Friday, July 2, 2021

Renungan dari Surat 2 Petrus 1:3

Renungan dari 2 Petrus 1:3

Anugerah Ilahi diberikan 
dengan tujuan supaya kita dapat hidup
dengan saleh di hadapan Tuhan...
 
 
Pendahuluan
 
Tulisan ini merupakan sebuah renungan singkat yang diambil dari Surat 2 Petrus 1:3. Kita akan mencoba menggali makna rohani apa saja yang terdapat di dalam ayat 3 ini, yaitu suatu kebenaran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pasal 1 secara keseluruhan.



Alkitab Balita Bi-Lingual. Klik disini.
 
Sebagaimana dapat kita pelajari, dalam Surat 2 Petrus pasal ke 1, terutama mulai ayat 3 hingga ayat 11, Rasul Petrus banyak memberikan nasihat tentang pentingnya pertumbuhan rohani di dalam diri jemaat. Sebagai orang Kristen, ada kalanya yang menjadi pusat perhatian hanyalah antara soal percaya Yesus Kristus atau tidak percaya pada Yesus Kristus. Tanpa ada penekanan yang kuat tentang apa arti dari percaya, apa konsekuensi dari orang percaya dan seterusnya dan seterusnya. Sementara di dalam Surat 2 Petrus tersebut, kita melihat bagaimana Rasul Petrus justru sangat mendorong setiap orang Kristen untuk bukan saja memperhatikan kepercayaan mereka, melainkan juga untuk sungguh-sungguh mengusahakan sesuatu agar iman mereka semakin bertumbuh.

Kita tahu bahwa pertumbuhan rohani memang adalah sebuah anugerah, tetapi jika kita baca dari penuturan Petrus dalam suratnya ini, anugerah yang Tuhan berikan itupun bukan sama sekali tidak melibatkan upaya, tindakan dan tanggung jawab dari manusia itu sendiri.

Ayat Firman Tuhan
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.(2 Petrus 1:3)


Kuasa Ilahi yang telah memberi anugerah pada kita
 
Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata “kuasa”? Bagi banyak orang, terlebih lagi di zaman postmodern ini, kata “kuasa” atau power seringkali lebih cenderung menghasilkan nuansa atau persepsi yang negatif ketimbang positif.

Hal itu terjadi, karena banyak orang di dunia ini, yang menduduki jabatan sebagai penguasa, justru seringkali memakai kuasa mereka untuk menekan, menindas orang yang ada di bawanya, serta memanfaatkan kuasa yang mereka miliki itu untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya bagi diri mereka sendiri. Akibatnya, orang lain yang tidak memiliki kuasa, harus menanggung kepedihan dan penderitaan sebagai akibat dari tindakan orang yang berkuasa tersebut.

Jika di dalam dunia manusia, kuasa seringkali disalahgunakan atau dilihat sebagai kemampuan mengatur, mendominasi, memanfaatkan bahkan mengeksploitasi orang lain, maka sebagaimana yang disaksikan oleh Alkitab, hal yang seperti itu tidak terjadi di dalam konteks “Kuasa Ilahi.” Sebagai Pribadi yang paling berkuasa atau bahkan Mahakuasa, Allah justru tidak memakai kuasa-Nya untuk menindas, menyiksa atau mengeruk keuntungan sebesar-besar-Nya bagi diri Allah. Sebaliknya, di dalam kuasa-Nya yang tidak terbatas itu, Allah memberi anugerah kepada ciptaan-Nya.

Dari sejak penciptaan dunia ini, hingga penebusan dan hadirnya langit dan bumi yang baru, kuasa Allah seringkali dinyatakan melalui anugerah yang sedemikian besar bagi seluruh ciptaan pada umumnya dan bagi manusia pada khususnya.

Jadi Alkitab mengajarkan bahwa kuasa Ilahi bukan pertama-tama dipahami sebagai kuasa yang sewenang-wenang, atau semacam show-off power, tetapi sebagai kemampuan untuk memberi anugerah kepada yang lain. Sebagaimana dapat kita baca, Rasul Petrus dengan jelas telah mengkaitkan kuasa Ilahi dengan suatu tindakan memberi anugerah kebaikan kepada orang lain, yaitu bagi orang lain yang bahkan tidak patut untuk menerima anugerah tersebut.


Anugerah yang berguna untuk hidup saleh
 
Anugerah yang diberikan kepada kita bukanlah anugerah yang tidak berguna. Bukan pula anugerah yang tanpa tujuan atau anugerah yang tanpa tanggung jawab dari orang-orang yang menerima anugerah itu.

Alkitab tidak pernah mengajarkan anugerah yang tanpa disertai dengan suatu tanggungjawab. Jika kita mengaku mendapat anugerah Ilahi tetapi kita tidak tahu apa yang menjadi tanggungjawab kita, maka kita perlu koreksi pandangan diri kita sendiri terhadap apa arti dari anugerah. “Anugerah macam apakah yang telah kuterima? Adakah aku telah keliru dalam menilai arti anugerah? Apa tanggungjawabku sebagai orang percaya yang telah menerima anugerah?”

Alkitab memang tidak mengajarkan bahwa kita harus hidup saleh terlebih dahulu, agar Tuhan berkenan untuk memberikan anugerah. Tidak demikian. Tuhan memberi anugerah kepada manusia di dalam kuasa Ilahi-Nya, tanpa syarat apapun dari dalam diri manusia. Akan tetapi, tanda bahwa kita adalah orang yang telah menerima anugerah itu, justru terlihat dari bagaimana kita bertanggungjawab dalam menjalani kehidupan kita. Dan salah satu contoh dari sikap bertanggungjawab dalam menjalani kehidupan kita adalah dengan hidup saleh di hadapan Tuhan.

Oleh karena itu, jika di dalam hidup kita tidak muncul rasa tanggungjawab itu, tidak muncul perasaan untuk ingin taat, tidak timbul dorongan untuk hidup saleh, maka kita boleh bertanya, apakah sesungguhnya kita ini telah menerima anugerah keselamatan itu?

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus pernah berkata: Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir (Filipi 2:12)

Pandangan Rasul Paulus cukup senada dengan Rasul Petrus, yaitu bahwa orang yang percaya dan yang sungguh-sungguh telah menerima keselamatan, kehidupannya akan ditandai dengan sikap hati yang sungguh-sungguh mau mengerjakan segala sesuatu yang baik dan saleh sebagai buah dari keselamatan yang mereka terima. Mereka tidak hidup sembarangan, melainkan hidup saleh di hadapan Allah. Mereka tidak pasif saja di dalam kehidupan keimanan mereka, melainkan tetap aktif, tetap setia dan tetap giat mengerjakan keselamatan yang mereka terima itu dengan rasa takut dan gentar kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka.

Dalam Perjanjian Lama, kita juga membaca bagaimana Tuhan membebaskan bangsa Israel dari Mesir bukan demi sebuah kebebasan yang tanpa tujuan, bahkan bukan demi kebebasan itu sendiri. Tuhan membebaskan bangsa Israel, agar bangsa itu dapat beribadah kepada Tuhan di padang gurun.

Konsep anugerah yang membawa manusia pada kondisi bebas sebebas-bebasnya adalah sesuatu yang tidak pernah dikenal oleh Alkitab. Ketika Tuhan menyelamatkan kita, Tuhan ingin agar kita menjalani kehidupan yang saleh di hadapan-Nya. Kita dibebaskan dari perhambaan karena dosa, bukan agar setelah itu kita bebas melakukan apapun yang kita suka. Sebaliknya, kita dibebaskan dari perhambaan dosa agar kita boleh masuk ke dalam perhambaan yang kudus di hadapan Allah.


Hidup saleh yang lahir oleh pengenalan akan Dia
 
Kesalehan adalah sesuatu yang sangat baik, tetapi berbicara tentang kesalehan tanpa disertai dengan pengenalan akan Kristus, akan membawa seorang manusia untuk masuk ke dalam kekeliruan yang fatal. Tanpa bimbingan dari Firman Tuhan, maka hal yang baik seperti kesalehan pun dapat diselewengkan oleh iblis, maupun oleh manusia yang berdosa itu sendiri.

Manusia bisa merasa dirinya saleh karena sudah memenuhi berbagai tuntutan dan ritual agama. Ini yang terjadi pada orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus hidup. Orang-orang Farisi merasa dirinya sudah cukup tekun, taat dan saleh dalam menjalankan perintah agama. Mereka berusaha melakukan segala aturan Taurat dengan teliti dan seksama, sehingga mereka berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup baik, bahkan lebih baik daripada orang lain yang tidak seketat mereka serta tidak seteliti mereka dalam menjalankan perintah agama.

Pada akhirnya sikap seperti ini bukan membawa mereka semakin dekat dengan Tuhan, tetapi justru membuat mereka masuk ke dalam dosa yang sangat berbahaya, yaitu self-righteousness, atau merasa diri sudah benar. Hal tersebut kemudian tercermin dari cara orang Farisi berdoa, dimana mereka membandingkan diri mereka sendiri yang dianggap lebih saleh, lebih suci dan lebih pantas daripada pemungut cukai itu. Inilah kesalehan yang keliru. Kesalehan yang bersifat munafik, kesalehan yang bersifat membanding-bandingkan antara diri sendiri dengan diri orang lain yang dinilai kurang saleh. Kesalehan semacam ini pasti akan membawa seseorang kepada kesesatan. Kesalehan semacam ini pasti bukan didasarkan oleh pengenalan akan Allah yang sejati.

Hidup saleh yang dibicarakan oleh Rasul Petrus dalam ayat ini adalah sebuah kesalehan yang didasarkan pada pengenalan akan Yesus Kristus, bukan kesalehan yang dibangun dengan kekuatan sendiri, bukan kesalehan yang dibentuk menurut definisi sendiri.

Orang yang mengenal Tuhan Yesus, ironisnya justru tidak merasa bahwa dirinya cukup suci untuk boleh berdampingan dengan Tuhan. Orang yang mengenal Dia, tahu bahwa hanya Dia saja yang saleh, dan bahwa manusia justru adalah makhluk yang berdosa. Dan di dalam pengenalan semacam itulah, orang itu mempunyai ketakutan yang saleh kepada Tuhan dan kebencian yang kudus terhadap dosa. Itu sebabnya, Tuhan justru membenarkan si pemungut cukai yang sadar akan keberdosaannya, bukan si Farisi yang merasa dirinya baik dan saleh itu.


Yaitu Dia yang memanggil kita
 
Tadi sudah disebutkan bahwa kuasa Ilahi yang ada pada Tuhan telah menghadirkan anugerah bagi manusia. Dalam bagian ini kita melihat aspek lain dari sifat kuasa Ilahi, yaitu kuasa yang memanggil manusia. Istilah “memanggil” di sini, mengindikasikan adanya suatu undangan, atau ajakan dari Kristus kepada manusia. Dan yang unik dari panggilan ini adalah bahwa antara Pribadi yang memanggil dengan orang-orang yang dipanggil, bukan merupakan pihak yang sejajar.

Di dalam kuasa-Nya yang Ilahi, Tuhan justru memanggil orang-orang yang posisinya jauh di bawah. Orang-orang yang tidak layak itu, untuk naik ke atas, bersama-sama menikmati apa yang dinikmati oleh Dia Yang Di atas. Dan proses memanggilnya pun luar biasa, yaitu dengan jalan merendahkan diri-Nya, mati untuk menebus manusia dan kemudian bangkit lagi untuk mengundang kita hidup bersama-Nya.

Kita tidak bisa melihat panggilan Tuhan itu sebagai sesuatu yang take it for granted, atau sesuatu yang sudah sepantasnya terjadi, atau sesuatu yang memang seharusnya kita terima. Sebab Tuhan tidak ada kewajiban apapun untuk memanggil kita, Tuhan tidak ada keharusan apapun untuk menyelamatkan kita dan apalagi untuk memanggil kita hidup bersama-Nya. Itu sama sekali bukan keharusan dari sisi Tuhan. Oleh karna itu apabila Tuhan melakukan hal tersebut, maka sesungguhnya panggilan itu merupakan sebuah anugerah yang sangat istimewa bagi kita.

Berbahagialah orang yang mendengar panggilan Tuhan dan menjawab panggilan itu dengan benar. Celakalah orang yang tidak peduli ketika Tuhan memanggilnya atau bahkan menolak panggilan tersebut.


Kita dipanggil oleh kuasa yang mulia
 
Sifat mulia dan ajaib ini mengacu pada kuasa Ilahi yang memanggil kita. Mengapa kuasa ini bersifat mulia dan ajaib? Sebab yang memanggil adalah Pribadi yang mulia. Kuasa itupun ditujukan untuk hal yang mulia. Cara memanggilnya pun melalui jalan yang sangat mulia. Dan yang dipanggil, yaitu kita, juga dipanggil untuk kemudian dipermuliakan-Nya.

Oleh karena itu, melalui bagian ini kita boleh memeriksa diri kita sendiri, sudahkah kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang dianugerahkan Tuhan ini dengan cara yang mulia? Dengan hal apakah kita mengisi kehidupan kita sehari-hari? Dengan sesuatu yang mempermuliakan Tuhankah? Atau justru dengan cara mempermalukan Dia? Ingatlah selalu akan kuasa Ilahi yang mulia itu, yang dengan murah hati telah memanggil kita.

Kita dipanggil oleh kuasa yang mulia dan ajaib
 

Mengapa panggilan Tuhan itu disebut panggilan yang ajaib pula? Sebab dari perpektif manusia hal semacam itu tidak pernah terpikirkan. Panggilan itu sungguh ajaib karena Allah yang mulia berkenan untuk mempermuliakan manusia yang berdosa. Kejadian seperti ini bukan hal yang biasa, bukan kejadian sehari-hari, ini merupakan sesuatu yang melampaui segala yang natural. Kalau manusia mempermuliakan Allah, itu memang wajar dan sudah sepantasnya. Tetapi di sini kita melihat bahwa justru Allah yang mau mempermuliakan manusia. Ini sungguh di luar nalar pemikiran manusia yang terbatas. Itulah sebabnya panggilan Tuhan bagi kita pantas disebut sebagai sebuah keajaiban.


Kesimpulan
 

Dari 2 Petrus 1:3 ini kita boleh belajar dari Rasul Petrus bahwa:
Di dalam kuasa-Nya yang tak terbatas, Allah telah berkenan untuk memberi kita anugerah. Anugerah yang diberikan kepada manusia itu, bukanlah sebuah anugerah yang tidak disertai tanggungjawab, bukanlah anugerah yang tidak disertai dengan tujuan. Sebaliknya, anugerah yang Tuhan berikan itu berguna bagi kita untuk hidup saleh, yaitu kehidupan saleh yang lahir dari pengenalan kita akan Yesus Kristus. Orang yang mengaku mendapat anugerah dari Allah, tetapi tidak ada pengenalan akan Kristus di dalam hidupnya, boleh bertanya pada diri sendiri; “Apakah aku sungguh-sungguh sudah menerima anugerah itu?”

Dan Yesus Kristus yang kita kenal melalui anugerah Ilahi itu, adalah Yesus Kristus yang telah memanggil kita dengan kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Kiranya melalui renungan dari 2 Petrus 1:3 ini kita boleh memeriksa diri kita masing-masing, sudahkah kita menerima anugerah itu? Sejauh manakah kita sudah mengenal Yesus Kristus? Kita dipanggil untuk hidup saleh, bagaimana respon kita terhadap panggilan-Nya yang mulia dan ajaib ini?

Kiranya Tuhan Yesus memberkati dan menolong kita. Amin.


Baca juga:
Pengantar Surat 2 Petrus. Klik disini
Apakah kesuksesan merupakan tanda diberkati oleh Tuhan? Klik disini
Apakah semua orang pada dasarnya baik? Klik disini
Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Klik disini
Mengapa Yesus Kristus menjadi Manusia? Klik disini

Renungan dari Surat 2 Petrus 1:4. Klik disini
Renungan dari Surat 2 Petrus 1:5. Klik disini