Showing posts with label Roma. Show all posts
Showing posts with label Roma. Show all posts

Tuesday, April 2, 2024

Tantangan yang dihadapi Rasul Paulus di dalam jemaat Roma


Tantangan yang dihadapi Paulus di Roma

Mengapa Paulus menulis surat kepada jemaat Roma? 

Kita tahu bahwa setiap penulis Penjanjian Baru tergerak untuk menyampaikan sesuatu kepada jemaat, karena mereka melihat ada persoalan di dalam jemaat.

Para rasul menyampaikan ajaran kepada jemaat bukan karena mereka terlalu banyak waktu luang sehingga mencoba mengisi waktu dengan mengajar. Para rasul juga bukan mengajar karena mereka ingin mendapatkan uang. Para rasul itu mengajar dan menulis surat kepada jemaat karena mereka mengasihi Tuhan dan mereka melihat bahwa jemaat yang dikasihi Tuhan itu sedang membutuhkan pertolongan, agar mereka tidak sesat dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan.

Jemaat Roma yang berasal dari keturunan Yahudi merasa kecewa melihat sikap Tuhan yang seolah-olah lebih memberkati orang Kristen yang bukan berasal dari keturunan Yahudi seperti orang Romawi dan orang Yunani misalnya.

Mengapa jemaat Roma yang keturunan Yahudi itu merasa kecewa? Mereka merasa kecewa sebab melihat jumlah mereka yang semakin menyusut, kalah dibandingkan dengan jumlah jemaat Kristen yang non-Yahudi tadi. Orang Kristen Yahudi yang sebelumnya mayoritas, kini menjadi minoritas sebagai akibat dari diusirnya mereka dari Roma oleh Kaisar Klaudius (Kis 18:2).

Dalam anggapan mereka, bukankah orang Yahudi adalah bangsa pilihan Allah, dan bukankah sebagai orang Kristen pun mereka adalah umat pilihan Allah juga? Mereka melihat diri mereka sangat istimewa, bangsa pilihan Allah dan umat pilihan Allah sekaligus. Di atas bumi tidak ada golongan manusia yang begitu istimewa seperti ini, bukan?

Oleh karena itu, mereka kemudian bertanya-tanya, mengapa mereka harus mengalami kondisi yang agak memalukan seperti itu? Mengapa Tuhan menambah jumlah orang Kristen dari keturunan lain, tetapi membiarkan orang Kristen keturunan Yahudi malah menyusut dan jadi minoritas di Roma? Mengapa Tuhan bersikap pilih-pilih kasih seperti ini?

Demi mengajar jemaat Yahudi yang seperti inilah Paulus menulis surat Roma, agar jemaat di tempat itu berhenti menyalahkan Tuhan dan kembali melihat segala sesuatu dari perspektif yang benar, yaitu perspektif Tuhan semata-mata. Jemaat Kristen Yahudi di Roma harus melihat siapakah Kristus, siapakah diri mereka dan siapakah orang Kristen lain di hadapan Tuhan. Sehingga dengan demikian mereka bisa berhenti melihat diri sendiri terlalu istimewa hingga meremehkan orang lain dan bahkan sampai berani menyalahkan Tuhan pula.

Merasa istimewa dan merasa lebih baik daripada orang lain

Jemaat Yahudi di Roma merasa lebih istimewa karena mereka mempunyai Taurat, sementara bangsa-bangsa lain tidak. Taurat yang sesungguhnya merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan, kini disalah mengerti oleh orang Yahudi sebagai suatu identity marker, yang membuat mereka seolah lebih istimewa dari bangsa lain.

Atas kekeliruan itu, rasul Paulus memberi penjelasan bahwa Taurat memang berharga sebab Taurat adalah Firman Tuhan, dan bahwa bangsa Israel pun adalah orang yang berharga di mata Tuhan sebab kepada bangsa inilah Tuhan telah mempercayakan Firman-Nya.

Akan tetapi bangsa Israel seharusnya sadar, bahwa Taurat itu diberikan dengan tujuan untuk dibaca, diajarkan kepada orang lain dan untuk ditaati. Taurat tidak dimaksudkan untuk dipakai sebagai alat kebanggaan, apalagi sampai menjadi sarana untuk menjelek-jelekkan orang lain yang tidak menerima Taurat. Seharusnya, jika bangsa Israel sadar bahwa hanya kepada mereka Taurat telah diberikan, maka mereka juga sadar akan tanggungjawab untuk mengajar bangsa lain, memperkenalkan siapakah Tuhan yang sejati kepada bangsa lain.

Seharusnya bangsa Israel sadar bahwa keistimewaan mereka bukan terletak pada diri mereka sendiri, melainkan terletak pada Pribadi Tuhan yang mau memilih bangsa ini sebagai alat untuk memperkenalkan Diri-Nya pada dunia. Seharusnya bangsa Israel menerima status itu sebagai tanggungjawab yang harus dipikul. Sepatutnya bangsa Israel menjadi rendah hati di hadapan Tuhan, bukan malah menjadi sombong seperti itu.

Semua orang adalah orang berdosa di hadapan Tuhan

Di hadapan Tuhan, orang yang tidak diberikan Hukum Taurat, adalah orang berdosa, sebab kepada mereka telah diberikan hati nurani. Mereka bersalah karena sekalipun nurani mereka tahu apa yang benar dan apa yang salah, mereka telah memilih apa yang salah dan apa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Tetapi disisi lain, bangsa Yahudi sebagai bangsa yang punya Taurat, juga merupakan bangsa yang berdosa, sebab sekalipun mereka memiliki Taurat, mereka ternyata tidak taat pada Taurat itu. Oleh karena itu, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi semua sama-sama berdosa di hadapan Tuhan.

Inilah yang disebut sebagai universal unrighteousness atau universal sinfulness. Tidak ada seorang pun yang benar, sehingga tidak ada satu orang pun yang pantas mempertanyakan keadilan Tuhan. Sebab mempertanyakan tindakan Tuhan sama saja seperti mau menjadi hakim atas Tuhan. Sehingga seharusnya orang itu adalah sama benar atau bahkan lebih benar dari Tuhan. Faktanya, orang-orang seperti itu justru semakin berdosa di hadapan Tuhan.

Karena semua orang telah berdosa, dan sedang kehilangan kemuliaan Allah, maka semua orang pada dasarnya layak mendapat hukuman dari Tuhan. Bangsa Israel tidak patut merasa menjadi orang benar, sebab orang yang benar tidak akan mempertanyakan Tuhan, apalagi sampai menuduh Tuhan telah berlaku tidak adil. Orang yang benar seharusnya bersikap setia dan bergantung pada kesetiaan Tuhan.

Kesetiaan Tuhan dinyatakan melalui Injil-Nya.

Apa itu kesetiaan Tuhan? Kesetiaan Tuhan pada manusia yang berdosa adalah injil. Atas keberdosaan manusia, Tuhan akan memperlihatkan keadilan-Nya. Tetapi keadilan Tuhan dalam hal ini adalah Injil, dan bukan hukuman. Di dalam Injil itu nyata kebenaran Allah. Meskipun manusia tidak adil, berdosa, tetap Tuhan berkenan menyatakan kebenaran-Nya yaitu Injil baik bagi orang yang punya Taurat, maupun yang tidak punya Taurat.

Jadi Injil itu bukan hanya tentang jawaban bagi orang yang tidak yakin akan keselamatannya. Luther memang sempat bergumul di dalam keyakinan apakah Tuhan akan menyelamatkan atau tidak. Lalu kitab Roma ini membuat ia yakin. Tetapi aspek yang diliput oleh Roma ini jauh lebih luas dari sekedar menolong orang seperti Luther.

Tidak semua orang bergumul tentang hal yang sama, yaitu kekurangyakinan akan keselamatan. Orang Kristen berpikir bahwa cuma mereka yang punya keyakinan keselamatan, sedangkan orang di luar Kristen dianggap tidak ada keyakinan akan keselamatan. Tetapi Paulus sebelum menjadi pengikut Kristus, bukan orang yang tidak yakin akan keselamatan. Paulus justru sangat yakin pada kepercayaannya, makanya ia mencoba membasmi orang Kristen. Setelah berjumpa Kristus, Paulus yang yakin itu dibuat ragu-ragu lebih dahulu. Setelah itu barulah ia diberi keyakinan yang baru.

Paulus orang yang punya keyakinan yang kuat, hanya saja sebelumnya ia salah arah. Injil datang kepada Paulus untuk mengubah keyakinannya dari yang salah ke arah yang benar. Tantangan  yang dihadapi Paulus di jemaat Roma adalah jemaat yang sangat dikuasai oleh perasaan self righteousness dan self pride yang tinggi. Sikap semacam ini membuat manusia tidak akan mengerti Injil.

Kita bisa saja merasa atau mengaku diri sebagai orang Kristen, tetapi tanpa adanya pertobatan dari self pride yang seperti ini, bagaimana kita bisa mengerti Injil keselamatan Kristus yang sejati? Kita akan menjadi orang yang sulit mengampuni, sehingga tidak mungkin bagi orang seperti itu dapat menghayati pengampunan dari Allah. Bagi orang yang self righteous, justru orang lainlah yang harus bertobat karena mereka terlihat selalu salah. Dan apabila sudah seperti ini, maka akan berakibat, orang Kristen itupun pasti akan sulit untuk bertobat.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita dari jeratan self righteous seperti ini. Amin.

Monday, July 4, 2022

Semua orang menyeleweng, semua tidak berguna

Renungan singkat dari Roma 3:12


Banyak orang di dunia ini tidak merasa bahwa hidupnya berada dalam bahaya yang serius. Di satu sisi, mereka merasa tidak begitu religius atau suci seperti tokoh-tokoh agama, tetapi di sisi lain mereka juga merasa tidak begitu jahat seperti para perampok, pemerkosa, pembunuh, koruptor dan lain-lain kejahatan. Akibatnya, secara umum orang merasa bahwa diri mereka baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan, tidak ada yang perlu diubah, tidak ada yang perlu ditambahkan. Padahal tidak demikian adanya.

 

Baca Juga:
Tidak ada yang berakal budi, tidak ada yang mencari Allah. Klik disini.
Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Klik disini.

Sebab ketika diperhadapkan dengan standar Tuhan, ternyata semua orang tidak memiliki kualitas perbuatan yang baik di mata Tuhan. Firman-Nya berbunyi: “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Roma 3 : 12)

Mungkin kita tidak suka membaca kalimat seperti yang tertera di dalam ayat tersebut di atas. Ada kesan bahwa ayat ini terlalu menuduh kita sebagai orang yang tidak baik. Akan tetapi, kita mungkin perlu bertanya, mengapa Alkitab dapat mengatakan hal seperti itu? Apa yang dimaksud dengan perbuatan baik menurut Alkitab?

Perlu kita pahami bahwa untuk sebuah perbuatan disebut baik, maka ada standar-standarnya sendiri di dalam masyarakat, dan standar antara kelompok masyarakat yang satu bisa berbeda dengan standar dari kelompok masyarakat yang lain.

Contoh: bagi masyarakat Jawa adalah tidak baik jika orang bersendawa setelah makan, tetapi berbeda sekali dengan orang Batak, bersendawa[1] akan dianggap sebagai penghormatan dan menunjukkan rasa puas. Contoh lain lagi: Seorang suami umumnya akan mengamuk jika istrinya ditiduri orang. Tetapi berbeda dengan orang Eskimo, seorang tuan rumah bangsa Eskimo akan merasa bangga bila tamunya berkenan tidur dengan istrinya, demikian pula tamu itu akan merasa dihormati jika tuan rumah juga mau tidur dengan istrinya. Contoh lagi deh: Wanita mana yang mau dimadu bukan? Betapa sakit hatinya seorang istri yang mengetahui suaminya memiliki istri lain. Tetapi berbeda dengan di Afrika, ada suku tertentu di sana yang kaum istrinya akan merasa sedih dan malu jika suaminya hanya memiliki satu orang istri. Sebab orang lain akan memandang suaminya itu sebagai laki-laki yang tidak jantan. Mereka justru bangga jika suaminya memiliki banyak istri (berminat ke Afrika?).

Dari contoh-contoh ini jelaslah bahwa apa yang baik menurut standar daerah tertentu, bisa menjadi hal yang buruk bagi daerah lain, demikian pula sebaliknya.

Tetapi hal yang disebutkan di atas, tidak akan menjadi masalah bagi kita apabila kita tidak melanggar standar daerah tersebut[2]. Dan nampaknya keberagaman standar itu tidak menjadi masalah bagi kehidupan manusia pada umumnya. Tetapi yang jadi masalah adalah, hidup manusia bukan hanya berhenti di dunia ini. Suatu saat hidup kita akan berakhir dan kita akan menghadap Sang Pencipta, yang juga memiliki standar-Nya sendiri.

Dan karena semua orang pada akhirnya harus berurusan dengan Dia[3], maka semua orang pasti akan terkena masalah sebab tanpa basa-basi Alkitab sudah menyatakan bahwa: “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”

Jika kita tidak setuju dengan budaya Jawa, kita bisa pindah dari daerah yang sarat berbudaya Jawa ke daerah lain. Jika kita tidak suka dengan budaya Afrika, kita juga bisa pindah ke negara lain yang tidak menerapkan kebudayaan seperti di Afrika. Tetapi masalahnya, jika kita tidak setuju dengan standar yang ditetapkan oleh Tuhan, lalu kemana lagi kita bisa pindah? [Baca juga: Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Klikdisini.]

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, saya sudah pernah membahas tentang kondisi manusia yang secara objektif sudah mengalami kerusakan; baik statusnya, akal budinya maupun kehendaknya. Melalui tulisan kali ini dijelaskan pula bahwa perbuatannya pun dipandang tidak baik. Maka habislah sudah harapan yang ada di dalam diri manusia. Tidak ada yang dapat diharapkan dari dalam diri manusia. Yang ada hanya kehancuran dan hukuman kekal yang menunggu setelah kematian kita[4].

Selanjutnya Alkitab menampilkan potret manusia seperti ini: Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Roma 3:13-18)

Sebuah potret yang menyeramkan bukan? Selama ini, kita ternyata seperti seorang buruk rupa yang menipu diri sendiri dengan mengaku cantik, ketika tanpa pertimbangan yang matang mengatakan bahwa kita adalah orang baik-baik.

Rasul Yohanes menulis : “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita”. (1 Yoh 1:8)

Di manakah perbuatan baik yang sering kita bangga-banggakan itu? Seharusnya kita malu berbuat demikian dan mengaku seperti Nabi Yesaya yang mengatakan : “Demikianlah kami sekalian seperti orang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.” (Yesaya 64:6) Nabi Yesaya benar, segala kesalehan kita hanya seperti kain kotor di hadapan Allah, sama sekali tidak layak untuk dipersembahkan.

Semakin dekat dengan Tuhan, seseorang sebenarnya justru akan makin merasa tidak layak dan sadar akan keberdosaannya, bukan sebaliknya. Mengapa? Sebab Tuhan adalah terang kehidupan yang sejati, melalui terang-Nya segala dosa kita akan nampak. Melalui terang-Nya jiwa kita akan ditelanjangi.

Suatu kali ada sekelompok mahasiswa yang berwisata di G. Bromo. Mereka berangkat pagi-pagi sekali dari penginapan ketika hari masih gelap dan tiba di lereng bukit yang berpasir. Sambil menunggu datangnya fajar, mereka bersenda gurau sambil bermain lempar-lemparan pasir. Mereka tertawa-tawa gembira sambil balas membalas lemparan pasir dari temannya. Akhirnya, fajar menyingsing dan sinarnya yang kuning-merah memancar menerangi kawasan itu. Betapa terkejutnya pemuda dan pemudi ini ketika mereka menyadari bahwa tempat mereka main lempar-lemparan pasir itu ternyata penuh kotoran kuda yang mulai mengering.

Hanya terang yang dapat mengusir kegelapan. Hanya dalam teranglah, kotoran menjadi nampak. Yesus berkata : “Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8:12)

Tokoh-tokoh Alkitab yang berhadapan dengan Allah merasa tidak tahan, karena terang Allah segera menusuk jiwa mereka yang berdosa. Yesaya dengan ngeri berkata : “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis… namun mataku telah melihat Sang Raja! (Yes 6:5). Petrus gemetar ketika menyadari siapakah Yesus, sambil tersungkur ia berkata : “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa. (Lks 5:8).

Pada tahun 55 M, Paulus mengatakan dirinya paling hina di antara semua rasul (1 Kor15:9), tetapi tahun 60 ia sadar bahwa ia ternyata paling hina di antara semua anak Tuhan (Efesus 3:8). Baru tahun 65 M ia menyadari bahwa ia sebenarnya paling berdosa di antara semua orang berdosa (1 Tim 1:15).  Semakin bertambah usia, semakin bertambah banyak pelayanan yang dilakukan, tidak menjadikan Paulus semakin merasa diri sebagai orang suci. Sebaliknya ia semakin merasa sebagai orang yang sangat berdosa sehingga membutuhkan belas kasihan Tuhan.

Dekat dengan Tuhan membuat orang semakin sadar siapa dirinya sehingga tidak ada alasan sama sekali untuk sombong. Siapakah kita saat ini, sehingga mengira dapat datang ke Surga Tuhan dengan segala apa yang ada pada diri kita? Tanpa Kristus Yesus yang menyelamatkan kita, maka tidak ada harapan sama sekali bagi kita untuk luput dari hukuman Ilahi. Kiranya Tuhan menolong kita, kiranya Tuhan berbelas kasihan kepada kita.

Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Oleh: izar tirta).


[1] “Bersendawa” bahasa sehari-harinya adalah bertahak, yaitu mengeluarkan udara dari perut yang penuh berisi makanan sambil mengeluarkan bunyi ..eerrghh (selamat mencoba..)

[2] Seorang gadis muda pernah bertanya kepada saya, “Boleh engga sih saya ngomong cinta duluan ke cowok yang lagi saya taksir? Saya jawab : “Bukan boleh engga boleh, masalahnya apakah itu wajar di lingkunganmu? Menyatakan apa yang kita rasakan adalah baik, tetapi kamu akan dipandang rendah jika hal tersebut tidak lumrah. Sebab secara umum, masyarakat Timur belum semua bisa menerima hal tersebut, beda dengan masyarakat Barat.”

[3] Tidak menjadi soal jika saya tidak berhasil memenuhi standar hidup orang Inggris, karena saya toh tidak hidup di Inggris. Tidak menjadi soal jika saya tidak berhasil memenuhi standar hidup orang Jepang, karena saya tidak akan hidup dan tinggal di Jepang, tetapi akan jadi masalah jika saya tidak memenuhi standar Tuhan, karena suatu saat saya harus bertemu dengan Dia. Demikian juga semua orang lain di dunia.

[4] Siapakah di antara kita yang sungguh yakin bahwa perbuatan kita benar-benar baik; secara motivasi, secara kualitas, secara tujuan, secara fungsi, secara standar jika ditinjau dari sudut Allah? Jangankan dari sudut pandang Allah, dari sudut pandang manusia saja kita akan malu jika sungguh-sungguh mengenal diri kita. Saya berusaha mempelajari Psikologi dari buku-buku, karena berkaitan erat dengan profesi saya, dan saya menemukan bahwa ada begitu banyak cacat di dalam perilaku kita sehari-hari. Padahal itu baru ditinjau dari sudut Psikologi, ngeri rasanya membayangkan jika masalah ini ditinjau dari sudut pandang Allah. Kenyataan bahwa ada banyak orang yang merasa bahwa hidupnya baik-baik saja justru adalah fakta tentang betapa parahnya keadaan manusia. (Masih ingat dengan Adam ketika pertamakali berbuat dosa? Dia ketakutan setengah mati dan lari dari Allah. Kemanakah sekarang perasaan semacam itu di dalam diri kita??)

 

Monday, January 2, 2017

Eksposisi Roma 3:23 : Apa yang harus kita pahami dari ayat ini?



Pendahuluan

Roma 3:23 adalah sebuah ayat yang begitu terkenal di dalam kekristenan. Hampir semua orang Kristen mengetahui, bahkan hafal ayat ini. Roma 3:23 ini juga sering dipakai sebagai rujukan dalam pengajaran tentang manusia, dosa dan hubungannya dengan keselamatan di dalam Kristus. [Baca juga: Bagaimana mendapat kasih dan penghargaan dari Allah? Klik disini.]

Mengingat beberapa alasan-alasan tersebut, maka melalui tulisan ini saya akan mencoba menggali lebih dalam makna dari Roma 3:23, agar kita tidak saja merasa familiar dan bahkan hafal, tetapi juga diperlengkapi dengan pengertian yang lebih baik tentang ayat itu. [Baca juga: Iman Kristen mempunyai dasar yang teguh. Klik disini.]

Tulisan ini akan membahas:
-          Pengertian dari Roma 3:23 secara keseluruhan.
-          Siapakah yang dimaksud dengan semua orang di dalam Roma 3:23.
-          Apa yang dimaksud dengan “telah berbuat dosa” dalam Roma 3:23?
-          Apa yang dimaksud dengan “telah kehilangan kemuliaan Allah” dalam Roma 3:23?

Sehingga melalui penelusuran tersebut, kita dapat meyakini:
-          Mengapa kita membutuhkan seorang Juruselamat?
-          Mengapa perbuatan baik kita tidak mungkin dapat menyelamatkan kita dari keberdosaan?
-          Dalam hal apa ajaran Alkitab sangat berbeda dengan ajaran agama lain?



Cerita Alkitab untuk Balita. Klik disini.

Apa arti Roma 3:23?

Apa arti dari ayat Roma 3:23? Pengertian apa yang ingin disampaikan oleh ayat Roma 3:23 ini?

Dalam tulisan ini, saya akan mengajak kita semua melewati suatu perjalanan menarik untuk membedah Roma 3:23 dari setiap kata-kata yang ada di dalamnya. Saya berharap melalui pendekatan etimologi semacam ini, kita dapat menggali sebanyak mungkin kekayaan pengertian yang terkandung di dalam ayat yang sangat terkenal ini. [Baca juga: Mengapa Paulus rela terkutuk demi orang Israel yang berdosa? Klik disini.]

Untuk melakukan pendekatan semacam itu, mau tidak mau kita harus memakai bahasa Yunani sebagai pokok bahasannya. Karena bagaimanapun juga, itulah bahasa asli yang dipakai dalam manuskrip Perjanjian Baru.

Untuk mengeksposisi Roma 3:23, saya akan membagi tulisan ini ke dalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut:
-     Bag 1 : Pantes gar: siapa yang dimaksud dengan “semua”?
-     Bag 2 : hemarton: arti penting dari kata “telah”
-     Bag 3 : kai husterountai: sebuah kondisi yang mematikan
-     Sub 4 : tes doxes tou Teou: what do we miss?

Menurut LAI, Roma 3:23 berbunyi:
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

Menurut bahasa Yunani versi BYZ, Roma 3:23 berbunyi:
πάντες γὰρ ἥμαρτον καὶ ὑστεροῦνται τῆς δόξης τοῦ Θεοῦ/(dibaca: Pantes gar hemarton kai husterountai tes doxes tou Teou).

Bagian 1: Pantes gar
Siapakah yang dimaksud dengan “semua orangdalam Roma 3:23?

Kata pertama dari ayat ini dalam bahasa Yunani adalah pantes. Huruf “e” yang terdapat pada kata pantes tersebut adalah huruf “e” yang sama seperti yang terdapat pada kata “ekologi” dalam bahasa Indonesia, dan bukan seperti pada kata “endapan”

Dalam kata pantes ini terkandung pengertian “semua” atau “setiap.” Dari kata pantes ini jugalah kita mengenal istilah panteisme, yaitu suatu paham yang meyakini bahwa allah ada di dalam segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu adalah allah.[1] LAI sudah menerjemahkan dengan tepat kata “pantes” ini menjadi “semua orang.” Namun jika pantes berarti “semua orang,” maka pertanyaan berikutnya adalah “siapakah yang dimaksud dengan “semua orang” dalam Roma 3:23 ini?”

Mayoritas orang Kristen akan mengatakan bahwa “semua orang” dalam ayat ini menunjuk kepada semua orang secara umum atau semua orang tanpa terkecuali (all without exception), yaitu setiap manusia yang pernah lahir ke dunia ini. Menurut pandangan ini, rasul Paulus sedang menunjuk kepada seluruh umat manusia yang ada di dunia ini, baik yang masih hidup pada waktu surat Roma ditulis, maupun yang sudah meninggal, baik yang percaya pada Yesus, maupun yang tidak percaya. Tetapi benarkah demikian?

Bagi saya, pandangan yang mengatakan bahwa kata “semua” itu menunjuk pada pengertian “semua orang tanpa terkecuali” justru mempunyai beberapa kelemahan, yaitu:

Pertama, dari segi kalimat
Sebagaimana yang terlihat dalam terjemahan LAI, Roma 3:23 dimulai dengan kata-kata “karena semua orang .....” Perhatikan bahwa terdapat kata “karena” di awal kalimat tersebut. Kata “karena” adalah sebuah kata penghubung yang merangkaikan dua kalimat atau lebih menjadi satu kesatuan pemikiran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah “karena” ini berfungsi untuk menandai adanya relasi sebab akibat di antara klausa yang saling dihubungkan tersebut.

Oleh karena itu, kita tidak dapat membaca Roma 3:23 ini secara independen, terpisah dari kalimat-kalimat sebelumnya. Jika Roma 3:23 adalah sebuah kalimat yang memiliki relasi sebab-akibat, maka sudah sepatutnya jika kita juga memperhatikan kalimat lain yang memiliki hubungan erat dengan kalimat dalam Roma 3:23 tersebut, bukan?

Dalam bahasa Yunani, istilah yang dipakai untuk kata “karena” adalah γὰρ (dibaca: gar). Tidak seperti bahasa Indonesia, kata “gar” tidak berada di awal kalimat, tetapi pada urutan kedua, pantes gar. Meskipun demikian, fungsinya sama seperti kata “karena” dalam bahasa Indonesia, yaitu sebagai tanda bahwa kalimat itu adalah kalimat yang memiliki hubungan erat dengan kalimat sebelumnya atau sesudahnya. Jika demikian, pertanyaannya adalah: kalimat yang mana?

Mari kita lihat kalimat-kalimat yang berada disekitar Roma 3:23, agar kita dapat memiliki sudut pandang yang lebih luas terhadap persoalan ini:

21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,  22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.  23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,  24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (Roma 3:21-24)

Dari bahasa Indonesia ini saja, sebenarnya sudah cukup terlihat bahwa Roma 3:23 ini bukanlah kalimat yang berdiri sendiri. Kata “karena” dalam ayat itu mengawali sebuah kalimat yang berisi penjelasan terhadap kalimat sebelumnya, yaitu “Sebab tidak ada perbedaan.”

Lalu sekarang, apa yang ingin diterangkan oleh kata-kata “sebab tidak ada perbedaan” tersebut?

Yang ingin diterangkan oleh kata-kata “sebab tidak ada perbedaan” adalah bahwa kebenaran Allah yang berdasarkan iman kepada Yesus Kristus itu telah dinyatakan kepada semua orang percaya tanpa dibeda-bedakan. Mengapa tanpa dibeda-bedakan? Karena semua orang percaya itu telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Jelas bukan?

Oleh karena itu, “semua orang” dalam Roma 3:23 tadi, tidak lain dan tidak bukan adalah sama dengan “semua orang percaya” yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu ayat 22. “Semua orang” dalam Roma 3:23 itu bukan dimaksudkan untuk menunjuk kepada semua orang secara umum, all without exception, melainkan semua orang percaya, all without distinction, yang sudah disebutkan oleh ayat sebelumnya.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah membaca Roma 3:23 secara independen, terpisah dari konteks kalimat di mana ayat itu sendiri berada.

Saya memahami bahwa ini adalah gagasan yang tidak mudah untuk segera diterima, mengingat mayoritas buku-buku dan traktat yang kita miliki di Indonesia (bahkan mayoritas khotbah di mimbar) hampir semua mengarahkan pikiran kita untuk membaca “semua orang” itu sebagai “all without exception” dan bukan “all without distinction.” Oleh karena itu, jika penjelasan saya melalui konteks Bahasa Indonesia ini masih kurang memuaskan dan menimbulkan keragu-raguan bagi Anda, maka mari kini kita lihat lebih dalam lagi kepada Bahasa Yunaninya.

Kedua, dari unsur bahasa Yunani
Menurut Alkitab Yunani versi BYZ, Roma 3:21-24 berbunyi:

21  Νυνὶ δὲ χωρὶς νόμου δικαιοσύνη θεοῦ πεφανέρωται, μαρτυρουμένη ὑπὸ τοῦ νόμου καὶ τῶν προφητῶν· 22  δικαιοσύνη δὲ θεοῦ διὰ πίστεως Ἰησοῦ χριστοῦ εἰς πάντας καὶ ἐπὶ πάντας τοὺς πιστεύοντας· οὐ γάρ ἐστιν διαστολή· 23  πάντες γὰρ ἥμαρτον καὶ ὑστεροῦνται τῆς δόξης τοῦ θεοῦ, 24 δικαιούμενοι δωρεὰν τῇ αὐτοῦ χάριτι διὰ τῆς ἀπολυτρώσεως τῆς ἐν χριστῷ Ἰησοῦ·

(Dibaca: Nyni de choris nomou dikaiosune Teou pephanerotai marturoumeno hypo tou nomou kai ton propheton, dikaiosune de Teou dia pisteos Iesou Christou eis pantas kai epi pantas tous pisteuontas. Ou gar estin diastole. Pantes gar hemarton kas husterountai tes doxes tou Teou, dikaioumenoi dorean te autou chariti dia tes apolutroseos tes en Christo Iesou.)

Kata pantes dalam ayat 23 (cetak tebal) merupakan kata sifat, nominatif, maskulin (gender), plural (jumlah). Kaitan yang erat antara kata ini dengan kata-kata di dalam ayat 22 dapat ditelurusi dari gender (maskulin) dan jumlahnya (plural). Di antara kata-kata dalam ayat 22 hanya frasa εἰς πάντας καὶ ἐπὶ πάντας (dibaca: eis pantas kai epi pantas tous pisteuontas) yang bersifat maskulin dan plural. Arti dari frasa tersebut adalah “... bagi semua dan di atas semua yang percaya..”

Hal ini menjadi bukti yang kuat untuk meyakini bahwa “semua orang” dalam ayat 23 adalah sama dengan “semua yang percaya” dalam ayat 22.

Sekarang bagaimana jika ayat 23 kita kaitkan dengan ayat 24? Hubungan seperti apa yang akan kita dapatkan?

Ayat 24 berbunyi:
“...dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Kata “telah dibenarkan” atau “being justified” adalah δικαιούμενοι (dibaca: dikaioumenoi) dalam bahasa Yunani dan memiliki case sebagai nominatif, maskulin, plural. Hal ini serupa dengan kata pantes dalam ayat 23 diatas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa “semua orang” di dalam ayat 23 tersebut adalah mereka yang “telah dibenarkan” di dalam ayat 24. Tentu saja hal ini memiliki dampak yang serius secara teologi apabila kita mengatakan bahwa “semua orang” dalam ayat 23 tersebut menunjuk pada “semua orang tanpa terkecuali,” bukan?

Lagipula, istilah yang dipakai dalam ayat 22 adalah διαστολή (dibaca: diastole) yang berarti “distinction” ataupun “difference” dan bukan “exception.” Dalam bahasa Yunani exception diterjemahkan menjadi Εξαίρεση (dibaca: Exairese).

Ketiga, dari sudut pandang teologi
Jika “semua orang” dalam Roma 3:23 mengandung pengertian “all without exception” maka Yesus pun harus dimasukkan dalam kategori “semua orang” dalam ayat itu, bukan? Jika demikian, maka bukankah hal itu berarti bahwa Yesus Kristus pun termasuk Orang yang berpredikat “telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah?” Dan bukankah itu juga berarti bahwa Yesus Kristus adalah termasuk orang yang “telah dibenarkan secara cuma-cuma pula?”

Tentu saja jawabannya adalah tidak.

Lalu hal yang kedua, jika “semua orang” dalam Roma 3:23 mengandung pengertian “all without exception” maka bukankah itu berarti “semua orang” ini juga telah dibenarkan oleh kasih karunia sebagaimana yang tercantum dalam Roma 3:24? Jika ya, bukankah itu berarti Alkitab telah mengajarkan paham universalisme melalui kedua ayat tersebut?

Jawabannya sekali lagi adalah tidak.

Dari semua uraian ini, dapat kita simpulkan bahwa kata “semua orang” dalam Roma 3:23 bukan menunjuk pada semua orang di seluruh dunia ini, melainkan semua orang percaya yang telah berdosa, namun yang juga telah dibenarkan.

Jika demikian, apakah itu berarti bahwa kitab Roma tidak mengajarkan konsep keberdosaan yang universal? Tentu saja kitab Roma mengajarkan konsep keberdosaan yang universal, namun konsep tersebut tidak dibangun di atas dasar pasal 3 ayat 23 ini.

Konsep keberdosaan yang universal tersebut dapat kita temukan pada ayat lain, yaitu Roma 5:12 yang berbunyi:
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.



Bagian 2: hemarton
Arti penting dari kata “telah”


Apabila kita melihat Roma 3:23 itu dalam bahasa Yunani, maka kita akan temukan bahwa kata yang dipakai untuk “telah berdosa” adalah ἥμαρτον (dibaca: hemarton), yaitu sebuah kata kerja, indikatif, aorist, aktif, orang ke 3, jamak berasal dari kata dasar ἁμαρτάνω (dibaca: hamartano). Dan kata hamartano sendiri dapat ditelusuri hingga ke akar katanya ἁμαρτία (dibaca: hamartia)  

Cukup menarik untuk mengetahui bahwa hamartia sendiri adalah suatu istilah yang berasal dari panggung drama bernuansa tragedi dalam kebudayaan Yunani. Arti dari hamartia adalah meleset dari sasaran atau berbuat kesalahan.

Istilah hamartia ini pertama kali muncul dalam karya Aristoteles berjudul Poetics, yaitu suatu karya literatur yang bertemakan drama tragedi tadi. Di dalam karya tersebut, istilah hamartia dipakai untuk menggambarkan suatu situasi dimana sang tokoh utama yang berkarakter baik (biasanya kita sebut sebagai protagonist) melakukan suatu kesalahan atau cacat dalam suatu tindakan yang kemudian membawa dia pada serangkaian tindakan-tindakan salah yang berikutnya. Kekeliruan demi kekeliruan tersebut akhirnya menyeret sang protagonist ke dalam situasi yang sangat buruk, sehingga keadaannya yang sebelumnya baik, kini berubah secara bertolak belakang menjadi suatu keadaan yang buruk.

Kesalahan yang dilakukan oleh protagonist itu dapat berupa ketidakpedulian atau kesalahan dalam mengambil tindakan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Bahkan kesalahan tersebut dapat pula berupa sebuah cacat di dalam karakternya, dan lain sebagainya.

Istilah hamartia ini, atau istilah lain yang mendekati atau memiliki hubungan erat dengan hamartia muncul beberapa kali di dalam Alkitab. Misalnya di dalam 1 Kor 7:28, yang berbunyi: “Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.

Di dalam 1 Kor 7:28, hamartia diterjemahkan sebagai berdosa atau berbuat dosa.

Istilah hamartia atau hamartano juga muncul di dalam Lukas 15:18, yang berbunyi:
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

Pada bagian ini, hamartia juga diartikan sebagai berdosa, dan diberi keterangan tambahan yaitu berdosa terhadap sorga dan berdosa terhadap sang bapa yang baik. (Selanjutnya, istilah hamartia muncul pula di ayat-ayat lain seperti Matius 12:31, Yoh 8:21, Yohanes 9:41, 1 Kor 15:56, Yakobus 1:15, 1 Yoh 3:4 dan masih banyak lagi.)

Sebagaimana telah saya sampaikan di atas, kata ἥμαρτον (dibaca: hemarton), merupakan sebuah kata kerja, indikatif, aorist, aktif, orang ke 3, jamak

Kata kerja aorist sendiri merupakan kata kerja mengenai suatu tindakan yang terjadi di masa lalu dan membawa efek hingga sekarang.

Sehingga hemarton disini mengungkapkan sebuah keadaan atau suatu tindakan yang dilakukan pada masa lampau namun akibat dari tindakan tersebut masih dirasakan dampaknya hingga saat ini. 

Telah meleset, telah tidak tepat sasaran. Penekanan pada kata telah, artinya sesuatu yang sudah terjadi pada masa lampau sehingga tidak dapat diubah kembali tanpa melalui tindakan lain sebagai tambahan.

Hal ini penting untuk kita pahami, yaitu Alkitab menekankan suatu konsep bahwa diri kita sendiri sudah tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu tersebut. Sama seperti kita tidak dapat mengubah siapa orang tua biologis kita atau mengubah tempat dan tanggal lahir kita. Semua itu sudah terjadi di masa lalu dan kita hanya dapat menerima dampaknya secara pasif.


Bagian 3: kai husterountai

Kata “kai” dalam kalimat ini merupakan kata penghubung yang sama dengan istilah “dan” dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya kata ini jelas sekali mengindikasikan bahwa terdapat hubungan antara kata “hemarton” dan “husterountai” ini.

Kata “husterountai” merupakan kata kerja present, indicative, passive, orang ke 3, jamak. Dan kata ini berasal dari kata kerja ὑστερέω (dibaca: hustereo) yang berarti: fall behind, lacking, fall short, suffer need dan inferior.

Dari kata tersebut kita memperoleh gambaran bahwa sebagai makhluk yang di masa lampau telah berbuat dosa, kita umat manusia juga sedang mengalami kemerosotan. Dan bentuk pasif dari kata tersebut mengindikasikan bahwa secara pasif kita ditarik ke bawah oleh sebuah kuasa yang lebih besar dari kuasa kita.

Kemerosotan yang kita alami tersebut merupakan sebuah kekuatan yang menarik kita ke bawah sedemikian rupa sehingga kita sendiri tidak berdaya menghadapi situasi tersebut.

Pemahaman ini penting untuk kita pahami agar kita tahu bahwa menurut ajaran Alkitab, tidak ada seorang manusia berdosa pun yang punya kekuatan untuk melawan keberdosaan dirinya tersebut. Dosa yang ada pada diri manusia, membuat manusia tersebut mengalami kemerosotan yang tidak mungkin ditanggulanginya sendiri.

Pada bagian berikut kita akan melihat dalam hal apakah kita telah mengalami kemerosotan?


Bagian 4: tes doxes tou Teou

Arti dari kata tes doxes tou Teou adalah kemuliaan yang dimiliki oleh Allah. Kita adalah ciptaan yang paling mulia, karena kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Seharusnya, penciptaan kita dimaksudkan untuk menjadi pemancar kemuliaan Allah bagi seluruh ciptaan yang lain. Namun, melalui peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, gambar kemuliaan Allah yang semula ada di dalam diri kita itu kini mengalami kemerosotan yang berkesinambungan.


Kesimpulan
Roma 3:23 adalah sebuah ayat yang tidak dapat dibaca secara berdiri sendiri sebagaimana yang sering kita lakukan selama ini terhadap ayat ini.

Ayat ini bukan ditujukan secara khusus untuk mengajarkan bahwa semua manusia telah berdosa, sebaliknya, ayat ini justru ingin mengajarkan bahwa semua orang percaya yang telah berdosa itu, kini telah dibenarkan.

Jadi, penekanan ayat ini adalah pada anugerah pembenaran yang diberikan kepada semua orang percaya yang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah tersebut. Ayat ini ingin memberi pengarahan kepada kita bahwa sebagai orang percaya kita tidak lagi dibeda-bedakan secara suku, ras, pekerjaan, jabatan, denominasi atau apapun. Kita dipersatukan oleh Tuhan kita melalui pembenaran secara cuma-cuma sekalipun kita semua adalah orang yang berdosa. Perlu kita pahami, bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang di Roma yang dapat dikatakan sebagai gentile, baik yang berasal dari kebangsaan Romawi maupun Yunani. Sangat masuk akal jika Paulus memberi encourage kepada mereka bahwa di hadapan Tuhan mereka bukanlah warga kelas dua apabila dibandingkan dengan orang Yahudi yang telah lebih dulu menerima anugerah berita Injil. Mereka sama diterimanya oleh Allah seperti orang-orang Yahudi sebab Allah tidak membeda-bedakan. Mereka sama diterimanya oleh Allah seperti orang-orang Yahudi sebab seperti orang Yahudi, mereka semua pun, baik Yunani maupun Romawi adalah orang yang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

Konsep keberdosaan semua manusia, baik yang percaya maupun yang tidak, memang diajarkan pula di dalam kitab Roma, namun bukan ditekankan melalui ayat ini, melainkan secara khusus dapat dilihat pada Roma 5:12.

Meskipun demikian, melalui Roma 3:23 ini setidaknya kita dapat memperoleh gambaran betapa sebagai orang berdosa kita tidak mungkin mampu mengatasi keberdosaan kita itu dengan kekuatan kita sendiri. Sebaliknya, secara pasif atau secara tak berdaya, kita telah diseret ke dalam suatu kemerosotan yang menjauhkan kita dari kemuliaan Allah yang semula ditanamkan dalam diri kita.

Konsep yang disampaikan dalam Roma 3:23 ini berbeda dengan konsep yang dimiliki oleh agama-agama yang tidak didasarkan pada ajaran Alkitab. Dalam agama-agama lain tersebut, umat diajarkan bahwa manusia masih mampu mengatasi dosa mereka melalui perbuatan baik yang mereka lakukan. Seakan-akan perbuatan baik tersebut mampu menetralisir sifat keberdosaan yang ada di dalam diri kita. Konsep ajaran semacam ini tidak kita temukan di dalam Alkitab dan Roma 3:23 adalah salah satu ayat yang justru menentang konsep tersebut.

Roma 3:23 ini kembali menyiratkan kebutuhan kita akan seorang Juruselamat yang mampu menyelamatkan kita dari situasi yang mematikan tersebut. Dan di dalam bagian-bagian lain dari Alkitab kita tahu bahwa Juruselamat tersebut adalah Yesus Kristus.

Kiranya melalui penelusuran ini kita semakin mengenal ajaran inti (core teaching) dari Alkitab kita sehingga kita tidak mudah digoyahkan oleh ajaran-ajaran lain yang berbeda dan bahkan bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Alkitab kita.

Tuhan memberkati.

Tema/pokok pikiran/kata kunci dari tulisan ini:
Eksposisi Roma 3:23
Bahan renungan Roma 3:23
Bahan khotbah dari Roma 3:23.
Apa yang dimaksud dengan “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”?
Siapakah yang dimaksud dengan “semua orang” dalam kalimat “semua orang telah berbuat dosa”
Apa yang diajarkan oleh Roma 3:23.
Mengapa kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari dosa?
Mengapa kita membutuhkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita?
Dalam hal apakah ajaran Alkitab berbeda dengan ajaran agama lain?
Apakah dampak dari dosa terhadap diri kita?
Apakah dampak dari dosa terhadap hubungan kita dengan Tuhan?
Roma 3:23 sering dipakai sebagai rujukan dalam pengajaran tentang manusia, dosa dan hubungannya dengan keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Apa yang dimaksud dengan “telah berbuat dosa” dalam Roma 3:23?
Apa yang dimaksud dengan “telah kehilangan kemuliaan Allah” dalam Roma 3:23?
Mengapa perbuatan baik kita tidak mungkin dapat menyelamatkan kita dari keberdosaan?


[1] Alkitab tentu saja tidak setuju dengan pandangan panteisme ini.