Thursday, May 13, 2021

Yesus Kristus adalah Dia yang senantiasa hadir bagimu

 

Yesus Kristus adalah Dia yang senantiasa hadir bagimu

Salah satu ciri keunikan dari ajaran Tuhan Yesus adalah bahwa Ia seringkali memakai metafora-metafora yang umum ditemukan dalam kehidupan manusia untuk menjelaskan tentang siapakah diri-Nya.

Di dalam dunia kekristenan kita mungkin pernah mendengar istilah the seven great I AM,” atau tujuh pengakuan besar dari Kristus, yaitu:

Akulah roti hidup, I am the bread of life (Yoh 6:35,48)
Akulah terang dunia, I am the light (Yoh 8:12 dan 9:5)
Akulah pintu, I am the door (Yoh 10:7, 9)
Akulah gembala yang baik, I am the good shepherd (Yoh 10:11, 14)
Akulah kebangkitan dan hidup, I am the resurrection and the life (Yoh 11:25)
Akulah jalan, kebenaran dan hidup, I am the way and the truth and the life (Yoh 14:6)
Akulah pokok anggur yang benar, I am the true vine (Yoh 15:1,5)

Semua metafora di atas adalah sesuatu yang sangat relevan dengan kehidupan setiap manusia. Tuhan Yesus tidak berkata, “Akulah piramida Mesir” misalnya, karena sekalipun piramida adalah bangunan yang mengagumkan pada zaman itu (bahkan masih mengagumkan hingga kini), tetapi untuk apa kita membutuhkan Yesus jika Dia diibaratkan seperti piramida? Yesus mungkin akan nampak mengagumkan dari luar, tetapi di dalam diri-Nya hanya ada kematian saja. Ini adalah jenis metafora yang tidak pernah dipakai oleh Tuhan kita. Sebaliknya, menurut rasul Yohanes, Tuhan Yesus terlebih suka untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai jalan (the way).

Kita tidak pernah foto-foto jalanan, kecuali apabila kita bekerja sebagai kontraktor pembuat jalanan, bukan? Sebaliknya, jika kita berkesempatan untuk pergi ke Mesir, maka dapat dipastikan bahwa kita akan ingin berfoto di depan piramida yang mengagumkan itu, benar bukan? Tetapi apa relevansi piramida bagi hidup kita, apabila dibandingkan dengan sebuah jalan? Jalan adalah sesuatu yang kita temukan dengan mudah dalam hidup keseharian, dan jalan adalah sesuatu yang kita butuhkan sehari-hari, sedangkan piramida tidak.

Tuhan Yesus juga tidak berkata, “Akulah planet Jupiter.” Sebab jika demikian, maka untuk apa pula kita membutuhkan Dia? Dia sama sekali tidak relevan bagi hidup kita. Planet Jupiter memang mengagumkan, jauh lebih besar dan jauh lebih dahsyat daripada sebuah pintu atau bahkan dari sebuah piramida misalnya. Tetapi bagi kehidupan kita sehari-hari, pintu jauh lebih mudah untuk ditemukan dan jauh lebih dibutuhkan ketimbang planet Jupiter yang teramat dahsyat itu.

Orang Romawi menyembah dewa Jupiter, orang Mesir menyembah dewa Matahari, tetapi Yesus Kristus yang menciptakan Jupiter dan Matahari itu, lebih suka dikenal melalui hal-hal yang sederhana serta menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia.

Dari beberapa ungkapan dalam the seven great I am di atas kita setidaknya bisa mulai memahami isi hati Tuhan Yesus, yaitu:


Bahwa Dia ingin dekat dengan kita

Sebagai manusia seringkali kita bertanya-tanya apakah Tuhan peduli kepada kehidupan yang sedang kita jalani ini? Mengapa Tuhan seringkali terasa begitu jauh? Mengapa Tuhan diam saja ketika berbagai kesulitan menghadang kehidupan kita? Mengapa perasaan hampa, kesepian, khawatir bahkan takut seringkali datang menghampiri kehidupan ini? [Baca juga: Apakah hatimu terasa kosong? Klik disini.]

Melalui pengakuan dari mulut Tuhan Yesus sendiri kita diberi suatu pemahaman, bahwa Dia tidak pernah jauh dari kita. Sebaliknya, Alkitab menyaksikan bahwa Dia begitu ingin untuk berada dekat dengan kita. Oleh karena itu, apabila selama ini kita merasa Tuhan begitu jauh, maka kita perlu merenungkan, jangan-jangan memang diri kita sendirilah yang telah mengabaikan Dia.

Coba tanyakan kepada diri kita sendiri, seberapa tekunkah kita membaca Alkitab serta merenungkannya? Seberapa setiakah kehidupan doa kita? Atau kita hanya baca Alkitab dan berdoa jika sedang ada masalah saja? Jika untuk hal sederhana ini saja kita tidak tekun dan tidak setia, bagaimana kita berharap bahwa kehadiran Kristus dapat lebih nyata di dalam hidup ini? Dan mungkin kita tidak perlu merasa terlalu heran juga apabila hati kita dilanda oleh kekosongan dan kehampaan. Ibaratnya, kalau kita jarang olah raga, haruskah kita kecewa jika mendapati bahwa otot menjadi lemah, nafas menjadi pendek dan kita jadi kurang bergairah?

Alkitab mengajarkan bahwa jauh lebih besar keinginan Tuhan Yesus untuk berada dekat dengan kita ketimbang keinginan kita untuk berada dekat dengan Dia. Sebab jika bukan karena ingin berada dekat dengan kita, maka untuk apa Tuhan Yesus datang jauh-jauh dari sorga masuk ke dalam dunia kita yang kotor dan berdosa ini?



Bahwa Dia adalah kebutuhan dasar manusia (basic human needs)

Ketika berbicara tentang kebutuhan, biasanya yang segera terpikir di dalam benak kita adalah makanan, minuman, uang, mainan, mobil, rumah, pekerjaan, perhiasan, jalan-jalan, lukisan, tanah perkebunan, teman, gadget, bisnis, karir, mobil kedua, rumah ke tiga, cabang usaha ke lima belas, kavling ke tiga belas dan seterusnya dan seterusnya… daftarnya bisa puaannjaaang sekali …

Tetapi Tuhan Yesus datang menjelaskan bahwa kebutuhan kita untuk hidup itu sebetulnya tidaklah harus sebanyak itu. Hal senada pernah diucapkan pula oleh rasul Paulus yang berkata: asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1 Tim 6:8).

Hati kita yang berdosa ini, rupanya telah menjadi begitu hampa sehingga kita ingin mengisinya dengan apapun yang ada di dunia ini. Dan semakin kita berusaha mengisi hati ini dengan apapun yang bukan dari Tuhan, maka semakin haus pula jiwa kita dan semakin terdesak pula hati kita untuk berusaha memenuhinya.

Kadang kita menjadi stress bukan karena dunia ini memang mendorong kita untuk stress, tetapi karena terlalu lelah dalam membangun kerajaan kita sendiri, terlalu tegang dalam menjaga diri sendiri dan terlalu ketat (pelit) dalam mempertahankan apa yang telah kita miliki. Padahal jika saja kita mau membangun kerajaan Allah bersama-sama dengan Kristus, maka niscaya kita akan jauh lebih menikmati kehidupan ini, sebab Kristus sang pemilik hidup itulah yang akan mencukupkan segala sesuatu yang kita butuhkan sesuai dengan takaran yang pas di dalam bijaksana Tuhan. Kalau sudah begini, maka di dalam kelimpahan kita tidak menjadi besar kepala, di dalam kekurangan pun kita tidak menjadi kecil hati.

Mengapa memikul beban yang sebetulnya tidak harus kita pikul? Pikullah saja beban yang diberikan oleh Tuhan kita sebab Kristus sendiri berkata: “Kuk yang Kupasang itu enak, dan beban-Ku pun ringan.” Jika kita menerima beban yang dari Tuhan maka beban itu akan terasa ringan. Namun apabila kita merasa telah memikul beban yang terlalu berat, mungkin sekali bahwa Tuhan sendiri pun bahkan tidak bermaksud untuk meminta kita memikulnya. Atau mungkin kita memikul beban itu, tetapi tidak memikulnya bersama-sama dengan Tuhan, sebab kita merasa bahwa ini urusanku sendiri, tidak ada urusannya dengan Tuhan.

Kebutuhan kita yang paling utama hanya dapat kita temukan di dalam Dia. Dialah makanan kita, Dialah minuman kita, Dialah pintu masuk kita, jalan kita, kebangkitan kita, hidup dan Dialah Sang Pembimbing kita. Tidak ada Pribadi lain yang lebih kita butuhkan selain Dia, mengapa kita mencari pemenuhan di tempat lain? Dia sungguh relevan di dalam kehidupan setiap orang.


Akulah adalah Dia yang selalu ada (I am who I am)

Betapa berbahagianya orang yang telah berjumpa dengan Dia. Siapakah orang-orang yang dapat lebih beruntung daripada mereka yang telah bertemu dengan Pribadi Allah yang penuh kasih itu? Dia menyediakan segala yang kita butuhkan, bahkan ketika kita tidak menyadari kebutuhan tersebut. Dan lebih dari itu, Dia adalah Pribadi yang senantiasa ada.

Dalam setiap ungkapan yang diberikan, Yesus selalu berkata I am. Dia adalah yang ada, yang selalu ada dan yang akan selamanya ada. Yesus tidak berkata I was atau I will be, tetapi I am. Yesus ada dan hadir senantiasa bagi kita. Bukan hanya kemarin, bukan cuma nanti, tetapi hari ini, di sini dan sekarang.

Adakah kita merasakan kehadiran Kristus di dalam hidup saat ini? Apakah keberadaan Yesus Kristus benar-benar telah menjadi realita di dalam hidup kita di sini dan sekarang? Ataukah selama ini Dia tidak lebih dari sebuah kisah atau konsep belaka di dalam hidup kita? Apakah sosok Kristus hanya bagaikan sebuah angan-angan mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan dalam hidup kita? Hidup hanya satu kali, betapa malangnya orang yang menolak untuk mengenal Pribadi yang sedemikian dahsyat seperti ini.

Mari temukan kehadiran Kristus hari lepas hari di dalam hidup kita, itulah yang menjadi isi hati-Nya bagi setiap kita. Kiranya Tuhan berbelas kasihan menyatakan diri-Nya di dalam hidup kita. Amin. (Oleh: Izar Tirta)


Baca juga
Bersaksi dalam kuasa Roh Kudus. Klik disini
Dapatkah manusia diampuni jika tak tahu apa yang diperbuatnya? Klik disini
Apa yang dimaksud dengan unta masuk melalui lubang jarum? Klik disini
Panggilan Tuhan Yesus untuk hidup saleh. Klik disini