Showing posts with label Lukas. Show all posts
Showing posts with label Lukas. Show all posts

Thursday, December 25, 2025

Beberapa pandangan mengenai Perjamuan Kudus

Matius 26:26-28 26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." 27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.


 

Berbeda dengan Gereja Katolik Roma yang mengakui hingga sebanyak tujuh sakramen di dalam gereja mereka, Gereja Kristen Protestan dan Pentakosta hanya mengakui dua sakramen saja, yaitu sakramen Baptis dan sakramen Perjamuan Kudus.

Namun dalam tulisan ini, yang akan saya bahas hanyalah mengenai Perjamuan Kudus saja, yaitu dimana kita akan mencoba melihat dan merenungkan tentang peristiwa apakah yang sesungguhnya terjadi di dalam seremonial atau sakramen Perjamuan Kudus itu? [Baca juga: Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku. Klik disini.]

Dari penelusuran yang saya lakukan, saya mendapati bahwa mencoba memahami apa yang terjadi di dalam peristiwa Perjamuan Kudus ternyata bukanlah merupakan perkara yang mudah. Hal itu terlihat dari munculnya beberapa pandangan di antara para teolog, dan antara pandangan dari teolog yang satu dengan pandangan dari teolog yang lain, terdapat berbagai perbedaan. Dan hingga hari ini, masing-masing teolog itu melahirkan aliran yang terus berjalan secara berbeda satu sama lain.

Tercatat ada 5 pandangan terhadap Perjamuan Kudus, di sepanjang sejarah gereja, yaitu:

  • ·       Transubstansiasi : dianut oleh gereja Katolik Roma
  • Consubstansiasi : dikemukakan oleh Martin Luther
  • Memorialism : dikemukakan oleh Zwingly
  • Reformed : dikemukakan oleh John Calvin
  • Misteri Ilahi: dianut dalam gereja Ortodoks Timur, dengan Yohanes Krisostom sebagai tokohnya

Tetapi dari 5 pandangan itu, dapat dikatakan hanya 4 pandangan saja yang paling populer dan lebih dapat diartikulasikan sebagai bahan pengajaran bagi kita orang Kristen, sedangkan pandangan ke 5 yaitu pandangan Misteri Ilahi merupakan pandangan yang mungkin agak sulit untuk dibicarakan karena pandangan ini memiliki begitu banyak unsur misteri di dalamnya. Bukankah apabila segala sesuatu tinggal tetap sebagai misteri, maka hal itu menjadi lebih sulit untuk dibicarakan?

Oleh karena itu, berikut ini, kita akan fokus pada ke 4 pandangan lainnya yang disebutkan tadi. Kita akan mencoba melihat satu persatu aspek-aspek apa saja yang ada di dalam masing-masing pandangan tersebut.

Transubstansiasi

Berasal dari dua perkataan, yaitu Trans dan Substansiasi, atau Substansi.

Trans artinya berpindah atau mengalami perbuahan. Pada awalnya istilah ini untuk menggambarkan perpindahan barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Perpindahan memakai istilah Trans. Sedangkan pelabuhan memakai istilah Port. Sehingga perpindahan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain disebut sebagai Transport.

Pada perkembangannya, istilah transport tersebut dipakai secara umum (general) sebagai model perpindahan dengan menggunakan kendaraan dari satu tempat ke tempat lain. Titik awal dan titik akhir perpindahan sudah tidak harus berupa pelabuhan dalam arti harafiah, melainkan dapat menjadi titik atau tempat apa saja. Dari rumah ke sekolah, dari kantor ke pasar dan lain sebagainya. Setiap ada perpindahan yang memakai kendaraan tertentu, maka kita memahaminya sebagai transportasi.

Substansi berarti bahan atau materi yang ada di dalam suatu benda, apakah itu benda padat, benda cair ataupun gas.

Oleh karena itu, Transubstansiasi dapat dimaknai sebagai adanya perubahan benda atau perubahan bahan, atau perubahan materi, atau perubahan substansi. Dari sebuah materi yang sebelumnya terbuat dari bahan A, berubah menjadi materi yang terbuat dari bahan B.

Perjamuan kudus menurut sudut pandang penganut teori Transubstansiasi adalah suatu peristiwa dimana terjadi perubahan substansi dari roti dan anggur, menjadi substansi yang lain. Dari yang semula roti, berubah menjadi daging. Dari yang semula anggur, berubah menjadi darah.

Pandangan seperti ini dianut oleh gereja Katolik Roma hingga sekarang. Mereka mengacu pada perkataan dalam Injil Yohanes 6:55-56, yang berbunyi: 55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. 56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Kelemahan dari pandangan Transubstansiasi

Sebagai orang Kristen, saya menganggap pandangan dari gereja Katolik tersebut memiliki kelemahan yang mendasar. Mereka sepertinya telah memahami ayat dalam Yohanes 6 tadi dari sudut pandang yang semata-mata literal. Padahal sewajarnya ungkapan tersebut harus dilihat sebagai sebuah ungkapan metafora saja.

Jadi menurut saya, pandangan Transubstansiasi ini, terlalu menekankan pada aspek fisikalitas dari roti dan daging, serta dari anggur dan darah, sehingga kurang melihat dari aspek spiritualitasnya, sebagaimana yang dipahami oleh pandangan Reformed.

Saya yakin, bahwa perkataan dalam Yohanes 6 tadi, pasti bukan harus dimaknai secara literal, sebab aktivitas memakan daging dan darah manusia, sekalipun manusia itu adalah Yesus Kristus, sudah pasti merupakan tindakan kanibalisme yang tentu bertentangan dengan nafas dari keseluruhan Kitab Suci itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa ayat dalam Alkitab yang melihat tindakan memakan daging manusia sebagai tindakan yang tidak seharusnya terjadi.

Imamat 26:27-29 27 Dan jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mendengarkan Daku, dan hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, 28 maka Akupun akan bertindak keras melawan kamu dan Aku sendiri akan menghajar kamu tujuh kali lipat karena dosamu, 29 dan kamu akan memakan daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan.

Dalam ayat-ayat dari Imamat di atas, tindakan memakan daging anak merupakan dampak dari hukuman Tuhan kepada umat yang tidak mau mendengarkan Tuhan serta hidup bertentangan dengan Dia.

Ulangan 28:53 Dan engkau akan memakan buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu.

Dalam ayat dalam Ulangan ini, sekali lagi diungkapkan bahwa tindakan memakan daging anak-anak merupakan akibat dari penghukuman Tuhan kepada umat-Nya. Tindakan tersebut merupakan tindakan yang sudah sangat putus asa di tengah-tengah penderitaan dan kelaparan yang menghimpit umat Tuhan karena ketidaktaatan mereka.

Yeremia 19:8-9 8 Aku akan membuat kota ini menjadi kengerian dan menjadi sasaran suitan. Setiap orang yang melewatinya akan merasa ngeri dan bersuit karena segala pukulan yang dideritanya. 9 Aku akan membuat mereka memakan daging anak-anaknya laki-laki dan daging anak-anaknya perempuan, dan setiap orang memakan daging temannya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhnya kepada mereka dan oleh orang-orang yang ingin mencabut nyawa mereka.

Gambaran di dalam kitab Yeremia juga masih sama dengan apa yang sudah pernah diungkapkan oleh Imamat maupun Ulangan dan bahkan di dalam Ratapan 2:20 (silahkan dibaca sendiri).

Yehezkiel 5:9-10 9 Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat. 10 Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin.

Kitab Yehezkiel juga memperlihatkan pola yang sama, yaitu tindakan memakan anak atau memakan anggota keluarga sebagai sebuah bentuk penghukuman Tuhan kepada umat, karena adanya ketidaktaatan yang membuat Tuhan murka.

Dari sekian banyak ayat Firman Tuhan yang kita kumpulkan, kita dapat menyimpulkan bahwa sangatlah tidak cocok apabila kita melakukan tindakan memakan roti dan anggur, yang kemudian berubah menjadi tubuh dan darah Tuhan Yesus, dalam sebuah sakramen yang kita kenal sebagai Perjamuan Kudus. Sebab kematian Tuhan Yesus merupakan kematian yang bersifat pengorbanan untuk menebus dosa, sebuah tindakan mulia yang terukur dan terencana oleh Tuhan Yesus sendiri, dan dengan hasil yang positif, yaitu keselamatan dan pertumbuhan spiritualitas umat.

Hal tersebut tentu sangat berbeda dengan tindakan memakan tubuh anak-anak karena didorong oleh tindakan putus asa di dalam kelaparan hebat yang disebabkan oleh hukuman Tuhan kepada umat yang berdosa tersebut, bukan?

Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa pandangan yang mengatakan bahwa roti dan anggur berubah secara substansi menjadi daging dan darah merupakan pandangan yang memiliki arah yang tidak sesuai dengan prinsip pengajaran di dalam Alkitab.

Kelebihan dari pandangan Transubstansiasi

Meskipun mempunyai kelemahan, tetapi pandangan Transubstansiasi masih memiliki kelebihannya pula, yaitu adanya penekanan pada kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ibadah. Hal ini sangat penting untuk menjadi bagian dari iman kita. Sebab iman kita bukan berpijak pada sesuatu yang kosong, melainkan pada sesuatu yang nyata. Gereja Katolik Roma ingin menekankan bahwa di dalam peristiwa Perjamuan Kudus, kehadiran Tuhan Yesus sungguh amat nyata, yaitu di dalam roti dan anggur yang telah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

Consubstantiation/Consubstansiasi

Pandangan ini diusulkan oleh Martin Luther (1483-1546). Istilah Consubstansiasi terdiri dari dua kata, yaitu Cons yang berarti: bersama-sama, dengan, with. Dan Substansiasi atau Substansi yang berarti bahan atau materi atau zat yang terdapat di dalam suatu benda.

Di dalam pandangan Consubstansiasi ini, roti tetap roti, anggur tetap anggur, tidak ada perubahan zat sebagaimana yang dipercayai oleh penganut Transubstansiasi. Akan tetapi tubuh Tuhan Yesus diyakini hadir bersama-sama, hadir di dalam roti yang dimakan oleh jemaat dan hadir pula di dalam anggur yang diminum. Dalam istilah Luther, tubuh dan darah Kristus itu hadir secara “in, with and under.” Tubuh dan darah Kristus hadir “di dalam, bersama-sama dan di bawah roti” dan anggur tersebut.

Untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan in, with and under tadi, Martin Luther memakai analogi besi yang dipanaskan di dalam api hingga membara kemerahan. Besi tadi masih hadir sebagai besi, api juga hadir sebagai api, tetapi mereka hadir bersama-sama secara dipersatukan, menjadi besi yang merah membara.

Luther juga bahkan menyinggung persamaan dalam peristiwa roti dan anggur ini dengan dwi nature dari Yesus Kristus yang 100% adalah Allah tapi sekaligus 100% adalah juga Manusia.

Kelemahan dari pandangan Consubstansiasi

Meskipun roti tidak berubah menjadi daging, namun ada kesan bahwa tubuh itu benar-benar hadir secara fisik, secara “in, with and under” dengan roti. Sehingga ketika kita memakan roti itu, maka kita juga seakan-akan memakan tubuh Tuhan secara jasmani. Akibatnya, pandangan ini, walau terkesan lebih baik dari pandangan Transubstantia, namun pada dasarnya cukup memiliki kesamaan.

Kelebihan dari pandangan Consubstansiasi

Sama seperti Transubstantia, pandangan Consubstantia ini juga menekankan arti penting dari kehadiran Kristus yang nyata di dalam ibadah.

Memorialism

Pandangan Memorialism, dipopulerkan oleh Zwingly (1484-1531). Agaknya Zwingly mendasarkan teologi Perjamuan Kudus-nya ini pada: Lukas 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."

Zwingly memahami Perjamuan Kudus sebagai sebuah seremoni peringatan terhadap Tuhan Yesus, yaitu saat:

  • ·       memecahkan roti bersama para murid, makan bersama (fellowship)
  • tubuhnya terpecah di kayu salib (pengorbanan)

Kelemahan dari pandangan Memorialism:

Pandangan Memorialism ini kurang atau bahkan tidak menekankan pada kehadiran Kristus secara nyata dalam ibadah. Pandangan ini cenderung menekankan pada aspek pengingat (reminder) saja, merenung serta mengenang perbuatan yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Namun persoalannya adalah, apabila peristiwa Perjamuan Kudus hanya sebagai unsur pengingat, maka kurang ada alasan yang kuat bagi jemaat untuk hadir bersama-sama digereja, sebab untuk mengingat perbuatan Tuhan, pada dasarnya bisa dilakukan di mana saja. Secara bersama-sama di gereja boleh, secara sendiri-sendiri di rumah pun tidak apa. Sehingga kurang ada makna yang mendalam bahwa Perjamuan Kudus ini merupakan peristiwa yang spesial, sakral, komunal dan spiritual.

Sebagai perbandingan, pandangan Transubstansia dan Consubstansia, meskipun memiliki kelemahan yang mendasar, tetapi memiliki kelebihan yaitu menekankan pada kehadiran Kristus yang nyata di dalam ibadah. Sehingga hal ini menjadi dorongan yang besar bagi jemaat untuk turut hadir di gereja bersama-sama dengan umat percaya yang lain. Sebab bagaimana mungkin kita bisa melakukan perjamuan Kudus sendirian di rumah, apabila Yesus Kristus sendiri diyakini sebagai Dia Yang Hadir di dalam ruang ibadah?

Lagipula, apabila kita hanya bermaksud untuk mengingat, maka sebetulnya tidak ada suatu urgensi untuk secara aktual memakan roti dan meminum anggur. Kita bisa mengingat Tuhan Yesus sambil menyaksikan peristiwa tersebut tanpa ada urgensi untuk ikut makan dan ikut minum. Atau kita bisa mengingat Tuhan Yesus sambil berkumpul dan menikmati makanan lain yang terasa lebih cocok dengan selera. Roti mungkin diganti menjadi nasi, sedangkan anggur diganti dengan minuman lain yang lebih sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Mengganti roti dengan makanan lain, atau anggur dengan minuman lain, mungkin tidak dapat dikatakan sebagai dosa, sebab iman Kristen bukanlah iman legalis, yang sangat bergantung pada aspek lahiriah seperti itu. Akan tetapi jika roti dan anggur kita tinggalkan demi menyesuaikan diri dengan selera makan dan minum orang Indonesia atau demi tujuan kepraktisan, maka lambat laun kita akan semakin kehilangan makna dari hidup dan pengorbanan Tuhan Yesus. Roti dan anggur memiliki simbolisasinya sendiri, serta memiliki sejarahnya sendiri, sehingga rasanya sangat tidak tepat apabila kita sembarangan saja mengganti ke dua elemen tersebut dengan makanan kita sehari-hari.

Reformed

Pandangan yang ke 4 adalah pandangan dari aliran gereja Reformed, yaitu pandangan yang dikemukakan oleh John Calvin (1509-1564).

Terlepas dari aliran gereja apa yang sedang kita ikuti ibadahnya saat ini, saya pikir tidak ada salahnya bagi seseorang untuk belajar melihat peristiwa Perjamuan Kudus melalui kacamata Reformed, sebab menurut saya, pandangan ini merupakan penggambaran yang dapat dikatakan paling lengkap serta paling mendekati maksud dari Alkitab.

Menurut pandangan Reformed, roti tetaplah roti, anggur juga tetap anggur. Tidak ada perubahan substansi seperti yang dipahami para penganut pandangan Transubstantia. Ketika jemaat menerima roti atau hosti, maka yang dimakan adalah benar-benar roti, benar-benar makanan. Dan ketika jemaat menerima anggur, maka yang diminum adalah benar-benar anggur, benar-benar merupakan minuman. Sehigga dalam hal ini, tidak ada persoalan mengenai tindakan memakan daging manusia atau meminum darah manusia.

Di sisi lain, bagi penganut pandangan Reformed, perayaan Perjamun Kudus di gereja juga bukanlah sekedar sebuah peringatan saja, sebagaimana yang dipahami oleh kaum Memorialism, sebab pandangan Reformed juga sangat menekankan pada kehadiran Tuhan Yesus yang nyata di dalam ibadah, yaitu kehadiran secara spiritual, sebuah kehadiran yang tidak terlihat oleh mata (non-visible), tetapi benar-benar nyata.

Jadi disatu sisi, ada kehadiran yang bersifat jasmaniah (atau fisikal atau materi), atau kehadiran yang terlihat oleh mata (Visible), yaitu melalui roti dan anggur tersebut. Tetapi ada pula kehadiran yang bersifat rohaniah atau non-visible itu tadi. Roti dan anggur yang bersifat jasmani serta visible itu, menjadi jembatan atau batu loncatan kepada sesuatu yang invisible, yaitu tubuh Tuhan secara rohani.

Oleh karena itu, pada waktu kita makan roti dan minum anggur, maka di satu sisi roti dan anggur itu bersatu dengan tubuh kita, sedangkan di sisi yang lain, roh kita pun dipersatukan dengan Tubuh Kristus yang rohani, sehingga melalui peristiwa ini, kita mengalami sebuah peristiwa yang sangat besar dan agung, yang disebut sebagai union with Christ. Peristiwa persatuan tubuh rohani kita dengan tubuh rohani Tuhan Yesus bukan saja merupakan sebuah peristiwa besar, tetapi juga peristiwa yang unik, spesial dan sangat sakral. Sehingga sangat disayangkan apabila ada seorang jemaat yang melewatkan peristiwa ini bersama-sama dengan umat percaya lain di dalam komuitas gereja.

Sebagai umat percaya, kita sering disebut pula sebagai tubuh Kristus. Hal itu dapat kita lihat di dalam sebuah peristiwa di mana Saulus menganiaya gereja, maka Tuhan Yesus sendiri menampakkan diri di hadapan Saulus serta berkata: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? (Kis 26:14)

Di sini kita melihat adanya suatu kesamaan tubuh antara tubuh jemaat dan tubuh Yesus Kristus, sehingga ketika Saulus menganiaya tubuh jemaat, maka Tuhan Yesus pun merasakannya dan menganggap bahwa aniaya yang dilakukan Saulus itu telah dilakukannya juga kepada Dia.

Bagaimana kita menanggapi hal ini? Tentu saja kita tidak dapat melihat kesatuan tubuh jemaat dan tubuh Tuhan ini dari sudut pandang yang jasmani bukan? Kita hanya dapat melihat kesatuan tubuh semacam itu dari suduh pandang yang rohani.

Sekarang mari kita lihat kembali ke dalam peristiwa Perjamuan Kudus. Semua orang percaya berkumpul di gereja, sebagai tubuh Kristus, lalu Kritus hadir secara spiritual bersama jemaat dan hadir pula secara jasmani di tengah-tengah jemaat, yaitu diwakilkan oleh roti dan anggur yang akan mereka makan. Sungguh merupakan gambaran peristiwa yang lengkap dan sesuai dengan konteks ayat Firman manapun.

Hal seperti ini, tentu sangat jauh berbeda dengan pandangan Memorialism yang hanya menekankan pada aspek mengingat atau mengenang saja. Memang mengenang atau mengingat pun sudah merupakan perbuatan yang baik, tetapi ada kejadian yang jauh lebih dalam, lebih bermakna, lebih khusus di dalam peristiwa Perjamuan Kudus, jika kita melihat dari sudut pandang Reformed.

Sakramen Perjamuan Kudus menjadi sesuatu yang sangat spesial di dalam pandangan Reformed, karena peristiwa ini begitu lengkap, aspek fisikal dan spiritual, jasmaniah dan rohaniah kita sebagai orang Kristen, tersentuh semua melalui Perjamuan Kudus tersebut.

Selain itu, penting pula untuk dicatat bahwa menurut pandangan Reformed, di dalam seremoni Perjamuan Kudus, maka bukan Tuhan Yesus yang secara spiritual turun ke bumi, melainkan diri kitalah yang (secara spiritual)  diangkat ke sorga untuk makan bersama dengan Tuhan. Hal ini diangkat dari sebuah prinsip yaitu bahwa semenjak Tuhan Yesus naik ke sorga, maka hingga saat inipun Tubuh Tuhan Yesus tetapi ada di sorga, hingga suatu hari ini Dia akan turun kembali ke bumi.

Penutup

Kiranya melalui penuturan tentang berbagai pandangan dari Perjamuan Kudus ini, kita kembali merenungkan akan pemahaman kita selama ini. Pandangan yang manakah yang kita anut selama ini? Meskipun setiap orang bebas untuk memilih bagaimana cara mereka memahami Perjamuan Kudus, tetapi adakah suatu kemungkinan, setelah membaca ini, kita mengubah sudut pandang kita yang lama dan belajar untuk merangkul pandangan baru yang didasarkan pada tafsiran Alkitab yang lebih lengkap?

Kiranya Tuhan Yesus memberkati dan menolong kita. Amin.

Baca juga:
Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus
. Klik disini

 

Catatan:
Membahas Perjamuan Kudus membutuhkan waktu dan materi yang lebih banyak sehingga di waktu mendatang kita tentu akan perlu melanjutkan pembahasan tentang Perjamuan Kudus ini. Tetapi untuk itu, saya akan menuangkannya di dalam tulisan yang berbeda.

 

 

Friday, April 28, 2023

Beberapa hal yang bukan merupakan tanda pengenalan akan Tuhan (Lukas 24:13-16)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. PTetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. (Lukas 24:13-16)



Buku "Kau Ubah Hidupku" 
Klik Disini.

Dari kisah dua murid Emaus ini, kita belajar bahwa ada beberapa hal yang seringkali secara keliru dianggap sebagai tanda bahwa seseorang mengenal Tuhan, padahal sebetulnya tidak demikian.

 

Pertama: banyak berbicara tentang Tuhan

Berbicara tentang Tuhan, berdiskusi tentang Dia, adalah hal yang baik. Jauh lebih baik daripada berbicara tentang hal-hal yang tidak ada artinya sama sekali, seperti gosip, membicarakan keburukan orang lain, meramalkan masa depan dan lain sebagainya. Tetapi jika kita menyangka bahwa banyak berbicara tentang Tuhan, banyak memakai kosa kata rohani dalam perbincangan sehari-hari, maka itu adalah tanda bahwa kita sudah banyak mengenal Tuhan, mungkin sangkaan kita itu tidak selalu benar juga. 

Peristiwa yang terjadi dalam perjalanan dua murid ke Emaus ini mengajarkan bahwa orang yang banyak membicarakan tentang Tuhan belum tentu merupakan tanda bahwa orang itu sudah memiliki pengenalan yang sejati. Dua murid itu banyak berdiskusi tentang Tuhan Yesus, tetapi mereka malah tidak mengenali ketika Tuhan Yesus berjalan bersama mereka. Manusia bisa bincang-bincang tentang Tuhan, tanpa mengenali kehadiran-Nya. Manusia bisa banyak bicara tentang Tuhan Yesus, tetapi mungkin bukan Tuhan sejati. Yang mereka bicarakan adalah Tuhan yang mereka pikir sudah mati. Padahal Tuhan Yesus yang sejati hidup dan ada di dekat mereka. [Tulisan sebelumnya: Para murid pun bisa gagal mengenali Tuhan Yesus, apalagi kita. Klik disini.]

Orang Kristen juga bisa seperti ini, bicara banyak tentang Tuhan, tetapi tidak peka akan kehadiran-Nya. Orang-orang Kristen bisa berdiskusi atau berdialog atau bahkan saling berdebat tentang Tuhan, tanpa memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan yang berjalan di dekat mereka. Ini kondisi yang bisa terjadi pada diri siapa pun kita sebagai orang Kristen. 

Jalan keluar dari persoalan ini bukanlah dengan berhenti berdiskusi tentang Tuhan, melainkan dengan cara meningkatkan kesadaran kita akan kehadiran Dia. Yang harus kita sadari adalah, jika orang yang membicarakan Tuhan sajapun masih bisa luput mengenali kehadiran Tuhan, apalagi orang yang tidak peduli sama sekali, bukan? Setidaknya dalam kisah ini kita belajar bahwa Tuhan pada akhirnya menghampiri, menyatakan diri dan memperbaiki kesalahan mereka.


Kedua: perasaan kita terhadap Tuhan

Perasaan kita tentang Tuhan, belum tentu sama dengan apa yang menjadi kenyataannya. Maksudnya begini, apabila kita merasa Tuhan itu jauh, maka kita yakin bahwa Tuhan memang sedang jauh, atau jika kita merasa dekat, maka kita yakin bahwa Tuhan itu dekat. Pada kenyataannya, dekat atau jauhnya kehadiran Tuhan, tidak selalu dapat dideteksi oleh perasaan kita.

Hal seperti ini pernah dicatat juga di dalam kitab Wahyu, di mana Anak Manusia itu dilukiskan sedang berjalan di antara kaki dian, yaitu gereja-Nya. Sebagai jemaat gereja yang teraniaya, perasaan ditinggalkan oleh Tuhan adalah hal yang cukup wajar apabila muncul. Memang tidak mudah bagi pemahaman manusia yang terbatas untuk menyatukan gambaran dari Tuhan yang mahabaik dan mahakuasa dengan gambaran tentang kejahatan dan penderitaan di dalam satu bingkai yang sama. Ada sesuatu yang menganggu perasaan kita sehingga kita cenderung sulit menerimanya. 

Tetapi kitab Wahyu dengan jelas mengatakan bahwa di dalam aniaya yang sedang terjadi itupun, Tuhan Yesus tidak jauh dari jemaat-Nya. Tuhan Yesus berjalan di antara kaki dian, yaitu jemaat gereja-Nya. Dan sambil menyatakan kehadiran-Nya, Tuhan Yesus juga menyatakan penilaian-Nya terhadap jemaat tersebut. Jadi bukan saja Tuhan sungguh-sungguh hadir, tetapi bahkan Tuhan secara aktif memperhatikan dan menilai dengan teliti apa yang dilakukan oleh tiap-tiap jemaat.

Seperti apa perasaan kita tentang Tuhan, bukan merupakan ukuran dari pengenalan kita akan Dia. Sebab perasaan kita sangat rapuh dan dapat dengan mudah disalahartikan oleh diri kita sendiri. Dari kisah Emaus kita belajar bahwa manusia bisa merasa bahwa Tuhan itu jauh, padahal Tuhan ada dekat bersama-sama mereka, dan berjalan bersama mereka.

Dari kitab lain kita juga belajar bahwa yang sebaliknya pun bisa saja terjadi, yaitu ketika manusia merasa dekat dengan Tuhan, padahal Tuhan jauh dan tidak bersama mereka. Injil Matius adalah contoh yang cukup tepat untuk kasus ini. Ada sekumpulan orang yang merasa bahwa mereka sedang mengerjakan banyak hal dengan mengatasnamakan Tuhan. Tetapi Tuhan sendiri ternyata mengatakan bahwa Ia tidak mengenal mereka (Matius 7:21). Kekeliruan seperti itu sungguh merupakan suatu tragedi yang sangat mengerikan apabila kita renungkan.

Solusi dari persoalan ini adalah dengan senantiasa berusaha kembali kepada Kitab Suci, sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan dan berusaha untuk mentaati kehendak Tuhan meskipun kita sendiri tidak sempurna.


Ketiga: mengenal Tuhan Yesus karena sosok fisik-Nya

Ada kelompok orang tertentu yang punya ketertarikan besar terhadap penampakan rupa manusia yang dianggap sebagai Yesus Kristus, atau Bunda Maria atau sosok-sosok religius lain. Entah mengapa, ada semacam kesan relijius pada peristiwa penampakan tersebut, baik terhadap tempatnya, yaitu di mana penampakan itu terjadi maupun pada orang-orang yang pertama melihatnya, bahkan bagi orang-orang yang datang berziarah ke tempat-tempat tersebut. Seolah dengan mengunjungi tempat-tempat seperti itu, ada semacam kesegaran rohani dan tambahan nilai rohani terhadap siapapun yang melakukannya.

Masalahnya adalah, di jalan menuju Emaus ini, Tuhan Yesus yang asli sungguh-sungguh hadir secara badani, bukan sebagai gambar penampakan seperti yang digandrungi orang masa kini, tetapi Tuhan Yesus yang asli ini, tidak mengizinkan dua murid Emaus itu untuk mengenal Dia dari sosok fisik-Nya. Tuhan Yesus tetap saja membiarkan kedua murid itu tidak mengenali Dia, sampai Tuhan sendiri yang memberitakan Firman kepada mereka.

Lalu pertanyaannya? Mengapa orang jaman sekarang justru merasa yakin bahwa Tuhan Yesus ingin dikenali lewat penampilan fisik-Nya? Bukankah ini merupakan hal yang sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan Yesus sendiri?

Berdasarkan kisah dua murid Emaus ini, kita diajarkan untuk tidak mengenal Tuhan berdasarkan wajah-Nya, panjang rambut, jenggot  atau warna kulit-Nya, dan kita bersyukur akan hal itu. Sebab kalau jalan untuk mengenal Tuhan Yesus itu harus atau hanya melalui tampilan fisik, maka celakalah kita yang tidak hidup sejaman dengan Dia. Sebab kita tidak pernah tahu seperti apakah bentuk wajah dan postur tubuh Tuhan Yesus. Jadi bagaimana mungkin kita dapat mengenal Dia?

Tuhan ingin dikenal melalui Firman-Nya dan melalui perbuatan-Nya, bukan melalui sosok fisik-Nya. Dan itu bukan saja berlaku bagi kita di masa sekarang ini, tetapi berlaku pula bahkan bagi orang-orang yang hidup di jaman-Nya. Ini adalah kehendak Tuhan yang berlaku secara universal. Sehingga kita yang tidak hidup sejaman dengan Dia pun memiliki kesempatan yang sama dengan orang yang hidup di jaman Tuhan Yesus hadir, kita memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal Dia. Dan kita bersyukur atas hal itu.


Kesimpulan

Mengenal Tuhan itu bukan kondisi yang bersifat statis, sekali jadi dan otomatis dimiliki oleh semua orang Kristen. Ada dinamika dan tanggungjawab manusia untuk berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal Dia. Ada risiko untuk salah, tetapi ada kemungkinan untuk diperbaiki oleh Tuhan melalui nasihat dan teguran.

Orang yang mengaku Kristen tetapi tidak masuk di dalam dinamika ini, atau yang tidak tertarik untuk memikul tanggungjawab seperti ini, mungkin sebenarnya ia belum lahir baru. Sebab orang yang sudah lahir baru pasti ada ketertarikan bahkan kehausan untuk mengenal Tuhan Yesus. Orang yang sudah lahir baru akan bersedia untuk ditegur dan dikoreksi oleh Firman, karena ia tahu bahwa Tuhan menegur bukan karena benci tetapi karena kasih sayang-Nya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita. Amin.



Monday, April 17, 2023

Para murid pun bisa gagal dalam mengenali Tuhan Yesus, apalagi kita (Lukas 24:13-16)


Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. (Lukas 24:13-16)


Buku "Tafsiran Injil Lukas 1 - 12" oleh Matthew Henry
Klik disini.

 

Para murid pun bisa gagal dalam pengenalan akan Kristus

Peristiwa perginya dua murid dari Yerusalem menuju kampung di Emaus terjadi pada hari yang sama dengan hari ketika perempuan-perempuan datang ke kubur Tuhan Yesus dan mendapati bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit, sebagaimana yang dikisahkan dalam perikop sebelumnya. 

Dari dua peristiwa itu, kita belajar bahwa kebangkitan Tuhan Yesus memang merupakan sebuah peristiwa yang sangat tidak terduga, meskipun Tuhan sendiri sudah memberitakan hal itu. Dari kisah ini kita tahu bahwa bagi parapengikut di zaman itupun, urusan mengenal Tuhan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Perempuan yang datang ke kubur, menyangka bahwa Tuhan Yesus masih dalam keadaan mati. Sedangkan dua murid Emaus yang pergi itu, menyangka Tuhan Yesus juga masih mati, sehingga sudah tidak ada lagi yang perlu diharapkan daripada-Nya.

Tidak ada seorangpun yang menduga bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit, padahal mereka ini adalah orang-orang yang sebenarnya sudah mengenal Tuhan Yesus sejak sebelum Dia disalibkan. Mereka sudah diberitahu oleh Tuhan sendiri bahwa semua ini akan terjadi, bahwa Mesias harus menderita dan mati, namun Mesias itu akan bangkit lagi pada hari ketiga. Tetapi, sebagaimana yang dicatat Lukas, tidak satupun dari murid-murid itu yang benar-benar mengerti apa yang terjadi, atau berharap bahwa Tuhan Yesus benar-benar bangkit.


Kegagalan mereka menjadi peringatan bagi orang Kristen saat ini.

Jika orang yang hidup sejaman dengan Tuhan Yesus saja (dan mereka bukan orang jahat), bisa keliru dalam mengenali Dia, maka janganlah kita terlalu yakin akan diri sendiri, atau terlalu berasumsi bahwa kita sudah tahu segala-galanya tentang Dia, hingga sudah tidak merasa perlu menggali Alkitab lagi, tidak perlu belajar Firman, dan tidak perlu dikoreksi lagi oleh Firman itu. Adalah lebih baik jika dengan rendah hati kita terus menyadari bahwa pengenalan kita saat ini masih terus perlu diuji berdasarkan Alkitab dan siap senantiasa untuk dikoreksi .

Sudah berapa lamakah diri kita tercatat sebagai orang Kristen? Apakah pengenalan kita akan Tuhan pada tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu? Ataukah sama saja? Atau jangan-jangan justru semakin mundur? Jika pengenalan kita semakin mundur, maka itu adalah tanda bahwa kita kurang sungguh-sungguh dalam mengejar pengenalan akan Pribadi Tuhan. Tetapi apabila pengenalan kita semakin baikpun. maka sebetulnya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa cukup mengenal, sebab pribadi Tuhan itu sungguh tidak terbatas adanya, sehingga pengenalan kita akan Tuhan pun tidak akan ada habisnya. Tuhan tetap akan selalu penuh kejutan bagi kita yang mengasihi-Nya.


Bukan kita yang mengaku mengenal Tuhan
Tetapi Tuhanlah yang mengenal kita

Pengenalan akan Tuhan bukanlah sesuatu yang dapat kita akui secara sepihak atau berdasarkan keyakinan dari diri kita sendiri. Mari kita perhatikan ayat berikut ini:

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (Yohanes 10:27)

Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa apabila kita ini memang adalah domba kepunyaan Tuhan, maka tentunya kita bisa mendengarkan suara Tuhan dan juga mau mengikut Dia. Ada dua hal yang dilakukan oleh domba itu yang memakai kata kerja aktif, yaitu mendengarkan dan mengikut. Hal ini dipakai oleh penulis Injil untuk menekankan pada aspek tanggungjawab kita sebagai kepunyaan Tuhan, sekaligus juga sebagai tanda bahwa kita inilah adalah domba yang sejati

Tetapi mari perhatikan, bahwa untuk urusan mengenal Tuhan, kalimat yang dipakai bukanlah "mereka mengenal Aku" tetapi "Aku mengenal mereka" Artinya, dari sisi manusia kita tidak punya kemampuan atau kapasitas untuk mengenal Tuhan, kecuali jika Tuhan sendiri yang menganugerahkan pengenalan itu kepada manusia. Yang dituntut dari sisi manusia adalah respon atau tanggungjawab untuk mendengarkan dan mengikut Tuhan, melalui hal itulah Tuhan sendiri yang akan menyatakan diri-Nya kepada orang itu.

Prinsip ini tidak bertentangan dengan prinsip anugerah, sebab kita tahu bahwa untuk mendengar dan mengikut Tuhan dengan setia pun pasti tidak akan tercapai jika mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tuhanlah yang memberi anugerah kepada manusia, dan tanda bahwa  manusia itu sudah menerima anugerah adalah jika ia mau mendengar dan mengikut Tuhan.

Bukan hanya Yohanes yang membicarakan prinsip seperti ini, tetapi juga kitab Amsal, seperti yang kita baca berikut ini:

1 Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, 2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, 3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, 4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, 5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. (Amsal 2:1-5)

Perhatikan bahwa pengenalan akan Allah itu baru dapat dicapai setelah apa yang disebutkan dalam ayat 1 sampai dengan 4 dilakukan, sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa semua orang Kristen itu pasti mengenal Allah. Seseorang bisa saja mengaku Kristen, dan merasa dirinya mengenal Tuhan. Tetapi menurut Alkitab tidak ada orang yang akan memperoleh pengenalan akan Allah, tanpa melalui anugerah yang bekerja di dalam diri orang itu sehingga orang itu tergerak, terdorong, tertarik untuk mengejar hikmat Alkitab seperti orang yang mengejar harta terpendam. 

Orang Kristen yang tidak tertarik pada Firman Tuhan, menurut Amsal Pasal 2 adalah mereka yang masuk ke dalam golongan orang yang akan binasa. Sebab orang Kristen sejati, menurut Yohanes, adalah orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan melalui pendengaran itu, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sehingga mereka mengenal Dia.

Kembali ke kisah dua murid Emaus, Alkitab tidak melukiskan mereka sebagai orang fasik atau orang-orang yang tidak peduli pada perkataan Tuhan, sebab di dalam ayat-ayat selanjutnya kita mendapati bahwa hati mereka berkobar-kobar ketika mendengarkan Tuhan Yesus menjelaskan kitab Musa dan kitab-kitab para nabi. Dua murid Emaus ini adalah contoh bagi kita bahwa sebagai orang Kristen sejatipun, kita tetap tidak luput dari kesalahpahaman atau ketidakmengertian akan cara Tuhan bekerja. Oleh karena itu, proses mendengar Firman itu tidak pernah boleh berhenti di dalam hidup kita. Alkitab akan terus mengoreksi kita dan kita harus terus memberi telinga kita untuk ditegur dan memberi hati kita untuk diubah.

Marilah kita terus mendedikasikan hidup kita yang masih tersisa ini untuk mengenal Tuhan, bergaul dengan-Nya dan mentaati kehendak-Nya yang Ia nyatakan pada kita. Sebab cepat atau lambat, siap atau tidak siap, semua orang pasti akan bertemu dengan Dia. Berbahagialah kita yang sudah dikenal oleh-Nya, tetapi celakalah orang-orang yang mengabaikan perkataan Tuhan semasa hidupnya di dunia ini, sebab kebinasaan saja yang akan ditemuinya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita semua. Amin.