dalam dan melihat secara lebih teliti apa saja yang diajarkan melalui Kejadian 6:1-4 ini.

 

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,

Sesuai dengan rencana Allah, agar manusia menjadi semakin bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, sebagaimana ada tertulis demikian: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Maka Kejadian 6 ini memberikan informasi bahwa kejatuhan manusia pun ternyata tidak dapat menghalangi rencana Allah yang semula tersebut.

Namun sungguh sangat disayangkan bahwa manusia telah membuat kehidupan yang indah ini menjadi tercemar oleh dosa, sehingga dengan semakin bertambah banyaknya jumlah manusia di bumi, maka penyebaran dosa pun menjadi semakin luas dan bumi pun semakin dekat pada potensi kehancuran sebagai akibat dari dosa-dosa manusia tersebut. 

Dari kenyataan tersebut, kita belajar bahwa semakin besar anugerah yang diberikan oleh Tuhan, maka semakin besar pulalah tanggungjawab yang harus diemban oleh manusia, sehingga ketika sesuatu yang buruk terjadi, maka secara otomatis akan semakin besar pulalah potensi kerusakan yang akan terjadi. Meski di sisi lain, satu hal yang tetap harus kita ingat adalah, bahwa di balik segala kegagalan manusia, Allah selalu mempunyai rencana untuk mengantisipasi serta melindungi ciptaan-Nya, sehingga sekalipun manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan tanah menjadi terkutuk sebagai akibatnya, bumi tidak serta merta hancur lebur tanpa harapan sama sekali. 

Jadi, di satu sisi ada bahaya kehancuran yang mengintai, tetapi di sisi lain, ada Allah yang berkuasa untuk menopang, menjaga serta memelihara kehidupan manusia yang telah tercemar oleh dosa itu.

Adapun manusia yang dibicarakan dalam Kejadian 6:1 ini, sangat mungkin merupakan populasi manusia secara keseluruhan, bukan semata-mata keturunan dari Kain saja, tetapi meliputi pula keturunan Set. Bukan keturunan yang berasal dari roh kejahatan, yaitu si ular saja, melainkan dari keturunan yang berasal dari orang-orang yang mendapat anugerah pula, yaitu para keturunan dari si wanita.

Kalau pun pada bagian akhir dari kalimat tersebut diberi suatu keterangan mengenai "anak-anak perempuan manusia," maka hal itu dapat kita lihat sebagai suatu pengantar kepada kisah selanjutnya, yaitu kejatuhan manusia ke dalam dosa yang bersifat semakin luas, sehingga Allah mencetuskan suatu penghakiman untuk membasmi hampir seluruh umat manusia. 

Adapun anak-anak perempuan manusia yang disebutkan dalam bagian ini adalah perempuan yang cantik-cantik, tetapi sungguh ironis bahwa kecantikan mereka itu justru kemudian menjadi semacam pemicu bagi keberdosaan manusia yang semakin besar. 

Pada dasarnya, kecantikan dan keindahan adalah sesuatu yang baik adanya, akan tetapi ketika perintah Tuhan tidak diperhatikan dan Pribadi-Nya tidak dianggap sebagai sosok yang penting lagi bagi manusia, maka kecantikan dan keindahan pun dapat membawa manusia masuk ke dalam jurang kehancuran dan kebinasaan.

 

maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

Siapakah anak-anak Allah yang dibicarakan di dalam ayat ini? Ada beberapa pandangan terhadap siapakah anak-anak Allah tersebut.

Pandangan pertama, anak-anak Allah itu adalah para malaikat.

Pada abad pertama hingga abad ke dua, beberapa Bapa Gereja seperti Justinus Martyr, Eusebius, Clement of Alexandria, Origen, dan Commodianus bahwa “the sons of God" dalam Kejadian 6:1–4 adalah malaikat jahat (fallen angels) yang melakukan hubungan seksual yang tidak natural dengan para perempuan dari kalangan manusia, sehingga melahirkan orang-orang raksasa yang disebut Nephilim.

Tetapi pandangan ini sudah sering ditentang dan tidak diterima lagi oleh mayoritas ahli Perjanjian Lama dan para teolog pada umumnya. Walaupun sangat mungkin sekali bahwa pandangan seperti ini justru masih sangat populer di kalangan orang Kristen awam.

Ada beberapa kelemahan dari pandangan yang mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah malaikat, yaitu:

Gambaran tentang malaikat dan manusia yang hidup berdampingan bersama, apalagi sampai melakukan hubungan seksual dan melahirkan anak, sungguh-singguh tidak memiliki keterkaitan apapun dengan bagian manapun dari Kitab Kejadian, bahkan hal itu  menjadi tema yang sangat asing bagi keseluruhan Alkitab sendiri. 

Masuknya figur malaikat ke dalam kisah kejatuhan manusia terasa bagaikan sebuah nada sumbang bagi seluruh harmonisasi konteks dalam Alkitab, khususnya kitab Kejadian. Semenjak Kejadian pasal 3 sampai 5, dosa manusia menjadi tema yang sangat dominan. Dan pada gilirannya, dosa manusialah yang akan ditebus oleh Allah, bukan dosa malaikat. Dosa-dosa malaikat sama sekali bukan pusat pembicaraan di dalam bagian-bagian sebelum Kejadian 6 maupun setelahnya.

Penulisan Alkitab ditujukan kepada manusia, dengan segala persoalan nyata yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, sehingga kisah-kisah yang bersifat fantastis, seperti perkawinan antara malaikat dan manusia, sulit mendapat tempat di dalam persoalan nyata yang dihadapi oleh manusia dalam keseharian.

Pandangan kedua, anak-anak Allah itu adalah anak-anak dari para penguasa

Pandangan ini lebih dapat diterima ketimbang pandangan pertama tadi, sebab “elohim” sendiri berarti “penguasa,” sehingga bagi orang Yahudi, sebutan “Elohim” ini dapat diterapkan pula kepada Yahwe yang adalah penguasa dari segala penguasa. 

Selain itu, pandangan seperti ini, tidak memiliki pertentangan yang nyata dengan bagian-bagian sebelum Kejadian 6 karena masih sama-sama membicarakan tentang kejahatan manusia. Dan jika kita baca Kejadian 6:5, maka kita mendapati bahwa kejahatan yang sedang dibicarakan pun adalah kejahatan manusia, dan sama sekali tidak menyinggung tentang keterlibatan dari para malaikat yang jahat. Kejahatan manusia inilah yang menjadi dasar dari kisah air bah yang merupakan penghakiman Ilahi atas kejahatan manusia tersebut.

Meski demikian, pandangan seperti ini pun bukan tanpa persoalan. Setidaknya ada dua kelemahan dari pandangan ini, yaitu:

Pertama, pribadi anak-anak penguasa itu tidak pernah diidentifikasikan, sehingga kita tidak bisa melihat pertalian atau hubungan antara mereka dengan keturunan Adam yang dibicarakan di dalam Kejadian 5. Meskipun mereka adalah sama-sama manusia, dan bukan malaikat jahat seperti pandangan pertama tadi, tetapi dengan tidak adanya idetifikasi yang jelas, maka bagaimana kita dapat melihat keterkaitan antara Kejadian 6 dengan Kejadian 5?

Kedua, karena tidak ada suatu penjelasan mengenai siapakah anak-anak para penguasa tersebut, maka kita juga sulit menemukan dasar atau alasan tentang mengapa perbuatan anak-anak penguasa ini dianggap sedemikian jahat dimata Allah, hanya karena mereka mengawini perempuan-perempuan cantik tersebut? Mengapa perbuatan seperti yang mereka lakukan itu dapat disebut sebagai jahat? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sulit dijawab karena tidak ada keterkaitan yang nyata mengenai jatidiri parapenguasa dengan jatidiri orang-orang dalam pasal-pasal sebelumnya.

Pandangan ketiga, anak-anak Allah adalah perwakilan dari keturunan Set, sedangkan anak perempuan manusia adalah perwakilan dari keturunan Kain.

Pandangan ketiga ini, jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan dari segi penafsiran karena memiliki banyak keterkaitan dengan pasal sebelum dan sesudahnya dan terlihat adanya kesatuan tema, kesamaan pola serta keserupaan dalam pemakaian istilah-istilah, simbol-simbol maupun warna teologi yang ada di dalamnya.

Kesatuan tema yang dimaksud adalah tema dosa. Sebagaimana dalam pasal-pasal sebelumnya, terdapat banyak pembahasan tentang dosa, maka hadirnya anak-anak Allah ini juga menjadi semacam pemicu atas kondisi keberdosaan manusia yang semakin besar.

Kesamaan pola yang dimaksud adalah pola sifat dosa yang cenderung mengalami perkembangan dan perluasan. Dari sedikit orang, lalu menyebar keorang lain, makin lama makin banyak yang terkena pengaruh.

Keserupaan dalam istilah, simbol dan warna teologi yang dimaksud misalnya adalah istilah “melihat.” Sama seperti Hawa yang melihat buah, demikian pula anak-anak Allah itu melihat anak perempuan manusia. Lalu sama seperti Hawa yang melihat ada keindahan di dalam buah itu sehingga ia tertarik, demikian pula anak-anak Allah itu melihat kecantikan di dalam diri anak perempuan manusia sehingga mereka tertarik. Hawa begitu ingin memuaskan nafsunya untuk menikmati buah terlarang, sedangkan anak-anak Allah ingin memuaskan nafsu seksualnya dengan anak perempuan manusia. Semua sama-sama lebih mementingkan keinginan badani mereka ketimbang memperdulikan larangan atau batasan-batasan spiritual yang ditetapkan oleh Allah. Ada pola yang sama antara Hawa dan anak-anak Allah itu, yaitu mereka melihat lalu mengambil apapun atau siapapun yang mereka sukai. Kesukaan pribadi menjadi hal yang sangat mempengaruhi tindakan mereka, bukan perkataan Tuhan, buka rasa takut ataupun hormat kepada Tuhan

Selanjutnya, kita melihat kemunculan manusia-manusia raksasa di dalam ayat 4 juga memiliki kesamaan pola dengan kisah Kain, yaitu tentang kebanggaan, kekuatan dan kebesaran manusia. Ukuran badaniah menjadi sesuatu yang sangat penting dan ditekankan dalam hal ini. Kemuliaan jasmaniah, kelimpahan materi dan kekuasaan adalah sifat-sifat yang sangat dekat dimiliki oleh keturunan Kain.

Anak-anak Allah yang mewakili keturunan Set adalah keturunan yang diberkati, yang akan menerima janji keselamatan. Sedangkan anak perempuan manusia adalah keturunan Kain yang telah mendapat kutukan. Tidak seharusnya orang yang diberkati itu bercampur dengan orang-orang yang menerima kutukan. Perkawinan di antara kedua kelompok manusia tersebut akan mengakibatkan orang-orang pilihan pun menjadi tercemar dan ikut rusak karena dosa dan kutukan.

Orang-orang pilihan ini seharusnya menyembah Tuhan dengan setia, tetapi mereka telah mengedepankan keinginan daging mereka lebih daripada perintah dan larangan Tuhan, sehingga sebagai akibatnya, mereka pun harus turut menanggung hukuman Ilahi berupa air bah.

Pandangan ketiga ini dianut oleh Agustinus dan dipopulerkan melalui tulisannya yang berjudul City of God dan diterima secara luas dengan baik pula oleh orang-orang Kristen pada era Reformasi.

Pandangan yang bersifat metafor, bahwa perkawinan anak-anak Allah dan anak perempuan manusia itu adalah representasi dari percampuran antara keturunan Set dan keturunan Kain, sangat sesuai dengan keseluruhan rangkaian pengajaran di dalam Alkitab, yaitu bahwa orang benar harus hidup kudus, terpisah dari orang dunia yang tidak mengenal Tuhan. Orang benar adalah mereka yang menyembah Allah yang sejati, sedangkan orang fasik adalah orang yang tidak mengenal Allah sejati. Dalam pandangan Allah, kedua kelompok ini tidak seharusnya dicampuradukkan satu sama lain, sebab kelompok yang rusak itu akan turut menghancurkan kelompok yang baik.


Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."

Kejahatan manusia yang hanya peduli pada keinginan mata dan kepuasan jasmani tersebut membuat Allah menjadi murka. Dan sebagai respon atas keberdosaan manusia, Tuhan membatasi usia manusia menjadi 120 tahun saja. Dalam ukuran usia manusia di Perjanjian Lama, usia 120 merupakan jangka waktu yang terbilang pendek.

Bencana air bah yang Tuhan kirimkan kepada manusia, menjadi suatu sarana untuk membatasi atau memperpendek usia manusia tersebut. Tidak ada lagi yang akan berusia panjang karena mereka akan mati oleh air bah tersebut.

Pada masa sekarang, usia rata-rata manusia bahkan jauh lebih pendek lagi dibandingkan dengan era Alkitab. Sakit penyakit, peperangan, bencana alam adalah utusan Tuhan untuk memperpendek usia manusia, sama seperti Tuhan pernah mengutus air bah di zaman Nuh.

Tanpa tindakan Allah untuk menyelamatkan Nuh melalui bahtera, maka umat manusia akan punah selamanya. Demikian pula di dalam Perjanjian Baru, Tuhan bertindak untuk menyelamatkan sebagian kecil umat manusia melalui Kristus, agar umat manusia tidak punah secara keseluruhan akibat dosa, melainkan ada sekelompok kecil yang akan diselamatkan dan mengalami kehidupan bersama Tuhan.


4Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Tidak sedikit jumlah kalangan Kristen yang menganggap bahwa orang-orang raksasa yang ada di bumi itu adalah hasil perkawinan anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia. Hal ini tidak lepas dari anggapan bahwa anak-anak Allah itu adalah makhluk supranatural seperti malaikat. 

Akan tetapi anggapan tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima apabila kita setuju bahwa anak-anak Allah adalah wakil dari kelompok keturunan Set, sedangkan anak-anak perempuan manusia adalah kelompok dari keturunan Kain. Sebab kedua kelompok tersebut adalah manusia biasa, bukan makhluk supranatural yang berpotensi melahirkan raksasa.

הַנְּפִלִ֞ים (dibaca HaNephilim) berasal dari istilah Ibrani נְּפִלִ֞י  (naphal) yang berarti “jatuh” atau “to fall.” Jika kita menafsirkan sesuai dengan arti kata dasarnya, maka Nephilim bisa dimengerti sebagai sekumpulan orang-orang yang telah jatuh ke dalam dosa atau orang yang berkarakter jahat atau sekumpulan para pendosa. 

Selanjutnya, apabila kita membaca kalimat pembukaan dalam Kejadian 6:4, maka istilah yang dipakai adalah “pada waktu itu, Nephilim ada di bumi,” kalimat yang dipakai dalam bahasa Ibrani adalah: HaNephilim HaYu BaAres BaYamim HaHem, (The Nephilim WERE in The Earth In Those days), sehingga kita dapat memahami bahwa para Nephilim tersebut sudah ada terlebih dahulu di bumi, pada saat terjadinya peristiwa perkawinan antara anak-anak Allah dan anak perempuan manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa para Nephilim itu bukanlah hasil perkawinan dari anak-anak Allah, wakil dari keturunan Set, dengan anak-anak perempuan manusia, wakil dari keturunan Kain.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Kejadian 6:4 ini adalah, bahwa dunia sudah sedemikian rupa dipengaruhi oleh dosa, dan populasi manusia berdosa pun sudah sedemikian banyaknya, sehingga cara hidup mereka itu pada akhirnya sangat mempengaruhi anak-anak Allah dalam mengambil keputusan untuk mengawini anak perempuan manusia. 

Anak-anak Allah, keturunan Set, yang di dalam Kejadian 5 digambarkan sebagai sekumpulan orang-orang yang mengenal Tuhan, hidup bergaul dengan Tuhan, giat dalam menghasilkan buah bagi Tuhan serta taat pada perintah-Nya, kini telah mengikuti cara dunia bertindak. Mereka tidak lagi menjadikan perkataan Tuhan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil tindakan, melainkan berdasarkan apa yang mereka lihat baik atau cantik, menurut apa yang menjadi kesukaan mereka. Atau dalam bahasa yang dipakai dalam Kejadian 3, anak-anak Allah ini telah memutuskan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat menurut kehendak mereka.

Percampuran antara anak-anak keturunan wanita dan anak-anak keturunan si ular, tentu saja merupakan suatu perbuatan atau kejadian yang tidak disukai oleh Tuhan. Sebab semenjak manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah mengadakan permusuhan di antara kedua kelompok manusia tersebut. Oleh karena itu, perbuatan tersebut merupakan dosa yang besar dan berpotensi mendatangkan penghakiman Allah yang berakibat pada hancurnya begitu banyak kehidupan di muka bumi ini, bukan saja kehidupan manusia, tetapi hewan-hewan yang tidak berdosa pun turut menjadi korbannya. Pesan dari peristiwa itu sangat jelas, yaitu dosa senantiasa membawa dampak kehancuran yang bersifat kosmos.


Apa akibat dari kawin campur tersebut?

Hasil dari kawin campur antara kedua garis keturunan manusia ini adalah dilahirkannya pahlawan-pahlawan yang gagah, orang-orang kenamaan di jamannya. Dalam ukuran dunia, apa yang salah dengan hal seperti ini?

Menurut ukuran dunia, hadirnya pada pahlawan yang gagah perkasa, serta orang-orang yang kenamaan, bukanlah suatu persoalan sama sekali. Sebaliknya, dunia justru suka dengan segala sesuatu yang menampilkan kemegahan, kebesaran, keperkasaan, kekayaan, kehebatan dan lain sebagainya.

Tetapi menurut Firman dari Tuhan yang sejati, semua ketertarikan terhadap kemuliaan duniawi itu justru merupakan akibat dari dosa manusia. Bukan kemuliaan Tuhan yang menjadi tujuan hidup manusia, tetapi kemuliaan, kehebatan dan nama besar manusia. Gambaran yang ditampilkan oleh keturunan manusia hasil kawin campur tadi, justru sangat cocok dengan gambaran dari kehidupan keluarga Kain, yang diliputi oleh keberhasilan duniawi dan kehebatan manusiawi. Dan justru gambaran kehidupan seperti inilah yang merupakan jenis kehidupan yang dikutuk oleh Tuhan.

Dengan kebanggaan manusia akan dirinya sendiri, kehebatannya sendiri dan nama besarnya sendiri itu, Tuhan Allah menilai bahwa populasi manusia kini telah menjadi semakin serupa dengan keturunan Kain ketimbang keturunan Set. Dan berdasarkan kenyataan tersebut, maka Tuhan Allah kemudian mengambil tindakan dengan mengirimkan air bah ke bumi untuk melenyapkan percampuran antara yang baik dan yang jahat tersebut sehingga pengaruh dosa yang semakin meluas itu dapat dihentikan.

Sungguh amat disayangkan bahwa hingga kini pun, banyak orang di dunia, termasuk orang-orang yang menamakan dirinya Kristen, jauh lebih tertarik untuk mengejar kemuliaan duniawi dan kehebatan manusiawi, ketimbang kemuliaan dan kehebatan Allah.


Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari hal Kejadian 6:1-4 ini adalah:

  1. Kehidupan manusia yang berdosa memiliki sifat yang menular.
  2. Keturunan orang percaya pun jika tidak hati-hati akan terjerat di dalam kebinasaan, yaitu ketika mereka mulai meninggalkan Tuhan.
  3. Keberdosaan manusia yang digambarkan di dalam bagian ini ditunjukkan melalui kemuliaan duniawi yang mereka miliki, yaitu berupa keperkasaan, kehebatan dan nama besar.
  4. Tuhan tidak tinggal diam melihat kerusakan manusia, Tuhan mendatangkan penghakiman melalui pembatasan usia manusia, sebagai langkah awal.
  5. Dan pada akhirnya, Tuhan mendatangkan penghakiman yang lebih besar yaitu air bah yang nyaris melenyapkan seluruh umat manusia pada saat itu.


Sekilah tentang pandangan Teologi Reformed tentang Kejadian 6:1-4

Para penganut Teologi Reformed, memegang pandangan bahwa perkawinan anak Allah dan anak manusia sebagai perkawinan antara keturunan Kain dan keturunan Set, sehingga tidak terlalu memberi penekanan pada orang-orang raksasa di dalam arti yang senantiasa harafiah. 

Teologi reformed bukan tidak menerima fakta Alkitab bahwa ada orang-orang yang bertubuh besar seperti Goliat, tetapi istilah raksasa yang muncul di Alkitab mungkin tidak senantiasa harus ditafsirkan sebagai raksasa secara fisik saja, melainkan orang-orang yang merasa dirinya besar di dalam kekuasaan, pengaruh dan otoritas, sehingga merasa berhak untuk menindas orang lain yang lebih lemah.


Untuk pembahasan yang lebih terperinci tentang mengapa sebaiknya menafsirkan istilah Nephilim sebagai sekelompok orang-orang yang sudah jatuh di dalam dosa atau orang-orang yang berkarakter jahat, dapat dibaca dalam tulisan berjudul: Istilah Nephilim menurut kitab Kejadian, Bilangan dan Yehezkiel. [Benarkah Nephilim harus identik dengan orang bertubuh raksasa? Klik disini.]

Tuesday, July 30, 2024

Ham mendapat kutukan namun keluarganya kaya dan berkuasa

 

Hak mendapat kutukan namun keluarganya kaya dan berkuasa

Banyak orang di dunia, apapun agamanya, sangat memimpikan punya hidup yang berkelimpahan dengan harta dan memiliki kekuasaan yang besar atas orang lain. Hal itu sejalan dengan hasrat hati atau kecenderungan sifat manusia yang ingin menjadi seperti Allah, sebagaimana dilukiskan dalam kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa di Taman Eden.

Mengapa kelimpahan harta merupakan suatu keadaan yang sedemikian menarik hati manusia? Sebab kelimpahan harta dapat memberikan semacam kebebasan bagi orang yang memilikinya, untuk melakukan banyak hal di dunia ini. Uang bisa dipakai untuk membeli barang apapun yang kita butuhkan, bahkan yang kita inginkan. Apakah perbedaan antara kebutuhan dan keinginan?

Kebutuhan manusia bisa ada batasnya, namun keinginan akan sesuatu dapat sulit ditentukan batasannya. Bergantung dengan pribadi masing-masing. Ada orang yang tidak punya banyak keinginan dan mudah dipuaskan oleh hal-hal sederhana. Tetapi ada pula orang yang kenginannya sedemikian banyak hingga tidak pernah benar-benar bisa dipuaskan.

Sebagai contoh dalam hal makanan. Secara normal, seseorang tidak membutuhkan makanan dalam jumlah yang sangat banyak atau dengan harga yang sangat mahal. Orang bisa hidup baik dengan makan secara normal sebanyak 3 kali sehari, atau bahkan kurang dari itu. Tubuh kita memang butuh makanan, tetapi dalam jumlah terbatas yang tidak terlalu banyak. Dan sebetulnya, tubuh kita pun tidak membutuhkan makanan dengah harga yang sangat mahal. Cukup dengan makanan sehat yang harganya relatif murah pun, tubuh kita bisa bertahan hidup dengan baik. 

Tetapi ketika bicara tentang keinginan, maka akan sangat berbeda kisahnya antara orang yang satu dan yang lain. Ada orang yang makan lebih dari 3 kali dalam sehari dan ada pula jenis makanan yang harganya sangat mahal sehingga hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang memiliki banyak uang saja.

Memiliki banyak uang membuat kita punya banyak pilihan dalam hidup. Ada semacam perasaan berkuasa di dalam hati kita, sebab uang memberi kuasa untuk memiliki dan menikmati apa saja yang kita inginkan. Bahkan dalam konteks atau skala yang lebih besar, uang bisa dipakai untuk membeli rasa suka dari orang lain, membeli pengaruh, membeli kesempatan, membeli keamanan dan masih banyak lagi. Sebagai perbandingan, orang yang tidak punya uang kadang kesulitan bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya sekalipun.

Apakah orang yang dikutuk oleh Tuhan pasti akan jatuh miskin dan tidak sukses hidupnya?

Ada anggapan populer yang bahkan berlaku hingga saat ini bahwa jika seseorang kaya raya dan sukses hidupnya, maka itu artinya ia diberkati oleh Tuhan. Dan karena ia diberkati, maka itu berarti bahwa Tuhan berkenan pada kehidupan orang itu.

Sebaliknya, jika seseorang hidupnya miskin, maka itu berarti ia tidak atau kurang diberkati oleh Tuhan. Dan karena Tuhan tidak memberkati, maka itu artinya Tuhan tidak berkenan pada kehidupan orang tersebut.

Anggapan seperti ini keliru, jika dikaji berdasarkan sudut pandang Alkitab.

Tuhan dapat memberkati kita dengan memberikan kekayaan dan kedudukan yang tinggi, apabila Tuhan memang punya rencana melalui kekayaan dan kedudukan kita tersebut. Yusuf di beri kedudukan yang tinggi karena melalui posisi seperti itu, Tuhan ingin memakai Yusuf untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kelaparan.

Tetapi Tuhan juga dapat memberkati kita dengan cara membawa kita ke dalam situasi padang gurun kehidupan, yaitu hidup sederhana, ditopang oleh kepemilikan yang secukupnya saja, dikelilingi oleh situasi yang sulit, disalahmengerti, tidak punya status yang tinggi di masyarakat, tertimpa sakit penyakit dan kemalangan, dianiaya bahkan mati terbunuh, apabila Tuhan memang punya rencana yang mulia dibalik segala peristiwa atau keadaan yang tidak menguntungkan tersebut.

Yusuf, suami Maria, tidak ayal lagi adalah orang yang sangat diberkati dan hidupnya diperkenan oleh Allah, akan tetapi selama hidupnya Alkitab tetap menggambarkan keluarga Tuhan Yesus sebagai keluarga yang sederhana, bukan pengusaha sukses dan Yusuf bahkan tidak memiliki usia yang panjang selama hidup di dunia. Yohanes Pembaptis pun seperti itu, hidup dalam kesederhanaan, mati secara mengerikan, namun hidupnya sangat diperkenan dan ia menjadi berkat bagi banyak orang. Ia dijadikan suara yang memanggil manusia untuk bertobat demi menyambut kedatangan Sang Mesias.

Melalui Yusuf dan Yohanes Pembaptis setidaknya kita dapat belajar bahwa kemiskinan, hidup dalam ketersembunyian, serta jauh dari hingar bingar keberuntungan sebagaimana yang dikejar-kejar oleh banyak orang di dunia, bukan merupakan pertanda ketidaksukaan Allah pada diri seseorang, juga bukan sebagai penanda dari kehidupan yang tidak diberkati Tuhan.

Sebaliknya, dari Alkitab kita akan melihat bahwa orang yang masuk dalam kategori sebagai orang yang terkutuk oleh karena dosa, ternyata tidak tentu akan mengalami kemalangan dan nasib yang buruk di dalam hidupnya, melainkan dapat saja memperoleh kehidupan yang sukses secara materi, berhasil di dalam memegang tampuk kekuasaan, memiliki kekuatan besar yang mampu menaklukkan orang lain, serta dikaruniai berbagai keindahan dan keberuntungan di dalam hidup

Itulah sebabnya kita harus sungguh-sungguh berusaha memahami Alkitab agar tidak salah dalam menilai kehidupan ini, agar kita tahu mana yang sungguh merupakan berkat, maka yang bukan, mana yang benar-benar bernilai dalam kehidupan dan mana yang merupakan kemuliaan semu belaka.

Ham, menjadi orang terkutuk namun keluarganya sukses secara materi dan berkuasa

Ham pernah melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap Nuh, sebagaimana yang dikisahkan dalam Alkitab demikian: Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. (Kejadian 9:20-23)

Ada dua hal yang dilakukan oleh Ham menurut catatan Alkitab, yaitu pertama, melihat aurat ayahnya, dan kedua, menceritakan apa yang ia lihat kepada saudaranya di luar.

Ada penafsir yang beranggapan bahwa "melihat aurat ayahnya," merupakan tindakan yang dilakukan secara tidak sengaja. Tetapi ada pula penafsir yang menganggap bahwa hal itupun merupakan perbuatan yang tidak baik, karena untuk sampai pada posisi bisa melihat, berarti Ham telah masuk sampai ke tempat pribadi Nuh.

Tetapi tindakan yang paling tidak terpuji dari Ham terutama adalah bahwa setelah melihat ada kekurangan atau masalah pada diri ayahnya tersebut, Ham tidak segera memperbaiki situasi, melainkan justru menceritakan hal itu kepada saudara-saudaranya.

Apa yang dilakukan oleh Ham, sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kedua saudaranya. Memdengar laporan dari Ham, maka Sem dan Yafet segera berusaha menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya.  Akibat perbuatan Ham tersebut, Nuh menjadi marah dan mengeluarkan kutukan. Alkitab mencatat perkataan Nuh demikian: "Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya." (Kejadian 9:25)

Dalam tulisan ini, kita tidak akan membahas secara lebih terperinci mengenai apa sebetulnya yang menjadi kesalahan Ham dan mengapa yang dikutuk justru adalah Kanaan, dan bukan Ham itu sendiri. Tetapi setidaknya dari catatan Alkitab tadi, kita tahu satu hal, yaitu bahwa Ham bukan termasuk orang yang diperkenan oleh Tuhan. Dan kita akan melihat suatu gambaran yang berbeda dengan asumsi populer bahwa: orang yang tidak diperkenan Tuhan akan mengalami kemalangan, sedangkan orang yang hidupnya penuh kesuksesan pastilah merupakan tanda bahwa Tuhan berkenan kepada orang itu. Sebab sekalipun Ham adalah orang yang hidupnya tidak berkenan, Alkitab mencatat bahwa keturunan Ham  dilimpahi dengan kemuliaan, kesuksesan dan kekayaan. Sehingga dalam hal ini, sosok Ham digambarkan sebagai orang yang memiliki kemiripan dengan sosok Kain. 

Kehebatan dan kesuksesan dari keturunan Ham

Tentang keturunan Ham, Alkitab mencatat demikian: Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan. (Kejadian 10:6)

Dalam ukuran dunia Kush, Misraim dan Kanaan digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang bergelimangan harta dan kekuasaan. Hal itu terlihat dari adanya nama-nama besar yang muncul sebagai keturunan mereka.

Kush digambarkan sebagai bapa dari seorang yang sangat berkuasa di bumi ini. Alkitab mencatat: 8 Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi; 9 ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: "Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN." 10 Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear. 11 Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah 12 dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu. (Kejadian 10:8-12)

Nimrod, disebut sebagai seorang yang mula-mula berkuasa, sebelum ada orang lain yang berkuasa sebagai raja di bumi, Nimrod sudah jadi raja. Ia mampu menaklukkan orang lain, mengatur orang lain, menentukan nasib orang lain, mempengaruhi hidup matinya orang lain. Mengapa bisa demikian?

Sebab menurut Alkitab, Nimrod adalah seorang pemburu yang perkasa (ayat 8 & 9). Nimrod dapat kita bayangkan sebagai sosok yang ditakuti banyak orang karena ia kuat, tangguh, punya kekuatan untuk memburu atau membunuh mangsanya, entah mangsanya itu hewan ataupun manusia. Tidak heran ia bisa sangat berkuasa sebagai raja. Fisiknya kuat, strategi bertarung dan mempertahankan dirinya pun dapat dipastikan sangat baik.

Karena punya kekuatan dan strategi yang baik dalam menaklukkan banyak manusia, tidak heran jika Nimrod kemudian punya banyak kekayaan sehingga mampu mendirikan banyak kota-kota besar (ayat 10), bukan satu kota, tetapi banyak, bukan kota kecil, tetapi kota besar.

Dalam ukuran dunia, Nimrod adalah sosok yang menjadi impian banyak orang. Nimrod adalah contoh dari seseorang yang hidupnya dikaruniai dengan kekuasaan, kekuatan dan kekayaan yang besar. Suatu jenis kemuliaan yang paling dikejar-kejar oleh hampir semua orang di dunia ini. Dalam ukuran dunia, Nimrod adalah orang yang berhasil dalam segala hal yang dikejar banyak orang yaitu harta, tahta dan wanita.

Salah satu kerajaan yang didirikan Nimrod adalah Babel, sebuah kota yang kemudian menjadi kerajaan yang besar, dengan teknologi yang maju. Menurut catatan sejarah dan archeology, kerajaan Babylonia sudah memiliki sistem hukum, yaitu hukum Hamurabi yang terkenal itu. Dari sisi linguistik, bahasa yang dipakai dalam kerajaan Babel menjadi semacam internasional yang dipakai oleh banyak kerajaan lain di wilayah sekitar Babilonia. Dari sisi teknologi konstruksi, kerajaan Babel memiliki peninggalan yang pernah menjadi keajaiban dunia, yaitu taman gantung. Dari sisi fisika, matematika dan astronomi, Babel memiliki ahli-ahli hitung yang metodenya bahkan masih dipakai hingga sekarang ini. Singkatnya, kerajaan Babel sangat maju di dalam berbagai bidang.

Bahkan dari sisi militer, Alkitab mencatat bagaimana Babel mampu menaklukkan Asyur dan bahkan menaklukkan Israel juga. Sedemikian hebatnya Babel menurut ukuran dunia, sehingga di dalam Kitab Wahyu, Babel dijadikan sebagai simbol dari kemuliaan dunia, yaitu kota yang besar dan kota yang kuat.

Selain Babel, Nimrod juga menguasai daerah Asyur (sekarang Siria) yang kerajaannya juga terkenal dan sering disebut sebagai kerajaan yang mampu menaklukkan Israel. Di Asyur, Nimrod mendirikan kerajaan yang besar, yaitu Niniwe. Alkitab mencatat Niniwe sebagai sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. (Yunus 3:3) Lalu ada pula Kanaan, yang dilukiskan sebagai negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu (Keluaran 3:8).

Jadi sekali lagi, Ham digambarkan sebagai seorang pribadi yang keturunannya adalah orang-orang kuat yang sukses dalam menaklukkan dunia dan mengumpulkan banyak kekayaan, bahkan mereka dapat tinggal di daerah-daerah subur yang "berlimpah susu dan madunya." Seakan-akan seluruh keberuntungan dan kemuliaan dalam hidup senantiasa menyertai Ham dan keturunannya. Padahal Ham sendiri adalah orang yang melakukan perbuatan tercela dan keturunannya dikutuk oleh Nuh.

Apa yang kita baca tentang Ham mengingatkan kita pada suatu gambaran tentang sosok yang lain yang sangat mirip jalan hidupnya, yaitu Kain.

Dari kisah Ham dan Kain kita belajar suatu prinsip yaitu bahwa: Kesuksesan duniawi yang dicapai seseorang, bukanlah merupakan tanda bahwa Allah berkenan pada orang itu. Dan sebaliknya, penderitaan, kemalangan dan kemiskinan yang kita alami di dunia ini, bukanlah suatu tanda bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Orang yang dikasihi Tuhan dapat diizinkan memiliki kemuliaan dunia, apabila menurut Tuhan hal itu memang diperlukan. Tetapi di dalam bijaksana Tuhan, bukan tidak mungkin apabila orang yang dikasihi-Nya itu harus masuk ke dalam penderitaan dan kesulitan.

Pergumulan dalam memahami hubungan antara berkat dan perkenanan

Menghubungkan antara berkat materi dan kenyamanan hidup dengan perkenan Tuhan, merupakan pergumulan yang tidak mudah untuk dicerna, bahkan oleh para pemazmur.

Dalam Mazmur 73 misalnya, pemazmur justru bergumul karena melihat ada orang yang melawan Tuhan, tetapi justru sukses secara materi dan secara keberuntungan dalam hidup di dunia ini. Sementara orang-orang yang setia pada Tuhan, justru mengalami penderitaan.

Kisah Esau dan Yakub juga memperlihatkan pola yang serupa, dimana Esau tidak memperoleh berkat kesulungan seperti Yakub, tetapi Esau justru jauh lebih sukses secara duniawi, keturunannya pun banyak yang menjadi raja, bahkan sebelum ada raja di Israel, sudah ada raja di dalam keturunan Esau.

Pada suatu saat, keturunan Esau, orang Edom menjadi raja, namanya adalah Herodes. Dan ia berjumpa dengan keturunan Yakub yang adalah Raja yang sejati, namanya Yesus Kristus. Tetapi ironisnya, di dalam kehidupan dunia, Tuhan Yesus jauh dari penampilan seorang Raja, apabila diukur menurut kriteria dunia.

Melalui fakta-fakta Alkitab seperti ini kita memang tidak boleh membuat kesimpulan secara terburu-buru ketika melihat keadaan lahiriah seseorang, sebab kita tidak pernah tahu apa yang terjadi antara orang tersebut dan Tuhan. Sedangkan ketika kebaikan atau keburukan tersebut menimpa diri kita sendiri, maka kita pun tidak perlu buru-buru menilai bagaimana sikap Tuhan kepada kita. Lebih baik kita memfokuskan diri pada relasi dengan Tuhan. Apabila relasi kita dengan Tuhan baik, maka segala peristiwa yang terjadi dalam hidup akan jauh lebih mudah diterima atau dicerna. Ketika keadaan baik, kita bersyukur sambil waspada. Ketika keadaan buruk, kita tetap setia dan bergantung pada Tuhan. Dengan demikian kita lebih tidak mudah terkecoh oleh perasaan ditinggalkan oleh Tuhan.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin. 


Thursday, June 9, 2022

Pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati

Renungan singkat dari Kejadian 2:16,17
Apa yang dimaksud dengan “mati” dalam Kejadian 2:17?
Mengapa setelah memakan buah itu, Adam dan Hawa tidak segera mati?



Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia : “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16,17)

 

Pada tulisan yang berjudul Realitas Keberdosaan Manusia [Klik disini.] kita sudah membicarakan bahwa manusia telah melanggar ketentuan yang diberikan oleh Tuhan. Mereka memakan buah yang terlarang itu. Tetapi yang mungkin membuat kita bertanya adalah: bahwa setelah memakan buah terlarang tersebut, ternyata manusia tidak segera mati, bahkan Adam mencapai umur 930 tahun. Mengapa bisa terjadi seperti ini?

Apakah Tuhan telah keliru berbicara? Apakah benar yang dikatakan oleh iblis kepada Hawa (Kejadian 3:4) bahwa “Sekali-kali kamu tidak akan mati”? Sekarang ini, kita semua yang hidup di planet bumipun sudah ada di dalam kutukan dosa dan tidak seorangpun dari kita yang tidak berdosa, tetapi bukankah kita masih dapat hidup hingga sekarang? Mengapa manusia tidak segera mengalami kematian? Kalau begitu, apa yang dimaksud oleh Tuhan dengan kata “mati” dalam ayat tersebut?

Tentu saja Tuhan tidak mungkin keliru ketika berkata bahwa manusia akan mati apabila memakan buah terlarang tersebut, akan tetapi kematian yang dibicarakan oleh Tuhan di dalam ayat tersebut, bukan pertama-tama berbicara tentang kematian secara badaniah sebagaimana yang pada umumnya kita bayangkan, melainkan terutama berbicara tentang terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah.

Jika kita membaca Kejadian pasal 1 dan 2, kita dapat melihat suatu hubungan yang terjalin akrab antara Allah dengan manusia. Manusia dapat bergaul bebas dengan Allah tanpa halangan, tanpa perantara. Tetapi kondisi itu berubah, ketika dilukiskan dalam Kejadian pasal 3 manusia jatuh ke dalam dosa. Semenjak moment kejatuhan tersebut maka manusia segera lari dan bersembunyi dari hadirat Allah (Kej 3:8). Manusia tidak berani lagi untuk berada dekat dengan Allah. Manusia berusaha menjauh dari Dia. Relasi itu telah sirna.

Secara fisik memang manusia tampak masih baik-baik saja. Mereka tidak sakit, dan juga tidak segera mati. Tetapi ada sesuatu yang sungguh-sungguh telah berubah. Sesuatu yang sungguh-sungguh terdampak langsung oleh perbuatan memakan buah tersebut. Dan sesuatu yang berubah dengan cepat itu adalah relasi antara manusia dengan Allah.

Tetapi perlu kita perhatikan disini bahwa sekalipun manusia yang pertama-tama merusak hubungan dengan Allah, tetapi justru Allah-lah yang terlebih dahulu berinisiatif untuk kembali berhubungan dengan manusia. Allah yang lebih dahulu membuka komunikasi, Allah yang lebih dahulu mencari. Dan bahkan Allah pula yang berupaya mencari jalan pendamaian atas kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia.

Dari sini saja kita sudah melihat sebuah indikasi bahwa rusaknya hubungan tersebut harus dipulihkan oleh Allah sendiri. Manusia tidak memiliki kesanggupan untuk memperbaiki relasi dengan Allah yang telah ia rusak. Manusia cenderung lari dari Allah. Dibutuhkan tindakan Allah untuk terjalinnya kembali sebuah komunikasi dengan manusia. [Baca juga: Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan. Klikdisini.]

Lebih lanjut kita tahu bahwa Allah mengusir manusia yang telah berdosa itu, ini juga merupakan indikasi terputusnya hubungan sosial antara manusia dan Allah. Secara hubungan antar pribadi (personal relationship), manusia sudah jauh, secara hubungan sosial (yang berhubungan dengan tempat atau lokasi atau habitat) manusia juga sudah terpisah. Allah terpaksa mengusir manusia karena Allah adalah kudus, tidak bernoda, tidak bercacat, sempurna. Manusia dalam keadaan sebelum jatuh ke dalam dosa, dapat tinggal di dalam habitat Allah. Tetapi setelah jatuh ke dalam dosa, tidak ada lagi kelayakan untuk tinggal bersama Allah.

Bukan hanya dua hal yang disebutkan di atas saja yang rusak, yaitu hubungan antar pribadi (hilangnya keakraban) dan hubungan sosial (yaitu terpisahnya tempat hidup), tetapi keinginan dan kemampuan untuk kembali kepada Allah pun ternyata tidak dimiliki manusia pasca kejatuhan. Kondisi ini membuat manusia berada di dalam situasi yang rusak secara menyeluruh (total depravity). Kondisi inilah yang sebenarnya dimaksudkan Allah ketika Dia berbicara tentang “mati”. Kondisi inilah yang secara sederhana disebut sebagai mati rohani.

Di sisi lain, manusia secara fisik juga mengalami kematian, di atas saya katakan bahwa Adam berumur 930 tahun, lama sekali ia hidup bukan? Akan tetapi, pahamilah bahwa Allah tidak menciptakan Adam untuk mati. Allah ingin Adam hidup selamanya, jadi bukan 900 tahun atau 500 atau 80 tahun tetapi selamanya. Dosalah yang telah membuat dia tidak mampu bertahan hidup di lingkungan yang telah terkutuk ini. Dan semakin lama, ketika dosa semakin bertambah, umur manusia pun semakin lama semakin pendek.

 

Kesimpulan

Ketika Allah berkata bahwa manusia akan mati, maka pastilah manusia itu akan mati. Tidak sepatutnya kita meragukan perkataan Allah. Kalaupun ada kejadian di dalam kehidupan ini yang seolah-olah tidak sesuai dengan apa yang Allah katakan, maka hal itu disebabkan karena kita yang kurang memahami perkataan Allah, bukan karena perkataan-Nya itu keliru.

Kita bersyukur bahwa di dalam keadaan yang mati dan sedang menuju kematian kekal itu, manusia diberi pengharapan oleh Tuhan kita untuk memperoleh jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Sudahkah kita mengenal Dia?

 

Baca juga:

Ada 8 Alasan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Manusia. Klik disini.

Dimensi Kasih Allah. Klik disini.

 

Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: Izar Tirta).

Thursday, April 23, 2020

Eksposisi singkat Kejadian 4:16: Apa artinya Kain pergi dan menetap di tanah Nod sebelah timur Eden?

Oleh: Izar Tirta



Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. (Kejadian 4:16)

Kisah Kain dan Habel berakhir dengan nuansa yang sad ending, yaitu ketika Kain pergi dari hadapan Tuhan. Siapakah yang dapat hidup tanpa Tuhan? Dan jika kita memahami Tuhan sebagai Dia yang Mahaada, bagaimanakah seseorang dapat pergi dari hadapan-Nya?

Tentulah ini merupakan bahasa figuratif untuk menjelaskan bahwa sekalipun Tuhan itu Mahaada dan Mahatahu, hubungan antara Tuhan dan Kain secara relasi pribadi sudah tidak ada lagi. Kain tidak akan pernah lagi pergi ke hadirat Tuhan, pun Tuhan tidak akan lagi menegur Kain dengan Firman-Nya ataupun melalui kehadiran-Nya yang penuh rahmat. Masing-masing seolah berjalan sendiri-sendiri tanpa relasi apapun. Sungguh merupakan sebuah tragedi, bukan? Tetapi berapa banyakkah manusia di bumi ini yang sedang menempuh perjalanan hidup yang serupa dengan Kain? Yaitu sebuah kehidupan yang tanpa relasi dengan Tuhan?

Kain pergi ke sebuah daerah bernama Nod yang dalam bahasa Ibrani berarti mengembara. Suatu nama daerah yang persis menggambarkan hidup Kain yang mengembara, jauh dari relasi pribadi dengan Tuhan.

“Menetap di tanah Nod,”
Dalam bahasa aslinya adalah: Wayesef beerez nod
Yang saya terjemahkan menjadi:
Dan menetap di tanah mengembara (atau: Dan menetap di tanah Nod)

Saya tertarik dengan perpaduan antara kata “menetap” dan kata “Nod” atau “mengembara.” Bukankah jika seseorang mengembara maka ia tidak bisa menetap? Atau seorang yang menetap pada dasarnya sudah tidak mengembara lagi? Mengapa dua kata yang berseberangan ini dipadukan dalam satu kalimat?

Saya melihat seni pengaturan kata-kata di sini sengaja dilakukan oleh penulis Kitab Kejadian untuk menjelaskan bahwa kondisi ke-pengembara-an Kain bersifat menetap atau permanen. Kain dilukiskan akan mengembara selamanya tanpa tempat untuk menetap, mengadu atau bahkan sekedar beristirahat. Jika tubuhnya masih bisa beristirahat pada saat ia tertidur, maka setidaknya kalimat ini ingin mengatakan bahwa jiwanya tidak akan lagi menemukan tempat untuk berlabuh.

UNTUK DIRENUNGKAN
Tanpa terasa kita sudah tiba di titik akhir dari kisah yang besar ini. Kita mengawalinya dari ayat 1 dan kini sudah tiba di ayat 16. Kisah Kain adalah gambaran dari jiwa seorang manusia yang berdosa. Ironisnya, era postmodern yang kita hidupi ini justru semakin menolak konsep keberdosa-an itu sendiri.

Tetapi sebagaimana Kain yang tidak mampu menghindar dari penghakiman Tuhan, demikian pula orang-orang di dalam era postmodern ini. Suka atau tidak suka semua orang harus berhadapan dengan Tuhan di dalam keberdosaan masing-masing.

Ketidakpedulian seseorang sama sekali tidak akan mengubah realita bahwa Tuhan ada, dan bahwa Dia akan menghukum dosa manusia (termasuk menghukum ketidakpedulian tersebut). Persoalannya kini bukan apakah Tuhan akan menghukum atau tidak akan menghukum. Persoalannya adalah kapan realita itu datang menjemput?

Tanpa kasih karunia dari Yesus Kristus melalui karya penebusan di atas kayu salib, tidak mungkin seorang manusia dapat siap menghadapi hari yang menakutkan itu. Kita boleh saja mencoba berlindung di balik agama, ritual, status sosial, kekayaan bahkan jabatan rohani selama di dunia ini. Tetapi simaklah perkataan rasul Paulus berikut ini: Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. (Galatia 2:21). Jika ada jalan lain di luar Kristus untuk manusia boleh diselamatkan, maka Kristus adalah pria paling bodoh dan paling malang yang pernah lahir ke dunia ini.


Semoga tulisan ini dapat semakin memperkaya sudut pandang kita selama ini bukan saja terhadap kisah Kain dan Habel yang cukup populer tersebut, melainkan terhadap berbagai pandangan yang penting di dalam Alkitab. Tuhan memberkati.

Silahkan menghubungi WA: 087712051970
Kami akan berdoa bagi Anda
Kami akan mengirimkan artikel Kristen secara gratis untuk Anda

Kelanjutan dari Kisah Kain dan Habel dari Kitab Kejadian dapat diikuti pada website kami yang lain, yaitu dengan click disini.