Showing posts with label Makna Diri. Show all posts
Showing posts with label Makna Diri. Show all posts

Monday, June 1, 2026

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1)

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1)
 

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

 

I. Kemerdekaan Indonesia: Anugerah ataukah murni hasil sebuah perjuangan?

Jika kita merenungkan kemerdekaan Indonesia, sebuah pertanyaan mendasar patut kita ajukan: apakah kemerdekaan bangsa kita itu merupakan hasil perjuangan sendiri, ataukah karena anugerah yang diberikan oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan kita?

Untuk memahami hal tersebut, kita perlu melihat pada kerangka sejarah dunia. Perang Dunia II dimulai pada 1 September 1939, yaitu ketika Jerman menyerang Polandia. Serangan ini didahului oleh sebuah operasi militer palsu, di mana tentara Jerman menyamar sebagai orang Polandia lalu menyerang sebuah stasiun radio Jerman di daerah perbatasan Gleiwitz. Serangan ini memberi Hitler suatu alasan wajar untuk menginvasi Polandia. Akibat serangan tersebut, Inggris dan Prancis pun tidak bisa tinggal diam. Jika Hitler tidak dihentikan, maka Jerman akan menjadi kekuatan berbahaya bagi Eropa. Oleh karena itu, Inggris dan Prancis pun menyatakan perang terhadap Jerman dan dimulailah sebuah perang besar di Eropa.

Amerika Serikat pada awalnya memilih untuk tidak ikut campur dalam peperangan Eropa antara Inggris, Prancis, dan Jerman ini, namun semuanya berubah ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 — sebagai upaya untuk melumpuhkan armada Pasifik Amerika dan mengamankan ambisi ekspansinya di Asia Tenggara. Serangan yang cukup dahsyat itu pun membuat Amerika akhirnya terjun ke dalam peperangan, berhadapan dengan Jepang, sekaligus melawan Jerman, dan Italia.

Pada tahun 1942, Amerika meluncurkan Proyek Manhattan, proyek rahasia pengembangan bom atom yang dimaksudkan untuk menandingi kekuatan teknologi militer Jerman. Kisah ini terabadikan dalam film “Oppenheimer”, yang menggambarkan bagaimana para ilmuwan Yahudi yang diusir dari Jerman bahu-membahu mengembangkan sebuah teori fisika menjadi sebuah senjata dahsyat yang diharapkan dapat menghentikan perang dunia yang sudah terlanjur pecah.

Namun, sejarah berjalan dengan caranya sendiri. Sementara Proyek Manhattan sedang berjalan, Jerman juga sedang dihantam dari dua arah sekaligus. Dari sisi Barat, Sekutu menyerang melalui Operasi Overlord di Normandia (6 Juni 1944), sementara Uni Soviet mengepung dari arah timur, setelah serangan Jerman ke Stalingrad sebelumnya mengalami kegagalan. Dijepit dari dua sisi seperti itu, Jerman pun akhirnya menyerah pada sekitar bulan Mei 1945, bahkan sebelum bom atom yang disiapkan melalui proyek Manhattan tersebut sempat digunakan.

Karena Jerman sudah kalah, bom atom yang diberi nama “Little Boy” itu akhirnya dijatuhkan di Hiroshima (pusat militer dan pelabuhan penting Jepang). Dan pada 6 Agustus 1945, disusul bom atom bernama “Fat Man” yang dijatuhkan di kota Nagasaki (sebuah pangkalan angkatan laut dan pusat industri Jepang). Akhirnya pada tanggal 9 Agustus 1945, Jepang pun menyerah kepada Sekutu. Kekuatan militer Jepang di seluruh wilayah pendudukan, termasuk Indonesia, melemah hingga nyaris kosong. Momentum kelemahan Jepang inilah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Jadi sekarang, apakah kemerdekaan Indonesia itu dapat dikatakan sebagai hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri? Bisa dikatakan iya, sebab ada semangat untuk merdeka dari bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia tidak pasif saja ketika Jepang menjajah negeri. Lalu ada pula pengorbanan dari tentara-tentara Indonesia melawan tentara Jepang yang tersisa. Sekalipun secara negara Jepang sudah menyerah, tetapi sebagai tentara belum tentu semua orang mau menyerah begitu saja ketika diserang. Tentara Jepang pun melakukan perlawanan terhadap tentara Indonesia sehingga ada korban pula yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Singkatnya, ada perjuangan dari bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Tetapi apakah kita dapat merdeka semata-mata karena kepandaian kita dalam strategi perang untuk mengalahkan Jepang dalam suatu peperangan frontal? Jelas bukan. Indonesia merdeka dan berhasil melepaskan diri dari Jepang, dikarenakan Jepang sendiri sedang limbung dan mengalami kelemahan mental sebagai akibat dari kekalahannya terhadap Sekutu. Tentara Jepang sudah tidak kuat lagi secara psikologis dan mental untuk berperang karena merasa ngeri membayangkan apa yang terjadi di negara mereka, di tengah-tengah keluarga mereka. Serangan Sekutu begitu dahsyat, hingga pemerintah Jepang menyerah dan menarik pasukannya dari medan peperangan.

Oleh karena itu, kemerdekaan Indonesia tidak bisa tidak, harus dilihat pula sebagai sebuah hadiah. Yaitu hadiah dari Tuhan yang memegang dan mengatur sejarah. Sering kali kita tergoda berpikir bahwa kesuksesan kita semata-mata karena kepintaran, kejelian, atau kerja keras kita sendiri. Namun, kita sering lupa bahwa ada campur tangan Ilahi yang jauh lebih besar dari semua rencana dan usaha kita itu.

Baca juga: Ada 8 alasan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia. Klik disini.

 

II. Kristus Telah Memerdekakan Kita

Jika kemerdekaan bangsa kita sebagai sebuah negara saja tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Ilahi, betapa lebih lagi kemerdekaan kita dari kuk perhambaan dosa, bukan? Tidak ada satu pun manusia yang mampu, dengan kekuatannya sendiri, keluar dari perhambaan dan mengalahkan kuasa dosa itu.

Rasul Paulus menegaskan dalam Galatia 5:1 bahwa “Kristus telah memerdekakan kita.” Kemerdekaan dari dosa bukanlah sesuatu yang kita raih, melainkan sesuatu yang diberikan oleh Kristus. Orang Kristen yang sejati sadar bahwa hidupnya adalah anugerah dari Tuhan Yesus.  Sebagaimana bangsa Israel dikeluarkan dari perbudakan Mesir dan diberi anugerah tanah Kanaan — bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah — demikian pula kita dibebaskan dari perbudakan dosa oleh Kristus atas dasar kasih karunia tersebut.

Karena itu, sebagai orang Kristen, kita tidak boleh sombong, merasa paling benar, atau merasa tidak ada dosa dalam hidup kita. Semua orang telah jatuh dalam kuk perhambaan dosa. Tuhan datang bukan untuk memerdekakan demi kemerdekaan itu sendiri, melainkan agar melalui kemerdekaan tersebut, kita bebas mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi — serta mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

 

III. Merdeka untuk Apa?

Pertanyaan yang harus kita renungkan sebagai orang Kristen bukanlah sekadar apakah kita sudah merdeka atau belum merdeka. Pertanyaan yang harus direnungkan adalah, untuk apa Tuhan memerdekakan kita dari dosa? Kita tidak dimerdekakan oleh Kristus demi kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus bukanlah kebebasan tanpa arah. Ada tujuan mulia di balik kemerdekaan tersebut, di bawah ini adalah beberapa tujuan dari kemerdekaan kita dari dosa, yaitu:

1. Merdeka untuk Beribadah kepada Allah

Sejak awal, kemerdekaan selalu berkaitan dengan penyembahan. Dalam Keluaran 7:16, Allah berkata kepada Musa: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun.” Tuhan membebaskan bangsa Israel bukan semata-mata agar mereka dapat menikmati kebebasan dari perbudakan Mesir saja. Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, agar mereka dapat dengan bebas beribadah kepada-Nya.

2. Merdeka untuk Menyembah Dia

Lukas 17:15-16 15Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Kemerdekaan yang Tuhan berikan, seharusnya membawa seseorang untuk bersyukur dan memuliakan Dia. Kita bukan disembuhkan semata-mata agar memiliki hidup yang berkualitas. Sakit penyakit dan dosa adalah penghambat kita untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Tuhan datang membawa kesembuhan kepada manusia, bukan supaya manusia bisa memakai kesembuhan itu untuk bebas melakukan apapun yang ia suka. Kesembuhan yang Tuhan berikan adalah untuk membawa jiwa manusia kepada  keadaan yang penuh ucapan syukur dan hidup mempermuliakan Tuhan.

3. Merdeka untuk Melakukan Pekerjaan Baik

Efesus 2:8-10 8Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Efesus 2:8-10 tersebut dengan jelas mengajarkan bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia Allah melalui iman. Namun keselamatan itu bukan akhir perjalanan — melainkan awal dari sebuah misi. Kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, agar kita hidup di dalamnya.

 

IV. Menghayati Kemerdekaan Sejati

Kemerdekaan Kristen hanya bisa dihayati dengan sungguh-sungguh oleh mereka yang benar-benar menyadari bahwa dirinya pernah — dan tanpa Kristus masih akan — berada dalam kuk perhambaan dosa. Hanya orang yang rendah hati, yang mengakui kelemahan dan dosa-dosanya, yang dapat sungguh-sungguh menghargai anugerah pembebasan dari Kristus.

Yohanes 8:31-32 berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Kemerdekaan Kristen tidak terpisah dari Firman Tuhan. Kemerdekaan kita bukan kemerdekaan tanpa komitmen sebagai murid yang sungguh-sungguh.

Sebagai contoh, ada beberapa gambaran nyata dari orang yang mengalami kemerdekaan sejati:

  • Dalam Kejadian 2:15, Allah menempatkan manusia di Taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Orang yang sadar bahwa hidupnya diambil dan ditempatkan oleh Tuhan akan merdeka dari kesombongan saat karier berjaya dan merdeka dari keputusasaan saat keadaan biasa-biasa saja. Berapa banyak orang Kristen yang menganggap bahwa kariernya, jabatannya, titelnya adalah suatu milik yang mendefinisikan jati dirinya. Padahal kalau orang mengerti kebenaran bahwa hidup ini adalah panggilan Tuhan, maka orang itu akan merdeka dari keinginan hati membangga-banggakan dirinya dari orang lain.

 Baca juga: Apakah resep hidup berkelimpahan dan berhasil? Klik disini.

  • Dalam Lukas 23:42, penjahat di kayu salib berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Orang yang sadar bahwa yang terpenting adalah diingat oleh Tuhan, akan merdeka dari kejar-kejaran pengakuan manusia. Berapa banyak orang yang terus mengejar pengakuan dari orang lain? Mereka ingin terus dikenang, diingat, diakui eksistensinya, jasanya, pencapaiannya. Tapi penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus mengingatkan pada kita bahwa satu-satunya hal yana paling penting adalah ketika Tuhan mengingat kita. Manusia boleh lupa pada kita, manusia boleh salah paham pada kita, manusia boleh saja tidak menganggap kita sebagai orang yang berharga, tetapi ketika kita menghayati akan Tuhan yang mengingat kita, maka kita akan merdeka dari upaya untuk terus menerus ingin dikenang oleh dunia ini.

Baca juga: Manusia lebih suka pada kesementaraan daripada kekekalan. Klik disini.

  • Kemerdekaan Kristen juga membebaskan kita dari tuntutan bahwa hidup ini harus selalu hebat dan tanpa kepedihan. Pemahaman bahwa duka dan sakit penyakit bukan tanda penolakan Tuhan adalah bagian dari kemerdekaan itu. Kita tidak perlu menyembunyikan air mata atau berpura-pura kuat. Dengan merdeka, kita dapat membawa seluruh kepedihan kita ke hadirat Tuhan.

 

Penutup

Kemerdekaan Indonesia mengajarkan kita bahwa tidak ada pencapaian besar yang murni hasil tangan manusia semata. Di balik setiap momentum bersejarah, ada tangan Tuhan yang mengatur. Terlebih lagi, kemerdekaan kita dari perhambaan dosa — itu sepenuhnya adalah karya Kristus, bukan hasil usaha kita.

Baca juga: Apakah tujuan hidup kita di dunia? Klik disini.

Maka, berdirilah teguh dalam kemerdekaan yang telah dianugerahkan itu. Jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan — baik perhambaan dosa, perhambaan akan pengakuan manusia, maupun perhambaan akan rasa takut dan keputusasaan. Kita telah dimerdekakan — bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap keberadaan kita.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Friday, November 28, 2025

Jika Engkau Anak Allah

 

Jika Engkau Anak Allah

Matius 4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah,

Kalimat iblis yang pertama di padang gurun untuk menyerang Tuhan Yesus berpusatkan pada hal yang mendasar sekali dari seorang manusia, yaitu persoalan tentang jati diri.

 

Persoalan jati diri manusia

Tuhan Yesus digoda oleh iblis dengan pertanyaan yang barakar pada jati diri Tuhan Yesus sendiri sebagai Anak Allah. Dan Tuhan Yesus tidak berhasil dikalahkan oleh tipu daya iblis tersebut, karena Tuhan Yesus memiliki kesadaran yang kokoh sebagai Anak yang dikasihi oleh Bapa. Dan kita tidak bisa mempersalahkan Tuhan Yesus dengan sebutan: “tentu saja Dia bisa, sebab Dia kan Tuhan itu sendiri.” Tuhan Yesus adalah manusia yang mengalami kesulitan yang sama dengan kita ketika dicobai. Ia menang demi menolong kita yang selalu gagal. Bersikap sinis kepada Tuhan Yesus tidak akan menolong kita sama sekali. Lebih baik dengan rendah hati kita belajar dari sikap Tuhan Yesus yang menaruh jati diri-Nya di atas perkataan Sang Bapa. [Baca juga: Dari gelap menuju terang. Klik disini.]

Di dunia ini, persoalan jati diri sangat bisa mempengaruhi kehidupan manusia. Ketika tulisan ini dibuat, ada seorang musisi bernama Liam Payne yang pernah tergabung dalam grup musik One Direction bersama Harry Styles, Niall Horan, Zayn Malik, dan Louis Tomlinson, meninggal dunia karena terjatuh dari lantai 3 sebuah hotel di Argentina.

Dari penelitian polisi dan kesaksian orang-orang yang mengenalnya, Liam adalah seorang peminum Alkohol. Alkohol adalah minuman yang bisa memberi rasa relax dan kadang diminum untuk merayakan sesuatu, bersosialisasi dan kadang juga untuk melupakan kesedihan. Akan tetapi jika seseorang sudah menjadi peminum berat, maka sangat mungkin hal itu disebakan karena ada problem kejiwaan yang lebih dalam dari sekedar ingin relax. Diketahui pula bahwa Liam putus hubungan dengan tunangannya yang bernama Maya Henry, dan meski ia mencoba berkali-kali menghubungi Mya, hasilnya selalu gagal. Seorang wanita yang menjadi kekasih terakhir, yaitu Kate Cassidy pulang lebih dulu karena merasa home sick dan sudah bosan berada di Argentina terlalu lama.

Liam Payne pernah terkenal, tetapi sekarang sudah tidak terlalu terkenal lagi. Ia sudah mencoba solo karir, tetapi hasil karyanya kurang mendapat sambutan. Ia masih sangat kaya dengan total harta yang berjumlah sekitar USD 50jt atau setara dengan Rp 800 M, rasanya uang sama sekali bukan persoalan baginya. Oleh karena itu, apa yang kira-kira menjadi sumber pemasalahan bagi hidupnya?

Sebagai manusia, Liam kehilangan dua hal yaitu identitas dan relasi kasih. Ketika kedua hal itu tidak ia miliki lagi, maka iapun merasakan kekosongan dan menjadi seperti orang yang kehilangan arah. Apalagi hal tersebut ditambah pula dengan kenyataan bahwa ia pernah sangat terkenal di masa muda, sehingga baginya tidak ada kesempatan yang cukup untuk bertumbuh secara karakter dan mental. Masa muda penuh hura-hura, hingar bingar kehidupan, sehingga tidak ada waktu bagi karakter untuk bertumbuh, kini masalah jati diri datang, dan Liam tidak punya pegangan apa-apa.

Ketika seorang manusia menerima pujian seperti seorang selebriti, maka ia mengira bahwa jati dirinya pun ada di dalam pujian itu. Akibatnya, ketika pujian-pujian sudah tidak ada lagi, maka orang itupun akan merasa sangat kosong. Tidak ada jati diri, tidak ada cinta, tidak ada pengakuan dari orang lain, ditambah dengan kecanduan alkohol serta obat bius lainnya, maka lengkaplah sudah segala resep menuju kehancuran hidup dari seorang manusia.

Pencobaan di padang gurun mengingatkan kita, bahwa jati diri atau identitas seseorang itu sangat penting untuk dihayati, sebab tanpa pengenalan akan jati diri kita sendiri, maka iblis dengan mudah dapat menyerang dengan tipu daya yang mematikan.

Bapa berkata kepada Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis: “Inilah Anak yang Ku-kasihi, kepada-Nya lah Aku berkenan.” Dalam perkataan Bapa itu terdapat penegasan atas identitas, kasih dan penerimaan atau perkenanan. Dan semua inipun ingin diberikan Tuhan kepada manusia, melalui Yesus Kristus Sang Anak Allah yang sejati itu. [Baca Juga: Inkarnasi Tuhan Yesus dan nilai hidup kita sebagai manusia. Klik disini.]

Meskipun Allah telah menyediakan Yesus Kristus sebagai jalan pendamaian di mana manusia bisa menemukan kembali pengampunan, jati diri dan cinta kasih Ilhai, tetapi ternyata jauh lebih banyak manusia yang menolak jalan tersebut, ketimbang yang menerimanya. Manusia berdosa ternyata lebih tertarik untuk mencari jalannya sendiri. Manusia ingin menciptakan sendiri jati dirinya melalui berbagai hal di dunia ini, seperti: prestasi, pengakuan/tepuk tangan orang lain, like pada sosial media, atau pun melalui kepemilikan akan harta dunia. [Baca Juga: Manusia lebih suka pada kesementaraan daripada kekekalan. Klik disini.

Dalam kisah Alkitab, ada orang yang mencoba membangun citra dirinya yang terkutuk dengan cara membangun kota, atau mendirikan menara yang sangat tinggi. Ada pula yang mencitrakan dirinya lewat keperkasaan, atau lewat prestasi dan perbuatan kepahlawanan, dan tentu saja melalui kekayaan akan harta duniawi. Dan itu semua yang coba ditawarkan Iblis pada Tuhan Yesus di padang gurun.

Tuhan Yesus tidak dapat ditipu oleh iblis yang mencoba mengacaukan antara jati diri dengan apapun yang bukan merupakan jati diri seseorang. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jati diri kita ada di dalam perkataan Bapa, penilaian Bapa, hati Bapa, cinta kasih Bapa dan bagi Tuhan Yesus hal itu sudah cukup. Tuhan Yesus ingin agar kita pun memahami hal ini.

Kiranya Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita semua. Amin

Baca Juga:
Mengenal Tuhan lebih penting daripada kekayaan. Klik disini.
Mengapa manusia haus akan kekayaan dan pengakuan? Klik disini.
Apakah yang lebih penting dari kekuatan, kekuasaan dan kekayaan? Klik disini.
Apakah tujuan hidup kita di dunia? Klik disini.

 

 

Friday, November 8, 2024

Ketika Allah membawa kita ke tempat yang tidak nyaman (Matius 4:1)

Ketika Allah membawa kita ke tempat yang tidak nyaman,
apakah kita cukup rendah hati untuk menerimanya?
 

Ketika Allah membawa kita ke tempat yang tidak nyaman

Matius 4:1  Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.

Dalam perikop sebelumnya kita melihat kerendahan hati Tuhan Yesus, yang mau menemui Yohanes Pembaptis untuk dibaptis, sama seperti orang lain. Ini merupakan hal yang luarbiasa, sebab semua orang lain yang datang menemui Yohanes Pembaptis, memang adalah orang berdosa yang memerlukan pertobatan. Akan tetapi Tuhan Yesus datang untuk dibaptis oleh Yohanes, bukan karena Ia orang berdosa, melainkan semata-mata karena Tuhan Yesus adalah Pribadi yang taat pada kehendak Bapa-Nya.

Dalam peristiwa Baptisan, Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya di hadapan Bapa, di hadapan Roh Kudus, di hadapan Yohanes Pembaptis dan bahkan di hadapan semua orang yang hadir. Mengapa termasuk di hadapan semua orang yang hadir? Sebab mereka tidak tahu siapakah Tuhan Yesus itu sebenarnya dan Tuhan Yesus pun tidak mengumumkan atau memamerkan siapakah diri-Nya yang sebenarnya. Sehingga  bagi orang banyak itu, Tuhan Yesus sama saja dengan semua orang lain yang hadir. Tuhan Yesus tidak show off tentang siapakah diri-Nya. Tuhan tidak meminta perhatian, meminta pengakuan, menganggap diri penting dan lain sebagainya, sebagaimana yang sering dilakukan oleh manusia berdosa.

Narsisisme adalah penyakit yang sangat sering menjangkiti orang-orang di dunia ini, tidak terkecuali orang Kristen, terlebih di era sosial media seperti sekarang ini. Banyak orang yang merasa dirinya begitu penting, begitu istimewa, sehingga ia berpikir bahwa orang lain akan tertarik pada apa yang ia makan, apa yang ia pakai, tempat liburan mana yang ia kunjungi, siapa nama kucingnya dan lain sebagainya.

Dunia menjadi sedemikian self-centered dan setiap orang menjadi semakin merasa berhak atas apapun yang mereka inginkan (entitled). Orang-orang dengan sesuka hati membuat konten untuk sosial media mereka di tempat umum, tanpa memperdulikan kepentingan orang lain di tempat itu. Orang-orang menyerukan gagasan tentang Lgbtq, woke culture, pronouns, dan memaksa orang lain juga setuju pada gagasan dan gaya hidup mereka. Seolah-olah gagasan mereka begitu penting sehingga orang lain yang tidak setuju pun dipaksa untuk setuju dengan mereka. Hal seperti ini sudah menjadi semakin marak di luar negeri, dan apabila tidak dikendalikan atau di stop, maka dapat dipastikan akan menjadi sangat marak juga terjadi di Indonesia.

Tetapi Tuhan Yesus yang mahamulia, justru berbeda dengan manusia berdosa yang merasa dirinya mulia dan istimewa itu. Kemuliaan hati Tuhan Yesus justru terpancar dari kerendahan hati-Nya. Ia menyembunyikan kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah di hadapan manusia. Kecuali jika Bapa atau Roh Kudus yang mempermuliakan Dia, maka Ia tidak tertarik untuk menonjolkan diri atau mempermuliakan diri-Nya sendiri.

Dalam perikop sebelumnya kita membaca pengumuman dari sorga, bahwa Tuhan Yesus adalah anak yang diperkenan oleh Bapa. Dalam perikop ini kita belajar seperti apakah contoh kehidupan yang diperkenan oleh Bapa. Dalam perikop ini kita membaca kerelaan yang murni, yaitu ketika Tuhan Yesus membiarkan diri-Nya dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai iblis.

Hubungan baik yang dilandasi oleh cinta kasih (Mat 3:16), membuat seseorang rela dibawa oleh Pribadi yang dicintai dan mencintai itu. Tuhan Yesus bukan terpaksa ikut, tetapi dengan rela memberi diri dipimpin Roh Kudus, sebab Tuhan Yesus memiliki relasi kasih dengan Bapa dan dengan Roh Kudus.

Kita senang ketika Allah memimpin kita ke tempat-tempat yang makmur, nyaman dan indah. Tetapi ketika Allah memimpin kita ke tempat yang kering dan kumuh, apakah kita masih bisa melihat itu sebagai cinta kasih Allah?

Kekristenan berbeda dengan ajaran dunia. Ajaran dunia selalu mengajak kita berjalan menuju kemuliaan yang ada dalam dunia seperti kekayaan materi, kesehatan jasmani, pengakuan atau validasi, nama besar, kekuasaan, pengaruh dlsb. Sedangkan kekristenan mengajak kita berjalan lewat jalan yang sempit, pintu yang sesak, perjalanan ke padang gurun, sebagai domba di tengah serigala dan pada akhirnya mati bersama Kristus yang tersalib.

Kekristen yang sejati bukanlah suatu cara hidup yang mudah untuk diterima oleh semua orang. Itu sebabnya Paulus menulis demikain: 1 Kor 1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Kalimat pemberitaan tentang salib, bukan dimaksudkan untuk dipahami secara sederhana bahwa secara kognitif kita setuju bahwa Tuhan Yesus telah disalibkan saja, melainkan untuk dihayati bahwa kisah salib itu pun menjadi bagian dari hidup kita. Salib adalah lambang kehinaan, apakah kita bersedia jika di dalam hidup ini orang merendahkan kita? Apa reaksi kita ketika orang lain tidak menganggap kita sebagai orang yang sukses? Tidak memberi tepuk tangan kepada kita? Tidak menyanjung-nyanjung kita? Bagaimana kalau orang tua kita bangga sekali pada anak orang lain yang kaya raya, tetapi selalu kecewa pada kita karena tidak sekaya anak tetangga misalnya? Itulah bagian dari pemberitaan salib.

Contoh lain dari kehidupan yang memikul salib adalah ketika Tuhan membawa kehidupan kita bukan ke atas tetapi ke bawah. Misalnya, apabila semula Allah membawa kita memimpin jemaat yang terdiri dari 30 orang, lalu kemudian Tuhan membawa kita memimpin jemaat yang terdiri dari 100 orang. Maka kita pasti melihat itu sebagai pimpinan yang membawa sukacita. Tetapi bagaimana jika kebalikannya yang terjadi? Bagaimana jika Tuhan malah memimpin kita melayani jemaat yang lebih kecil dari sebelumnya? Bagaimana jika Tuhan mengirim kita ke desa dan bukan ke kota? Bagaimana jika Tuhan membuat perekonomian kita menjadi lebih sulit dan bukan menjadi bertambah kaya? Apakah kita bisa merasakan sukacita yang sama? Apakah kita masih mau ikut Tuhan Yesus?

Filipus adalah seorang penginjil yang sudah berhasil pelayanannya. Alkitab mencatat demikian: Kisah Para Rasul 8:6  Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. Filipus diutus Tuhan untuk melayani di Samaria, Alkitab mencatat : Kisah Para Rasul 8:12  Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Dan Banyak orang yang bertobat melalui pelayanan Filipus tersebut.

Tetapi kemudian sesuatu terjadi pada Filipus, yang bagi banyak orang merupakan hal yang tidak menarik. Alkitab mencatat: Kisah Para Rasul 8:26  Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi. Setelah pelayanannya berhasil membawa orang banyak pada pertobatan, Tuhan malah mengirim dia ke tempat yang sunyi. Menurut ukuran dunia, ini adalah jalan hidup orang gagal, orang yang jalan hidupnya seperti sangat goblok. Filipus bisa saja berkata dalam hatinya: "Aku ini jelas-jelas berpotensi untuk melayani orang banyak, apa-apaan aku harus melayani satu orang saja, Ini buang-buang energi percuma. Ini pekerjaan yang sia-sia, tidak efektif, tidak efisien"

Tapi Filipus taat dan ia pergi ke jalan yang sunyi itu untuk melayani seorang sida-sida dari Etiopia, karena dia tahu, bahwa inilah keinginan Tuhan. Tuhan Yesus juga taat pada pimpinan Roh Kudus, sekalipun dipimpin ke padang gurun, karena Dia tahu, inilah keinginan Bapa-Nya.

Semoga ketaatan seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dan Filipus ini dapat menjadi contoh bagi kita. Di dalam ketidakmampuan kita untuk taat kepada Bapa, biarlah dengan rendah hati kita memohon Roh Kudus untuk menolong kita semua. Kiranya Tuhan Yesus semakin dipermuliakan di dalam dan melalui hidup kita. Amin.