Thursday, December 5, 2019

Eksposisi Kejadian 4:2: makna kelahiran Habel

Oleh: Izar Tirta




… Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain…
(Kejadian 4:2)

Berbeda dengan Kain yang kelahirannya dituturkan secara lebih lengkap, kelahiran Habel justru dituturkan dengan cara yang singkat sekali. Seolah-olah orang tua Habel sedang menyampaikan informasi sambil lalu yang tidak terlalu penting saja layaknya. Ada kesan bahwa anak yang satu ini kurang diinginkan, sehingga kehadirannya tidak membangkitkan suasana yang gegap gempita di dalam hati sang Ibu, dibandingkan waktu kakaknya lahir. Bahkan untuk kelahiran yang kali ini, nama TUHAN sudah tidak lagi dibawa-bawa. Satu-satunya predikat yang disandang Habel adalah bahwa ia disebut sebagai adik Kain. Itu saja.

Selain itu, nama Habel[1] sendiri mengandung makna yang cukup beragam. Namun sayang sekali, dari sekian makna yang ada, semuanya dapat dikatakan kurang menarik atau mengandung arti yang menyedihkan. Adapun beberapa makna yang terkandung di dalam nama Habel itu adalah:
-         tindakan yang kosong (to act emptily),
-         sia-sia (vain),
-         nafas (breath). Dan istilah nafas yang dimaksudkan di sini adalah suatu “keberadaan yang sangat singkat,” begitu singkat dan cepat sirna sehingga bagaikan hembusan nafas saja layaknya.
Sehingga secara keseluruhan pengertian dari nama Habel atau Hevel di dalam benak orang Yahudi adalah something very close to nothing, sesuatu yang hampir tidak ada arti pentingnya sama sekali.
 
Tidak ada penjelasan yang rinci dalam Alkitab mengenai alasan mengapa Hawa memberi nama kepada adik Kain dengan istilah yang memiliki arti sedemikian menyedihkan itu. Tetapi fakta ini semakin menguatkan dugaan kita bahwa bagi Hawa, kehadiran Habel[2] ke dalam dunia bukanlah sesuatu yang terlalu diharapkannya.
 
Ada penafsir yang menduga bahwa nama Habel diberikan karena kisah hidupnya yang memang sangat menyedihkan. Habel mati terbunuh tanpa sempat memiliki keturunan, padahal ia tidak salah apa-apa. Sungguh wajar jika orang menilai hidupnya begitu malang dan sia-sia. Akan tetapi bagi saya, cara berpikir seperti ini kurang tepat, sebab bagaimana mungkin orang tua Habel bisa mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang? Sehingga ia bisa memberi nama yang sesuai dengan nasib dari anak tersebut?
 
Tentu saja seorang bayi diberi nama pada saat ia dilahirkan. Jika nama Habel diberikan karena melihat segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, maka bukankah seolah-olah nama itu diberikan setelah yang bersangkutan sendiri meninggal? Tentu saja cara berpikir seperti ini akan janggal sekali bukan?
 
Kejanggalan semacam itu, pada akhirnya menimbulkan dugaan bahwa Habel sebetulnya bukanlah tokoh yang sungguh-sungguh pernah hidup di dalam sejarah, melainkan hanyalah seorang tokoh rekayasa, hasil imaginasi sang penulis Kitab Kejadian.
 
Saya pribadi, yakin sekali bahwa Habel bukanlah tokoh rekaan seorang penulis, melainkan nama dari seorang manusia yang benar-benar pernah hidup di dunia. Keyakinan ini saya dasarkan pada fakta bahwa Tuhan Yesus sendiri menganggap Habel sebagai tokoh nyata yang ada di dalam sejarah. Dan bagi saya, perkataan Tuhan Yesus ini saja sudah cukup,[3] tidak perlu bukti yang lain.
 
Cukup misterius memang, melihat Hawa memberi nama yang begitu buruk bagi anaknya yang kedua itu. Namun di bawah ini saya coba menjabarkan beberapa dugaan yang mungkin menjadi latar belakang dari keadaan tersebut:
 
Kemungkinan pertama
 
Hawa kecewa terhadap Kain, yang setelah bertumbuh semakin dewasa ternyata tidak memiliki karakter yang membanggakan seperti harapannya semula. Rupanya kekecewaan itu begitu mendalam, sehingga kelahiran anak yang kedua tidak mampu membuat dia bahagia.[4]
 
Kemungkinan kedua
 
Hawa semakin merasakan kepedihan sebagai manusia yang dibuang dari Taman Eden. Efek dari putusnya relasi antara manusia dengan Allah yang diungkapkan dengan cara pengusiran dari Taman Eden, mulai membawa dampak yang sangat mengganggu jiwanya. Ia mulai merasa tertekan oleh hidup ini. Kenangan akan Taman Eden yang telah hilang itu, agaknya turut menambah beban psikologis yang dialaminya.
 
Kemungkinan ketiga
 
Peringatan Allah kepada Adam dan Hawa bahwa mereka akan mati apabila memakan buah terlarang itu, kini mulai masuk ke dalam kesadaran mereka. Bagi banyak orang Kristen di zaman sekarang ini, ancaman kematian yang disampaikan oleh Tuhan kepada Adam dan Hawa seolah-olah terlihat seperti ancaman kosong belaka. Sebab setelah Adam dan Hawa memakan buah terlarang, mereka sepertinya tidak langsung mati. Mereka masih bisa bicara, masih bisa berjalan, bahkan masih bisa bekerja serta melahirkan keturunan. Lalu, mengapa Tuhan mengatakan tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."[5]?
 
Ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan mati dalam kalimat itu adalah mati secara rohani, bukan secara fisik. Menurut saya, jawaban seperti ini cukup masuk akal, namun masih kurang sesuai dengan apa yang mau disampaikan oleh Alkitab. Sebab dengan menafsirkan seperti ini, kalimat Tuhan kepada Adam jadi kehilangan nuansa totalitas dan sifat serius dari kematian itu. Jawaban semacam ini hanya menekankan pada aspek spiritual manusia saja.
 
Ada pula yang menafsirkan bahwa mereka memang akan mati, tetapi tidak segera mati, masih ada waktu yang panjang sebelum mereka benar-benar mati. Jawaban seperti ini bagi saya malah lebih tidak bisa diterima, karena Tuhan secara spesifik berkata bahwa pada hari engkau memakannya, pasti engkau mati. Tidak ada indikasi bahwa terdapat jeda waktu di antara peristiwa mati dan peristiwa memakan buah terlarang. Lagipula, jawaban semacam ini hanya menekankan pada aspek fisikal manusia saja. Masih kurang lengkap.
 
Oleh karena itu, jawaban paling tepat yang dapat saya terima untuk memahami arti “mati” dari perkataan Tuhan kepada Adam dan Hawa adalah putusnya relasi antara manusia dengan Tuhan. Dan Alkitab melukiskan hal itu melalui peristiwa diusirnya Adam dan Hawa dari Taman Eden pada hari yang sama ketika mereka memakan buah terlarang. Itulah kematian yang dialami oleh Adam dan Hawa menurut versi Alkitab. Sebab jika hidup kekal adalah mengenal Allah, maka kehilangan kesempatan untuk mengenal Allah pasti akan sama artinya dengan kematian kekal, bukan?[6]
 
Aura kematian, tidak ada lagi relasi dengan Allah, tidak ada lagi hubungan yang harmonis dengan Adam, kepedihan dan kekosongan di dalam hati, adalah hal-hal yang sangat mungkin memberi kontribusi terhadap keputus asaan dalam diri Hawa. Tidak sulit membayangkan bahwa Adam dan Hawa menghabiskan sisa umur mereka dengan masih saling menyalahkan satu sama lain atas Taman Eden yang hilang itu. Kosa kata paradise lost dan forbiden fruit sangat mungkin kerap kali muncul dalam setiap pertengkaran di antara mereka berdua. Dalam suasana yang terpuruk dan tidak bahagia inilah, Habel dilahirkan.
 
Dari kemungkinan-kemungkinan yang saya jabarkan di atas, rasanya kita mulai mendapat semacam gambaran tentang mengapa Hawa memberi nama anaknya dengan sebutan “kesia-siaan,” istilah yang something close to nothing itu.
 
Kontras dengan kehidupan Kain yang sukses,[7] Habel betul-betul adalah gambaran dari orang yang kehidupannya sangat tidak beruntung. Hidupnya dapat dikatakan relatif singkat.[8] Ia dibunuh walau tidak salah apa-apa. Jangankan keturunan, istri pun dia tidak punya. Dan apakah yang ia tinggalkan setelah kematiannya?
 
Meskipun demikian, paradigma kehidupan Habel rupanya merupakan suatu paradigma yang juga dihidupi oleh Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Meskipun tidak memiliki kemiripan yang sangat terperinci antara kehidupan Habel dan kehidupan Yesus, tetapi dari sudut pandang dunia, gaya hidup Yesus pun dapat dikategorikan sebagai gaya hidup orang bodoh yang sarat dengan kegagalan dan kesia-siaan.
 
Ketika manusia pada umumnya cenderung siap mengorbankan orang lain demi menyelamatkan diri sendiri dari bencana, Yesus justru bersedia mati demi menyelamatkan orang lain, meskipun diri-Nya sendiri tidak bersalah.
 
Ketika semua pakar human resources modern mencari bakat-bakat terbaik, kandidat paling berpengaruh dan orang-orang yang penting untuk mencapai kemajuan sebuah organisasi, Yesus justru memilih beberapa nelayan kampung yang miskin dan sederhana untuk dijadikan para pengikut-Nya.
 
Ketika semua orang senantiasa berusaha memasarkan citra dirinya, atau produknya atau apapun yang mereka miliki demi mendapatkan suatu keuntungan, Yesus memilih untuk menghilang dari tengah-tengah orang banyak dan memilih suatu ketersembunyian, pada saat nama-Nya justru mulai mendapat perhatian dari orang banyak. Benar-benar suatu gaya hidup yang aneh dari sudut pandang dunia dan terlihat sangat kontraproduktif dibandingkan dengan imaginasi banyak pihak mengenai sosok orang penting pada umumnya.
 
Dan ketika semua orang berharap Ia menjadi Mesias yang gagah perkasa serta mampu mengusir tentara Romawi dari wilayah keturunan Abraham, Yesus justru memilih datang sambil menunggangi seekor keledai. Sungguh suatu tindakan yang membuat kita semua heran, geleng-geleng kepala sambil bertanya-tanya: Inikah sosok Raja di atas segala raja itu? Ataukah sebenarnya Dia ini hanya seorang pelawak belaka? Lelucon macam apakah yang coba dibawakan oleh Orang ini? Secara penampilan, Yesus adalah sosok yang jauh dari kesan gagah atau keren sehingga kita kagum melihat Dia.[9]
 
Jalan hidup Yesus adalah jalan hidup kesia-siaan jika dilihat dari sudut pandang dunia yang mengagungkan materi dan prestasi ini. Bahkan pemberitaan tentang salib Kristus, terdengar bagai suatu kebodohan besar bagi dunia kita ini.[10]
 
Jalan kesia-siaan, siapakah yang berminat untuk menelusurinya? Habel adalah sosok mula-mula dari kesia-siaan itu, tetapi bukan Habel saja sebetulnya yang ingin diperlihatkan oleh Alkitab, melainkan Dia, yaitu sosok Habel yang berikutnya, Dia adalah anak Adam yang selanjutnya, yaitu Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita.
 
Sebagaimana Alkitab melukiskan bahwa setelah kematian Habel, muncul keturunan lain pengganti Habel yang mulai memanggil nama TUHAN,[11] demikian pula Alkitab mengajarkan pada kita bahwa hanya setelah kematian dan kebangkitan Kristus Yesus di salib itulah, maka muncul pula keturunan lain yang mulai mengenal Allah yang sejati, yaitu orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.[12] Adanya penggambaran secara pararel seperti itu, memberi kesan yang sangat kuat bahwa kedua kisah ini memang saling berhubungan satu sama lain.
 
Kisah Habel bukan kisah sembarangan, ia adalah kisah pendahuluan dari hadirnya kisah Kristus. Memang gambaran pendahuluan ini belum lengkap sifatnya,[13] hanya berupa bayang-bayang yang masih samar. Tetapi melalui kisah Habel ini, setidaknya kita sudah diberi suatu pengharapan bahwa sekalipun Adam dan Hawa melahirkan keturunan yang sangat jahat seperti Kain, tetapi di dalam anugerah-Nya, Allah kita telah menghadirkan pula cikal bakal keturunan manusia yang kelak akan menghancurkan kepala si ular itu sekali untuk selama-lamanya.
 
Kiranya Tuhan memberkati kita.
 
Kata kunci:
Kelahiran Habel
Apakah arti dari nama Habel?
Makna kelahiran Habel bagi kita
Siapakah yang memberi nama Habel?
Apakah Habel merupakan tokoh yang nyata di dalam sejarah?
Apakah nama Habel diberikan setelah kematiannya?
Mengapa Habel diberi nama Vanity?
Mengapa Habel diberi nama kesia-siaan?
Apakah ada persamaan antara kisah Habel dengan kisah Yesus Kristus?
 




[1] Dalam bahasa Ibrani nama Habel di tulis ‘lb,h,’   yang sebetulnya lebih tepat jika dibaca Hevel bukan Habel
[2] Dalam tulisan ini, kita tetap memakai istilah Habel sesuai LAI, bukan Hevel sebagaimana dituliskan dalam aksara Ibrani. Sementara dalam bahasa Inggris, istilah yang dipakai adalah Abel, diambil dari bahasa Yunani Abel yang terdapat dalam Alkitab versi Septuaginta.
[3] Matius 23:35
[4] Saya tidak setuju dengan beberapa penafsir yang mengatakan bahwa Kain dan Habel adalah saudara kembar. Sebab bagaimana mungkin seorang ibu bisa menamai anak yang lahir hampir bersamaan, tetapi dengan respon atau sikap hati yang sangat bertolak belakang seperti itu? Jauh lebih masuk akal dan wajar apabila kita mengasumsikan bahwa ada jeda waktu yang tidak sedikit di antara kedua peristiwa kelahiran tersebut.
[5] Kejadian 2:17
[6] Silahkan merenungkan Matius 7:23 dan Yohanes 17:3, yang menjadi dasar bagi kalimat yang saya tulis.
[7] Bahkan setelah Kain membunuh Habel, ia masih tinggal di dunia cukup lama dan menghasilkan banyak keturunan yang mampu mengukir sejumlah prestasi. Kehidupan Kain adalah gambaran dari kehidupan sukses yang diidamkan banyak orang di dunia.
[8] Alkitab tidak mengindikasikan bahwa Habel memiliki usia yang panjang.
[9] Yesaya 53:2
[10] 1 Kor 1:18
[11] Kej 4:26
[12] Yoh 1:13
[13] Kisah Habel tidak menuturkan adanya kisah kebangkitan seperti Kristus. Meskipun demikian, di dalam kematiannya, Habel masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan sehingga sekalipun sudah mati relasi antara Habel dan Tuhan masih tetap ada. Di sisi lain, Kain yang digambarkan secara fisik masih hidup, justru sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Tuhan. Menurut Alkitab, kehidupan yang sesungguhnya adalah relasi dengan Tuhan, sementara kematian yang sesungguhnya adalah terputusnya relasi itu.