Showing posts with label Yohanes. Show all posts
Showing posts with label Yohanes. Show all posts

Thursday, December 25, 2025

Beberapa pandangan mengenai Perjamuan Kudus

Matius 26:26-28 26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." 27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.


 

Berbeda dengan Gereja Katolik Roma yang mengakui hingga sebanyak tujuh sakramen di dalam gereja mereka, Gereja Kristen Protestan dan Pentakosta hanya mengakui dua sakramen saja, yaitu sakramen Baptis dan sakramen Perjamuan Kudus.

Namun dalam tulisan ini, yang akan saya bahas hanyalah mengenai Perjamuan Kudus saja, yaitu dimana kita akan mencoba melihat dan merenungkan tentang peristiwa apakah yang sesungguhnya terjadi di dalam seremonial atau sakramen Perjamuan Kudus itu? [Baca juga: Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku. Klik disini.]

Dari penelusuran yang saya lakukan, saya mendapati bahwa mencoba memahami apa yang terjadi di dalam peristiwa Perjamuan Kudus ternyata bukanlah merupakan perkara yang mudah. Hal itu terlihat dari munculnya beberapa pandangan di antara para teolog, dan antara pandangan dari teolog yang satu dengan pandangan dari teolog yang lain, terdapat berbagai perbedaan. Dan hingga hari ini, masing-masing teolog itu melahirkan aliran yang terus berjalan secara berbeda satu sama lain.

Tercatat ada 5 pandangan terhadap Perjamuan Kudus, di sepanjang sejarah gereja, yaitu:

  • ·       Transubstansiasi : dianut oleh gereja Katolik Roma
  • Consubstansiasi : dikemukakan oleh Martin Luther
  • Memorialism : dikemukakan oleh Zwingly
  • Reformed : dikemukakan oleh John Calvin
  • Misteri Ilahi: dianut dalam gereja Ortodoks Timur, dengan Yohanes Krisostom sebagai tokohnya

Tetapi dari 5 pandangan itu, dapat dikatakan hanya 4 pandangan saja yang paling populer dan lebih dapat diartikulasikan sebagai bahan pengajaran bagi kita orang Kristen, sedangkan pandangan ke 5 yaitu pandangan Misteri Ilahi merupakan pandangan yang mungkin agak sulit untuk dibicarakan karena pandangan ini memiliki begitu banyak unsur misteri di dalamnya. Bukankah apabila segala sesuatu tinggal tetap sebagai misteri, maka hal itu menjadi lebih sulit untuk dibicarakan?

Oleh karena itu, berikut ini, kita akan fokus pada ke 4 pandangan lainnya yang disebutkan tadi. Kita akan mencoba melihat satu persatu aspek-aspek apa saja yang ada di dalam masing-masing pandangan tersebut.

Transubstansiasi

Berasal dari dua perkataan, yaitu Trans dan Substansiasi, atau Substansi.

Trans artinya berpindah atau mengalami perbuahan. Pada awalnya istilah ini untuk menggambarkan perpindahan barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Perpindahan memakai istilah Trans. Sedangkan pelabuhan memakai istilah Port. Sehingga perpindahan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain disebut sebagai Transport.

Pada perkembangannya, istilah transport tersebut dipakai secara umum (general) sebagai model perpindahan dengan menggunakan kendaraan dari satu tempat ke tempat lain. Titik awal dan titik akhir perpindahan sudah tidak harus berupa pelabuhan dalam arti harafiah, melainkan dapat menjadi titik atau tempat apa saja. Dari rumah ke sekolah, dari kantor ke pasar dan lain sebagainya. Setiap ada perpindahan yang memakai kendaraan tertentu, maka kita memahaminya sebagai transportasi.

Substansi berarti bahan atau materi yang ada di dalam suatu benda, apakah itu benda padat, benda cair ataupun gas.

Oleh karena itu, Transubstansiasi dapat dimaknai sebagai adanya perubahan benda atau perubahan bahan, atau perubahan materi, atau perubahan substansi. Dari sebuah materi yang sebelumnya terbuat dari bahan A, berubah menjadi materi yang terbuat dari bahan B.

Perjamuan kudus menurut sudut pandang penganut teori Transubstansiasi adalah suatu peristiwa dimana terjadi perubahan substansi dari roti dan anggur, menjadi substansi yang lain. Dari yang semula roti, berubah menjadi daging. Dari yang semula anggur, berubah menjadi darah.

Pandangan seperti ini dianut oleh gereja Katolik Roma hingga sekarang. Mereka mengacu pada perkataan dalam Injil Yohanes 6:55-56, yang berbunyi: 55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. 56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Kelemahan dari pandangan Transubstansiasi

Sebagai orang Kristen, saya menganggap pandangan dari gereja Katolik tersebut memiliki kelemahan yang mendasar. Mereka sepertinya telah memahami ayat dalam Yohanes 6 tadi dari sudut pandang yang semata-mata literal. Padahal sewajarnya ungkapan tersebut harus dilihat sebagai sebuah ungkapan metafora saja.

Jadi menurut saya, pandangan Transubstansiasi ini, terlalu menekankan pada aspek fisikalitas dari roti dan daging, serta dari anggur dan darah, sehingga kurang melihat dari aspek spiritualitasnya, sebagaimana yang dipahami oleh pandangan Reformed.

Saya yakin, bahwa perkataan dalam Yohanes 6 tadi, pasti bukan harus dimaknai secara literal, sebab aktivitas memakan daging dan darah manusia, sekalipun manusia itu adalah Yesus Kristus, sudah pasti merupakan tindakan kanibalisme yang tentu bertentangan dengan nafas dari keseluruhan Kitab Suci itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa ayat dalam Alkitab yang melihat tindakan memakan daging manusia sebagai tindakan yang tidak seharusnya terjadi.

Imamat 26:27-29 27 Dan jikalau kamu dalam keadaan yang demikianpun tidak mendengarkan Daku, dan hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, 28 maka Akupun akan bertindak keras melawan kamu dan Aku sendiri akan menghajar kamu tujuh kali lipat karena dosamu, 29 dan kamu akan memakan daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan.

Dalam ayat-ayat dari Imamat di atas, tindakan memakan daging anak merupakan dampak dari hukuman Tuhan kepada umat yang tidak mau mendengarkan Tuhan serta hidup bertentangan dengan Dia.

Ulangan 28:53 Dan engkau akan memakan buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu.

Dalam ayat dalam Ulangan ini, sekali lagi diungkapkan bahwa tindakan memakan daging anak-anak merupakan akibat dari penghukuman Tuhan kepada umat-Nya. Tindakan tersebut merupakan tindakan yang sudah sangat putus asa di tengah-tengah penderitaan dan kelaparan yang menghimpit umat Tuhan karena ketidaktaatan mereka.

Yeremia 19:8-9 8 Aku akan membuat kota ini menjadi kengerian dan menjadi sasaran suitan. Setiap orang yang melewatinya akan merasa ngeri dan bersuit karena segala pukulan yang dideritanya. 9 Aku akan membuat mereka memakan daging anak-anaknya laki-laki dan daging anak-anaknya perempuan, dan setiap orang memakan daging temannya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhnya kepada mereka dan oleh orang-orang yang ingin mencabut nyawa mereka.

Gambaran di dalam kitab Yeremia juga masih sama dengan apa yang sudah pernah diungkapkan oleh Imamat maupun Ulangan dan bahkan di dalam Ratapan 2:20 (silahkan dibaca sendiri).

Yehezkiel 5:9-10 9 Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat. 10 Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin.

Kitab Yehezkiel juga memperlihatkan pola yang sama, yaitu tindakan memakan anak atau memakan anggota keluarga sebagai sebuah bentuk penghukuman Tuhan kepada umat, karena adanya ketidaktaatan yang membuat Tuhan murka.

Dari sekian banyak ayat Firman Tuhan yang kita kumpulkan, kita dapat menyimpulkan bahwa sangatlah tidak cocok apabila kita melakukan tindakan memakan roti dan anggur, yang kemudian berubah menjadi tubuh dan darah Tuhan Yesus, dalam sebuah sakramen yang kita kenal sebagai Perjamuan Kudus. Sebab kematian Tuhan Yesus merupakan kematian yang bersifat pengorbanan untuk menebus dosa, sebuah tindakan mulia yang terukur dan terencana oleh Tuhan Yesus sendiri, dan dengan hasil yang positif, yaitu keselamatan dan pertumbuhan spiritualitas umat.

Hal tersebut tentu sangat berbeda dengan tindakan memakan tubuh anak-anak karena didorong oleh tindakan putus asa di dalam kelaparan hebat yang disebabkan oleh hukuman Tuhan kepada umat yang berdosa tersebut, bukan?

Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa pandangan yang mengatakan bahwa roti dan anggur berubah secara substansi menjadi daging dan darah merupakan pandangan yang memiliki arah yang tidak sesuai dengan prinsip pengajaran di dalam Alkitab.

Kelebihan dari pandangan Transubstansiasi

Meskipun mempunyai kelemahan, tetapi pandangan Transubstansiasi masih memiliki kelebihannya pula, yaitu adanya penekanan pada kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ibadah. Hal ini sangat penting untuk menjadi bagian dari iman kita. Sebab iman kita bukan berpijak pada sesuatu yang kosong, melainkan pada sesuatu yang nyata. Gereja Katolik Roma ingin menekankan bahwa di dalam peristiwa Perjamuan Kudus, kehadiran Tuhan Yesus sungguh amat nyata, yaitu di dalam roti dan anggur yang telah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

Consubstantiation/Consubstansiasi

Pandangan ini diusulkan oleh Martin Luther (1483-1546). Istilah Consubstansiasi terdiri dari dua kata, yaitu Cons yang berarti: bersama-sama, dengan, with. Dan Substansiasi atau Substansi yang berarti bahan atau materi atau zat yang terdapat di dalam suatu benda.

Di dalam pandangan Consubstansiasi ini, roti tetap roti, anggur tetap anggur, tidak ada perubahan zat sebagaimana yang dipercayai oleh penganut Transubstansiasi. Akan tetapi tubuh Tuhan Yesus diyakini hadir bersama-sama, hadir di dalam roti yang dimakan oleh jemaat dan hadir pula di dalam anggur yang diminum. Dalam istilah Luther, tubuh dan darah Kristus itu hadir secara “in, with and under.” Tubuh dan darah Kristus hadir “di dalam, bersama-sama dan di bawah roti” dan anggur tersebut.

Untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan in, with and under tadi, Martin Luther memakai analogi besi yang dipanaskan di dalam api hingga membara kemerahan. Besi tadi masih hadir sebagai besi, api juga hadir sebagai api, tetapi mereka hadir bersama-sama secara dipersatukan, menjadi besi yang merah membara.

Luther juga bahkan menyinggung persamaan dalam peristiwa roti dan anggur ini dengan dwi nature dari Yesus Kristus yang 100% adalah Allah tapi sekaligus 100% adalah juga Manusia.

Kelemahan dari pandangan Consubstansiasi

Meskipun roti tidak berubah menjadi daging, namun ada kesan bahwa tubuh itu benar-benar hadir secara fisik, secara “in, with and under” dengan roti. Sehingga ketika kita memakan roti itu, maka kita juga seakan-akan memakan tubuh Tuhan secara jasmani. Akibatnya, pandangan ini, walau terkesan lebih baik dari pandangan Transubstantia, namun pada dasarnya cukup memiliki kesamaan.

Kelebihan dari pandangan Consubstansiasi

Sama seperti Transubstantia, pandangan Consubstantia ini juga menekankan arti penting dari kehadiran Kristus yang nyata di dalam ibadah.

Memorialism

Pandangan Memorialism, dipopulerkan oleh Zwingly (1484-1531). Agaknya Zwingly mendasarkan teologi Perjamuan Kudus-nya ini pada: Lukas 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."

Zwingly memahami Perjamuan Kudus sebagai sebuah seremoni peringatan terhadap Tuhan Yesus, yaitu saat:

  • ·       memecahkan roti bersama para murid, makan bersama (fellowship)
  • tubuhnya terpecah di kayu salib (pengorbanan)

Kelemahan dari pandangan Memorialism:

Pandangan Memorialism ini kurang atau bahkan tidak menekankan pada kehadiran Kristus secara nyata dalam ibadah. Pandangan ini cenderung menekankan pada aspek pengingat (reminder) saja, merenung serta mengenang perbuatan yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Namun persoalannya adalah, apabila peristiwa Perjamuan Kudus hanya sebagai unsur pengingat, maka kurang ada alasan yang kuat bagi jemaat untuk hadir bersama-sama digereja, sebab untuk mengingat perbuatan Tuhan, pada dasarnya bisa dilakukan di mana saja. Secara bersama-sama di gereja boleh, secara sendiri-sendiri di rumah pun tidak apa. Sehingga kurang ada makna yang mendalam bahwa Perjamuan Kudus ini merupakan peristiwa yang spesial, sakral, komunal dan spiritual.

Sebagai perbandingan, pandangan Transubstansia dan Consubstansia, meskipun memiliki kelemahan yang mendasar, tetapi memiliki kelebihan yaitu menekankan pada kehadiran Kristus yang nyata di dalam ibadah. Sehingga hal ini menjadi dorongan yang besar bagi jemaat untuk turut hadir di gereja bersama-sama dengan umat percaya yang lain. Sebab bagaimana mungkin kita bisa melakukan perjamuan Kudus sendirian di rumah, apabila Yesus Kristus sendiri diyakini sebagai Dia Yang Hadir di dalam ruang ibadah?

Lagipula, apabila kita hanya bermaksud untuk mengingat, maka sebetulnya tidak ada suatu urgensi untuk secara aktual memakan roti dan meminum anggur. Kita bisa mengingat Tuhan Yesus sambil menyaksikan peristiwa tersebut tanpa ada urgensi untuk ikut makan dan ikut minum. Atau kita bisa mengingat Tuhan Yesus sambil berkumpul dan menikmati makanan lain yang terasa lebih cocok dengan selera. Roti mungkin diganti menjadi nasi, sedangkan anggur diganti dengan minuman lain yang lebih sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Mengganti roti dengan makanan lain, atau anggur dengan minuman lain, mungkin tidak dapat dikatakan sebagai dosa, sebab iman Kristen bukanlah iman legalis, yang sangat bergantung pada aspek lahiriah seperti itu. Akan tetapi jika roti dan anggur kita tinggalkan demi menyesuaikan diri dengan selera makan dan minum orang Indonesia atau demi tujuan kepraktisan, maka lambat laun kita akan semakin kehilangan makna dari hidup dan pengorbanan Tuhan Yesus. Roti dan anggur memiliki simbolisasinya sendiri, serta memiliki sejarahnya sendiri, sehingga rasanya sangat tidak tepat apabila kita sembarangan saja mengganti ke dua elemen tersebut dengan makanan kita sehari-hari.

Reformed

Pandangan yang ke 4 adalah pandangan dari aliran gereja Reformed, yaitu pandangan yang dikemukakan oleh John Calvin (1509-1564).

Terlepas dari aliran gereja apa yang sedang kita ikuti ibadahnya saat ini, saya pikir tidak ada salahnya bagi seseorang untuk belajar melihat peristiwa Perjamuan Kudus melalui kacamata Reformed, sebab menurut saya, pandangan ini merupakan penggambaran yang dapat dikatakan paling lengkap serta paling mendekati maksud dari Alkitab.

Menurut pandangan Reformed, roti tetaplah roti, anggur juga tetap anggur. Tidak ada perubahan substansi seperti yang dipahami para penganut pandangan Transubstantia. Ketika jemaat menerima roti atau hosti, maka yang dimakan adalah benar-benar roti, benar-benar makanan. Dan ketika jemaat menerima anggur, maka yang diminum adalah benar-benar anggur, benar-benar merupakan minuman. Sehigga dalam hal ini, tidak ada persoalan mengenai tindakan memakan daging manusia atau meminum darah manusia.

Di sisi lain, bagi penganut pandangan Reformed, perayaan Perjamun Kudus di gereja juga bukanlah sekedar sebuah peringatan saja, sebagaimana yang dipahami oleh kaum Memorialism, sebab pandangan Reformed juga sangat menekankan pada kehadiran Tuhan Yesus yang nyata di dalam ibadah, yaitu kehadiran secara spiritual, sebuah kehadiran yang tidak terlihat oleh mata (non-visible), tetapi benar-benar nyata.

Jadi disatu sisi, ada kehadiran yang bersifat jasmaniah (atau fisikal atau materi), atau kehadiran yang terlihat oleh mata (Visible), yaitu melalui roti dan anggur tersebut. Tetapi ada pula kehadiran yang bersifat rohaniah atau non-visible itu tadi. Roti dan anggur yang bersifat jasmani serta visible itu, menjadi jembatan atau batu loncatan kepada sesuatu yang invisible, yaitu tubuh Tuhan secara rohani.

Oleh karena itu, pada waktu kita makan roti dan minum anggur, maka di satu sisi roti dan anggur itu bersatu dengan tubuh kita, sedangkan di sisi yang lain, roh kita pun dipersatukan dengan Tubuh Kristus yang rohani, sehingga melalui peristiwa ini, kita mengalami sebuah peristiwa yang sangat besar dan agung, yang disebut sebagai union with Christ. Peristiwa persatuan tubuh rohani kita dengan tubuh rohani Tuhan Yesus bukan saja merupakan sebuah peristiwa besar, tetapi juga peristiwa yang unik, spesial dan sangat sakral. Sehingga sangat disayangkan apabila ada seorang jemaat yang melewatkan peristiwa ini bersama-sama dengan umat percaya lain di dalam komuitas gereja.

Sebagai umat percaya, kita sering disebut pula sebagai tubuh Kristus. Hal itu dapat kita lihat di dalam sebuah peristiwa di mana Saulus menganiaya gereja, maka Tuhan Yesus sendiri menampakkan diri di hadapan Saulus serta berkata: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? (Kis 26:14)

Di sini kita melihat adanya suatu kesamaan tubuh antara tubuh jemaat dan tubuh Yesus Kristus, sehingga ketika Saulus menganiaya tubuh jemaat, maka Tuhan Yesus pun merasakannya dan menganggap bahwa aniaya yang dilakukan Saulus itu telah dilakukannya juga kepada Dia.

Bagaimana kita menanggapi hal ini? Tentu saja kita tidak dapat melihat kesatuan tubuh jemaat dan tubuh Tuhan ini dari sudut pandang yang jasmani bukan? Kita hanya dapat melihat kesatuan tubuh semacam itu dari suduh pandang yang rohani.

Sekarang mari kita lihat kembali ke dalam peristiwa Perjamuan Kudus. Semua orang percaya berkumpul di gereja, sebagai tubuh Kristus, lalu Kritus hadir secara spiritual bersama jemaat dan hadir pula secara jasmani di tengah-tengah jemaat, yaitu diwakilkan oleh roti dan anggur yang akan mereka makan. Sungguh merupakan gambaran peristiwa yang lengkap dan sesuai dengan konteks ayat Firman manapun.

Hal seperti ini, tentu sangat jauh berbeda dengan pandangan Memorialism yang hanya menekankan pada aspek mengingat atau mengenang saja. Memang mengenang atau mengingat pun sudah merupakan perbuatan yang baik, tetapi ada kejadian yang jauh lebih dalam, lebih bermakna, lebih khusus di dalam peristiwa Perjamuan Kudus, jika kita melihat dari sudut pandang Reformed.

Sakramen Perjamuan Kudus menjadi sesuatu yang sangat spesial di dalam pandangan Reformed, karena peristiwa ini begitu lengkap, aspek fisikal dan spiritual, jasmaniah dan rohaniah kita sebagai orang Kristen, tersentuh semua melalui Perjamuan Kudus tersebut.

Selain itu, penting pula untuk dicatat bahwa menurut pandangan Reformed, di dalam seremoni Perjamuan Kudus, maka bukan Tuhan Yesus yang secara spiritual turun ke bumi, melainkan diri kitalah yang (secara spiritual)  diangkat ke sorga untuk makan bersama dengan Tuhan. Hal ini diangkat dari sebuah prinsip yaitu bahwa semenjak Tuhan Yesus naik ke sorga, maka hingga saat inipun Tubuh Tuhan Yesus tetapi ada di sorga, hingga suatu hari ini Dia akan turun kembali ke bumi.

Penutup

Kiranya melalui penuturan tentang berbagai pandangan dari Perjamuan Kudus ini, kita kembali merenungkan akan pemahaman kita selama ini. Pandangan yang manakah yang kita anut selama ini? Meskipun setiap orang bebas untuk memilih bagaimana cara mereka memahami Perjamuan Kudus, tetapi adakah suatu kemungkinan, setelah membaca ini, kita mengubah sudut pandang kita yang lama dan belajar untuk merangkul pandangan baru yang didasarkan pada tafsiran Alkitab yang lebih lengkap?

Kiranya Tuhan Yesus memberkati dan menolong kita. Amin.

Baca juga:
Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus
. Klik disini

 

Catatan:
Membahas Perjamuan Kudus membutuhkan waktu dan materi yang lebih banyak sehingga di waktu mendatang kita tentu akan perlu melanjutkan pembahasan tentang Perjamuan Kudus ini. Tetapi untuk itu, saya akan menuangkannya di dalam tulisan yang berbeda.

 

 

Sunday, June 4, 2023

Lalu Yesus mengambil roti dan ikan itu (Yohanes 6:11)


 

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya kita sudah merenungkan tentang lima roti dan dua ikan yang dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Meskipun pemberian itu begitu minim dan boleh dikatakan tidak berarti, tetapi Tuhan kita mengambil persembahan tersebut.

 

Buku "Siapakah Yesus?- Mengenal Dia Secara Berbeda"
Klik disini.

Berbahagialah orang yang persembahannya diambil oleh Tuhan, sebab Alkitab mencatat tidak semua persembahan manusia pasti diambil-Nya. Perhatikan bahwa istilah yang dipakai adalah “Yesus mengambil,” bukan “Yesus menerima.” Sekilas hampir tidak ada perbedaan di antara kedua pengertian tersebut, tetapi yang ingin ditekankan oleh Yohanes adalah bahwa Tuhan Yesus tidak berada di posisi yang menerima secara pasif saja ketika diberi sesuatu, melainkan secara aktif memutuskan untuk mengambil persembahan itu.

Tidak jarang manusia berpikir bahwa Tuhan pasti menerima apapun yang diberikan kepada-Nya, seakan-akan Dia begitu pasif dan tidak punya pilihan untuk menolak. Bahkan ada pula orang yang melihat Tuhan sebagai pengemis yang suka meminta-minta kepada manusia. Mereka pikir Tuhan begitu kekurangan, sehingga membutuhkan sesuatu dari manusia. Mereka pikir Tuhan begitu miskin sehingga perlu disumbang oleh manusia. Tuhan begitu lemah dan kesepian sehingga manusia harus menyembah dan menyanyi bagi Dia. Betapa kelirunya cara berpikir semacam itu.

Dari sejak kitab Kejadian, Alkitab sudah mengajarkan bahwa Allah adalah Dia yang menyediakan kebutuhan manusia. Bahkan semua ciptaan pun diberikan kepada manusia untuk dikelola, dinikmati dan dimanfaatkan. Tanpa Allah yang terlebih dulu memberikan sesuatu pada manusia, maka manusia tidak mungkin dapat mempersembahkan apapun kepada-Nya.

Pesan seperti ini juga jelas kita baca dalam peristiwa perjumpaan antara Tuhan Yesus dan Petrus di tepi danau. Bukan suatu kebetulan jika Alkitab mencatat bahwa para murid tidak punya lauk pauk (biasanya berupa sepotong ikan) apapun untuk ditawarkan kepada Tuhan Yesus. Baru setelah Tuhan mendatangkan ikan dalam jumlah yang sangat besar, mereka dapat mempersembahkan ikan kepada-Nya untuk dinikmati bersama.

Sebagaimana terjadi di bukit sebelum kebangkitan, demikian pula terjadi di tepi danau setelah kebangkitan, Yesus maju… mengambil … dan memberikannya kepada mereka (Yohanes 21:13). Alkitab dengan konsisten mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Dia yang berdaulat untuk mengambil, atau tidak mengambil pemberian manusia.

Apabila Tuhan mengambil sesuatu yang kita persembahkan, maka kedaulatan ada di tangan Tuhan, bukan di dalam kehendak manusia. Alkitab mencatat beberapa peristiwa ketika Tuhan tidak bersedia mengambil pemberian manusia.

Contoh yang paling awal dapat kita baca dalam peristiwa Kain dan Habel. Dalam tulisan tentang Kain dan Habel, saya sudah menguraikan panjang lebar mengapa Tuhan mengambil persembahan Habel tetapi menolak persembahan Kain. Jika kita berpikir bahwa Tuhan hanya secara pasif menerima apapun yang dipersembahkan oleh manusia, maka kita harus ingat bahwa Alkitab justru mengajarkan tentang Tuhan yang dapat menolak pemberian manusia.

Raja Daud pun pernah ditolak, ketika ia ingin membangun Bait Allah bagi Tuhan. Gambaran seperti ini cukup kontras dengan pemikiran orang Kristen pada umumnya, bukan? Secara umum kita membayangkan apabila ada orang yang banyak uang, datang dengan niat untuk membangun gereja, maka sudah pasti Tuhan akan senang. Tapi Alkitab mengajarkan bahwa hal yang demikian tidaklah selalu terjadi (1 Raja-raja 8:19).

Tuhan tidak terkesima dengan kedudukan seseorang, meskipun Daud adalah raja. Tuhan tidak terkesima pada kekuatan financial seseorang, walaupun Daud kaya raya. Bahkan sekalipun Daud adalah orang percaya, tidak otomatis Tuhan mau mengambil sesuatu dari dia. Keputusan selalu ada di tangan Tuhan, bukan manusia. Jika itu bisa terjadi pada Daud, siapa yang berani mengatakan bahwa hal yang demikian tidak akan terjadi pada kita?

Meskipun bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, tetapi Yeremia mencatat perkataan Tuhan: “Sekalipun mereka berpuasa, Aku tidak akan mendengarkan seruan mereka; sekalipun mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian, Aku tidak akan berkenan kepada mereka.” (Yeremia 14:12, Yesaya 1:11 juga mencatat hal seperti ini).

Dalam kaitan dengan penolakan Tuhan, barangkali Matius pasal 7 adalah catatan yang paling mengerikan. Di mana sekelompok orang datang ke hadapan Tuhan membawa segala macam prestasi dan pencapaian mereka di dalam melayani Tuhan, tetapi mereka ditolak. Dalam peristiwa Daud, pemberiannya ditolak, tetapi orangnya diterima. Dalam Matius 7, pemberian mereka ditolak, orangnya pun ditolak. Menakutkan, bukan?

Tentu jauh lebih mudah bagi kita untuk mencerna tema yang populer seperti Allah yang menerima, Allah yang membuka tangan, Allah yang menyambut dan lain sebagainya. Tidak harus salah memikirkan sosok Allah yang seperti itu. Dan topik semacam itu pasti akan sejuk di telinga dan hangat di dalam hati. Tetapi Alkitab kita tidak selalu mengatakan hal yang seperti itu. Alkitab juga mengajarkan tentang Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang punya hak untuk menerima atau menolak manusia, untuk mendatangi atau meninggalkan, untuk memilih atau membiarkan, untuk mengambil atau melemparkan.

Alkitab tidak ditulis supaya telinga kita jadi sejuk dan hati kita jadi hangat. Alkitab ditulis untuk membawa kita masuk ke dalam pengenalan akan Allah yang sejati, melalui pertobatan yang juga sejati.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan memberitakan Injil kepada seorang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Waktu yang saya pakai untuk menjelaskan Alkitab dan memperkenalkan Kristus kepada dia satu orang saja, jauh lebih lama dari waktu yang biasa saya pakai untuk berbicara dari mimbar. Tetapi pada akhir pembicaraan dia hanya berkata: “Penjelasan Bapak sangat clear dan masuk akal. Tetapi saya tetap belum mau memutuskan.”

Manusia suka berpikir bahwa kedaulatan ada di tangannya. Manusia sering mengira bahwa pilihan ada di dalam genggamannya. Tergantung dia apakah mau terima Tuhan atau tidak. Tergantung keputusannya apakah mau menerima Tuhan Yesus atau menolak Dia. Seolah-olah Tuhan sedang mengemis cinta dan kita manusialah yang berkuasa untuk mau berbagi cinta ataukah tidak. Tuhan yang berharap, kita yang membuat keputusan. Ini sangat sangat keliru dan amat berbeda dengan apa yang Alkitab gambarkan.

Alkitab mengajarkan bahwa bukan manusia yang memutuskan untuk menerima Tuhan, tetapi Tuhan yang memutuskan untuk mau menerima atau tidak menerima seorang manusia. Kedaulatan selalu ada di tangan Tuhan. Orang yang menolak Kristus, pada dasarnya adalah orang yang telah dibuang oleh Sang Bapa.

Oleh karena itu…

Sebagai manusia hendaklah kita senantiasa memelihara rasa takut dan gentar di hadapan Tuhan. Ketika kita memberi persembahan kepada Tuhan, janganlah kita berpikir seperti orang berjiwa kolonial, yang memberi dari posisi di atas kepada orang yang posisinya di bawah. Yang mengalirkan berkat dari orang yang berkecukupan kepada orang yang berkekurangan. Yang menjadi semacam hero bagi orang-orang malang yang tak berdaya. Alkitab tidak pernah mengajarkan hal seperti ini.

Ketika kita datang membawa persembahan, kita adalah orang bawah, tidak peduli berapa kayanya, betapa pintarnya, betapa penuh talentanya, kita tetap adalah orang bawah, yang menyerahkan kembali segala sesuatu yang pernah dititipkan oleh Dia Yang Di atas sana. Adalah keputusan Tuhan, untuk menerima atau menolak apa yang kita persembahkan. Jangan pikir mentang-mentang kita ini kaya atau pintar maka Tuhan merasa semacam ada kebutuhan untuk memakai kita dalam melayani Dia. Kalau Tuhan mau pakai, Dia akan ambil, kalau Dia tidak mau pakai maka Dia tidak akan mengambil, meskipun kita berikan.

Perhatikan bahwa dalam peristiwa di bukit ini, jika Tuhan Yesus tidak mengambil roti dan ikan yang dipersembahkan kepada-Nya, maka roti tetaplah roti dan ikan tetaplah ikan, yang hanya bisa mencukupi kebutuhan orang yang membawanya. Baru setelah Tuhan mengambil roti itu, maka segalanya menjadi indah.

Dan perlu kita garis bawahi pula, sampai kisah itu berakhir dan beralih ke kisah lain, tidak ada satu kali pun Alkitab mencatat, siapa nama anak yang membawa roti dan ikan tadi. Seperti itu pulalah seharusnya pelayanan kita di hadapan Tuhan, stay humble, stay hidden, stay unnoticed, and yet being a bless for others and giving glory to the Lord. Dapatkah kita memiliki hati seperti ini? Kiranya Tuhan berbelaskasihan menolong kita yang lemah dan cenderung besar kepala ini. Amin.

Monday, May 1, 2023

Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6)

 Akulah jalan dan kebenaran dan hidup....

Yesus Kristus satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup

Di tengah masyarakat yang majemuk sekarang ini, kita mungkin bertanya-tanya: “Mengapa aku harus memilih percaya pada Yesus Kristus, padahal ada begitu banyak aliran kepercayaan di dunia ini?”

Di tengah situasi di mana kita sulit menaruh kepercayaan pada para pemimpin, pada institusi maupun individu, mungkin kita jadi bertanya: Masih adakah manusia yang dapat benar-benar diandalkan?

Di tengah kehidupan yang sarat dengan berita kematian, kehancuran, penderitaan, kita mungkin bertanya: Masih adakah suatu kehidupan indah yang boleh diharapkan?

Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu, kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus telah memberi jawaban. Tuhan Yesus berkata : Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

 


Rekomendasi Buku
"Siapakah Yesus? - Mengenal Dia Secara Berbeda."
Klik di sini.

Melalui kalimat yang Tuhan Yesus ucapkan tersebut, kita tahu bahwa Dia sendirilah yang sungguh-sungguh merupakan satu-satunya harapan bagi seluruh umat manusia. Dan menurut Alkitab, hanya orang yang mau percaya dan menerima undangan Tuhan Yesus sajalah yang benar-benar dapat menikmati apa Ia tawarkan itu.


Akulah jalan

"Life will find a way" : kata Dr Malcom, seorang ahli matematika yang ikut ke kebun binatang Dinosaurus dalam film Jurassic Park pertama. Walaupun hanya dalam sebuah film tetapi kalimat itu ada benarnya. Kehidupan akan terus menerus mencari jalan, demikian makna yang lebih tepat. Artinya, kehidupan tidak akan pernah statis, melainkan selalu mengalami perubahan, selalu bergerak, selalu mencari jalan keluar.

Itu sebabnya, manusia tidak pernah puas dengan keberadaannya saat ini. Ia terus menerus merasa kurang, bahkan kosong. Sehingga ia terus menerus mencari segala sesuatu untuk memenuhi kekosongan di dalam dirinya. Perasaan kosong dan tidak pernah puas ini dialami oleh semua orang, meskipun tidak semua orang tahu apa penyebabnya.

Hanya melalui terang Firman Tuhan, kita dapat mengetahui bahwa penyebab utama dari perasaan itu adalah keterpisahan dari Allah. Sebab pada hakekatnya, manusia diciptakan untuk hidup bersama Allah. Tetapi dosa telah memisahkan manusia dari Allah, sehingga kini manusia harus menanggung suatu kehidupan yang tidak lengkap. Ada yang hilang dalam diri manusia. Ada yang kosong, dan manusia melakukan berbagai upaya untuk mengisi kekosongan itu.

Segala bentuk upaya untuk mengisi kekosongan itu kemudian melahirkan konsep agama dalam diri manusia. Itu sebabnya, agama dalam pengertiannya yang paling mendasar adalah usaha manusia untuk menemukan yang ilahi. Manusia mencari jalan untuk kembali pada yang ilahi.

Ini adalah problem yang universal bagi manusia. Alam sadar maupun alam bawah sadar manusia mengatakan bahwa ada sesuatu di luar sana yang bersifat tidak terbatas. Dan bahwa diri kita yang terbatas ini suatu saat akan ditelan oleh yang tidak terbatas itu. Akan tetapi, dalam keterbatasannya, manusia tidak tahu persis apakah atau siapakah yang tidak terbatas itu?

Dua hal ini, yaitu usaha untuk menemukan yang ilahi dan ketidakmampuan untuk mengenal yang ilahi itu, melahirkan agama-agama yang ada di dunia. Baik agama-agama besar yang diakui dunia. Maupun agama-agama yang kita temukan dalam masyarakat primitif seperti Animisme dan Dinamisme

Bahkan masyarakat yang mengaku Atheis sekalipun, tidak dapat lari dari konsep ilahi tersebut. Buktinya? Fakta bahwa mereka berkata Tidak ada Allah justru menunjukkan bahwa di dalam benak mereka sebenarnya sudah terdapat suatu konsep ilahi. Sebab bagaimana mungkin mereka dapat menolak suatu konsep yang tidak pernah ada di dalam pikiran mereka?

Dari konsep agama yang manusia miliki itu, lalu muncullah berbagai peraturan agama. Manusia menciptakan larangan dan perintah yang menurut mereka dapat menjadikan dirinya lebih baik, lebih suci dan terutama lebih berhak untuk sampai kepada Allah dan diterima oleh-Nya. Manusia berpikir bahwa jika mereka berbuat baik maka Allah pasti mau menerima mereka di hadirat-Nya.

Tetapi Tuhan Yesus berkata Akulah jalan. Dalam bahasa Inggris, kata-kata Tuhan ini berbunyi: I am The Way. Tambahan kata "the" di sana menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah satu jalan di antara banyak jalan lain yang manusia cari. Melalui perkataan tersebut, Tuhan Yesus mengumumkan bahwa Dia adalah satu-satunya jalan yang ada di dunia. Artinya, jalan untuk sampai kepada Allah bukan melalui usaha manusia tetapi melalui Pribadi Yesus Kristus.

Di dalam kalimat tersebut, kita tidak menemukan indikasi bahwa Tuhan Yesus sendiri pun sedang berada di sebuah jalan yang menuju kepada Bapa. Seolah-olah Tuhan Yesus pun belum tiba, masih berusaha mencari atau masih berusaha berjalan menuju Bapa-Nya. Tidak demikian.

Yang Tuhan Yesus katakan adalah bahwa Ia sendiri Sang Jalan itu. Jika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia sedang ada di sebuah jalan menuju Bapa, maka Ia tidak lebih dari kita semua yaitu makhluk-makhluk yang sedang mencari sang ilahi. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa Ia-lah jalan itu. Artinya Tuhan Yesus-lah sarana yang memungkinkan seseorang untuk sampai kepada Bapa. Tuhan Yesus-lah Sang Pengantara itu.

Apa yang Yesus Kristus katakan ini jelas menentang konsep agama-agama lain di dunia. Agama lain mengatakan bahwa untuk mencapai yang ilahi, seseorang harus berbuat baik dan mengikuti semua aturan dalam perintah agama. Tetapi Tuhan Yesus tidak menunjuk pada cara atau aturan atau metode. Yang pertama-tama Tuhan Yesus tunjuk adalah diri-Nya, Pribadi-Nya. Tidak ada cara atau metode lain kecuali diri-Nya Pribadi yang dapat membawa seseorang kepada Bapa.

Itu sebabnya kekristenan yang sejati menekankan pada hubungan pribadi dengan Yesus Kristus sebagai landasan utama untuk hidup. Orang Kristen sejati bukan dilahirkan dari peraturan, melainkan dari Oknum Allah. Peraturan berfungsi untuk mendidik agar kita yang sudah dibenarkan ini dapat hidup dengan benar. Tetapi peraturan itu sendiri tidak mungkin dapat melahirkan kehidupan.

Bahaya yang sedang dihadapi saat ini oleh gereja di antaranya adalah ketika kekristenan melulu hanya menekankan pada aturan gereja (bahkan aturan Alkitab sekalipun) tanpa adanya suatu hubungan pribadi pada Yesus Kristus. Kekristenan semacam itu tidak ada bedanya dengan agama-agama lain di dunia. Yang membuat kekristenan unik, justru bukanlah segudang peraturannya, melainkan Pribadi Yesus Kristus. Sebab Dia-lah jalan itu.


Akulah kebenaran

Sekarang ini, orang banyak menyerukan semangat Pluralisme, yaitu suatu konsep yang mengatakan bahwa ada banyak jalan, ada banyak cara, ada banyak kebenaran (Plural = jamak = banyak = majemuk). Dalam bahasa sehari-hari, orang yang menganut Pluralisme adalah dia yang berkata : "Semua agama sama saja (Jangan dikira orang semacam ini tidak ada di dalam gereja)

Ketika kita bertemu dengan kalimat semacam itu, maka sebenarnya kita diperhadapkan pada persoalan tentang kebenaran. Sebab ketika dikatakan bahwa semua agama sama saja maka itu berarti manusia ingin berkata bahwa semua agama sama-sama mengandung kebenaran tentang Allah. Tetapi apakah pemikiran semacam ini masuk akal? Sebab faktanya semua agama memiliki keunikannya sendiri-sendiri atau caranya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Budha tidak kenal konsep Allah yang berpribadi, bagi mereka allah adalah semacam suatu kekuatan di alam semesta. Penganut Islam mengakui Allah sebagai Oknum yang berpribadi tetapi hanya ada satu Pribadi. Sementara itu, kekristenan mengatakan bahwa Allah adalah satu esensi yang esa tapi terdiri dari tiga Pribadi yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Bagi penganut Islam, Tuhan Yesus bukan Allah. Tetapi bagi orang Kristen, Yesus Kristus adalah Allah. Sekarang bagaimana mungkin kita dapat berkata bahwa kesimpangsiuran semacam ini sama benarnya? 

Bukankah ketika perang Irak dan Amerika berlangsung kita menemukan bahwa Irak dan Amerika mengatakan hal-hal yang simpang siur? Irak mengatakan bahwa Amerika kalah di berbagai kota. Amerika mengatakan bahwa mereka berhasil menguasai kota-kota besar. Lalu mungkinkah kita mengatakan bahwa mereka dua-duanya pasti benar? Jelas tidak mungkin. Pasti ada satu yang benar dan ada satu yang salah. Atau bahkan mungkin saja kedua-duanya salah. Sesuatu yang jelas-jelas memiliki perbedaan yang hakiki, tidak mungkin dikatakan sama.

Tuhan Yesus juga tidak pernah mengatakan bahwa ada banyak kebenaran. Dengan tegas dan jelas Dia berkata Akulah kebenaran. Dan sama seperti yang sebelumnya, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Ia adalah satu kebenaran di antara kebenaran yang lain, melainkan satu-satunya kebenaran (bukan a truth, melainkan the truth). Kebenaran Tuhan Yesus adalah mutlak, bukan pilihan

Jika Ia katakan bahwa Ia adalah satu-satunya kebenaran, maka Ia pasti menolak yang lain sebagai kebenaran. Sebab jika tidak, maka Tuhan Yesus adalah pribadi yang patut dipertanyakan kredibilitas dan integritas-Nya, jangan-jangan Yesus penipu atau tidak waras atau plin-plan. Namun sepanjang hidup-Nya di bumi, tak seorangpun dapat membuktikan bahwa Yesus orang Nazareth itu adalah pendosa ataupun orang yang tidak waras. Sehingga tidak mungkin ada kebohongan dalam kata-kata-Nya itu. Kata-kata tersebut diucapkan-Nya dengan penuh kesadaran. 

Jika Tuhan Yesus bukan penipu dan bukan orang yang tidak waras, maka sekarang hanya tinggal satu kemungkinan yang tersisa, yaitu bahwa Ia sungguh-sungguh adalah kebenaran. Sebagai konsekuensinya, ajaran yang lain di luar ajaran Tuhan Yesus, pasti bukan kebenaran.

Sejarah agama-agama juga membuktikan bahwa di seluruh dunia ini tidak ada orang, seberapapun agungnya dia, yang berani berkata bahwa dirinya adalah kebenaran. Mungkin ada yang berani berkata bahwa ajarannya adalah benar, tetapi tidak ada yang berani mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Konfusius (Kong Hu Cu), tokoh filsafat Cina yang besar, tidak berkata bahwa dirinya adalah kebenaran. Dia justru mengaku sedang mencari kebenaran itu. Sidharta Gautama tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Mohammad pun tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Mungkin beliau mengatakan bahwa ajarannya benar, tetapi beliau tidak pernah berkata bahwa dirinya adalah kebenaran. Maria ibu Tuhan Yesus pun tidak berani berkata bahwa ia adalah kebenaran, melainkan dengan jujur ia mengakui bahwa Yesus Kristus adalah juruselamatnya. Maria sadar bahwa dirinya juga butuh diselamatkan oleh Sang Mesias, sama seperti yang lain.

Tetapi Tuhan Yesus berkata : Akulah kebenaran. Yesus Kristus menunjuk pada Pribadi-Nya sendiri. Jika Pribadi-Nya adalah kebenaran, maka sudah pasti ajarannya juga benar. Inilah keunikan Tuhan Yesus yang tidak mungkin ditemukan dalam pribadi manapun di dunia. Dan karenaTuhan  Yesus adalah kebenaran, maka kita bisa mengandalkan Dia atas segala karya-Nya, atas segala perkataan-Nya dan janji-Nya. Di seluruh dunia, kita temukan begitu banyak kebohongan, tetapi di dalam Yesus Kristus hanya ada kebenaran. Itu pengakuan-Nya sendiri.


Akulah hidup

Semua orang di dunia ini menghadapi satu prospek yang sama. Entah dia kaya ataupun miskin. Entah dia berpendidikan ataupun tidak. Entah dia seorang prajurit yang gagah perkasa ataupun seorang bocah sakit-sakitan. Mereka semua, termasuk kita, suatu saat akan mati.

Apa artinya mati? Secara fisikal, mati artinya tidak hidup. Oke, tetapi apa artinya tidak hidup? Tidak hidup berarti kita tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan selama kita hidup. Apa yang kita lakukan selama kita hidup? Banyak sekali, kita bisa tertawa, kita bisa berbicara, berkarya, berteman, bermain, berkumpul, membaca, memasak dan banyak lagi. Nah, jika kita mati, kesempatan itu tidak akan ada lagi.

Secara spiritual, mati artinya tidak ada lagi hubungan antara manusia dengan Allah yang sejati. Ia tidak bergaul dengan Allah, tidak memperdulikan lagi kehadiran-Nya. Secara fisikal, bisa saja orang ini masih hidup, tetapi ketika seseorang tidak menjalin hubungan pribadi yang benar dengan Allah, maka menurut Alkitab orang itu sudah mati.

Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia sama saja dengan orang-orang lain yang mati. Tubuh-Nya terkulai dan menyangkut pada kayu salib. Tuhan Yesus tidak bisa lagi bergerak-gerak. Dia tidak bisa lagi berbicara pada Petrus, atau makan bersama murid-murid-Nya. Dia tidak bisa lagi berjalan ke sana kemari menyusuri jalanan berdebu Palestina sambil memberi pengajaran dan penghiburan. Pada saat itu, Tuhan Yesus mati lalu menetap di kuburan.

Tetapi semuanya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena berbeda dengan orang lain yang sudah mati, Tuhan Yesus bangkit lagi dari kematian. Dia hidup dalam arti yang sebenarnya. Dia bisa bercakap-cakap lagi dengan para murid. Dia makan ikan panggang di pinggir pantai bersama mereka. Dia bisa berjalan kaki bersama dua orang murid ke arah Emaus. Dia hidup lagi.

Tuhan Yesus bangkit dan tidak pernah mati lagi. Mengapa? Karena Dia adalah hidup itu sendiri. Tuhan Yesus adalah Sang Pemberi Kehidupan. Dan kehidupan yang diberikan oleh-Nya bukanlah kehidupan sementara seperti yang kita kenal dan alami sekarang ini. Tetapi suatu kehidupan kekal, artinya kita dapat menikmati hidup untuk selama-lamanya tanpa penderitaan, tanpa air mata kesedihan.

Orang lain mungkin berkata bahwa mereka memiliki jalan. Orang lain mungkin berkata bahwa ajaran mereka mengandung kebenaran. Tetapi tidak satupun orang berani menjanjikan bahwa mereka akan memberi hidup bagi orang lain. Karena mereka semua sadar bahwa hidup mereka ini kelak tidak lagi menjadi milik mereka dan mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghindari kematian itu. Jika mereka sendiri tidak memiliki hidup, bagaimana mungkin mereka dapat memberi hidup pada orang lain? Hanya Tuhan Yesus yang mampu menjanjikan kehidupan bagi orang lain, dan sekaligus mampu pula untuk menepati janji-Nya itu.

Apa gunanya seseorang berkata bahwa dirinya tahu jalan yang benar, tetapi ia sendiri mati dan tidak dapat memastikan jalan yang benar itu? Tuhan Yesus hidup sampai sekarang, sehingga Dia pasti mampu untuk membuktikan bahwa Dia-lah jalan itu, Dia-lah kebenaran itu, Dia-lah hidup itu. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku : tegas-Nya lagi.


Akhir kata

Kita  sudah mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Bapa. Maka marilah datang kepada Jalan itu. Segala usaha kita untuk mencari jalan kepada Allah pasti akan sia-sia. Allah sudah menyediakan jalan-Nya bagi kita, Tuhan Yesuslah jalan itu.

Kita sudah melihat bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya kebenaran. Sekalipun kita tidak mampu lagi mempercayai dunia ini. Sekalipun kita barangkali sudah muak dengan segala janji dan ulah para penguasa. Sekalipun kita sulit percaya pada siapapun. Tetapi marilah tengok, Tuhan Yesus adalah kebenaran. Dia mati demi menjadikan kita benar di hadapan Allah.

Tuhan Yesus sudah berkata bahwa Dia adalah hidup. Di mana lagi manusia dapat memiliki harapan selain di dalam Dia? Biarkan Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat kita. Hanya Dia yang mampu melakukan peran itu. Sebab hanya Dia yang telah bangkit dari kematian untuk dapat memberi kita kehidupan kekal. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

 


Rekomendasi Buku:
"Anda Tak Pernah Sendiri
"
Klik disini.