Showing posts with label Surat Paulus. Show all posts
Showing posts with label Surat Paulus. Show all posts

Monday, June 1, 2026

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1)

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1)
 

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

 

I. Kemerdekaan Indonesia: Anugerah ataukah murni hasil sebuah perjuangan?

Jika kita merenungkan kemerdekaan Indonesia, sebuah pertanyaan mendasar patut kita ajukan: apakah kemerdekaan bangsa kita itu merupakan hasil perjuangan sendiri, ataukah karena anugerah yang diberikan oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan kita?

Untuk memahami hal tersebut, kita perlu melihat pada kerangka sejarah dunia. Perang Dunia II dimulai pada 1 September 1939, yaitu ketika Jerman menyerang Polandia. Serangan ini didahului oleh sebuah operasi militer palsu, di mana tentara Jerman menyamar sebagai orang Polandia lalu menyerang sebuah stasiun radio Jerman di daerah perbatasan Gleiwitz. Serangan ini memberi Hitler suatu alasan wajar untuk menginvasi Polandia. Akibat serangan tersebut, Inggris dan Prancis pun tidak bisa tinggal diam. Jika Hitler tidak dihentikan, maka Jerman akan menjadi kekuatan berbahaya bagi Eropa. Oleh karena itu, Inggris dan Prancis pun menyatakan perang terhadap Jerman dan dimulailah sebuah perang besar di Eropa.

Amerika Serikat pada awalnya memilih untuk tidak ikut campur dalam peperangan Eropa antara Inggris, Prancis, dan Jerman ini, namun semuanya berubah ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 — sebagai upaya untuk melumpuhkan armada Pasifik Amerika dan mengamankan ambisi ekspansinya di Asia Tenggara. Serangan yang cukup dahsyat itu pun membuat Amerika akhirnya terjun ke dalam peperangan, berhadapan dengan Jepang, sekaligus melawan Jerman, dan Italia.

Pada tahun 1942, Amerika meluncurkan Proyek Manhattan, proyek rahasia pengembangan bom atom yang dimaksudkan untuk menandingi kekuatan teknologi militer Jerman. Kisah ini terabadikan dalam film “Oppenheimer”, yang menggambarkan bagaimana para ilmuwan Yahudi yang diusir dari Jerman bahu-membahu mengembangkan sebuah teori fisika menjadi sebuah senjata dahsyat yang diharapkan dapat menghentikan perang dunia yang sudah terlanjur pecah.

Namun, sejarah berjalan dengan caranya sendiri. Sementara Proyek Manhattan sedang berjalan, Jerman juga sedang dihantam dari dua arah sekaligus. Dari sisi Barat, Sekutu menyerang melalui Operasi Overlord di Normandia (6 Juni 1944), sementara Uni Soviet mengepung dari arah timur, setelah serangan Jerman ke Stalingrad sebelumnya mengalami kegagalan. Dijepit dari dua sisi seperti itu, Jerman pun akhirnya menyerah pada sekitar bulan Mei 1945, bahkan sebelum bom atom yang disiapkan melalui proyek Manhattan tersebut sempat digunakan.

Karena Jerman sudah kalah, bom atom yang diberi nama “Little Boy” itu akhirnya dijatuhkan di Hiroshima (pusat militer dan pelabuhan penting Jepang). Dan pada 6 Agustus 1945, disusul bom atom bernama “Fat Man” yang dijatuhkan di kota Nagasaki (sebuah pangkalan angkatan laut dan pusat industri Jepang). Akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1945, Jepang pun menyerah kepada Sekutu. Kekuatan militer Jepang di seluruh wilayah pendudukan, termasuk Indonesia, melemah hingga nyaris kosong. Momentum kelemahan Jepang inilah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Jadi sekarang, apakah kemerdekaan Indonesia itu dapat dikatakan sebagai hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri? Bisa dikatakan iya, sebab ada semangat untuk merdeka dari bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia tidak pasif saja ketika Jepang menjajah negeri. Lalu ada pula pengorbanan dari tentara-tentara Indonesia melawan tentara Jepang yang tersisa. Sekalipun secara negara Jepang sudah menyerah, tetapi sebagai tentara belum tentu semua orang mau menyerah begitu saja ketika diserang. Tentara Jepang pun melakukan perlawanan terhadap tentara Indonesia sehingga ada korban pula yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Singkatnya, ada perjuangan dari bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Tetapi apakah kita dapat merdeka semata-mata karena kepandaian kita dalam strategi perang untuk mengalahkan Jepang dalam suatu peperangan frontal? Jelas bukan. Indonesia merdeka dan berhasil melepaskan diri dari Jepang, dikarenakan Jepang sendiri sedang limbung dan mengalami kelemahan mental sebagai akibat dari kekalahannya terhadap Sekutu. Tentara Jepang sudah tidak kuat lagi secara psikologis dan mental untuk berperang karena merasa ngeri membayangkan apa yang terjadi di negara mereka, di tengah-tengah keluarga mereka. Serangan Sekutu begitu dahsyat, hingga pemerintah Jepang menyerah dan menarik pasukannya dari medan peperangan.

Oleh karena itu, kemerdekaan Indonesia tidak bisa tidak, harus dilihat pula sebagai sebuah hadiah. Yaitu hadiah dari Tuhan yang memegang dan mengatur sejarah. Sering kali kita tergoda berpikir bahwa kesuksesan kita semata-mata karena kepintaran, kejelian, atau kerja keras kita sendiri. Namun, kita sering lupa bahwa ada campur tangan Ilahi yang jauh lebih besar dari semua rencana dan usaha kita itu.

Baca juga: Ada 8 alasan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia. Klik disini.

 

II. Kristus Telah Memerdekakan Kita

Jika kemerdekaan bangsa kita sebagai sebuah negara saja tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Ilahi, betapa lebih lagi kemerdekaan kita dari kuk perhambaan dosa, bukan? Tidak ada satu pun manusia yang mampu, dengan kekuatannya sendiri, keluar dari perhambaan dan mengalahkan kuasa dosa itu.

Rasul Paulus menegaskan dalam Galatia 5:1 bahwa “Kristus telah memerdekakan kita.” Kemerdekaan dari dosa bukanlah sesuatu yang kita raih, melainkan sesuatu yang diberikan oleh Kristus. Orang Kristen yang sejati sadar bahwa hidupnya adalah anugerah dari Tuhan Yesus.  Sebagaimana bangsa Israel dikeluarkan dari perbudakan Mesir dan diberi anugerah tanah Kanaan — bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah — demikian pula kita dibebaskan dari perbudakan dosa oleh Kristus atas dasar kasih karunia tersebut.

Karena itu, sebagai orang Kristen, kita tidak boleh sombong, merasa paling benar, atau merasa tidak ada dosa dalam hidup kita. Semua orang telah jatuh dalam kuk perhambaan dosa. Tuhan datang bukan untuk memerdekakan demi kemerdekaan itu sendiri, melainkan agar melalui kemerdekaan tersebut, kita bebas mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi — serta mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

 

III. Merdeka untuk Apa?

Pertanyaan yang harus kita renungkan sebagai orang Kristen bukanlah sekadar apakah kita sudah merdeka atau belum merdeka. Pertanyaan yang harus direnungkan adalah, untuk apa Tuhan memerdekakan kita dari dosa? Kita tidak dimerdekakan oleh Kristus demi kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus bukanlah kebebasan tanpa arah. Ada tujuan mulia di balik kemerdekaan tersebut, di bawah ini adalah beberapa tujuan dari kemerdekaan kita dari dosa, yaitu:

1. Merdeka untuk Beribadah kepada Allah

Sejak awal, kemerdekaan selalu berkaitan dengan penyembahan. Dalam Keluaran 7:16, Allah berkata kepada Musa: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun.” Tuhan membebaskan bangsa Israel bukan semata-mata agar mereka dapat menikmati kebebasan dari perbudakan Mesir saja. Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, agar mereka dapat dengan bebas beribadah kepada-Nya.

2. Merdeka untuk Menyembah Dia

Lukas 17:15-16 15Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Kemerdekaan yang Tuhan berikan, seharusnya membawa seseorang untuk bersyukur dan memuliakan Dia. Kita bukan disembuhkan semata-mata agar memiliki hidup yang berkualitas. Sakit penyakit dan dosa adalah penghambat kita untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Tuhan datang membawa kesembuhan kepada manusia, bukan supaya manusia bisa memakai kesembuhan itu untuk bebas melakukan apapun yang ia suka. Kesembuhan yang Tuhan berikan adalah untuk membawa jiwa manusia kepada  keadaan yang penuh ucapan syukur dan hidup mempermuliakan Tuhan.

3. Merdeka untuk Melakukan Pekerjaan Baik

Efesus 2:8-10 8Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Efesus 2:8-10 tersebut dengan jelas mengajarkan bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia Allah melalui iman. Namun keselamatan itu bukan akhir perjalanan — melainkan awal dari sebuah misi. Kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, agar kita hidup di dalamnya.

 

IV. Menghayati Kemerdekaan Sejati

Kemerdekaan Kristen hanya bisa dihayati dengan sungguh-sungguh oleh mereka yang benar-benar menyadari bahwa dirinya pernah — dan tanpa Kristus masih akan — berada dalam kuk perhambaan dosa. Hanya orang yang rendah hati, yang mengakui kelemahan dan dosa-dosanya, yang dapat sungguh-sungguh menghargai anugerah pembebasan dari Kristus.

Yohanes 8:31-32 berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Kemerdekaan Kristen tidak terpisah dari Firman Tuhan. Kemerdekaan kita bukan kemerdekaan tanpa komitmen sebagai murid yang sungguh-sungguh.

Sebagai contoh, ada beberapa gambaran nyata dari orang yang mengalami kemerdekaan sejati:

  • Dalam Kejadian 2:15, Allah menempatkan manusia di Taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Orang yang sadar bahwa hidupnya diambil dan ditempatkan oleh Tuhan akan merdeka dari kesombongan saat karier berjaya dan merdeka dari keputusasaan saat keadaan biasa-biasa saja. Berapa banyak orang Kristen yang menganggap bahwa kariernya, jabatannya, titelnya adalah suatu milik yang mendefinisikan jati dirinya. Padahal kalau orang mengerti kebenaran bahwa hidup ini adalah panggilan Tuhan, maka orang itu akan merdeka dari keinginan hati membangga-banggakan dirinya dari orang lain.

 Baca juga: Apakah resep hidup berkelimpahan dan berhasil? Klik disini.

  • Dalam Lukas 23:42, penjahat di kayu salib berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Orang yang sadar bahwa yang terpenting adalah diingat oleh Tuhan, akan merdeka dari kejar-kejaran pengakuan manusia. Berapa banyak orang yang terus mengejar pengakuan dari orang lain? Mereka ingin terus dikenang, diingat, diakui eksistensinya, jasanya, pencapaiannya. Tapi penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus mengingatkan pada kita bahwa satu-satunya hal yana paling penting adalah ketika Tuhan mengingat kita. Manusia boleh lupa pada kita, manusia boleh salah paham pada kita, manusia boleh saja tidak menganggap kita sebagai orang yang berharga, tetapi ketika kita menghayati akan Tuhan yang mengingat kita, maka kita akan merdeka dari upaya untuk terus menerus ingin dikenang oleh dunia ini.

Baca juga: Manusia lebih suka pada kesementaraan daripada kekekalan. Klik disini.

  • Kemerdekaan Kristen juga membebaskan kita dari tuntutan bahwa hidup ini harus selalu hebat dan tanpa kepedihan. Pemahaman bahwa duka dan sakit penyakit bukan tanda penolakan Tuhan adalah bagian dari kemerdekaan itu. Kita tidak perlu menyembunyikan air mata atau berpura-pura kuat. Dengan merdeka, kita dapat membawa seluruh kepedihan kita ke hadirat Tuhan.

 

Penutup

Kemerdekaan Indonesia mengajarkan kita bahwa tidak ada pencapaian besar yang murni hasil tangan manusia semata. Di balik setiap momentum bersejarah, ada tangan Tuhan yang mengatur. Terlebih lagi, kemerdekaan kita dari perhambaan dosa — itu sepenuhnya adalah karya Kristus, bukan hasil usaha kita.

Baca juga: Apakah tujuan hidup kita di dunia? Klik disini.

Maka, berdirilah teguh dalam kemerdekaan yang telah dianugerahkan itu. Jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan — baik perhambaan dosa, perhambaan akan pengakuan manusia, maupun perhambaan akan rasa takut dan keputusasaan. Kita telah dimerdekakan — bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap keberadaan kita.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Tuesday, April 2, 2024

Tantangan yang dihadapi Rasul Paulus di dalam jemaat Roma


Tantangan yang dihadapi Paulus di Roma

Mengapa Paulus menulis surat kepada jemaat Roma? 

Kita tahu bahwa setiap penulis Penjanjian Baru tergerak untuk menyampaikan sesuatu kepada jemaat, karena mereka melihat ada persoalan di dalam jemaat.

Para rasul menyampaikan ajaran kepada jemaat bukan karena mereka terlalu banyak waktu luang sehingga mencoba mengisi waktu dengan mengajar. Para rasul juga bukan mengajar karena mereka ingin mendapatkan uang. Para rasul itu mengajar dan menulis surat kepada jemaat karena mereka mengasihi Tuhan dan mereka melihat bahwa jemaat yang dikasihi Tuhan itu sedang membutuhkan pertolongan, agar mereka tidak sesat dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan.

Jemaat Roma yang berasal dari keturunan Yahudi merasa kecewa melihat sikap Tuhan yang seolah-olah lebih memberkati orang Kristen yang bukan berasal dari keturunan Yahudi seperti orang Romawi dan orang Yunani misalnya.

Mengapa jemaat Roma yang keturunan Yahudi itu merasa kecewa? Mereka merasa kecewa sebab melihat jumlah mereka yang semakin menyusut, kalah dibandingkan dengan jumlah jemaat Kristen yang non-Yahudi tadi. Orang Kristen Yahudi yang sebelumnya mayoritas, kini menjadi minoritas sebagai akibat dari diusirnya mereka dari Roma oleh Kaisar Klaudius (Kis 18:2).

Dalam anggapan mereka, bukankah orang Yahudi adalah bangsa pilihan Allah, dan bukankah sebagai orang Kristen pun mereka adalah umat pilihan Allah juga? Mereka melihat diri mereka sangat istimewa, bangsa pilihan Allah dan umat pilihan Allah sekaligus. Di atas bumi tidak ada golongan manusia yang begitu istimewa seperti ini, bukan?

Oleh karena itu, mereka kemudian bertanya-tanya, mengapa mereka harus mengalami kondisi yang agak memalukan seperti itu? Mengapa Tuhan menambah jumlah orang Kristen dari keturunan lain, tetapi membiarkan orang Kristen keturunan Yahudi malah menyusut dan jadi minoritas di Roma? Mengapa Tuhan bersikap pilih-pilih kasih seperti ini?

Demi mengajar jemaat Yahudi yang seperti inilah Paulus menulis surat Roma, agar jemaat di tempat itu berhenti menyalahkan Tuhan dan kembali melihat segala sesuatu dari perspektif yang benar, yaitu perspektif Tuhan semata-mata. Jemaat Kristen Yahudi di Roma harus melihat siapakah Kristus, siapakah diri mereka dan siapakah orang Kristen lain di hadapan Tuhan. Sehingga dengan demikian mereka bisa berhenti melihat diri sendiri terlalu istimewa hingga meremehkan orang lain dan bahkan sampai berani menyalahkan Tuhan pula.

Merasa istimewa dan merasa lebih baik daripada orang lain

Jemaat Yahudi di Roma merasa lebih istimewa karena mereka mempunyai Taurat, sementara bangsa-bangsa lain tidak. Taurat yang sesungguhnya merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan, kini disalah mengerti oleh orang Yahudi sebagai suatu identity marker, yang membuat mereka seolah lebih istimewa dari bangsa lain.

Atas kekeliruan itu, rasul Paulus memberi penjelasan bahwa Taurat memang berharga sebab Taurat adalah Firman Tuhan, dan bahwa bangsa Israel pun adalah orang yang berharga di mata Tuhan sebab kepada bangsa inilah Tuhan telah mempercayakan Firman-Nya.

Akan tetapi bangsa Israel seharusnya sadar, bahwa Taurat itu diberikan dengan tujuan untuk dibaca, diajarkan kepada orang lain dan untuk ditaati. Taurat tidak dimaksudkan untuk dipakai sebagai alat kebanggaan, apalagi sampai menjadi sarana untuk menjelek-jelekkan orang lain yang tidak menerima Taurat. Seharusnya, jika bangsa Israel sadar bahwa hanya kepada mereka Taurat telah diberikan, maka mereka juga sadar akan tanggungjawab untuk mengajar bangsa lain, memperkenalkan siapakah Tuhan yang sejati kepada bangsa lain.

Seharusnya bangsa Israel sadar bahwa keistimewaan mereka bukan terletak pada diri mereka sendiri, melainkan terletak pada Pribadi Tuhan yang mau memilih bangsa ini sebagai alat untuk memperkenalkan Diri-Nya pada dunia. Seharusnya bangsa Israel menerima status itu sebagai tanggungjawab yang harus dipikul. Sepatutnya bangsa Israel menjadi rendah hati di hadapan Tuhan, bukan malah menjadi sombong seperti itu.

Semua orang adalah orang berdosa di hadapan Tuhan

Di hadapan Tuhan, orang yang tidak diberikan Hukum Taurat, adalah orang berdosa, sebab kepada mereka telah diberikan hati nurani. Mereka bersalah karena sekalipun nurani mereka tahu apa yang benar dan apa yang salah, mereka telah memilih apa yang salah dan apa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Tetapi disisi lain, bangsa Yahudi sebagai bangsa yang punya Taurat, juga merupakan bangsa yang berdosa, sebab sekalipun mereka memiliki Taurat, mereka ternyata tidak taat pada Taurat itu. Oleh karena itu, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi semua sama-sama berdosa di hadapan Tuhan.

Inilah yang disebut sebagai universal unrighteousness atau universal sinfulness. Tidak ada seorang pun yang benar, sehingga tidak ada satu orang pun yang pantas mempertanyakan keadilan Tuhan. Sebab mempertanyakan tindakan Tuhan sama saja seperti mau menjadi hakim atas Tuhan. Sehingga seharusnya orang itu adalah sama benar atau bahkan lebih benar dari Tuhan. Faktanya, orang-orang seperti itu justru semakin berdosa di hadapan Tuhan.

Karena semua orang telah berdosa, dan sedang kehilangan kemuliaan Allah, maka semua orang pada dasarnya layak mendapat hukuman dari Tuhan. Bangsa Israel tidak patut merasa menjadi orang benar, sebab orang yang benar tidak akan mempertanyakan Tuhan, apalagi sampai menuduh Tuhan telah berlaku tidak adil. Orang yang benar seharusnya bersikap setia dan bergantung pada kesetiaan Tuhan.

Kesetiaan Tuhan dinyatakan melalui Injil-Nya.

Apa itu kesetiaan Tuhan? Kesetiaan Tuhan pada manusia yang berdosa adalah injil. Atas keberdosaan manusia, Tuhan akan memperlihatkan keadilan-Nya. Tetapi keadilan Tuhan dalam hal ini adalah Injil, dan bukan hukuman. Di dalam Injil itu nyata kebenaran Allah. Meskipun manusia tidak adil, berdosa, tetap Tuhan berkenan menyatakan kebenaran-Nya yaitu Injil baik bagi orang yang punya Taurat, maupun yang tidak punya Taurat.

Jadi Injil itu bukan hanya tentang jawaban bagi orang yang tidak yakin akan keselamatannya. Luther memang sempat bergumul di dalam keyakinan apakah Tuhan akan menyelamatkan atau tidak. Lalu kitab Roma ini membuat ia yakin. Tetapi aspek yang diliput oleh Roma ini jauh lebih luas dari sekedar menolong orang seperti Luther.

Tidak semua orang bergumul tentang hal yang sama, yaitu kekurangyakinan akan keselamatan. Orang Kristen berpikir bahwa cuma mereka yang punya keyakinan keselamatan, sedangkan orang di luar Kristen dianggap tidak ada keyakinan akan keselamatan. Tetapi Paulus sebelum menjadi pengikut Kristus, bukan orang yang tidak yakin akan keselamatan. Paulus justru sangat yakin pada kepercayaannya, makanya ia mencoba membasmi orang Kristen. Setelah berjumpa Kristus, Paulus yang yakin itu dibuat ragu-ragu lebih dahulu. Setelah itu barulah ia diberi keyakinan yang baru.

Paulus orang yang punya keyakinan yang kuat, hanya saja sebelumnya ia salah arah. Injil datang kepada Paulus untuk mengubah keyakinannya dari yang salah ke arah yang benar. Tantangan  yang dihadapi Paulus di jemaat Roma adalah jemaat yang sangat dikuasai oleh perasaan self righteousness dan self pride yang tinggi. Sikap semacam ini membuat manusia tidak akan mengerti Injil.

Kita bisa saja merasa atau mengaku diri sebagai orang Kristen, tetapi tanpa adanya pertobatan dari self pride yang seperti ini, bagaimana kita bisa mengerti Injil keselamatan Kristus yang sejati? Kita akan menjadi orang yang sulit mengampuni, sehingga tidak mungkin bagi orang seperti itu dapat menghayati pengampunan dari Allah. Bagi orang yang self righteous, justru orang lainlah yang harus bertobat karena mereka terlihat selalu salah. Dan apabila sudah seperti ini, maka akan berakibat, orang Kristen itupun pasti akan sulit untuk bertobat.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita dari jeratan self righteous seperti ini. Amin.

Monday, July 4, 2022

Semua orang menyeleweng, semua tidak berguna

Renungan singkat dari Roma 3:12


Banyak orang di dunia ini tidak merasa bahwa hidupnya berada dalam bahaya yang serius. Di satu sisi, mereka merasa tidak begitu religius atau suci seperti tokoh-tokoh agama, tetapi di sisi lain mereka juga merasa tidak begitu jahat seperti para perampok, pemerkosa, pembunuh, koruptor dan lain-lain kejahatan. Akibatnya, secara umum orang merasa bahwa diri mereka baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan, tidak ada yang perlu diubah, tidak ada yang perlu ditambahkan. Padahal tidak demikian adanya.

 

Baca Juga:
Tidak ada yang berakal budi, tidak ada yang mencari Allah. Klik disini.
Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Klik disini.

Sebab ketika diperhadapkan dengan standar Tuhan, ternyata semua orang tidak memiliki kualitas perbuatan yang baik di mata Tuhan. Firman-Nya berbunyi: “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Roma 3 : 12)

Mungkin kita tidak suka membaca kalimat seperti yang tertera di dalam ayat tersebut di atas. Ada kesan bahwa ayat ini terlalu menuduh kita sebagai orang yang tidak baik. Akan tetapi, kita mungkin perlu bertanya, mengapa Alkitab dapat mengatakan hal seperti itu? Apa yang dimaksud dengan perbuatan baik menurut Alkitab?

Perlu kita pahami bahwa untuk sebuah perbuatan disebut baik, maka ada standar-standarnya sendiri di dalam masyarakat, dan standar antara kelompok masyarakat yang satu bisa berbeda dengan standar dari kelompok masyarakat yang lain.

Contoh: bagi masyarakat Jawa adalah tidak baik jika orang bersendawa setelah makan, tetapi berbeda sekali dengan orang Batak, bersendawa[1] akan dianggap sebagai penghormatan dan menunjukkan rasa puas. Contoh lain lagi: Seorang suami umumnya akan mengamuk jika istrinya ditiduri orang. Tetapi berbeda dengan orang Eskimo, seorang tuan rumah bangsa Eskimo akan merasa bangga bila tamunya berkenan tidur dengan istrinya, demikian pula tamu itu akan merasa dihormati jika tuan rumah juga mau tidur dengan istrinya. Contoh lagi deh: Wanita mana yang mau dimadu bukan? Betapa sakit hatinya seorang istri yang mengetahui suaminya memiliki istri lain. Tetapi berbeda dengan di Afrika, ada suku tertentu di sana yang kaum istrinya akan merasa sedih dan malu jika suaminya hanya memiliki satu orang istri. Sebab orang lain akan memandang suaminya itu sebagai laki-laki yang tidak jantan. Mereka justru bangga jika suaminya memiliki banyak istri (berminat ke Afrika?).

Dari contoh-contoh ini jelaslah bahwa apa yang baik menurut standar daerah tertentu, bisa menjadi hal yang buruk bagi daerah lain, demikian pula sebaliknya.

Tetapi hal yang disebutkan di atas, tidak akan menjadi masalah bagi kita apabila kita tidak melanggar standar daerah tersebut[2]. Dan nampaknya keberagaman standar itu tidak menjadi masalah bagi kehidupan manusia pada umumnya. Tetapi yang jadi masalah adalah, hidup manusia bukan hanya berhenti di dunia ini. Suatu saat hidup kita akan berakhir dan kita akan menghadap Sang Pencipta, yang juga memiliki standar-Nya sendiri.

Dan karena semua orang pada akhirnya harus berurusan dengan Dia[3], maka semua orang pasti akan terkena masalah sebab tanpa basa-basi Alkitab sudah menyatakan bahwa: “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”

Jika kita tidak setuju dengan budaya Jawa, kita bisa pindah dari daerah yang sarat berbudaya Jawa ke daerah lain. Jika kita tidak suka dengan budaya Afrika, kita juga bisa pindah ke negara lain yang tidak menerapkan kebudayaan seperti di Afrika. Tetapi masalahnya, jika kita tidak setuju dengan standar yang ditetapkan oleh Tuhan, lalu kemana lagi kita bisa pindah? [Baca juga: Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Klikdisini.]

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, saya sudah pernah membahas tentang kondisi manusia yang secara objektif sudah mengalami kerusakan; baik statusnya, akal budinya maupun kehendaknya. Melalui tulisan kali ini dijelaskan pula bahwa perbuatannya pun dipandang tidak baik. Maka habislah sudah harapan yang ada di dalam diri manusia. Tidak ada yang dapat diharapkan dari dalam diri manusia. Yang ada hanya kehancuran dan hukuman kekal yang menunggu setelah kematian kita[4].

Selanjutnya Alkitab menampilkan potret manusia seperti ini: Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Roma 3:13-18)

Sebuah potret yang menyeramkan bukan? Selama ini, kita ternyata seperti seorang buruk rupa yang menipu diri sendiri dengan mengaku cantik, ketika tanpa pertimbangan yang matang mengatakan bahwa kita adalah orang baik-baik.

Rasul Yohanes menulis : “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita”. (1 Yoh 1:8)

Di manakah perbuatan baik yang sering kita bangga-banggakan itu? Seharusnya kita malu berbuat demikian dan mengaku seperti Nabi Yesaya yang mengatakan : “Demikianlah kami sekalian seperti orang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.” (Yesaya 64:6) Nabi Yesaya benar, segala kesalehan kita hanya seperti kain kotor di hadapan Allah, sama sekali tidak layak untuk dipersembahkan.

Semakin dekat dengan Tuhan, seseorang sebenarnya justru akan makin merasa tidak layak dan sadar akan keberdosaannya, bukan sebaliknya. Mengapa? Sebab Tuhan adalah terang kehidupan yang sejati, melalui terang-Nya segala dosa kita akan nampak. Melalui terang-Nya jiwa kita akan ditelanjangi.

Suatu kali ada sekelompok mahasiswa yang berwisata di G. Bromo. Mereka berangkat pagi-pagi sekali dari penginapan ketika hari masih gelap dan tiba di lereng bukit yang berpasir. Sambil menunggu datangnya fajar, mereka bersenda gurau sambil bermain lempar-lemparan pasir. Mereka tertawa-tawa gembira sambil balas membalas lemparan pasir dari temannya. Akhirnya, fajar menyingsing dan sinarnya yang kuning-merah memancar menerangi kawasan itu. Betapa terkejutnya pemuda dan pemudi ini ketika mereka menyadari bahwa tempat mereka main lempar-lemparan pasir itu ternyata penuh kotoran kuda yang mulai mengering.

Hanya terang yang dapat mengusir kegelapan. Hanya dalam teranglah, kotoran menjadi nampak. Yesus berkata : “Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8:12)

Tokoh-tokoh Alkitab yang berhadapan dengan Allah merasa tidak tahan, karena terang Allah segera menusuk jiwa mereka yang berdosa. Yesaya dengan ngeri berkata : “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis… namun mataku telah melihat Sang Raja! (Yes 6:5). Petrus gemetar ketika menyadari siapakah Yesus, sambil tersungkur ia berkata : “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa. (Lks 5:8).

Pada tahun 55 M, Paulus mengatakan dirinya paling hina di antara semua rasul (1 Kor15:9), tetapi tahun 60 ia sadar bahwa ia ternyata paling hina di antara semua anak Tuhan (Efesus 3:8). Baru tahun 65 M ia menyadari bahwa ia sebenarnya paling berdosa di antara semua orang berdosa (1 Tim 1:15).  Semakin bertambah usia, semakin bertambah banyak pelayanan yang dilakukan, tidak menjadikan Paulus semakin merasa diri sebagai orang suci. Sebaliknya ia semakin merasa sebagai orang yang sangat berdosa sehingga membutuhkan belas kasihan Tuhan.

Dekat dengan Tuhan membuat orang semakin sadar siapa dirinya sehingga tidak ada alasan sama sekali untuk sombong. Siapakah kita saat ini, sehingga mengira dapat datang ke Surga Tuhan dengan segala apa yang ada pada diri kita? Tanpa Kristus Yesus yang menyelamatkan kita, maka tidak ada harapan sama sekali bagi kita untuk luput dari hukuman Ilahi. Kiranya Tuhan menolong kita, kiranya Tuhan berbelas kasihan kepada kita.

Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Oleh: izar tirta).


[1] “Bersendawa” bahasa sehari-harinya adalah bertahak, yaitu mengeluarkan udara dari perut yang penuh berisi makanan sambil mengeluarkan bunyi ..eerrghh (selamat mencoba..)

[2] Seorang gadis muda pernah bertanya kepada saya, “Boleh engga sih saya ngomong cinta duluan ke cowok yang lagi saya taksir? Saya jawab : “Bukan boleh engga boleh, masalahnya apakah itu wajar di lingkunganmu? Menyatakan apa yang kita rasakan adalah baik, tetapi kamu akan dipandang rendah jika hal tersebut tidak lumrah. Sebab secara umum, masyarakat Timur belum semua bisa menerima hal tersebut, beda dengan masyarakat Barat.”

[3] Tidak menjadi soal jika saya tidak berhasil memenuhi standar hidup orang Inggris, karena saya toh tidak hidup di Inggris. Tidak menjadi soal jika saya tidak berhasil memenuhi standar hidup orang Jepang, karena saya tidak akan hidup dan tinggal di Jepang, tetapi akan jadi masalah jika saya tidak memenuhi standar Tuhan, karena suatu saat saya harus bertemu dengan Dia. Demikian juga semua orang lain di dunia.

[4] Siapakah di antara kita yang sungguh yakin bahwa perbuatan kita benar-benar baik; secara motivasi, secara kualitas, secara tujuan, secara fungsi, secara standar jika ditinjau dari sudut Allah? Jangankan dari sudut pandang Allah, dari sudut pandang manusia saja kita akan malu jika sungguh-sungguh mengenal diri kita. Saya berusaha mempelajari Psikologi dari buku-buku, karena berkaitan erat dengan profesi saya, dan saya menemukan bahwa ada begitu banyak cacat di dalam perilaku kita sehari-hari. Padahal itu baru ditinjau dari sudut Psikologi, ngeri rasanya membayangkan jika masalah ini ditinjau dari sudut pandang Allah. Kenyataan bahwa ada banyak orang yang merasa bahwa hidupnya baik-baik saja justru adalah fakta tentang betapa parahnya keadaan manusia. (Masih ingat dengan Adam ketika pertamakali berbuat dosa? Dia ketakutan setengah mati dan lari dari Allah. Kemanakah sekarang perasaan semacam itu di dalam diri kita??)

 

Sunday, April 23, 2017

Apa yang dimaksud dengan Berakar dan Berdasar pada Efesus pasal 3?




Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (Efesus 3:16 dan 17)

Istilah berakar dan berdasar cukup sering kita ucapkan di dalam kosa kata sehari-hari di antara pergaulan orang-orang Kristen. Hal ini terjadi, karena kedua kata tersebut memang merupakan istilah yang dipakai oleh Alkitab, sehingga sebagai orang Kristen kitapun menjadi cukup familiar dengan kedua istilah tersebut.

 
Buku Hearing God Everyday. Klik disini.
 
Namun apakah arti dari berakar dan berdasar tersebut?

Berakar dan berdasar adalah istilah yang erat kaitannya dengan diri kita, baik sebagai seorang pribadi yang percaya pada Tuhan Yesus, maupun sebagai bagian dari gereja yang merupakan kumpulan orang-orang yang percaya pada Tuhan Yesus. Oleh karena itu, membahas tentang kedua istilah ini membuat kita tidak hanya membahas tentang diri kita, melainkan harus pula membahas tentang gereja.

Pengertian dari Berakar
Istilah “berakar” memiliki kaitan yang erat dengan tanaman, karena tanamanlah yang kita tahu memiliki akar untuk menopang hidupnya. Oleh karena itu, istilah berakar mengacu pada sesuatu makhluk yang hidup atau sesuatu yang memiliki kehidupan.

Tuhan Yesus sendiri dalam pengajaran-Nya pernah pula memakai analogi tanaman untuk menjelaskan bagaimana bentuk hubungan kita dengan Dia. Dalam Yohanes 15:5 Tuhan Yesus pernah berkata: Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Dalam kalimat tersebut Tuhan Yesus mengibaratkan diri-Nya sebagai pohon anggur utama dan kita orang percaya adalah ranting-ranting yang hidupnya bergantung pada pohon anggur tersebut. Ini adalah suatu analogi yang menggambarkan tentang betapa eratnya dan dekatnya bahkan betapa vitalnya hubungan kita dengan Yesus Kristus. Tanpa Kristus kita tidak akan dapat hidup. Bagaimana mungkin sebuah cabang dapat hidup apabila ia dipotong dari pohon utamanya? Apabila ada manusia yang hidupnya dapat terlepas dari Yesus, maka dapat dikatakan bahwa manusia itu memang bukan bagian dari Yesus.

Sebagai seorang pribadi, penting sekali bagi kita untuk tetap memiliki relasi yang hidup dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah Allah, namun Dia bukanlah Tuhan atau Allah yang jauh di sana yang terpisah dari kita, melainkan Dia adalah Allah yang memiliki relasi pribadi dengan kita sebagai orang percaya. Hidup kita bukanlah milik kita sendiri, hidup kita bukan sesuatu yang bisa dipisahkan dari Yesus karena Dia adalah sumber kehidupan kita.
Dalam kaitan hidup berhubungan dengan Allah, maka kehidupan kita bukanlah melulu berisi kegiatan-kegiatan dan ritual-ritual keagamaan, dan bukan pula berisi ibadah-ibadah saja. Kehidupan kita seharusnya diisi oleh sesuatu yang bersifat hubungan pribadi dengan Allah kita, yaitu Yesus Kristus.

Jika kita memandang hubungan kita dengan Tuhan hanya sebatas kegiatan dan ritual keagamaan saja, maka dengan mudah hal tersebut dapat dipisahkan dari kegiatan dan ritual kehidupan kita sehari-hari lainnya, seperti bekerja di kantor, mencangkul di sawah, sekolah, berkumpul bersama teman, tamasya dan lain sebagainya. Kita hanya merasa terhubung dengan Tuhan pada saat kita berada di rumah ibadah atau pada hari-hari ibadah saja. Di luar itu, maka seolah-olah ada kehidupan yang menjadi milik kita, domain kita, di bawah kendali kita, yang dapat kita isi sesuai dengan kesenangan kita.

Tetapi jika kita memandang hubungan kita dengan Tuhan sebagai sesuatu hubungan pribadi yang hidup, maka hal itu melampaui kegiatan keagamaan, melampaui ritual dan melampaui hari-hari ibadah. Hubungan yang hidup mengindikasikan keseluruhan hidup kita yang terhubung dengan Dia. Itu sebabnya, tidak mengherankan jika Rasul Paulus menulis bahwa ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. (Roma 12:1). Kata kuncinya adalah seluruh tubuh sebagai persembahan. Atau dengan kata lain, seluruh area kehidupan kita dipersembahkan kepada Tuhan. Tidak ada area kita, domain kita, kekuasaan kita, yang ada adalah area Tuhan, domain Tuhan dan kekuasaan Tuhan.

Dalam kaitannya dengan gereja, maka istilah berakar ini merupakan suatu pedoman tentang bagaimana sebuah gereja harus melihat dirinya sendiri. Gereja harus memiliki visi kehidupan bagi dirinya sendiri, artinya, gereja harus benar-benar melihat apakah dirinya sendiri sudah memiliki suatu kehidupan yang berakar di dalam Yesus Kristus atau tidak. Gereja bukanlah pertama-tama mengenai bangunannya atau gedungnya, gereja terutama berbicara tentang orang-orangnya. Gereja bukan pertama-tama berbicara tentang ritualnya atau kegiatannya tetapi gereja terutama berbicara tentang hubungan pribadi gereja itu dengan Yesus Kristus.

Bagian tentang gereja ini akan dapat lebih mudah dipahami setelah kita membahas pengertian dari istilah “berdasar.”

Pengertian dari Berdasar
Istilah “berdasar” memiliki kaitan dengan bangunan atau gedung. Gedung tidak mungkin muncul begitu saja. Gedung adalah sesuatu yang harus dibangun. Dalam pembangunan gedung, ada sebuah upaya, ada rencana, ada organisasi, ada peraturan dan lain sebagainya yang memungkinkan rencana pembangunan gedung tersebut dapat tercapai. Dan sebuah gedung baru dapat berdiri, apabila gedung tersebut mempunyai dasar yang kokoh.

Oleh karena itu, hidup kita sebagai pribadi dikatakan harus memiliki dasar, artinya hidup kita pun harus diorganisasikan dengan baik, diupayakan dengan baik dan dibangun dengan baik. Kita dapat membayangkan bagaimana seseorang membangun gedung. Pertama mereka menggali tanah, membangun pondasi, membangun kerangka dan seterusnya. Tetapi bagaimana membangun sebuah hidup?

Membangun sebuah hidup dapat dimulai dari membangun kegiatan-kegiatan yang baik, kebiasaan-kebiasaan yang baik, memiliki rencana-rencana yang baik, tujuan yang baik, cara berpikir yang baik serta cara-cara mengambil tindakan yang baik. Hidup kita berisi serangkaian kebiasaan, sejak pagi hari kita membuka mata, kita melakukan berbagai macam aktivitas yang apabila terus menerus kita lakukan, maka akhirnya terbentuklah sebuah kebiasaan. Dan sebagai orang yang telah jatuh ke dalam dosa, kita acap kali memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berdosa.

Oleh karena itu, memiliki hidup yang berdasar di dalam kasih Yesus, dapat kita pahami sebagai memiliki kehidupan yang diisi dengan kebiasaan-kebiasaan yang memiliki kaitan dengan kasih Kristus Yesus.

Sebagai contoh: sebagai orang yang berdosa, kita memiliki kebiasaan berpikir bahwa pencarian tertinggi dari kehidupan adalah kekayaan atau uang. Namun setelah kita mengenal Yesus Kristus, kita kini punya kebiasaan berpikir yang berbeda, yaitu bahwa pencarian tertinggi dari kehidupan adalah mengenal Pribadi Kristus.

Perubahan dari kebiasaan berpikir yang satu menjadi kebiasaan berpikir yang lain bukanlah sesuatu yang dapat terjadi begitu saja. Harus ada upaya, kesadaran, kemauan, serta langkah-langkah konkret untuk menjadikan kebiasaan berpikir yang baru itu dapat menjadi milik kita. Proses pembentukan kebiasan-kebiasaan baru inilah yang dapat dikategorikan sebagai sebuah pembangunan dasar atau pondasi yang baru.

Berdasarkan Efesus 3:16 dan 17 di atas, kita belajar bahwa untuk membangun sebuah kehidupan di dalam cara yang Tuhan kehendaki memerlukan sebuah usaha dan upaya. Kita butuh untuk mengubah kebiasaan kita, kita perlu menggali Alkitab Firman Tuhan untuk mencari kebenaran, kita butuh mengorganisir kehidupan kita agar iman kita dapat terjaga dan terus bertumbuh. Kita butuh aktivitas, kegiatan, rencana, arah serta tujuan yang jelas dan sesuai dengan Firman. Itulah cara kita membangun hidup kita.

Kesimpulan:
Jadi di dalam istilah berakar kita berbicara tentang kehidupan, sedangkan di dalam istilah berdasar kita berbicara tentang aktivitas yang kita bangun untuk mengisi kehidupan itu sendiri.

Berakar dan berdasar dapat pula kita sandingkan antara organisma dan organisasi. Organisma adalah mahkluk yang hidup, tetapi organisasi adalah sekumpulan makhluk hidup yang bekerja bersama dengan diatur oleh aturan tertentu, untuk mencapai sesuatu arah tertentu melalui kegiatan-kegiatan tertentu. Kehidupan perlu di jaga oleh aturan. Namun sebuah aturan pun harus menjadi aturan yang menghidupkan. Organisma harus diorganisasikan, tetapi organisasi pun harus menjadi organisasi yang dapat menghidupi organisma tersebut.

Dalam kehidupan kita sebagai pribadi, hidup baru kita sebagai orang percaya merupakan pemberian Cuma-Cuma dari Tuhan. Tetapi apakah kita kemudian akan giat membaca Alkitab atau apakah kita akan giat berdoa kepada Tuhan, itu merupakan pilihan dan tanggungjawab kita. Ketika kita memutuskan untuk membangun kehidupan kita dengan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka hidup yang kita miliki itu akan makin bertumbuh dan berbuah.

Sebuah gereja, dapat saja memiliki sangat banyak kegiatan atau aktivitas yang rohani, namun belum tentu gereja tersebut berakar di dalam Yesus. Sebuah gereja yang meninggalkan Firman Tuhan dan pengajaran yang bertanggung jawab atas Firman Tuhan tersebut pada dasarnya bukan gereja yang berakar di dalam Yesus.

Atau sebaliknya, dapat saja seseorang membaca dan mempelajari Firman Tuhan serta setia mendengar pengajaran Firman Tuhan yang benar dan bertanggungjawab, namun apabila ia tidak melakukan kegiatan-kegiatan dan aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka sekalipun ia dikatakan berakar di dalam Yesus, namun hidupnya kurang dibangun di atas dasar kepercayaannya itu.

Singkatnya, organisma ada terlebih dahulu dan berasal dari Tuhan, setelah itu barulah muncul organisasi yang membantu organisma tersebut bukan saja hidup, melainkan juga bertumbuh.

Oleh karena itu, berakar dan berdasar ini merupakan satu kesatuan, kita harus memperhatikan kedua-duanya. Pengetahuan kita tentang Yesus Kristus harus diwujudnyatakan dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari. Demikian pula sebaliknya, aktivitas kehidupan kita sehari-hari harus di dasarkan pada pengetahuan yang benar tentang Yesus Kristus. Inilah pengertian yang mendasar dari istilah “berakar dan berdasar di dalam Kristus”

Semoga melalui tulisan ini, kita menjadi sadar bahwa menjadi orang Kristen itu bukan sekedar menjalani kehidupan agamawi atau menjalani ritual-ritual agama saja, menjadi orang Kristen itu pertama-tama sekali adalah mengenai kehidupan kita yang terikat dan bersumber pada Satu Pribadi yaitu Yesus Kristus.

Agama lain memiliki ritualnya sendiri-sendiri, namun sudah pasti mereka tidak terikat dan bersumber pada Yesus Kristus, mereka bahkan tidak percaya bahwa Dia adalah Allah. Inilah yang membedakan antara agama lain dengan kekristenan. Bukan beda dalam ritual, tetapi beda di dalam sumbernya. Seseorang dapat saja mengaku Kristen, tetapi ketika mereka meninggalkan Firman Tuhan (sumber utama untuk mengenal Pribadi Yesus Kristus), maka orang itu belum mengerti kekristenan yang sesungguhnya. Ia hanya sekedar menjalani ritual agama Kristen saja, namun bukan disebut sebagai bagian dari kekristenan. Kekristenan berakar dan berdasar di dalam Kristus.

Catatan:
Sebetulnya Efesus 3:17 menyebut kalimat “berakar dan berdasar di dalam kasih” namun kita tahu bahwa Kristus itu sendiri adalah kasih. Itu sebabnya dalam tulisan ini antara Kristus dan kasih tidak dipisahkan dalam penjelasannya.

Keywords:
Berakar di dalam Kristus
Berdasar di dalam Kristus
Berakar dan berdasar di dalam kasih
Berakar dan berdasar di dalam Kristus
Penjelasan Efesus 3:17
Tafsiran Efesus 3:17
Penjelasan singkat Yohanes 15:5
Penjelasan singkat Roma 12:1
Pengertian berakar dan berdasar dalam Kristus konteks pribadi
Pengertian berakar dan berdasar dalam Kristus konteks gereja
Organisme dan organisasi
Mengapa kita perlu berakar dan berdasar di dalam Kristus?

Artikel Kristen lainnya:

Siapakah yang dapat diselamatkan?
Seorang pemuda kaya datang pada Yesus untuk menemukan jalan ke surga, bagaimana akhirnya kisahnya? Baca disini

Apakah yang dimaksud dengan Semua orang telah berbuat dosa?
Roma 3:23 adalah ayat yang begitu terkenal dan sering kita kutip dalam pembicaraan sehari-hari di antara orang Kristen. Tetapi apakah arti sebenarnya dari ayat ini? Baca disini.

Benarkah Yesus tidak bangkit dari kematian?
Kubur Yesus telah ditemukan dan didalamnya berisi tulang belulang, seolah mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak bangkit. Tapi benarkah demikian? Bacaselengkapnya disini.

Apakah Tuhan mencobai manusia?
Sering kita bertanya-tanya mengapa cobaan datang ke dalam hidup kita? Apakah Tuhan sedang mencobai kita? Atau jika bukan Tuhan lalu siapa? Temukan jawabannya di sini.