Showing posts with label Penyaliban Yesus Kristus. Show all posts
Showing posts with label Penyaliban Yesus Kristus. Show all posts

Tuesday, June 11, 2024

Kiranya Engkau melindungi sehingga kesakitan tidak menimpa aku (Serie Doa Yabes)


Sehingga kesakitan tidak menimpa aku


"Kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" (1 Tawarikh 4:10)

Di dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kita sudah membahas beberapa hal tentang Yabes, yaitu:
- Mengapa Yabes lebih dimuliakan? Klik disini.
- Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah. Klik disini.
- Kiranya Engkau memperluas daerahku. Klik disini.

Dalam tulisan ini kita akan melihat bagian lain dari doa Yabes, yaitu
- Permohonan Yabes agar Tuhan menyertai dan melindungi dari malapetaka
- Harapan Yabes agar kesakitan tidak menimpa dia.

Pertama: Kiranya tanganMu menyertai aku dan melindungi aku dari malapetaka

Doa Yabes mengajarkan kita untuk dengan rendah hati memohon penyertaan Tuhan dalam mengemban tanggungjawab yang juga berasal dari Tuhan. Permohonan Yabes ini merupakan cerminan dari suatu sikap yang rendah hati. Yabes tidak merasa kuat atau mampu untuk menghadapi segala macam tantangan dalam kehidupan sehingga ia memohon agar tangan Tuhan yang mahakuat itu mau menyertai dan melindungi dia.

Tidak semua orang Kristen punya sikap hati seperti ini, karena hal seperti ini bukan sesuatu yang timbul secara otomatis. Seseorang perlu mengenal siapakah Tuhan itu, siapakah dirinya di hadapan Tuhan dan kondisi seperti apakah yang sedang dihadapinya di dunia. Melalui pengenalan itu, seseorang akan bertumbuh dalam kerohanian sehingga mulai timbul suatu kebergantungan yang sehat kepada Tuhan.

Tanpa pengenalan akan Tuhan, seseorang cenderung keliru dalam mengenal dirinya sendiri. Adakalanya seseorang melihat diri terlalu rendah sehingga tidak ada keberanian dalam memikul tanggungjawab dalam kehidupan. Ia tidak berani meminta agar Tuhan memperluas daerahnya, seperti yang didoakan Yabes. Ia tidak berani melibatkan diri dalam peperangan rohani yang sedang dikobarkan oleh Tuhan. Ia bagaikan katak dalam tempurung yang hidup hanya untuk mencari aman saja.

Di sisi lain, ada pula orang yang melihat dirinya terlalu tinggi, sehingga merasa sombong, merasa paling mampu, merasa tidak butuh orang lain dan pada akhirnya merasa tidak membutuhkan Tuhan. Kepandaian, kekuatan fisik maupun ketahanan mental, serta harta kekayaan dapat membawa seseorang ke dalam perasaan kuat yang palsu. Orang itu tidak sadar bahwa di dalam sebuah peperangan rohani, yang menjadi lawan kita adalah iblis yang sangat kuat dan sangat pandai. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melawan iblis dengan kekuatannya sendiri. Hanya kebergantungan kepada Tuhan-lah yang mampu menyelamatkan seorang manusia dari tipuan dan serangan iblis.

Dalam peristiwa pencobaan di padang gurun, Tuhan Yesus yang mahakuasa pun telah memberi contoh bahwa satu-satunya cara untuk melawan iblis adalah melalui kebersandaran seutuhnya pada Firman Tuhan. Tuhan Yesus tidak memakai kekuatan supranatural yang dimiliki-Nya sebagai Pribadi Allah untuk melumpuhkan Iblis. Tuhan mau kita pun meneladani Dia.

Seruan Yabes agar Tuhan menyertai dan melindungi dia, dapat diparalelkan dengan Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dalam Doa Bapa Kami ada ucapan: "dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan." Melalui ucapan ini Tuhan Yesus mengajar kita untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan yaitu dengan memohon agar Tuhan tidak memasukkan kita ke dalam pencobaan. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa kita ini lemah dan berpotensi untuk mengalami kegagalan ketika pencobaan datang.

Malapetaka jasmani dan malapetaka rohani

Dalam doa Yabes, kita diajar bahwa ada malapetaka yang dapat berpotensi menimpa kita di dalam hidup ini. Hal mana disebabkan karena adanya peperangan rohani melawan iblis yang punya kekuatan lebih besar dari kita. Satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa malapetaka itu tidak selalu berupa malapetaka jasmani, tetapi dapat pula berupa malapetaka rohani.

Kita mungkin mudah memahami malapetaka jasmani sebagai kecelakaan fisik, sakit penyakit, bencana alam, aniaya dan pembunuhan. Tetapi apa itu malapetaka rohani? 

Malapetaka rohani adalah suatu bencana yang memberi pengaruh besar terhadap keadaan rohani kita. Misalnya, ada orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan, lalu dalam perjalanan hidupnya ia berjumpa dengan seseorang penganut atheisme yang sangat pandai dalam berargumentasi tentang betapa masuk akalnya pandangan atheisme dibandingkan dengan pandangan iman Kristen. Karena orang Kristen tadi tidak menaruh perhatian pada Firman, akhirnya ia pun turut menganut pandangan atheisme dan sama sekali meninggalkan kekristenan. Ini sebuah malapetaka yang terjadi dalam ranah kerohanian, bukan (belum) menjadi malapetaka jasmani.

Banyak orang terlalu fokus menghindar dari malapetaka jasmani seperti kecelakaan, sakit penyakit, kelaparan, jatuh miskin dan lain sebagainya tadi, tetapi tidak menganggap malapetaka rohani sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Padahal malapetaka rohani itu akan membawa seorang manusia kepada kebinasaan kekal.

Iblis bekerja dibalik setiap malapetaka rohani yang menimpa manusia. Hal itu sudah terlihat sejak awal penciptaan. Dalam kisah Adam dan Hawa, iblis tidak datang dalam wujud monster menakutkan yang mencakar Adam dan Hawa hingga terluka berdarah-darah. Sebaliknya iblis justru tampil dalam wujud yang biasa saja di mata Hawa maupun Adam. Hal itu terbukti dari reaksi Hawa dan Adam yang tidak berteriak ketakutan ketika melihat iblis dalam wujud sang ular di Taman Eden.

Hal yang paling berbahaya dari perbuatan iblis bukanlah dikarenakan dalam wujudnya sebagai ular itu ia telah berusaha menggigit Adam dan Hawa atau mencekik mereka dengan lilitan yang sangat mematikan. Hal paling berbahaya dari iblis adalah bahwa ia telah menanamkan ide atau gambaran yang salah tentang Allah sehingga manusia memutuskan untuk menentang Dia. Dan inilah malapetaka rohani yang membawa seluruh umat manusia kemudian terseret dalam jurang kebinasaan kekal.

Iblis masih melancarkan serangannya melalui berbagai ajaran, ide atau gagasan, atau paradigma yang menjauhkan manusia dari pengenalan akan Allah yang sejati. Malapetaka yang ditebarkan oleh iblis cukup berhasil dalam ukuran manusia. Hal itu terbukti dari banyaknya jumlah orang yang memilih untuk menolak Allah yang telah hadir dalam diri Yesus Kristus. Hanya 1/3 saja jumlah manusia di bumi yang dapat diasosiasikan keterkaitannya dengan gereja, dan dari jumlah 1/3 itupun, hanya sedikit saja jumlah yang benar-benar mengalami kelahiran baru oleh Roh Kudus sehingga melihat kerajaan Allah yang sebenarnya.

Oleh karena itu, doa Yabes agar Tuhan menyertai dan melindungi, sungguh merupakan doa yang sangat pantas untuk dipanjatkan. Sebab tanpa penyertaan Tuhan, sangatlah mudah bagi seorang manusia untuk terjatuh dan kalah di hadapan tipu daya iblis.

Apabila kita perbandingkan dengan Doa Bapa Kami yang memohon kepada Bapa agar tidak memasukkan kita ke dalam pencobaan, maka kita dapati bahwa doa Yabes memiliki keselarasan dengan Doa Bapa Kami. Sekalipun dalam hidup kekristenan, Allah tidak menghapus kesulitan kita, tetapi dari sisi kita manusia, sepatutnya kita bersikap rendah hati dan tidak menantang kesulitan. Sebab hanya Bapa yang tahu persis hingga di manakah kekuatan kita dalam menghadapi pencobaan tersebut.

Kedua: Sehingga kesakitan tidak menimpa aku

Melalui doa, Yabes berharap agar Tuhan menyertainya sehingga kesakitan tidak menimpa dia. Lalu pertanyaannya adalah apakah penyertaan Tuhan memang pasti membuat seseorang dapat terbebas dari hal-hal yang menyakitkan? Jika di dalam Alkitab ternyata justru ada banyak kasus dimana kedekatan dengan Tuhan justru membawa seseorang kepada kesulitan dan tantangan yang sangat berat, lalu bagaimana kita memahami permohonan Yabes yang sekalipun terdengar enak di telinga namun tidak realistis ini? 

Apakah mungkin orang Kristen dapat terbebas dari kesakitan? Ini merupakan pertanyaan yang justru terdengar seperti bertentangan dengan panggilan Kristus sendiri. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus pernah berkata: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Siapakah yang dapat mengatakan bahwa menyangkal diri sendiri dan memikul salib merupakan tindakan yang tidak menyakitkan?

Tuhan Yesus cukup serius dalam perkara yang berkaitan dengan memikul salib ini, sebab di bagian lain Ia bahkan pernah berkata: "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38). Artinya, seseorang tidak bisa berkata bahwa ia adalah Kristen (artinya pengikut Kristus), tetapi ia tidak mau ikut memikul salib bersama Sang Kristus. Menurut Tuhan Yesus, hal seperti itu tidak memungkinkan untuk dipadankan. Memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang bersifat pilihan, apabila kita mengaku sebagai orang Kristen.

Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, dipertegas pula oleh Rasul Paulus. Dalam surat Filipi, Paulus berkata: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya," (Filipi 3:10).

Melalui surat tersebut Rasul Paulus berpendapat bahwa pengenalan akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, tidak mungkin dipisahkan dari persekutuan dalam penderitaan dan keserupaan dalam kematian-Nya. Sehingga sekali lagi kita mendapati bahwa kehidupan orang Kristen tidak mungkin dapat dipisahkan dari penderitaan serta kesakitan, sebagai akibat dari pengikutan kita kepada Yesus Kristus.

Jika kehidupan orang Kristen tidak mungkin dipisahkan dari kesakitan, lalu mengapa Yabes berdoa agar kesakitan tidak menimpa dia? Apakah Yabes salah berdoa? Tetapi jika ia salah berdoa, lalu mengapa Tuhan berkenan mengabulkan doanya tersebut? Bagaimana kita memahami hal yang seakan-akan saling bertentangan ini?

Kita tidak mungkin tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini, kecuali apabila kita kembali kepada ajaran Alkitab tentang kesulitan dan penderitaan, serta hal baik apa yang dapat dihasilkan daripadanya.

Alkitab mengajarkan bahwa kesulitan dan penderitaan adalah hal yang tidak mungkin dihindarkan dari kehidupan seluruh umat manusia, entah dari kalangan orang yang percaya kepada Yesus Kristus, maupun kelompok orang yang tidak percaya. Hal ini terjadi terutama karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa sedemikian besarnya, sehingga bukan hanya manusia saja yang mengalami penderitaan, tetapi seluruh alam semesta, seperti tanah, tumbuhan dan hewan, juga mengalaminya. Bahkan Allah Tritunggal pun turut mengalami kepedihan, penderitaan dan kematian dari salah satu Pribadi-Nya sebagai akibat dari dosa manusia.

Penderitaan bagi orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus (non-believer)

Tadi sudah saya sebutkan, bahwa ada jauh lebih banyak jumlah manusia di dunia ini yang memilih untuk menolak Yesus Kristus atau yang tidak menaruh kepedulian pada-Nya. Menurut hitungan kasar saja, diperkirakan hanya 1/3 penduduk bumi yang dapat dikategorikan sebagai orang yang punya hubungan dengan gereja. Dan dari yang 1/3 itupun, tidak semuanya menjalankan kehidupan imannya berdasarkan pemahaman Alkitab yang sehat dan memadai untuk dipertanggungjawabkan. Sehingga jumlah orang yang memiliki relasi dengan Kristus, yaitu yang kehidupannya digerakkan oleh kehidupan Kristus, pasti jauh lebih sedikit lagi.

Akibatnya, kebanyakan manusia di bumi ini tidak sadar bahwa mereka sedang hidup di dalam kegelapan. Mereka tidak tahu siapa Tuhan, mereka tidak tahu siapa diri mereka di hadapan Tuhan, sehingga pada akhirnya mereka juga tidak sadar betapa dalam mereka sudah jatuh ke dalam dosa. Percaya atau bahkan tahu bahwa Tuhan ada, itu satu hal. Tetapi tanpa memiliki pengenalan akan Dia, sehingga mengerti apa yang menjadi perintah-Nya, maka manusia tidak mungkin mengerti sejauh apa manusia telah berdosa di hadapan Tuhan. 

Dan apabila kita tidak sadar akan keberdosaan kita, lalu bagaimana mungkin ada pertobatan di dalam hati dan ada upaya untuk hidup bergantung kepada Tuhan? Pada akhirnya, kepercayaan kepada Tuhan tadi hanyalah terbatas sebagai konsep atau slogan yang kita setujui dalam pikiran, tetapi kemudian tidak berpengaruh apa-apa terhadap cara kita berpikir, cara merasa dan cara bertindak. Jika ukurannya hanya percaya bahwa Tuhan itu ada, iblis pun percaya demikian, dan bahkan mereka ketakutan. Tetapi apakah itu cukup atau berguna bagi perubahan si iblis? Mereka tetap akan dibinasakan karena mereka tidak akan bertobat dan tidak akan berubah taat kepada Tuhan.

Mungkin jika dilihat berdasarkan ukuran dunia, yaitu kehidupan yang terlihat dipermukaan, kehidupan dari orang yang tidak peduli pada Tuhan itu, bisa saja tampak baik. Mereka terlihat bahagia karena berkecukupan secara materi, terpandang di masyarakat dan punya pendidikan tinggi. Mereka punya banyak pencapaian dalam hidup dan menerima banyak pengakuan dari orang lain. Tetapi meski demikian, apakah jauh di lubuk hati mereka ada suatu kebahagiaan, kedamaian dan bebas dari penderitaan? Sangat mungkin tidak.

Sudah banyak kesaksian di media massa dari para selebriti baik dalam dan luar negeri, bahwa sekalipun mereka adalah orang-orang yang memiliki segalanya dalam ukuran dunia, tetapi hati mereka menderita karena kosong, bosan, kehilangan arti dan tidak tahu lagi harus melakukan apa yang baik. Belum lagi persoalan pernikahan, hubungan orangtua dengan anak, relasi bisnis, munculnya para haters, ketergantungan pada alkohol, obat terlarang dan lain sebagainya. Dunia sudah tidak terlalu kaget lagi dengan orang-orang sukses yang justru melakukan bunuh diri karena depresi atau sakit mental lainnya.

Kalau pun ada orang sukses di dunia ini yang benar-benar bahagia dan mengaku tidak mengalami penderitaan, maka sikap mereka yang tidak mau mengenal Allah Sang Pencipta melalui Yesus Kristus, suatu saat pasti akan membawa mereka pada penderitaan kekal di neraka. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, siap atau tidak siap, hal itu pasti akan terjadi pada setiap orang yang menolak Kristus. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tidak ada orang dari kelompok ini yang tidak akan menderita, entah di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

Penderitaan bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus (believer)

Sebelumnya sudah saya sebutkan bahwa orang percaya maupun bukan orang percaya, pasti akan mengalami penderitaan, oleh sebab kita hidup di suatu rentang waktu di mana dunia telah jatuh ke dalam dosa. Meski demikian, bukan berarti penderitaan orang yang percaya pada Yesus Kristus (believer) dan orang yang tidak percaya kepada-Nya (non-believer) itu ada kesamaan di dalam makna dan tujuannya.

Ketika seorang non-believer menderita, ia menderita sendirian tanpa adanya penyertaan Tuhan. Sebab bagaimana mungkin orang itu dapat memperoleh penyertaan dan penghiburan Tuhan apabila percaya kepada-Nya pun tidak?

Tetapi tidak demikian halnya dengan orang percaya, penderitaannya menjadi sesuatu yang bernilai, sebab Allah sendiri turut menderita bersamanya. Allah yang mahakuasa telah rela menjadi Manusia, untuk turut merasakan penderitaan dan kelemahan manusia, dan bahkan dalam natur-Nya sebagai Manusia, Ia telah menderita penghukuman yang sangat mengerikan hingga mati dengan cara yang menyakitkan di atas kayu salib.

Selain Allah turut menderita bagi dan bersama orang percaya, Allah juga memakai penderitaan di dunia sebagai suatu sarana yang positif bagi umat-Nya. Sebagaimana yang dapat kita lihat sendiri secara faktual, kita dapati kenyataan bahwa Tuhan memang tidak menghapus penderitaan di dalam dunia. Ada waktunya kelak dimana Tuhan akan menghapus segala penderitaan di dunia, tetapi untuk sekarang Tuhan membiarkan penderitaan itu tetap ada. Penderitaan adalah akibat ulah perbuatan manusia sendiri dan sebetulnya Tuhan tidak ada kewajiban untuk membereskan apa yang sudah dirusak oleh manusia.

Akan tetapi, sementara penderitaan itu dibiarkan tetap ada di dalam dunia, Tuhan memakai penderitaan itu sebagai sarana untuk mencapai beberapa tujuan yang positif. Di tangan Tuhan yang mahakuasa, penderitaan dipakai sebagai:

A. jalan bagi umat-Nya untuk bersekutu dengan Pribadi-Nya.
B. sarana untuk mempertumbuhkan kerohanian umat-Nya.
C. alat untuk menguji isi hati, kesetiaan dan kesejatian iman dari umat-Nya.

Melalui penderitaan yang Tuhan izinkan untuk terjadi inilah, dunia yang kita kenal sekarang ini perlahan-lahan berjalan menuju kebinasaan atau kematiannya. Orang yang tidak percaya (non-believer) akan ikut binasa bersama dengan dunia yang tercemar dosa ini. Sedangkan orang-orang percaya (kaum believer), juga berjalan di dalam jalan salib menuju kematian mereka bersama Kristus.

Sampai pada bagian ini, seakan-akan jalan kehidupan non-believer sama dengan jalan kehidupan believer. Sama-sama mati. Kelompok yang satu akan mati bersama dunia, karena mereka begitu mencintai dunia, selalu mendengarkan nasihat dunia dan ingin sama seperti dunia. Sementara kelompok believer akan mati bersama Kristus, karena mereka mengasihi Kristus, selalu mendengarkan nasihat Kristus dan ingin menjadi sama seperti Kristus. Lalu bedanya di mana?

Bedanya adalah yang mati bersama dunia, akan terus mati, mereka mengalami kebinasaan kekal. Sedangkan yang mati bersama Kristus akan dibangkitkan bersama Kristus. Yang mati bersama dunia, tidak akan mendapatkan Kristus dan tidak akan mendapatkan dunia yang baru. Sementara kaum believer yang mati bersama Tuhan Yesus, mereka bersama-sama dengan seluruh ciptaan yang lain akan memperoleh dunia yang baru, yang dicipta ulang oleh Allah, sebuah dunia yang bebas dari penderitaan. Jadi, yang mati dan bangkit bersama Kristus akan mendapatkan Kristus, sekaligus mendapatkan kesempatan hidup kekal dalam dunia yang baru tersebut.

Jika semua orang pasti menderita, lantas bagaimana Yabes dapat meminta dalam doa untuk dibebaskan dari kesakitan atau penderitaan?

Pembahasan Doa Yabes untuk dibebaskan dari penderitaan, ada di dalam kategori pembicaraan tentang penderitaan yang dipakai Tuhan untuk mempertumbuhkan kerohanian umat-Nya. Secara sederhana dapat dikatakan seperti ini: "Tuhan memakai penderitaan untuk mempertumbuhkan kerohanian seseorang. Lalu ketika kerohanian seseorang sudah semakin bertumbuh, cinta kasihnya pada Allah dan pada sesama juga bertumbuh, maka penderitaan yang harus dihadapi orang itu terasa jadi lebih mudah ditanggung. Bukan karena penderitaannya menjadi kecil atau penderitaannya dihilangkan, melainkan karena orang yang mengalaminya sudah semakin matang, semakin kuat dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan, semakin mampu memaknai sebuah penderitaan yang diizinkan Tuhan, bahwa semua itu terjadi demi mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu pertumbuhan rohani dan keserupaan dengan Kristus."

Yesus Kristus mengalami penderitaan selama hidup-Nya di dunia, bahkan sampai saat kematian-Nya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin kita yang menjadi pengikut-Nya tidak akan mengalami atau mencicipi hal serupa?

Bagaimana penderitaan kita dipakai Tuhan untuk mempertumbuhkan kerohanian?

Penderitaan yang ada di dunia ini sebagai akibat dosa manusia, tidak dihapuskan oleh Tuhan. Sebaliknya penderitaan itu dipakai oleh Tuhan sebagai sarana untuk mempertumbuhkan kerohanian umat pilihan. Melalui penderitaan, iman mereka diuji, karakter mereka diasah sehingga lambat laun mereka menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus.

Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat Roma, ada sebuah petunjuk tentang bagaimana penderitaan atau kesengsaraan itu membawa kita pada pertumbuhan rohani. Rasul Paulus menulis: Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:2-5).

Rasul Paulus tidak memandang kesengsaraan dari sudut pandang yang negatif. Ia memandang kesengsaraan sebagai suatu dasar untuk bermegah. Tentu saja dengan berkata seperti ini bukan berarti bahwa kita lalu menjadi sombong karena telah lebih banyak menderita dibanding orang lain, melainkan berarti kita diajak melihat bahwa penderitaan yang terjadi atas seizin Tuhan harus kita lihat sebagai tanda bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu pada diri kita.

Apa yang dapat dihasilkan dari sebuah kesulitan? Menurut Paulus kesulitan menimbulkan ketekunan. Dan ketekunan adalah sebuah karakter yang baik. Dari sesuatu yang terlihat sebagai negatif, berubah menjadi sesuatu yang positif. Dan dari ketekunan pun, kemudian menghasilkan karakter-karakter lain yang juga baik di mata Tuhan, hingga pada akhirnya orang itu mampu menaruh pengharapan pada kasih Tuhan.

Pengharapan bukanlah suatu hal yang sepele. Dalam konteks yang umum saja, sebuah pengharapan sudah mampu membuat seseorang menjadi lebih kuat di dalam menahan penderitaan. Apalagi dalam konteks pengharapan kepada Allah yang hidup. Ketika sebuah penderitaan membawa manusia kepada Allah, maka sengat dari penderitaan itu menjadi semakin dapat ditanggung.

Tetapi sebaliknya, ketiadaan pengharapan dapat membuat seseorang mengalami kehancuran mental dan merasakan penderitaan sebagai sesuatu yang tak tertahankan.

Pertumbuhan rohani membuat kesakitan tidak menimpa kita

Harapan Yabes agar kesakitan tidak menimpa lagi, dapat dicapai apabila seseorang mengalami pertumbuhan rohani. Ketika seseorang bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih, maka sekalipun penderitaan itu ada, orang tersebut akan dimampukan untuk menanggungnya.

Tuhan tidak menghilangkan penderitaan dan kesakitan di dalam dunia ini. Tuhan justru ikut menderita bahkan mati bersama dengan manusia. Dan barangsiapa menderita dan mati bersama Dia, maka penderitaan dan kematiannya tidak sia-sia. Penderitaannya membuat ia bertumbuh, dan kematiannya membuat ia bangkit bersama Kristus.

Tuhan tidak menghapus penderitaan di dalam dunia, tetapi Ia memakai penderitaan itu untuk memperkuat kerohanian anak-anak-Nya sehingga pada gilirannya, penderitaan itupun dapat lebih ditanggung. Bukankah ketika seseorang mengasihi, maka orang itu lebih siap menderita demi orang yang dikasihi?

Seorang Ibu rela mengalami kesakitan demi mendapatkan anak yang dicintai. Setelah anak itu lahir, penderitaan si ibu tidak berhenti, melainkan terus menerus datang silih berganti. Namun karena cintanya sebagai orang tua kepada anaknya, maka segala kesulitan dan penderitaan itu ditanggungnya dengan rela, bahkan ada kalanya tidak dianggap sebagai penderitaan lagi. Ini adalah contoh sederhana dari hilangnya penderitaan karena ditelan oleh kasih sayang.

Bukankah kita juga rela melakukan banyak hal, rela direpotkan oleh orang yang kita cintai? Tanpa diminta pun kita bersedia melakukan segala yang diperlukan demi orang yang dicintai itu, bukan? Tetapi bagaimana jika ada orang yang tidak kita cintai datang lalu minta tolong pada kita untuk mengerjakan ini dan itu? Bukankah kita jadi merasa sangat terganggu, tertekan, kesal, ingin marah dan muncul rupa-rupa perasaan sulit lainnya? Tanpa cinta, banyak hal terasa seperti beban yang berat.

Dalam ucapan Tuhan Yesus mengenai "tampar pipi kiri, beri pipi kanan," kita jangan memahami ucapan itu sebagai suatu ajaran kebodohan atau kelemahan. Sebaliknya, Tuhan ingin kita menjadi kuat di dalam kasih, hingga lebih rela menderita dan lebih siap dilukai oleh dunia ini. Di dalam dunia kita mengalami keterlukaan, katakanlah seperti orang yang ditampar pipi sebelah kirinya. Orang yang tidak punya kasih, akan menampar balik, jika ia mampu, atau jika tidak cukup kuat untuk membalas, maka ia akan pergi menjauh. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kasih yang besar mampu menahan kita dari keinginan membalas atau menjauh. Kasih yang besar membuat kita bertahan, tetap melayani dunia ini, meski dengan risiko akan menerima tamparan berikutnya. Itu sama seperti "memberi peluang bagi orang lain untuk menampar pipi yang lain."

Tuhan Yesus memiliki kasih yang sempurna. Demi mengasihi dunia, Ia bukan saja rela ditampar, tetapi bahkan dipukuli, diludahi, diejek, ditelanjangi bahkan akhirnya disiksa hingga mati. Apakah Tuhan Yesus tidak merasa kesakitan? Tentu saja. Tetapi Tuhan Yesus mampu melalui semua itu karena Ia memiliki kasih yang sangat besar. Kasih-Nya pada Bapa dan kasih-Nya pada manusia, membuat penderitaan menjadi sesuatu yang relatif.

Dalam di Kitab Wahyu, kita juga mendapati kondisi jemaat saat itu yang sedang mengalami siksaan dari Kaisar Dominitian yang kejam, sehingga mereka berseru-seru kepada Tuhan. Yang menarik untuk dipelajari adalah bahwa Tuhan bukan meresponi seruan umat dengan cara melenyapkan Kaisar yang kejam tadi, tetapi Tuhan memerintahkan agar fokus orang Kristen-lah yang harus dipertajam kepada Kristus dan Firman-Nya.

Penutup

Pekerjaan Tuhan di dunia begitu besar dan sekalipun Ia mahakuasa, Tuhan tetap memilih untuk melayani dunia ini melalui tangan orang-orang yang telah ditebus-Nya. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Beliau melayani orang-orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia-Nya. Tetapi bukan itu saja yang dilakukan-Nya, Tuhan Yesus pun mengajar, memuridkan orang-orang percaya, supaya pada gilirannya para murid pun dapat mewakili Tuhan, menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk melayani dunia ini.

Tuhan memanggil orang percaya, anak-anak-Nya, para murid yang setia, untuk memikul salib sambil berjalan mengikuti Dia. Dalam hal seperti inilah doa Yabes menemukan penggenapannya. Dalam persekutuan penderitaan bersama Kristus seperti inilah, Bapa dipermuliakan.

Sunday, August 6, 2023

Teologi Salib menurut pandangan Martin Luther

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)

Teologi Salib menurut Martin Luther

Apa itu Teologi Salib?


Di dalam ajaran Kristen, yang dimaksud dengan Teologi Salib adalah sebuah pandangan teologis yang menitikberatkan pembahasannya pada arti penting dari salib Kristus. Dan Martin Luther, sebagai tokoh Reformasi Protestan pada abad ke-16, menempatkan teologi salib sebagai salah satu elemen kunci dalam pemahaman iman Kristen dan menyatakan bahwa salib merupakan inti pesan Injil.


Rekomendasi Buku:
"Yesus - Allah yang mengenal nama Anda"
Klik disini.

 

Apa yang dikatakan oleh Martin Luther ini memiliki kesejajaran dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus. Paulus berkata: Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Kor 2:2)

Melalui ayat ini kita mendapat gambaran bahwa Rasul Paulus tidak memiliki materi pengajaran lain yang lebih penting untuk disampaikan, selain mengajarkan tentang Tuhan Yesus yang tersalib itu. Ini adalah topik yang paling penting melampaui topik pembicaraan lainnya.

Martin Luther juga melihat pemberitaan salib sebagai hal yang sangat penting untuk dibicarakan dan diajarkan kepada orang Kristen. Hal itu terjadi demikian, selain karena berita salib merupakan berita yang sentral di dalam kekristenan, disebabkan juga karena Martin Luther melihat bahwa orang Kristen masih lebih suka pada Teologi Kemuliaan ketimbang Teologi Salib.

 

Seperti apa yang bukan Teologi Salib?

 

Teologi Kemuliaan adalah suatu pandangan teologis yang mengedepankan kemuliaan-kemuliaan duniawi sebagai elemen utama yang diberitakan kepada dunia. Sebagai contoh: orang Kristen ingin memperkenalkan Kristus melalui profil gereja yang kuat secara finansial, kuat secara politik, memiliki jemaat yang terdiri dari pejabat, penguasa, ilmuwan yang highly educated, orang-orang berpengaruh, terkemuka dan disegani oleh masyarakat. Selain profil gereja yang seperti itu, orang Kristen yang menganut teologi kemuliaan juga berusaha tampil sukses secara finansial, memakai dan memiliki barang-barang bermerek, dan sangat jauh dari kesan kelemahan.

Bagi Luther model pemberitaan seperti itu, memiliki arah yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menjadikan Salib Kristus sebagai sentral pemberitaannya. Dan apabila kita perhatikan bagaimana Alkitab sendiri memberitakan tentang Kristus, maka dapat dikatakan bahwa semenjak kelahiran, hingga kematian-Nya, Tuhan Yesus senantiasa membawa kisah Salib di dalam setiap langkah kehidupan-Nya.

 

Apa saja unsur-unsur yang dibicarakan dalam Teologi Salib?

 

Secara umum, atau secara garis besar sederhana, ada beberapa poin penting dalam pandangan teologi Salib Martin Luther:

1. Keadilan Allah dan Kasih Allah:

Luther menganggap Salib sebagai demonstrasi terbesar dari keadilan dan kasih Allah. Dalam kematian Kristus di kayu Salib, keadilan Allah terpenuhi karena dosa-dosa manusia dihukum dan dibayar sepenuhnya. Sementara itu, kasih Allah yang tak terbandingkan ditunjukkan dengan pemberian-Nya, yaitu Anak-Nya yang satu-satunya, untuk menebus dosa-dosa manusia.

2. Penebusan Dosa:

Luther percaya bahwa kematian Yesus Kristus di Salib adalah pembayaran penebusan untuk dosa-dosa manusia. Manusia, karena sifat dosanya, tidak dapat membebaskan diri mereka sendiri dari konsekuensi dosa. Kristus sebagai "Korban Allah" menggantikan manusia sebagai ganti penebusan dosa dan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan Allah.

3. Sola Fide (Iman Saja):

Teologi Salib Luther berhubungan erat dengan prinsip Sola Fide atau "Iman Saja." Luther mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidak diperoleh melalui perbuatan baik atau usaha manusia, tetapi melalui iman pribadi kepada Kristus sebagai Juruselamat penebus dosa. Ketika seseorang mempercayai bahwa Kristus telah membayar dosa-dosa mereka di Salib, keselamatan dan pengampunan diberikan oleh anugerah Allah melalui iman semata.

4. Perubahan Batiniah:

Luther juga menekankan pentingnya perubahan batiniah atau perubahan hati yang dialami oleh seseorang melalui iman dalam Kristus. Kematian Kristus di Salib mempengaruhi jiwa manusia, membawa pertobatan, dan mengubah arah hidup mereka untuk hidup dalam ketaatan dan pelayanan kepada Allah.

5. Pengenalan Diri:

Luther menekankan perlunya pengenalan diri sebagai dosa, kelemahan, dan keterbatasan manusia. Hanya ketika seseorang menyadari keadaan dosanya dan kebutuhan akan penyelamatan, mereka akan mencari pertolongan dan keselamatan melalui iman kepada Kristus yang mati dan bangkit.

 

Kendala dalam menghayati Teologi Salib

 

Bagi Luther, teologi Salib adalah hal yang tak terpisahkan dari pengajaran Alkitab. Ia menekankan bahwa gereja harus kembali ke dasar iman Kristen yang sejati, yaitu Yesus Kristus dan karyanya di kayu Salib. Seluruh ajaran dan praktik gerejawi harus dilihat melalui lensa salib, karena di sana terdapat titik puncak dari kasih dan keadilan Allah untuk menyelamatkan umat manusia.

Pemberitaan seperti ini tentu saja berbeda dengan model pemberitaan yang  menjunjung tinggi kesuksesan, kekayaan, kemegahan, kepintaran dan kemuliaan gereja. Sebab semua itu justru memang dijunjung tinggi sebagai kemuliaan ala dunia, dan bukan kemuliaan melalui penderitaan salib seperti yang Tuhan Yesus perlihatkan dalam kehidupan-Nya.

Bagaimana mungkin orang dapat masuk ke dalam penghayatan tentang keadilan dan kasih Allah apabila yang dikedepankan adalah kekayaan materi, kesuksesan, kepintaran dan kekuatan sebuah gereja di dalam dunia ini? Berbicara tentang dosa manusia, adalah berbicara tentang kegagalan dan kerendahan manusia, bukan tentang betapa sukses dan terhormatnya seorang manusia atau sebuah gereja.

 

Teologi Salib di dalam kehidupan Tuhan Yesus sendiri.

 

Tuhan Yesus sendiri sejak kelahiran hingga kematian-Nya, senantiasa hidup di bawah bayang-bayang salib. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia sebagai bayi, bukan sebagai penguasa yang sangat kuat. Dan kelahiran-Nya pun terjadi di antara orang miskin dan bahkan di dalam kandang binatang. Sama sekali bukan gambaran yang high-life dan elite dari seorang penguasa.

Ketika Tuhan Yesus beranjak dewasa, Ia tidak tinggal di Yerusalem, kota yang terkenal sejak jaman Daud, sebuah kota suci dimana Bait Allah berdiri. Tuhan Yesus justru tinggal di Nazareth, sebuah kota kecil yang bahkan tidak pernah dibicarakan satu kalipun di dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus tidak memiliki kehidupan yang membuat orang berdecak kagum berdasarkan tempat tinggal-Nya atau status social-Nya, tetapi memilih hidup di dalam kerendahan dan kesederhanaan. Sangat bertolak belakang dengan orang Kristen atau gereja yang menganut Teologi Kemuliaan, yaitu orang yang ingin kelihatan hebat dan terpandang tadi.

Kehidupan keluarga Tuhan Yesus juga bukan sebuah kehidupan yang sempurna dalam ukuran dunia. Ayah-Nya yaitu Yusuf sudah meninggal semenjak Tuhan Yesus masih muda. Untuk seorang Pribadi yang memiliki kuasa melakukan mukjizat, Tuhan Yesus tidak melakukan mukjizat kesembuhan bagi ayah-Nya sendiri. Tuhan Yesus juga memiliki saudara-saudari yang tidak menerima Dia begitu saja. Alkitab mencatat bahwa saudara-saudari Tuhan Yesus sendiri menganggap Dia sebagai orang yang tidak waras. Injil Markus mencatat: Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. (Markus 3:21)

Sudah cukup berat apabila orang lain yang bukan keluarga menyalahpahami kita, Tuhan Yesus bukan saja disalahpahami oleh orang lain, tetapi bahkan keluarga-Nya sendiri pun seperti tidak berpihak kepada Dia. Inilah jalan salib yang harus ditempuh oleh Tuhan Yesus sepanjang kehidupan-Nya.

Kematian di atas kayu salib adalah puncak dari Teologi Salib itu sendiri bagi Tuhan Yesus. Dia yang tidak berdosa justru harus mati dengan cara yang sangat memalukan dan sangat menyakitkan, demi menebus dosa manusia. Sebagai suatu peringatan akan betapa rendahnya dan betapa parahnya kondisi keberdosaan manusia hingga kehidupan seseorang Pribadi yang begitu baik dan suci pun harus ikut terseret ke dalam kehancuran.

 

Kesimpulan singkat dari Teologi Salib

 

Jadi bagaimana mungkin seseorang dapat memberitakan tentang Pribadi Allah yang seperti Yesus Kristus, melalui model pemberitaan yang isinya adalah kekayaan, kesuksesan, keberhasilan, kekuatan dan tepuk tangan dunia?

Berita Salib adalah berita tentang kemiskinan, kegagalan, ketidakmampuan, kelemahan dan penghakiman Ilahi. Tidak heran apabila sebagian besar manusia di dunia ini menganggap berita salib sebagai suatu kebodohan. Hanya orang-orang yang hatinya sudah diterangi oleh Roh Kudus saja yang mampu melihat berita salib sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kiranya Tuhan memberkati kita, amin.

 

 

Wednesday, May 24, 2023

Apa yang dimaksud dengan pemberitaan tentang salib?


Salib merupakan lambang atau simbol yang sangat penting di dalam iman Kristen. Sebab seluruh Alkitab bercerita atau menuju pada puncak cerita yang berpusat pada Yesus Kristus. Dan puncak dari kehidupan Tuhan Yesus sendiri adalah ketika Ia dipermuliakan di atas kayu salib. Sebagai orang Kristen kita tidak seharusnya berhenti pada budaya memakai simbol-simbol salib saja, entah sebagai kalung atau sebagai hiasan dinding rumah. Tanpa mencoba untuk mengerti lebih dalam arti dari salib, dan bahkan mengikuti panggilan Tuhan Yesus pada kita untuk turut memikul salib bersama Dia.

 

Buku "Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus"
Klik disini.

Di dalam sejarah, Tuhan Yesus bukan satu-satunya orang yang pernah disalibkan. Bahkan pada hari yang sama ketika Tuhan disalibkan, ada dua orang lain yang juga disalibkan bersama dengan Dia. Tetapi hanya Yesus Kristus, Tuhan kita sajalah, satu-satunya Pribadi yang disalibkan bukan karena Ia bersalah, tetapi karena Ia menebus kesalahan orang lain. Ada arti yang berbeda di balik peristiwa penyaliban Tuhan Yesus yang tidak dimiliki oleh siapapun di sepanjang sejarah dunia.

Di dalam kehidupan dan pengajaran-Nya, baik sebelum maupun setelah disalibkan, Tuhan Yesus meminta murid-Nya dan semua orang yang mau menjadi murid-Nya, untuk turut memikul salib seperti Dia. Tuhan Yesus berkata: Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius 10:38).

Ayat yang diambil dari Injil Matius di atas, sungguh suatu perkataan yang serius serta tidak dapat dianggap remeh, bukan? Kalimat Tuhan Yesus tidak memberikan banyak pilihan bagi manusia untuk dikatakan layak atau tidak layak di hadapan-Nya. Tentu saja hal ini bukan berarti keselamatan kita didasarkan pada keberhasilan dari usaha kita dalam memikul salib. Kalimat Tuhan Yesus ini seharusnya dimengerti sebagai tanda kesejatian iman, yaitu hal apakah yang seharusnya ada di dalam diri seseorang yang sudah diselamatkan. Memikul salib, dalam hal ini, adalah tanda dari anugerah sejati yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Ciri dari orang yang sudah diselamatkan adalah kerelaannya untuk menerima dan memikul salib yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Berita salib memiliki kedekatan dengan penderitaan, kesulitan dan bahkan kematian. Dalam tulisan singkat ini kita mencoba merenungkan apakah saja yang dapat kita kategorikan sebagai memikul salib Kristus dan hal apa saja yang bukan merupakan salib, sekalipun di dalamnya ada penderitaan.


Beberapa contoh dari penderitaan yang merupakan salib dari Tuhan

Contoh Penderitaan Salib yang Pertama

Ketika seseorang merelakan diri mengalami kematian, demi berkorban bagi orang lain, karena hal itu diinginkan oleh Tuhan, meskipun kita sendiri tidak mudah menanggungnya dan meskipun kita sendiri punya pilihan untuk pergi dari situasi tersebut.

Orang seperti ini memusatkan hidupnya pada keinginan dan rencana Tuhan, bukan keinginan dan rencananya pribadi. Tuhan Yesus adalah contoh yang sempurna dari orang yang memikul salib yang diberikan Allah Bapa kepada-Nya. Meskipun tidak ada kewajiban bagi-Nya untuk mati bagi orang lain, yaitu dalam rangka menebus manusia, Tuhan Yesus merelakan hati-Nya untuk menerima konsekuensi dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia tersebut. Dengan rela Ia memikul salib bahkan hingga mengalami kematian di atas kayu salib. Hal ini dilakukan karena sudah menjadi kehendak dari Sang Bapa untuk menyelamatkan dunia. 

Alkitab memberi kesaksian mengenai begitu besarnya kasih Allah kepada dunia ini, sehingga setelah jatuh ke dalam dosa pun Allah Bapa tidak bersegera untuk memusnahkannya. Sebaliknya, Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal untuk mati menebus dosa manusia. Dan sebagai Anak yang diutus oleh Bapa untuk menebus dosa, Tuhan Yesus rela menanggung segala penderitaan tersebut.

Memikul salib seperti ini merupakan kejadian yang dialami oleh Tuhan Yesus dan para martir. Tidak semua orang Kristen diberi anugerah untuk sampai pada titii ini di dalam kehidupan mereka.


Contoh Penderitaan Salib yang Kedua

Ketika seseorang harus menangung kehidupan yang sulit, semata-mata karena ia mau setia mengikuti pimpinan Tuhan

Dalam arti yang sempit, berita salib memang berisi tentang peristiwa yang secara spesifik dialami oleh Tuhan Yesus di atas bukit Golgota. Ketika paku-paku menembusi tangan dan kaki-Nya, ketika mahkota duri ditancapkan pada kepala-Nya, ketika Tuhan tergantung selama berjam-jam dalam penderitaan hingga ajal-Nya tiba, pada saat itulah peristiwa penyaliban sedang berlangsung. 

Tetapi dalam arti yang luas, berita salib adalah tentang keseluruhan hidup Tuhan Yesus dari sejak lahir sebagai  bayi hingga menemui kematian di atas salib. Sebab sejak bayipun Tuhan Yesus sudah menanggung perendahan serta senantiasa ada di bawah bayang-bayang kematian.

Sekalipun Tuhan Yesus bisa saja datang ke dunia dalam keadaan sudah dewasa, tetapi kita tahu bahwa Tuhan Yesus memilih untuk menjadi bayi. Berita salib dalam arti yang luas adalah suatu kerelaan untuk menanggalkan segala kekuatan dan membiarkan diri sendiri dalam keadaan yang rapuh, lemah, mudah diserang, mudah disakiti, mudah disalahpahami.

Berita salib dakam arti luas adalah ketika seseorang merelakan hatinya untuk dipimpin Tuhan masuk ke dalam kehidupan yang sulit, tidak semarak, tidak ideal, disalapahami, namun tetap melakukan panggilan Tuhan itu dengan setia.

Tuhan Yesus menanggalkan segala kemuliaan-Nya sebagai Pencipta dan menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang tidak harus dipertahankan. Dengan rela Ia memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus untuk masuk ke dalam rahim Maria dan dilahirkan sebagai bayi manusia.

Dalam keadaan-Nya sebagai bayi, tentu saja Tuhan Yesus sangat rapuh. Ia membiarkan Bapa-Nya yang memutuskan bagi Dia tentang apa yang harus terjadi. Lahir di kandang, di tengah keluarga yang miskin, di bawah ancaman pembunuhan Herodes, dilarikan ke Mesir, bertumbuh di sebuah desa kecil yang miskin dan bekerja dengan tangan-Nya sebagai tukang kayu. Perendahan hidup secara sosial di hadapan semua orang adalah salah satu aspek dari berita salib, dan hal ini mungkin justru lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Tidak semua orang Kristen diberi anugerah untuk menjadi martir, tetapi anugerah perendahan seperti yang harus dijalani oleh Tuhan Yesus sesungguhnya dapat terjadi pada siapa saja.

Secara insting yang berdosa, kita cenderung untuk lebih ingin dipermuliakan, disegani, dikagumi, diterima, dihormati oleh lain, tetapi jika kita melihat kepada Kristus, kita akan mendapati bahwa kehidupan Tuhan Yesus selama di dunia itu jauh dari kesan dipermuliakan, disegani dan dikagumi tadi. 

Hanya segelintir orang saja yang menemukan kemuliaan yang sejatu yang ada di dalam diri Yesus Kristus. Jauh lebih banyak orang yang salah paham, tidak suka dan bahkan sangat membenci Tuhan Yesus. Serangan dan sikap tidak percaya itu datang dari berbagai kalangan, mulai dari orang Farisi, ahli Taurat, pemerintah, masyarakat Yahudi, bahkan kaum keluarga-Nya sendiri pun tidak percaya pada-Nya dan menganggap diri-Ny tidak waras. Bukankah hal ini menyakitkan?

Tuhan Yesus tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun. Hati-Nya penuh kasih, sabar dan selalu ingin membawa orang kepada jalan yang benar. Fakta bahwa Dia ternyata sangat dibenci dan tidak dipercayai oleh sebagian besar masyarakat, pasti sangat menyakitkan bagi perasaan Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus rela menerima semua kepedihan itu sebagai jalan hidup yang telah ditetapkan oleh Sang Bapa.

Tuhan Yesus tidak pernah memberontak kepada Bapa-Nya. Apapun yang ditetapkan oleh Bapa, Tuhan Yesus siap untuk melakukan, dan dalam definisi yang cukup luas, kita dapat katakan bahwa inilah jalan salib yang harus ditempuh oleh Tuhan Yesus dalam rangka menyelamatkan manusia. Kematian di bukit Golgota adalah satu moment di antara sekian banyak moment dalam kehidupan Tuhan Yesus, yang menghasilkan suatu penderitaan salib bagi-Nya.

Dan justru penderitaan salib seperti inilah yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita sekarang. Sebab sebagai orang modern, mungkin membayangkan bahwa diri kita akan disalibkan sama seperti Kristus atau sama seperti para rasul, rasanya agak mustahil akan terjadi, sebab sistem hukum yang berlaku masa kini jelas berbeda dengan masa lalu. Dapat dikatakan, tidak ada lagi negara, apalagi negara maju dimana sistem peradilannya sudah jauh lebih baik, yang masih menerapkan hukuman salib untuk sarana menghukum seseorang.

Tetapi untuk setia menerima keputusan dan panggilan Tuhan di dalam hidup kita, sekalipun panggilan itu membawa pada kesulitan dan panggilan itu tidak sama dengan cita-cita kita, maka hal seperti ini jelas merupakan suatu jenis salib yang dapat dialami dan dipikul oleh setiap orang percaya dari di segala tempat, di segala waktu.


Contoh Penderitaan Salib yang Ketiga

Ketika seseorang memperkenalkan Tuhan kepada dunia bukan dengan cara-cara dunia, yaitu kemegahan, kekayaan dan kekuatan dunia, tetapi melalui pengorbanan, kesetiaan, kelemahan dan penderitaan.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk memperkenalkan Tuhan Yesus kepada dunia dan alangkah baiknya jika kita berusaha setia terhadap panggilan ini. Akan tetapi di dalam praktiknya, tidak jarang orang Kristen justru menyampaikan pesan yang berlawanan dengan pesan salib itu sendiri.

Di mana pesan atau berita salib itu bicara tentang penderitaan, pengorbanan, perendahan dan kesetiaan dalam mengikuti panggilan Ilahi sekalipun panggilan itu sangat berat. Orang Kristen justru mencoba memperkenalkan Kristus melalui institusi gereja yang organisasinya kuat, yang keuangannya kaya, yang banyak didukung oleh orang-orang penting di dalam masyarakat, yang hamba Tuhannya dari kalangan berpendidikan tinggi dari universitas bergengsi dengan kepandaian dalam berorasi tingkat tinggi dan kecakapan dalam ilmu berkomunikasi serta jago dalam bersilat lidah, yang jemaatnya makmur, yang jemaatnya selalu kelihatan ceria, sukacita, banyak pesta, tidak mengenal sakit penyakit, tidak ada kemalangan dan jauh dari penderitaan.

Model pemberitaan Injil seperti ini pernah muncul ketika Injil Kemakmuran (Prosperity Gospel) mulai dikenal di kalangan gereja-gereja tertentu. Menurut para penganut dan para pengajar Injil Kemakmuran, kita tidak boleh kelihatan lemah, sakit dan miskin di mata dunia. Sebab jika dunia melihat kita dalam kondisi yang seperti itu maka kita akan ditertawakan dan dunia tidak tertarik untuk menjadi orang Kristen.

Itu sebabnya para penganut Injil Kemakmuran sangat menekankan pada mukjizat kesembuhan dan berkat-berkat kekayaan. Kepada dunia diberitakan bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Penyembuh, tidak ada yang sakit di dalam komunitas Kristen karena sakit penyakit adalah gambaran dari kelemahan. Setiap penyakit akan disembuhkan melalui mukjizat-Nya yang ajaib.

Selain itu kepada dunia juga diberitakan bahwa Tuhan Yesus siap membalas berkali-kali lipat siapapun yang rela memberi persembahan kepada gereja. Sehingga tidak mungkin ada orang yang miskin ekonominya di kalangan gereja. Sebab jika seorang jemaat memberi 100, Tuhan Yesus akan balas memberkati jadi 1000. Maka berikan 1000, agar Tuhan Yesus balas 10.000. Jika urutan ini diteruskan, maka otomatis jemaat tadi makin lama akan makin kaya, karena mereka akan dibalas berlipat-lipat ganda dengan kekayaan oleh Tuhan Yesus.

Tentu saja ajaran Injil Kemakmuran tadi adalah keliru dan sama sekali berbeda dengan apa yang Alkitab ajarkan.

Sekalipun Tuhan Yesus mampu menyembuhkan orang sakit, tetapi Tuhan Yesus tidak ingin orang mengenal Dia sebagai Mesias yang pekerjaan-Nya adalah menyembuhkan orang. Apabila kita membaca Injil Markus, jelas sekali terlihat bahwa Tuhan Yesus melarang orang memberitakan Diri-Nya sebagai pembuat Mukjizat. Yang Tuhan Yesus inginkan adalah orang mengenal Dia sebagai Mesias yang menderita dan mati di kayu salib, bukan Mesias celebrity yang bisa membuat keajaiban di mana-mana.

Lalu apabila sekarang ada kelompok orang Kristen yang sangat menekankan pada berita mukjizat kesembuhan, apakah hal itu bukan merupakan tindakan yang justru tidak disukai oleh Tuhan Yesus sendiri? Mengapa manusia begitu berani dengan sengaja melakukan apa yang justru dilarang oleh Tuhan Yesus dan bahkan secara gegabah berani mengatasnamakan tindakan mereka itu sebagai pemberitaan Injil?

Pemberitaan Injil adalah pemberitaan tentang penderitaan salib, yaitu Tuhan yang mengasihi manusia sehingga rela berkorban untuk menyelamatkan manusia itu. Berita salib adalah berita tentang manusia yang berdosa, lemah, miskin, gagal dan tidak mampu. Lalu Tuhan datang menolong dan membebaskan manusia, agar mereka dapat hidup dengan bebas, yaitu bebas mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia yang lain. Tetapi orang dunia tidak suka dianggap lemah, berdosa, miskin, bodoh. Mereka ingin dianggap kaya, kuat, sukses, pandai, mampu mengatasi segala rintangan dengan kekuatan sendiri. 

Itu sebabnya rasul Paulus berkata: Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)

Rasul Paulus sendiri tidak diragukan lagi merupakan seorang yang pandai dan berpendidikan tinggi. Akan tetapi di dalam menyampaikan Firman Tuhan, Rasul Paulus tidak ingin mengandalkan hikmat dan kepandaian manusia dalam berargumentasi, dalam berorasi atau berolah pikir atau apalagi bersilat lidah. Rasul Paulus hanya ingin bergantung pada kuasa Roh saja, sebab Paulus sadar bahwa tanpa Tuhan, dirinya bukan siapa-siapa.

Selengkapnya Rasul Paulus berkata:

1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. 2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. 3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. 4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, 5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1 Korintus 2:1-5)


Beberapa contoh dari penderitaan yang BUKAN merupakan salib dari Tuhan

Setelah melihat dan merenungkan contoh pengertian dari memikul salib, berikut ini kita akan melihat contoh dari penderitaan, tetapi tidak dapat dikategorikan sebagai salib Tuhan.


Pertama

Mengalami penderitaan sebagai akibat dari kesalahan diri sendiri.

Apabila kita melakukan suatu kesalahan, cepat atau lambat kita akan menerima konsekuensi dari kesalahan itu dan biasanya ada penderitaan yang harus kita alami sebagai akibatnya. Penderitaan semacam ini jelas bukan salib dari Tuhan, melainkan semata-mata konsekuensi dari kesalahan kita saja.

Tuhan Yesus menderita bukan karena kesalahan-Nya. Para martir dihukum mati juga bukan karena mereka melakukan tindak kriminal atau cacat secara moral, melainkan karena mereka menolak untuk berhenti mengasihi Allah.


Kedua

Mengalami penderitaan demi mendapat pujian manusia

Ini lebih mirip sikap hati yang ingin dianggap sebagai pahlawan, orang yang berhati mulia. Pusatnya atau centernya ada pada manusia itu sendiri, bukan karena digerakkan oleh pekerjaan Tuhan.

Di dalam hubungan antara manusia dan Tuhan, apabila seseorang tidak mengerti berita salib, tentang Allah yang berkorban bagi manusia yang berdosa, maka alternatifnya adalah orang itu akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan hati Allah. Manusia akan berusaha melakukan kebaikan, berusaha berkorban, bahkan mengalami penderitaan atas nama iman. Dan penderitaan semacam ini tentu saja bukan penderitaan salib, sebab penderitaan salib adalah Allah yang berkorban untuk mendapatkan manusia, bukan manusia yang berkorban untuk mendapatkan Allah.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk memikul salib kita masing-masing dan mengikut Dia. Amin.